Tampilkan postingan dengan label Sosial Pemerintahan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sosial Pemerintahan. Tampilkan semua postingan

Selasa, Juni 09, 2009

Mewujudkan Negeri yang Baik

Marilah bertaqwa kepada Allah, yakni dengan senantiasa melaksanakan perintah-perintahNya dan menjauhi larangan-laranganNya. Ketahuilah, taqwa juga mengandung arti "menghindar" karena sesungguhnya orang yang bertaqwa berarti menghindar dari ancaman dan siksaan Allah.

Diantara kebahagiaan kita adalah manakala kita hidup dalam rasa aman, adil, makmur dan sejahtera. Allah menyatakan bahwa suatu tempat, daerah atau masyarakat yang hidup dalam kebahagiaan dan kesejahteraan adalah masyarakat yang thayyib dan penuh ampunan Allah, sebagaimana dinyatakan dalam firman-Nya :

"Sesungguhnya bagi kaum Saba' ada tanda (kekuasaan Tuhan) di tempat kediaman mereka yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri. (Kepada mereka dikatakan): "Makanlah olehmu dari rezki yang (dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Tuhanmu) adalah Tuhan Yang Maha Pengampun". (Q.S. Saba:15)


Ayat ini bagaikan menyatakan : Kami bersumpah bahwa sesungguhnya bagi kaum Saba' ada tanda kekuasaan Allah di tempat kediaman mereka. Yaitu wilayah yang sekarang terletak di Yaman Selatan.


Memang kerajaan Saba' ini adalah adalah kerajaan yang sangat makmur, aman dan sentosa sehingga Allah memerintahkan agar kaum Saba' bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Pengampun. Negeri Sab'a ini memiliki pengaruh yang sangat luas hingga ke benua Afrika dan memiliki bendungan yang sangat besar dan kokoh bernama bendungan Mi'rab serta mampu mengairi seluruh wilayahnya, sehingga menjadikan tanah subur dan rakyatnya makmur.

Ada dua hal yang harus kita perhatikan dalam firman ini.
Pertama, "thayyibatun" berarti sesuatu yang sesuai, baik dan menyenangkan bagi seseorang. Negeri yang baik antara lain adalah yang aman sentosa, melimpah rezekinya dapat diperoleh secara mudah oleh penduduknya, serta terjalin pula hubungan harmonis kesatuan dan persatuan antar anggota masyarakatnya.

Oleh karena itu negeri yang baik tidak mungkin terwujud dalam pemerintahan dan tata masyarakat yang tidak teratur, suka bermusuhan dan saling merugikan. Dengan demikian, setiap orang semestinya bekerja keras dan berbuat baik agar dapat mewujudkan negeri yang baik. Yakni negeri yang dapat melayani masyarakat dengan sebaik-baiknya, sehingga masyarakat merasa ikhlash. Negeri yang baik, sudah pasti jauh dari korupsi dan kolusi. Sebab korupsi dan kolusi di Negara manapun di dunia ini merupakan perilaku yang merugikan Negara dan masyarakat.

Kedua, rabbun ghafur. Tuhan Yang Maha Pengampun. Pernyataan Allah bahwa Dia Maha Pengampun memberi isyarat bahwa satu masyarakat tidak dapat luput dari dosa dan kedurhakaan. Pada masa Rasulullah SAW pun ada anggota masyarakat beliau yang berdosa. Namun, Rasulullah SAW berjuang menyelelamatkan manusia dari dosa-dosa tersebut, sehingga negerinya mendapatkan berkah lahir bathin.

Meskipun Allah selalu melimpahkan aneka anugerah kepada kaum Saba', dan senantiasa pula membuka pintau taubat, namun mereka tidak peduli. Lalu mereka berpaling mendurhakai nikmat Allah dan tidak mensyukuri nikmat-Nya itu, maka Allah mendatangkan kepada mereka banjir yang besar yang merobohkan bendungan dan memusnahkan perkebunan mereka. Dan Allah mengganti kedua kebun yang ditumbuhi pepohonan yang berbuah pahit dan pepohonan yang tidak berbuah dan penuh duri.

Demikianlah Allah memberi balasan dengan menjatuhkan siksa tersebut disebabkan karena kekafiran, yakni kedurhakaan dan keengganan mereka bersyukur. Dan Allah tidak membalas, yakni menjatuhkan siksa yang demikian itu melainkan hanya kepada orang-orang yang sangat kufur kepada Allah dan mengingkari nikmat-nikmat-Nya. Adapun bagi orang-orang mukmin, yang bertaqwa kepada Allah, balasan atau imbalan yang mereka terima adalah imbalan yang lebih baik, yakni kebahagiaan akhirat dikarenakan mendapat ampunan Allah.

Allah SWT menggambarkan bagaimana akibat orang-orang yang kufur dan tidak mau mensyukuri nikmat-Nya sebagaimana dinyatakan dalam surat Sab', ayat 16-17.

"Tetapi mereka berpaling, maka Kami datangkan kepada mereka banjir yang besar dan Kami ganti kedua kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi (pohon-pohon) yang berbuah pahit, pohon Atsl dan sedikit dari pohon Sidr."

"Demikianlah Kami memberi balasan kepada mereka karena kekafiran mereka. Dan Kami tidak menjatuhkan azab (yang demikian itu), melainkan hanya kepada orang-orang yang sangat kafir."

Maha benar Allah dengan segala firman-Nya. Segala sesuatu yang dinugerahkan Allah kepada kita, hendaknya kita pelihara dengan sebaik-baiknya agar menjadikan hidup kita aman, sentosa dan makmur. Jika kita tidak dapat memelihara anugerah Allah, maka cepat atau lambat Allah akan menimpakan siksa kepada kita.

Janganlah kita menganggap siksa yang ditimpakan Allah kepada kita hanya terbatas dengan siksa neraka jahannam di akhirat. Namun segala hal yang membuat kita menjadi tidak aman, tidak sentosa dan tidak makmur, sesungguhnya merupakan penyebab datangnya siksa di dunia.
Bentuk daripada kekafiran kita kepada Allah bukanlah semata-mata karena kita tidak shalat atau tidak puasa saja. Segala tindakan kita yang mengingkari Allah, sesungguhnya merupakan kekafiran. Na'udzubillahi min dzalik. Setiap kali orang menipu, memeras, mencuri dan merampas hak orang lain, maka perbuatan ini pun termasuk perbuatan kufur karena Allah tidak memerintahkan hamba-Nya untuk berbuat kejahatan. Sebaliknya, Allah memerintahkan hamba-Nya agar berbuat baik kepada sesama, melayani orang lain dengan ramah dan hormat, berkasih-sayang, rendah hati, tidak sombong, tidak menyepelekan orang lain dan tidak melakukan perbuatan yang merugikan masyarakat.

Dengan demikian, keamanan, kesentosaan dan kemakmuran suatu negeri tidak terwujud secara tiba-tiba. Akan tetapi harus diupayakan dengan sebenar-benarnya. Mustahil kita membangun sebuah rumah yang kokoh, nyaman, dan bagus, manakala orang yang mengerjakannya tidak benar dan bahan-bahan bangunannya tidak sesuai aturan. Demikian pula negeri yang baik harus diwujudkan dengan ilmu yang baik, budi pekerti yang baik, dan bahan-bahan yang baik. Demikianlah, janganlah kita mengharapkan Negara atau masyarakat yang baik, jika kita tidak memulainya dengan perbuatan baik. Takutlah akan siksa Allah. Semoga Allah mengampuni kita semua. Amin ya rabb al 'alamin.

Dua Golongan Yang Mampu Memperbaiki Ummat

Marilah bertaqwa kepada Allah, yakni dengan senantiasa melaksanakan perintah-perintahNya dan menjauhi larangan-laranganNya. Ketahuilah, taqwa juga mengandung arti "menghindar" karena sesungguhnya orang yang bertaqwa berarti menghindar dari ancaman dan siksaan Allah.

Di dalam agama Islam, 'ulama digolongkan sebagai orang yang paling takut kepada Allah di antara hamba-hambaNya. Oleh sebab itu, 'ulama adalah gelar yang diberikan oleh Allah kepada hamba-hambaNya yang beriman, tunduk, ta'at dan melaksanakan syari'at Allah, sebagaimana dinyatakan dalam surat Al Fathir, ayat 28.

Dan demikian (pula) di antara manusia, binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha perkasa lagi Maha Pengampun.

Rasulullah SAW mengajarkan kepada kita adanya dua kelompok manusia yang menentukan baik buruknya masyarakat.

Pertama, 'ulama. Firman Allah dalam surat Al Fathir di atas menyebut 'ulama sebagai sekelompok manusia yang paling takut kepada Allah, karena para 'ulama ataupun cerdik pandai mengetahui rahasia penciptaan makhluk Allah. Dari mengetahui makhluk Allah ini, mereka mengenal Allah dengan sifat-sifat, nama-nama dan perbuatan-perbuatan Allah. Pengenalan yang bersifat sempurna sehingga hati mereka menjadi tunduk kepada Allah. Mereka mengetahui ganjaran dan balasan setiap perbuatan yang dilakukannya, sehingga makin bertambah ilmunya, mereka makin takut kepada Allah.

Pengetahuan atas semua dampak dari setiap perbuatan inilah yang menjadikan mereka digolongkan sebagai sekelompok orang yang paling takut kepada Allah. Sesungguhnya mereka selalu membaca kitab Allah, mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezki yang Allah anugerahkan kepada mereka serta membimbing manusia agar mengenal Allah dan melaksanakan perintah-perintah Allah supaya selamat dunia akhirat dan supaya Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karuniaNya.

'Ulama adalah benteng terakhir dari setiap pertempuran antara kekuatan buruk dan baik. Sekiranya mereka tidak mengenal Allah dan tidak menjalankan syari'at Allah, pasti semua masyarakat pun akan mengikuti mereka. Dengan lain kata sudah tidak ada lagi batasan mana yang haq dan bathil karena manusia tidak mengenal Allah dan tidak mengetahui balasan-balasan Allah.

Kedua, 'umara. 'Umara berhubungan dengan imarah, yakni kemakmuran. Mereka adalah sekelompok manusia yang mengetahui kebutuhan-kebutuhan kemasyarakatan, kesejahteraan, keadilan dan kemakmuran. Mereka dipercaya mampu mewakili masyarakat untuk membawa kehidupan yang adil, makmur dan sejahtera.

Rasulullah SAW bersabda :

"Ada dua golongan dari ummatku; jika mereka baik, maka ummatpun akan menjadi baik, yaitu pemerintah dan 'ulama". (HR. Abu Nu'aim).

Sedemikian pentingnya peran 'umara dan 'ulama sehingga baik buruknya 'ummat ditentukan oleh kedua golongan ini. Hal ini dapat dipahami sebagaimana kerusakan-kerusakan yang terjadi di dalam masyarakat sesungguhnya disebabkan tumbuh suburnya kebodohoan di dalam masyarakat. Masyarakat pun akhirnya tidak mengenal Allah, tidak memiliki ilmu dan karya nyata untuk memperbaiki kehidupan. Rasulullah SAW bersabda :

"Rakyat tidak akan mengalami kehancuran sekalipun mereka dzalim dan buruk akhlaknya jika pemimpinnya suka menunjukkan ke jalan yang benar dan terpimpin pada jalan yang benar. Sebaliknya, rakyat akan hancur sekalipun mereka suka menunjukkan jalan yang benar dan terpimpin pada jalan yang benar jika keadaan pemerintahnya dzalim dan buruk akhlaknya." (HR. Abu Nu'aim).

Ketahuilah, siapapun yang berbuat dzalim tidak akan mendapatkan rahmat di hari kiamat karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat dzalim sebagaimana dinayatakan dalam surat Al Hasyr, ayat 17 yang artinya :" Maka adalah kesudahan keduanya, bahwa sesungguhnya keduanya (masuk) ke dalam neraka, mereka kekal di dalamnya. Demikianlah balasan orang-orang yang zalim".

Dan ketahuilah bahwa setiap perbuatan yang melanggar perintah Allah, merusak diri sendiri dan masyarakat seperti berjudi, mengkonsumsi arak, menipu, memakan harta anak yatim dan tidak mengeluarkan infak dikategorikan sebagai kedzaliman.

Diriwayatkan oleh Ibnu 'Abbas bahwa pada suatu hari Rasulullah SAW bertanya kepada iblis laknatullah 'alaih,"Berapa temanmu dari kalangan ummatku ?." Iblis menjawab,"Sepuluh golongan, yaitu penguasa yang dzalim, orang yang sombong, orang kaya yang tidak memperdulikan darimana asal hartanya dan untuk apa hartanya dibelanjakan, 'ulama yang membenarkan kedzaliman pemerintah, pedagang yang curang, penimbun barang kebutuhan masyarakat, pezina, pemakan riba, orang bakhil lagi tidak memperdulikan dariman asal hartanya; dan orang yang meminum khamr (arak).

Dalam riwayat Turmudzi dan al Hakim disebutkan :

"Ada enam golongan yang dikutuk Allah dan setiap Nabi yang dikabulkan do'anya. Mereka adalah : orang yang menambah-nambahi kitabullah, orang yang mendustakan ketentuan Allah atau mengkufuri qadha dan dudrat Allah, penguasa kesultanan atau pemerintahan yang otoriter sehingga ia memuliakan orang yang dihinakan Allah dan menghinakan orang yang dimuliakan Allah, orang yang menghalalkan perkara yang diharamkan Allah, orang yang menghalalkan perbuatan yang telah diharamkan Allah terhadap ahli baitku, dan orang yang meninggalkan sunnahku. Maka pada hari kiamat nanti, Allah tidak akan memandang mereka dengan pandangan rahmat."

Ketahuilah saudara-saudaraku bahwa kita sangat membutuhkan terwujudnya sikap saling menolong dan menopang diantara 'ulama dan 'umara, karena dengan ilmu dan kekuasaan 'ulama dan 'umara; kita semua akan dibimbing untuk mengenal Allah, mengenal dunia dan terdorong untuk berbuat kebajikan supaya kehidupan kita semua lebih baik. Demikianlah, semoga Allah memberkahi kita semua. Amin ya rabb al ' almin.

Keutamaan Memberikan Pelayanan Masyarakat

Marilah bertaqwa kepada Allah, yakni dengan senantiasa melaksanakan perintah-perintahNya dan menjauhi larangan-laranganNya. Ketahuilah, taqwa juga mengandung arti "menghindar" karena sesungguhnya orang yang bertaqwa berarti menghindar dari ancaman dan siksaan Allah.

Banyak riwayat yang menyebutkan kebaikan orang-orang Madinah atau kaum Anshar terhadap kaum Muhajirin Makkah. Diantaranya riwayat dari Abu Hurairah bahwasanya ada seorang laki-laki yang datang kepada baginda Rasulullah SAW dalam keadaan sangat lapar. Baginda Rasul menyuruh isterinya menyediakan makanan, namun di rumah Nabi sedang tidak ada makananan kecuali air tawar. Nabi menyuruh isteri-isterinya yang lain, keadaannya pun sama. "Demi Dzat yang mengutusmu dengan haq, aku tidak memiliki apa-apa selain air tawar," kata isterinya. Lalu Rasulullah SAW berkata kepada para sahabatnya,"Adakah dari kalian yang mau menjamu orang malam ini ?." Seseorang dari kalangan Anshar berkata :"Saya, wahai Rasulullah."

Selanjutnya orang itu membawa tamu Rasulullah ke rumahnya. Sesampai di rumah ia berkata kepada isterinya,"Muliakanlah tamu Rasulullah ini." Padahal di rumahnya hanya tersedia makanan pas-pasan untuk anak-anaknya. Namun ia ikhlash memuliakan tamunya sehingga ia dan isterinya pura-pura sudah kenyang dan ikut menikmati makanan yang disediakan.

Pagi harinya orang Anshar tadi menceritakan kepada Rasulullah apa yang diperbuatnya tadi malam. Rasulullah SAW bersabda :
"Sungguh Allah merasa senang terhadap apa yang kalian perbuat terhadap tamu kalian tadi malam." (HR. Bukhari-Muslim).

Sahabat Rasulullah yang memuliakan tamu ini, sesungguhnya juga memerlukan makanan untuk keluarganya. Namun ia mau berbagai dengan tamu Rasulullah SAW ketika orang-orang ragu-ragu untuk memenuhi ajakan Rasulullah. Sikap ini adalah sikap lebih mengutamakan orang lain daripada diri sendiri. Ketaqwaannya kepada Allah menuntun dirinya untuk memberikan pelayanan kepada orang yang memerlukan. Meskipun ia tidak mendapat upah dari Rasulullah atas kebaikannya itu, namun ia yakin dengan ampunan dan pahala di sisi Allah.

Sikap ini juga menunjukkan bagaimana seharusnya kita mensikapi orang-orang yang membutuhkan bantuan atau pelayanan dari kita semua. Allah SWT berfirman :

"Dan orang-orang yang telah menempati Kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (orang Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri. Sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu). Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung" (Q.S. Al Hasyr:9).
Maha Suci Allah. Mereka inilah orang-orang yang telah mendapatkan petunjuk dan yakin akan balasan Allah syurga. Kebaikan-kebaikan yang mereka berikan kepada kaum Muhajirin, sama sekali tidak mendapat upah berupa uang atau lainnya dari Rasulullah. Sesungguhnya kita perlu meneladhani dan mengamalkan sikap ini dalam kehidupan sehari-hari. Ibarat orang yang bekerja, upahnya memang sama besarnya, namun berbeda ganjarannya dari Allah manakala kita bekerja dengan sungguh-sungguh untuk memberikan manfaat, kebaikan dan kemudahan kepada orang lain.

Sungguh besar pahala bagi orang-orang yang mau memberikan manfaat kepada orang lain, karena sesungguhnya Allah memberikan pahala bukan berdasarkan pangkat dan golongan, melainkan berdasarkan amal ibadahnya. Rasulullah SAW bersabda :

"Ada dua perkara yang tidak bisa diungguli keutamannya oleh yang lain; yaitu iman kepada Allah dan memberi manfaat kepada sesama muslim."

Memberi manfaat kepada orang lain bisa berupa ucapan, kekuasaan, harta benda, pikiran maupun tenaga yang kesemuanya ini membawa kemaslahatan dan kesejahteraan ummat. Dalam hadist lain Rasulullah SAW bersabda :

"Barangsiapa berada di pagi hari tanpa bermaksud mendzalimi seorang pun, maka dosa-dosanya diampuni. Barangsiapa berada di pagi hari dan berniat untuk menolong orang-orang yang teraniaya serta memenuhi kebutuhan sesama muslim, maka ia mendapatkan pahala seperti pahala haji mabrur."

Dengan tidak mendzalimi sesama manusia dan senantiasa memberikan manfaat kepada orang lain, berarti kita telah ikut serta membahagiakan orang lain dan menciptakan kehidupan masyarakat yang baik. Oleh sebab itu kehidupan harus dilandasi sikap saling memenuhi kebutuhan hidup dan saling membantu. Kehidupan yang baik ini pasti akan mendapat berkah Allah SWT. Dan marilah kita ingat kembali sabda Rasulullah SAW.

"Manusia yang paling dicintai Allah adalah manusia yang paling bermanfaat bagi orang lain. Amal yang paling utama adalah menyenangkan hati orang mukmin dengan cara menghilangkan kelaparan dan kesusahan atau melunasi hutangnya. Ada dua perkara yang sangat kotor dan keji, yaitu menyekutukan Allah dan menimbulkan kamedharatan atau kerugian bagi kaum muslim."
Oleh sebab itu orang yang beriman akan memiliki sikap antara lain :
Pertama, cepat tanggap dan gumrigah dalam melayani masyarakat.

Kedua, bekerja tidak semata-mata karena mendapatkan upah material, namun juga pahala dari Allah seraya berharap senantiasa diberi kemudahan oleh Allah kelak di hari kaiamat.

Ketiga, mau berkorban demi kepentingan masyarakat.

Keempat, tidak mempersulit sesama makhluk Allah yang sedang membutuhkannya.

Demikianlah semoga kita semua mendapatkan barakah dan ampunan Allah SWT.

Larangan Memilih Orang Yang Menimbulkan Kerusakan

Marilah bertaqwa kepada Allah, yakni dengan senantiasa melaksanakan perintah-perintahNya dan menjauhi larangan-laranganNya. Ketahuilah, taqwa juga mengandung arti "menghindar" karena sesungguhnya orang yang bertaqwa berarti menghindar dari ancaman dan siksaan Allah.

Para sahabat Rasulullah SAW merupakan orang-orang yang sangat bertaqwa. Mereka berjuang menyuburkan iman dan taqwa pada masyarakat dari Jazirah Arab hingga ke seluruh dunia. Mereka memimpin masyarakat dengan iman dan taqwa dan amal shalih. Meskipun mereka memiliki kesempatan untuk mendapatkan kehormatan, kemuliaan, kekuatan, kekuasaan, harta benda dan segala macam kehebatan; namun mereka memilihi hidup bersama masyarakat dalam iman dan taqwa. Mereka bahkan mengorbankan jiwa-raga dan harta bendanya untuk menegakkan agama Allah. Sehingga, Allah SWT menganugerahi kehidupan yang adil, makmur sejahtera lahir bathin.

Sebagai contoh Salman al Farisi. Ia selalu mengajak rakyatnya untuk menjaga keimanan dan ketaqwaan. Ia selalu tegas di dalam menegakkan kebajikan dan mencegah kemungkaran. Dan dia sendiri adalah seorang yang bertaqwa. Ia selalu menangis sekiranya rakyatnya kelaparan, sehingga ia selalu memohon ampunan kepada Allah, padahal ia merupakan salah seorang 10 sahabat Rasulullah yang dijamin masuk syurga. Tokh, ia tetap merasa bersalah. Karena ketaqwaannya inilah Khalifah Umar bin Khath-thab memilihnya sebagai Gubernur Kufah.

Ia sama sekali tidak minta kekuasaan kepada Umar bin Khath-thab, namun Umar bin Khath-thab memberi kekuasaan kepadanya untuk memimpin rakyat Kufah. Karena 'Umar bin Khath-thab yakin hanya orang-orang yang beriman dan bertaqwa yang pantas mendapatkannya. Rasulullah SAW bersabda :

"Wahai 'Abbas, wahai paman Rasulullah, diri yang engkau selamatkan lebih baik daripada kekuasaan yang tak mampu engkau emban." (HR. Baihaqi).
Dan Allah SWT berfirman dalam surat Ali Imran, ayat 118 :


"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya."

Perintah ini dimaksudkan supaya kaum muslimin tidak tertipu oleh orang-orang yang kelihatannya baik, namun sesungguhnya merusak kehidupan ummat Islam. Karena sesungguhnya orang yang tidak beriman dan bertaqwa, tidak akan tunduk kepada Allah dan Rasul-Nya, melainkan tunduk pada hawa nafsunya. Kepemimpinan dari orang-orang yang suka berbuat kerusakan ini, tidak lain hanyalah menyengsarakan ummat Islam. Diantara mereka terdapat orang-orang munafik yang pura-pura berbuat baik, mengaku-ngaku berbuat baik dan pura-pura berkasih sayang, padahal mereka melakukan kebohongan, mengingkari janji dan mengkhianati amanat.

Demikian pula kita jangan mengambil orang-orang yang suka berbohong, menipu, dan merusak masyarakat menjadi teman atau pemimpin di dalam kehidupan kita, baik dalam urusan-urusan duniawi maupun ukhrawi. Jika kita mengambil mereka sebagai teman atau pemimpin, maka kita akan menyesal sepanjang masa. Dan kita akan menanggung akibat-akibata kerusakan yang diperbuat oleh para perusak itu.

Allah menyatakan : "Beginilah kamu, kamu menyukai mereka, padahal mereka tidak menyukai kamu, dan kamu beriman kepada kitab-kitab semuanya. Apabila mereka menjumpai kamu, mereka berkata: "Kami beriman"; dan apabila mereka menyendiri, mereka menggigit ujung jari lantaran marah bercampur benci terhadap kamu. Katakanlah (kepada mereka): "Matilah kamu karena kemarahanmu itu". Sesungguhnya Allah mengetahui segala isi hati. (Q.S.3:119).

Peringatan Allah ini berlaku dalam setiap keadaan. Tidak saja terbatas dalam kehidupan rumah tangga, namun juga dalam kehidupan bermasyarakat, bernegara dan berbangsa. Keimanan dan ketaqwaan seharusnya menjadi ukuran mendasar bagi kita semua untuk menentukan orang-orang yang hendak mengemban amanat. Jangan sampai kita terjerumus ke dalam kedurhakaan kepada Allah dikarenakan hidup kita dipimpin oleh orang-orang yang durhaka kepada Allah alias mementingkan hawa nafsunya dan cenderung berbuat kerusakan.

Sebagai contoh seorang perempuan yang hendak bersuami misalnya, hendaklah memilih pria yang beriman dan bertaqwa. Demikian pula seorang pria yang hendak memilih seorang isteri, hendaklah memilih perempuan yang beriman dan bertaqwa. Sebab ketika seseorang mempercayakan kehidupan dunia dan akhirat kita kepada orang-orang yang cenderung berbuat kerusakan, sudah pasti kita akan mengalami kerugian di dunia dan akhirat.

Oleh karena itu, hendaknya kita mendahulukan keimanan dan ketaqwaan di dalam memilih orang-orang yang akan kita jadikan pemimpin atau kita beri amanat untuk melaksanakan tugas kemasyarakatan, kebangsaan maupun kenegaraan. Jangan sampai kita menyesal di kemudian hari dikarenakan ketidakmampuan kita di dalam memilih atau memberikan amanat kepada orang lain.

Saudara-saudaraku yang dirahmati Allah, ingatlah, Allah akan mengazab kepada hamba-hambaNya yang melakukan kedurhkaan, sebagaimana dintakan dalam surat Al Isra', ayat 16-17.

"Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya menta`ati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya."
"Dan berapa banyaknya kaum sesudah Nuh telah Kami binasakan. Dan cukuplah Tuhanmu Maha Mengetahui lagi Maha Melihat dosa hamba-hamba-Nya."
Maha Suci Allah, sekiranya kita mendengarkan dan melaksanakan tuntunan Allah ini, niscaya kita tidak akan tersesat dan kita akan memperoleh barakah dikarenakan teman atau pemimpin yang beriman dan bertaqwa.

Kewajiban Hidup Sederhana

Setiap orang yang mendambakan kebahagiaan dunia dan akhirat, pasti akan berusaha sungguh-sungguh untuk mendapatkannya. Namun terkadang kita lupa, bahwa kehidupan akhirat adalah kehidupan yang lebih baik, sehingga kita selalu merasa bersedih manakala Allah tidak mengabulkan segala hal yang diinginkan di dunia ini. Akibatnya, kita berburuk sangka kepada Allah dengan menganggap Allah tidak adil dan tidak memperhatikan hamba-Nya.

Kehidupan duniawi bisa menyilaukan mata, sehingga banyak orang menggunakan segala cara agar memperoleh segala kenikmatan dunia ini. Tidak peduli apakah cara yang ditempuhnya menyalahi syariat Allah atau tidak. Yang penting, semua keinginannya tercapai. Cara hidup demikian, justru tidak menjamin keselamatan dan kebahagiaan dunia. Sebaliknya seringkali berbuah kesengsaraan dan malapetaka. Jikapun kita memperoleh harta yang banyak dengan cara yang tidak sah, maka harta tersebut akan mencelakakan dirinya baik di dunia maupun di akhirat.

Allah SWT berfirman dalam surat Ali Imran, ayat 117 yang artinya :

"Perumpamaan harta yang mereka nafkahkan di dalam kehidupan dunia ini, adalah seperti perumpamaan angin yang mengandung hawa yang sangat dingin, yang menimpa tanaman kaum yang menganiaya diri sendiri, lalu angin itu merusaknya. Allah tidak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri. "

Dorongan untuk memperoleh harta sebanyak-banyaknya merupakan hal yang wajar bagi setiap manusia. Namun demikin janganlah dorongan ini menjadikan kita mencari harta dengan cara yang tidak sah atau melanggar syari'at Allah dan merugikan sesama manusia. Hendaknya kita takut kepada Allah dengan senantiasa menghindar ancaman dan siksa Allah. Rasa takut ini kita wujudkan dengan bersungguh-sungguh mencari kenikmatan atau kebahagiaan dunia secara wajar dan benar.

Kita dapat mengambil teladan dari pemimpin dan orang-orang shaleh di zaman dahulu. Salman al Farisi misalnya. Beliau adalah salah seorang sahabat yang dijamin masuk syurga. Beliau meninggalkan keluarganya yang kaya raya untuk mencari kebenaran agama Islam. Allah memberinya petunjuk bahwa kehidupan yang selama ini dijalankannya tidak mampu menyelamatkannya di akhirat. Sehingga ia meninggalkan Persia dan memutuskan hidup di Madinah mendampingi Rasulullah SAW.

Pada masa Khalifah Umar bin Khatab ra, beliau diangkat sebagai gubernur Kufah atau Irak. Kaum musliminin sudah menanti-nantikan kedatangannya. Mereka mengira Gubernur Salman Al Farisi akan datang ke Madinah dengan segala kemewahan dan pengawal-pengawalnya sebagaimana kebiasaan pejabat-pejabat Kekaisaran Persia.
Namun penduduk Madinah sangat terkejut karena Salman al Farisi datang sendirian dengan mengendari seekor keledai sehingga hampir-hampir semua penduduk Kufah tidak ada yang mengenalnya.

Salman al Farisi menjalani hidupnya dengan jujur, taqwa, sennatiasa menjaga kehormatan dan menegakkan keadilan dan keseajhteraan masyarakat. Masyarakat pun mendapat petunjuk Allah untuk senantiasa mendukung Salman al Farisi dalam menjalankan amanatnya. Ia menerima gaji dari Khalifah Umar bin Khatab ra, namun tidak dipergunakan untuk berfoya-foya atau menambah kemewahannya. Ia mempergunakan gajinya sepertiga untuk keluarga, sepertiga untuk hadiah, dan sepertiga zakat.

Di penghujung usiannya, ia menangis di hadapan pemeriksa yang akan memeriksa harta yang akan ditinggalkannya. Padahal ia hanya memiliki permadani untuk menyambut tamu-tamunya saat mereka berada di majlis pemerintahannya, sebuah tongkat untuk menopang tubuhnya ketika berkhotbah dan beberapa peralatan makan seperti piring.

Mereka bertanya :"Mengapa engkau menangis ?"
Salman menjawab :"aku menangis karena Rasulullah SAW bersabda :

"Hendaklah bekal seseorang diantara kalian dari dunia ini sama seperti bekal seseorang yang bepergian, (HR. Ahmad)," sedang kita terlalu memperbanyak duniawi.
Mereka bertanya :"Dunia manakah yang diperbanyak olehmu ?." Salman menjawab :"Apakah kalian meremehkan ? Sesungguhnya aku takut bila diminta pertanggungjawaban pada hari kiamat nanti tentang permadani, tongkat dan piring ini."

Maha Suci Allah, kesederhanaan hidup Salman al Farisi sama sekali tidak menunjukkan bahwa kita semua harus hidup dalam keadaan fakir miskin, namun semata-mata mengajarkan kepada untuk tidak menjadikan dunia ini sebagai tujuan hidup. Sebab jika dunia menjadi tujuan hidup, maka kita semua akan melalaikan kehidupan akhirat. Padahal kehidupan akhirat itu lebih baik dari kehidupan dunia.

"Dan sesungguhnya akhir itu lebih baik bagimu dari permulaan. Dan kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu, lalu (hati) kamu menjadi puas". (Q.S. Adh-Dhuha:4-5).
Oleh karena itu, janganlah kita menjadikan kesempatan hidup di dunia ini hanya sekedar untuk menumpuk-numpuk harta kekayaan seraya melupakan tujuan akhirat. Sesungguhnya setiap kenikmatan yang diperoleh, pasti akan diminta pertanggungjawabannya. Ketakutan pada Allah akan menuntut kita pada sederhanaan, tidak serakah di dalam mencari kenikmatan dunia, dan senantiasa mengingat ancaman dan siksa Allah manakala kita melanggar syari'at atau hukum-hukum-Nya.

Dan ketahuilah bahwa setiap tindakan yang melanggar hukum Allah, pasti akan merugikan orang lain, menghancurkan persaudaraan, mempermudah permusuhan, memperluaskan kebencian dan amarah sehingga akhirnya kehidupan pun menjadi tidak barakah. Sebaliknya, kesederhanaan mengantarkan hidup manusia pada persaudaraan, kasih sayang, kesahajaan, sedekah, kemakmuran, kebahagiaan dan jauh dari laknat. Ketahuilah pula bahwa kerakusan mendekatkan manusia pada jalan syetan yang terkutuk seperti memakan harta anak yatim, tidak memenuhi hak-hak fakir miskin, korupsi dan manipulasi; sehingga keadilan dan kemakmuran sulit diwujudkan dalam kehidupan kita.

Saudara-saudaraku, ingatlah Allah akan meminta pertanggungjawaban kita semua sebagaimana dinyatakan dalam surat At Takatsur, ayat 1-8.

"Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur. Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu), dan janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui. Janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin, niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka Jahiim, dan sesungguhnya kamu benar-benar akan melihatnya dengan `ainul yaqin, kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu)."

Belajar dari Menteri Yang Bertaqwa

Di dalam sejarah Islam, kita mengenal seorang bernama Ibnu Hubairah yang menjabat menteri pada masa Khalifah Al Mustajid Dinasti Abbasiyah. Ia seorang menteri yang sangat berilmu, bertaqwa dan sederhana.

Dia mengajar para 'ulama hadist. Dia lapar karena suka berpuasa. Al Kisah, ketika orang-orang Madinah tiba di Makkah, mereka mengalami kepanasan, sedang persediaan air habis. Semua orang mencari air karena kehausan yang mencekik leher mereka dan hampir membuat mereka mati. Ibnu Hubairah mengambil air wudhu dan menadahkan tangan seraya berdo'a : "Ya Allah berilah kami minum. Ya Allah berilah kami minum." Allah mengabulkan do'anya, dan menjelang terbenamnya matahari hujan turun sehingga menyegarkan orang-orang yang kepanasan itu.

Namun, ia menyesal mengapa hanya minta air minum kepada Allah. Penyesalannya ini bukan karena ia menginginkan Allah menganugerahi air minum, emas dan permata. Namun ia menyesal karena ia tidak memohon ampunan Allah. Ia berkata :"Sekiranya aku memohon ampun, pasti Allah akan mengampuni dosa-dosaku."

Ibnu Hubairah adalah sosok menteri atau pejabat yang berjiwa besar, pelopor dalam kebaikan, bertaqwa, takut pada Allah serta banyak membaca Al Qur'an dan Hadist. Meskipun ia seorang menteri, namun ia tidak melupakan untuk selalu membaca Al Qur'an dan Sunnah Rasulullah, sebab dari Al Qur'an dan Sunnah Rasululllah inilah, kita semua akan tahu apa yang harus dilakukan dan apa yang tidak boleh dilakukan. Melalui bimbingan Allah dan rasulNya, kita akan mampu mengendalikan hawa nafsu, sehingga kita menjadi orang yang berilmu dan bertaqwa kepada Allah. Tiadalah satupun kebaikan di dunia ini dapat diwujudkan manakala kita semua sudah tidak takut lagi kepada Allah.

Sikap Ibnu Hubairah merupakan sikap seorang menteri yang sangat bertaqwa. Ia merasa takut terhadap siksa Allah. Ketika berdo'a memohon air hujan, Allah mengabulkannya. Namun baginya, ampunan Allah adalah rahmat terbesar dalam hidupnya. Ia bisa menggunakan kesalehannya untuk memohon sesuatu kepada Allah. Ia pun memiliki kekuasaan dan kesempatan untuk mendapatkan segala sesuatu dari pemerintah atau rakyatnya. Namun ia tidak melakukannya, karena ia senantiasa memohon ampunan Allah.

Saudara-saudaraku, ingatlah bahwa harta benda yang kita miliki tidak akan dapat menyelamatkan kita di akhirat, apalagi harta benda yang diperoleh dengan cara tidak halal. Ingatlah hari dimana harta benda tidak akan dapat menolong kita di akhirat. Hari itu adalah hari kiamat. Semua manusia berkumpul di padang mashsyar, menunggu giliran dihitung amal ibadahnya. Semua jabatan, kehebatan, harta benda, anak-anak dan semua hal yang membanggakan di dunia, tidak akan berarti apap-apa. Maha Suci Allah, sanggupkah kita mengahadapi hari dimana Allah menghitung amal ibadah kita dengan sangat terperinci ?

Keselamatan kita di akhirat bergantung pada amal ibadah yang bersumber dari hati yang bersih. Yaitu hati yang diliputi rasa takut kepada Allah, keimanan, ketaqwaan dan keyakinan akan balasan Allah. Kita akan memperoleh keselamatan manakala kita datang sebagai hamba Allah, sebagaimana dinyatakan dalam surat Asy-syu'ara, ayat 88-89.

"(yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih."

Jika kita tidak mempersiapkan diri sebaik-baiknya di dunia ini, kita tidak mungkin mampu menghadapi kedahsyatan Hari Kiamat. Dalam beberapa firmanNya, Allah SWT menyatakan bagaimana penyesalan manusia di Hari Kiamat sudah tidak berguna lagi.

Pertama, Allah menampakkan rahasia. Pada hari kiamat, manusia tak akan dapat menyembunyikan segala amal perbuatannya. Sehingga banyak diantaranya yang kebingungan seperti orang mabuk. Bahkan jika dihidangkan makanan yang paling enak pun, manusia tidak menghiarukannya dikarenakan rasa takut dan khawatir atas perhitungan Allah. Allah SWT berfirman dalam surat At Thariq, ayat 8-10 yang artinya :

"Sesungguhnya Allah benar-benar kuasa untuk mengembalikannya (hidup sesudah mati). Pada hari dinampakkan segala rahasia, maka sekali-kali tidak ada bagi manusia itu suatu kekuatanpun dan tidak (pula) seorang penolong."

Kedua, manusia teringat akan perbuatannya. Akan tetapi, apakah kita semua harus menunggu datangnya kematian, untuk mengingat segala perbuatannya ? Padahal sesudah kematian, manusia tidak akan kembali ke dunia untuk memperbaiki amal ibadahnya. Oleh karena itu, sekaranglah saatnya kita mengingat amal ibadah yang telah dilakukan, dan sekarang pula kita memperbaiki amal ibadahnya supaya kita selamat pada Hari Perhitungan. Allah menyatakan hal ini dalam surat An-Nazi'at ayat 34-40, yang artinya :

"Maka apabila malapetaka yang sangat besar (hari kiamat) telah datang. Pada hari (ketika) manusia teringat akan apa yang telah dikerjakannya, Pada hari (ketika) manusia teringat akan apa yang telah dikerjakannya, Adapun orang yang melampaui batas, dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggal (nya). Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal (nya)."

Ketiga, manusia tidak dapat membuat-buat alasan atas perbuatan-perbuatannya. Pada hari ini mulut terkunci, tak ada alasan untuk tidak mengakui perbuatan-perbuatannya, sebab bukan mulut yang berbicara, tetapi amal-amal itulah yang akan menunjukkan apa sesungguhnya amal-amal yang telah dilakukan semasa hidup di dunia. Allah menyatakan hal ini dalam surat Al Mursalat, ayat 34-38 yang artinya :

Kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan. Ini adalah hari, yang mereka tidak dapat berbicara (pada hari itu), dan tidak diizinkan kepada mereka minta uzur sehingga mereka (dapat) minta uzur. Kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan. Ini adalah hari keputusan; (pada hari ini) Kami mengumpulkan kamu dan orang-orang yang terdahulu. Jika kamu mempunyai tipu daya, maka lakukanlah tipu dayamu itu terhadap-Ku. Kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan. Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada dalam naungan (yang teduh) dan (di sekitar) mata-mata air. Dan (mendapat) buah-buahan dari (macam-macam) yang mereka ingini.

Betapa menegerikannya hari kiamat itu. Namun kengerian ini dapat kita hadapi apabila kita memiliki bekal atau amal shaleh yang cukup untuk menghadap Allah SWT. Allah akan menyelamatkan kita karena jika kita termasuk golongan kanan. Yaitu golongan orang-orang yang tidak mendustakan agama Allah dan selalu beramal shalih.

"Maka keselamatan bagimu karena kamu dari golongan kanan. Dan adapun jika dia termasuk golongan orang yang mendustakan lagi sesat, maka dia mendapat hidangan air yang mendidih, dan dibakar di dalam neraka. Sesungguhnya (yang disebutkan ini) adalah suatu keyakinan yang benar. Maka bertasbihlah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang Maha Besar."

Kekuasaan Yang Bersumber dari Allah dan Rasul-Nya

Allah SWT memilih orang-orang tertentu yang diberi kekuasaan untuk mengatur masyarakat, bangsa maupun negara. Bahkan sesungguhnya kita semua memiliki kekuasaan atas sesuatu hal. Namun ketahuilah, bahwa kekuasaan-kekuasan ini bersifat semu (nisbi), karena sesungguhnya kekuasaan mutlak ada di tangan Allah SWT. Kekuasaan yang dimiliki manusia, merupakan titipan Allah sehingga harus dipertanggungjawabkan kepadaNya kelak di hari kiamat. Pada hari ini, manusia tidak dapat berbohong atas apa yang diperbuatnya.

Di dalam Al Qur'an, kekuasaan mutlak Allah dilambangkan dengan "Kursi Allah," sedangkan kekuasaan manusia dilambangkan dengan kursi Nabiyullah Sulayman 'alaihissalam. Kursi Allah bersifat mutlak dan kekal, sedangkan kursi Sulyaman dapat rusak dan dimakan rayap sebagaimana dinyatakan Allah dalam surat Shaad, ayat 34-35.

"Dan sesungguhnya Kami telah menguji Sulaiman dan Kami jadikan (dia) tergeletak di atas kursinya sebagai tubuh (yang lemah karena sakit), kemudian ia bertaubat."
"Ia berkata: "Ya Tuhanku, ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki oleh seorang juapun sesudahku, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Pemberi."

Kursi dalam arti kekuasaan merupakan hal penting, kerena secara lansgung dapat mempengaruhi kehidupan dan nasib manusia. Penyelenggaraan kekuasaan atau pemerintahan yang benar akan mempengaruhi kehidupan dan nasib manusia. Pemerintahan yang benar menghadirkan suasana kondusif terhadap perkembangan potensi manusia menuju kemuliaan, ketenteraman, keadilan dan kesejahteraan. Pemerintahan seperti ini dicanangkan dalam surat Shaad, ayat 26.

"Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan."

Sebaliknya, pelanggaraan terhadap hukum-hukum dan peringatan Allah akan menimbulkan akibat yang sangat dahsyat dan memberatkan masyarakat. Yakni berupa kerusakan-kerusakan masyarakat di setiap lapisan yang hampir-hampir tidak dapat diperbaiki lagi. Kehidupan masyarakat menjadi seperti berputar-putar dalam lingkaran syetan dan badai besar yang memporak-porandakan alam. Masyarakat hidup dalam saling curiga, saling memfitnah, saling memakan, tidak ingat mati, tidak waspada. Jangankan dengan orang yang dianggap musuh, dengan saudara sendiri pun tega berbuat dzalim.

Oleh karena itu setiap tindakan yang menuruti hawa nafsu mengandung makna, bahwa tindakan itu adalah tindakan yang mementingkan diri sendiri dan merugikan masyarakat. Jika keadaan ini terus menerus terjadi, maka Allah tidak akan menjadikan masyarakat yang tenteram, penuh barakah, adil dan makmur. Sebaliknya masyarakat akan diliputi kegelisahan dan berbagai macam siksa disebabkan kita semua tidak ingat akan Hari Perhitungan atau Hari Pembalasan Allah.

Sejarah telah mengajarkan kepada kita agar berhati-hati di dalam menjalankan kekuasaan. Jangan meniru Fir'aun yang merasa benar sendiri, sebagaimana dinyatakan Allah dalam surat Al Mukmin, ayat 29..

(Musa berkata): "Hai kaumku, untukmulah kerajaan pada hari ini dengan berkuasa di muka bumi. Siapakah yang akan menolong kita dari azab Allah jika azab itu menimpa kita!" Fir`aun berkata: "Aku tidak mengemukakan kepadamu, melainkan apa yang aku pandang baik; dan aku tiada menunjukkan kepadamu selain jalan yang benar". (Q.S.40:29).

Pada kenyataannya, penguasa yang mengikuti hawa nafsunya cepat mengembangkan kekuasaan, namun kekuasaannya menjadi bencana dalam kehidupan. Kalaupun kekuasaan Fir'auniyyah ini mampu bertahan, maka hal ini tidak lain adalah karena istidraj, yang cepat atau lambat pasti akan dibinasakan Allah. Untuk apakah jika kekuasaan hanya menjadi bencana bagi kehidupan manusia.

Oleh karena itu, "kepercayaan" memegang peranan sangat penting dalam pelbagai aspek kehidupan. Untuk berdagang, orang perlu saling percaya. Untuk berkeluarga, untuk berorganisasi dan untuk segala macam kegiatan orang perlu saling percaya. Manusia sejak awal sudah diberi kepercayaan oleh Allah SWT untuk menjadi khalifah Allah di muka bumi. Misi kepercayaan ini adalah untuk memakmurkan bumi, memelihara perdamaian, menegakkan keadilan dan menyelenggarakan kehidupan yang sejahtera.

Apabila tidak melaksanakan kepercayaan, maka sama artinya dengan berkhianat. Akibat pengkhianatan ini, kepercayaan menjadi hilang, dan akhirnya akan merugikan masyarakat seluruhnya. Jika kepercayaan ini hilang, manusia akan saling bermusuhan, saling menipu dan saling menerkam, sehingga kehidupan yang lebih baik yang diidam-idamkan tidak akan terwujud. Sebaliknya Allah akan menimpakan bencana yang bertubi-tubi. Na'udzubillahi min dzalik.

Sekecil apapun amanat atau kekuasaan yang diberikan kepada kita hendaknya kita meaksanakannya dengan sungguh-sungguh. Jangan sampai kita tidak mampu mempertanggungjawabkannya di hadapan Allah.

Pada hari kiamat kelak Allah akan memperlihatkan setiap amal perbuatan kita, dan kita tidak dapat mengelak dengan dalih apapun, sebagaimana dinyatakan Allah dalam surat Al Ankabut, ayat 36-37, yang artinya :

"Dan (Kami telah mengutus) kepada penduduk Mad-yan, saudara mereka Syu`aib, maka ia berkata: "Hai kaumku, sembahlah olehmu Allah, harapkanlah (pahala) hari akhir, dan jangan kamu berkeliaran di muka bumi berbuat kerusakan".
"Maka mereka mendustakan Syu`aib, lalu mereka ditimpa gempa yang dahsyat, dan jadilah mereka mayat-mayat yang bergelimpangan di tempat-tempat tinggal mereka."

Oleh karenanya, marilah kita benar-benar menyadari setiap tindakan kita. Tunduklah kepada Allah dan rasul-Nya, agar kekuasaan yang kita miliki membawa maslahat bagi seluruh masyarakat. Dan ketahuilah bahwa setiap orang adalah pemimpin, dan akan diminta pertanggungjawabannya kelak di Hari Kiamat.

Penyebab Kerusakan Dalam Kehidupan Bermasyarakat

Marilah taqwa kepada Allah dengan senantiasa melaksanakan perintah-perintahNya dan menjauhi larangan-laranganNya. Dengan taqwa inilah, kita akan mendapatkan keselamatan di dunia dan akhirat. Dan ketahuilah, bahwa diantara bukti taqwa kita kepada Allah, adalah senantiasa menaati Allah dan rasulNya.

Dalam keseharian, kita mengenal ayat kursi, sebagaimana firman Allah dalam surat Al Baqarah, ayat 255.

Kata "kursi" mengandung dua makna :
Pertama, harfiyah, adalah kursi sebagaimana bendanya seperti kursi yang ada di rumah kita.

Kedua, maknawiyah. Kursi dapat berarti pekerjaan, jabatan, kekuasaan dan sebagainya. Kursi erat hubunbgannya dengan administrasi, birokrasi, majlis syura, pemerintah dan sebagainya. Dan karena itu pula, kursi menyimpan bertumpuk pengharapan manusia yang mendambakan kehidupan yang lebih baik.

Keberadaan administrasi misalnya, pada awalnya dimaksudkan untuk memudahkan urusan warga masyarakat. Demikian pula kehadiran lembaga ekskutif, yudikatif dan legislatif, adalah agar manusia tidak hidup liar dan senantiasa berada dalam wilayah keberadaan, namun dalam perkembangan selanjutnya hal-hal yang hakikat itu selalu ditunjukkan. Bahkan sebaliknya yang muncul adalah kendala, kesulitan dan penderitaan.

Secara umum kursi sering berhubungan dengan kewenangan atau kekuasaan. Ketahuilah saudara-saudaraku, kewenangan berarti memberi pelayanan kepada masyarakat, yakni memberi sejumlah jasa dan fasilitas supaya hajat atau kebutuhan masyarakat terpenuhi.
Tetapi pergeseran nilai, kepentingan dan keserakahan seringkali memporakporandakan tatanan. pemerintahan yang baik. Pemerintahan dapat menjadi korban manusia yang bermental brutus atau pengkhianat yang melecehkan dan menggerogoti tatanan.

Dalam Al Qur'an surat An Naml ayat 48-53, tersirat ada 9 (sembilan) oknum yang menggerogoti pemerintahan (birokrasi).

"Dan adalah di kota itu, sembilan orang laki-laki yang membuat kerusakan di muka bumi, dan mereka tidak berbuat kebaikan."
"Mereka berkata: "Bersumpahlah kamu dengan nama Allah, bahwa kita sungguh-sungguh akan menyerangnya dengan tiba-tiba beserta keluarganya di malam hari, kemudian kita katakan kepada warisnya (bahwa) kita tidak menyaksikan kematian keluarganya itu, dan sesungguhnya kita adalah orang-orang yang benar".
"Dan merekapun merencanakan makar dengan sungguh-sungguh dan Kami merencanakan makar (pula), sedang mereka tidak menyadari."
"Maka perhatikanlah betapa sesungguhnya akibat makar mereka itu, bahwasanya Kami membinasakan mereka dan kaum mereka semuanya."
"Maka itulah rumah-rumah mereka dalam keadaan runtuh disebabkan kezaliman mereka. Sesungguhnya pada yang demikian itu (terdapat) pelajaran bagi kaum yang mengetahui".
"Dan telah Kami selamatkan orang-orang yang beriman dan mereka itu selalu bertakwa."

Sebuah kota atau peradaban, dapat rusak karena perilaku 9 (sembilan) orang ini. 9 orang ini, adalah symbol perusak-perusak yang bertempat dalam masyarakat maupun pemerintahan. Simbol-simbol ini memiliki segmentasi sendiri-sendiri, antara lain :
Pertama, polisi. Yakni, jika ada oknum polisi yang merusak keamanan, pasti kepercayaan masyarakat terhadap polisi menjadi berkurang.

Kedua, jaksa. Yakni, oknum jaksa yang menuntut seseorang agar dihukum padahal orang tersebut tidakbersalah atau menjadi korban fitnah.

Ketiga, hakim. Yakni oknum hakim yang mengadili secara dzalim, memutus perkara berdsarakan pesanan dan menghukum orang yang tak bersalah.
Keempat, pedagang. Yakni pedagang yang menimbun bahan kebutuhan pokok sehingga rakyat kecil sengsara

Kelima, majlis syura. Yakni anggota-anggota majlis syura yang mendukung atau melegalkan kemakshiatan dan membuat UU atau peraturan yang tidak memihak rakyat.

Keenam, ekskutif/pejabat. Yakni pejabat yang menyalahgunakan jabatan untuk kepentingan sendiri atau untuk korupsi.

Ketujuh, tentara. Yakni bukannya membela negara dan melindungi rakyat, malah membela penjahat.

Kedelapan, para pendidik. Yakni munculnya jual beli ijazah, data-data palsu, suap menyuap, dan ilmu untuk menipu.

Kesembilan, Dokter. Yakni membuka praktik-praktik tidak sah, pengobatan ngawur, biaya kesehatan yang sangat mahal dan sebagainya.

Oknum-oknum yang disebutkan di dalam Al Qur'an tersebut adalah penyebar bibit penyakit yang dapat merusak kehidupan pemerintahan maupun masyarakat secara umum. Kaum perusak ini mengaku melakukan tindakan benar yang seolah-olah membangun masyarakat, namun sesungguhnya mereka memperdayai masyarakat dengan berbagai maker, tipu daya, kemunafikan dan kelicikannya. Sesungguhnya tindakan mereka diketahui oleh Allah SWT, Dzat Yang Maha Mengatahui atas segala sesuatu.

Dalam keadaan demikian, hampir-hampir kita berputus asa karena seluruh lapisan masyarakat telah mereka rusak. Dan orang-orang yang semula baik pun menjadi rusak diakibatkan ajakan, bujuk rayu, dan penularan bibit penyakit dari para perusak. Namun janganlah kita berputus asa dari rahmat Allah, karena putus asa dari rahmat Allah sama artinya dengan membiarkan perusak-perusak itu berkeliaran di muka bumi melakuakan perusakan dari satu tempat ke tempat lainnya.

Sebaliknya, kita semua harus melakukan sesuatu agar para perusak tersebut mendapat balasan yang setimpal dari Allah, dan Allah berkenan menyelamatkan kita semua. Kita semua mesti mengambil pelajaran dari apa yang telah dilakukan oleh kaum perusak. Dan janganlah kita mengikuti ajakan, tipu daya dan bujuk rayu kaum perusak yang menjerumuskan kehidupan kita dalam kesengsaraan di masa kini dan masa yang akan datang.

Saudara-saudaraku, kasihanilah anak cucu kita yang akan menanggung penderitaan berkepanjangan manakala kita tidak memperbaiki diri dengan turut serta membangun kebajikan-kebajikan di dalam keluarga maupun tempat kerja. Hendaknya kita menyadari bahwa kehidupan ini tidak boleh hanya untuk kepentingan diri sendiri.

Ketahuilah bahwa anak cucu kita pun mengharapkan kehidupan yang lebih baik, adil dan makmur. Semua ini tidak akan terwujud manakala kita berbuat kerusakan. Kita tidak akan memperoleh kemajuan di dalam kehidupan berkeluarga, berbangsa dan bernegara manakala kita tidak ikut serta membantu membangun kebaikan. Sebaliknya jika kita menuruti hawa nafsu kaum perusak, maka kita akan hidup dalam lingkaran syetan selama-lamanya.

Ketahuilah, Allah akan menyelamatkan orang-orang yang beriman dan selalu bertaqwa. Karena orang yang bertaqwa adalah orang yang takut kepada Allah dan yakin akan balasan Allah di akhirat. Maka jika kita menginginkan kehidupan ini lebih baik bagi semua pihak, marilah kita selalu bertaqwa. Ingatlah akan siksa Allah di dunia dan akhirat.

Bersikap 'Adil di Dalam Melayani Masyarakat

Marilah bertaqwa kepada Allah, yakni dengan senantiasa melaksanakan perintah-perintahNya dan menjauhi larangan-laranganNya. Ketahuilah, taqwa juga mengandung arti "menghindar" karena sesungguhnya orang yang bertaqwa berarti menghindar dari ancaman dan siksaan Allah.

Diantara anugerah Allah kepada kita semua adalah menjadikan hidup manusia saling ketergantungan satu sama lain. Setiap orang dilebihkan atas orang lain. Karunia ini menunjukkan kepada kita bahwa manusia harus saling memberi manfaat kepada orang lain. Jangan sampai karunia Allah ini dipergunakan untuk mendzalimi atau merugikan orang lain. Oleh karena itu, kita tidak boleh menganggap remeh orang lain, karena setiap manusia memiliki manfaat masing-masing sesuai dengan kedudukannya.

Imam Bukhari dan Muslim radhyillahu 'anha meriwaytakan dari Sahl bin Sa'd As-Sa'idi, ia berkata : "Pernah ada seseorang yang lewat di hadapan Nabi Muhammad SAW. Lalu beliau bertanya kepada seseorang yang berada di dekat beliau,"Bagaimana menurutmu orang ini ?. Dia menjawab :"Orang tersebut termasuk manusia yang paling mulia. Demi Allah, jika dia meminang, pasti akan diterima; dan jika minta bantuan, pasti akan diberi." Rasulullah SAW lalu diam.

Tak lama kemudian, datang orang lain yang lewat di situ. Rasulullah SAW bertanya lagi,"Bagaimana menurutmu orang ini ?." Dia menjawab,"Wahai Rasulullah, orang ini dari kalangan muslim yang fakir. Jika dia meminang, tentu akan ditolak; jika dia meminta bantuan, tentu tak akan diberi, dan jika dia berbicara tentu tak akan ada yang mau mendengarnya." Rasulullah SAW bersabda : "Orang yang kedua tadi nilainya lebih baik dari dunia seisinya. Demikianlah perbandingan antara orang yang pertama dan kedua tadi.

Dari riwayat ini jelas bahwa kita tidak boleh menganggap remeh setiap manusia. Belum tentu orang yang tampak memiliki kekuasaan, harta benda, jabatan ataupun terlihat mulia di sisi manusia, memiliki nilai yang unggul di sisi Allah. Ketahuilah, Allah menilai hamba-hambaNya dari ketaqwaannya. Jika kita tidak beriman, tidak berbuat baik kepada sesama; berlaku tidak sopan, pilih kasih atau mengabaikan hubungan antar sesama makhluk-Nya, bisa jadi kita tidak bernilai apapun bagi Allah.
Rasulullah SAW bersabda :

"Sungguh kelak pada hari kiamat akan datang seseorang yang bertubuh tinggi besar, namun nilainya di sisi Allah lebih rendah daripada seekor naymuk (HR. Bukhari-Muslim).

Sabda Nabi ini merupakan perlambang kepada kita semua, bahwa semua hal yang kita banggakan di dunia ini tidak memiliki makna apapun di sisi Allah, manakala kita tidak beriman, bertaqwa dan berbuat baik kepada sesama makhluk-Nya. Jangan menganggap derajat kita yang tinggi, harta benda kita yang banyak, nama besar kita dan segala hal yang membuat orang lain hormat bahkan takut, dapat membawa manfaat di akhirat kelak. Sungguh merugi akhir hidup kita kelak, manakala ucapan, sikap dan perbuatan kita jauh dari ridha Allah, hanya karena kita merasa dihormati, merasa penting, merasa besar, dan merasa tinggi derajatnya dari orang lain, sehingga kita enggan untuk berbuat baik kepada sesama makhluk Allah.

Oleh karena itu, Rasulullah SAW menerangkan kepada kita agar berbuat baik kepada sesama. Diantaranya : dengan cara berbuat adil dalam kepemerintahan dan Rasulullah SAW melarang berbuat curang dalam tatatanan pemerintahan sebagaimana dinyatakan dalam riwayat Siti 'Aisyah ra.

"Muslim meriwayatkan dari 'Aisyah ra, ia berkata : "Aku mendengar Rasulullah SAW berdo'a di rumahku,"Ya Allah barangsiapa yang menjabat suatu jabatan untuk mengatur urusan ummatku, namun lalu mempersulit mereka, maka berilah kesulitan kepadanya; sedang barangsiapa yang menjabat suatu jabatan untuk mengatur urusan ummatku, lalu mempermudah mereka, maka berilah kemudahan kepadanya."

Bukhari Muslim juga meriwayatkan dari Ma'qil bin Yasar ra. Ia berkata,"Aku pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda : Tidaklah seseorang hamba yang Allah amanati untuk menjabat suatu kepemimpinan lalu mati, sementara ia melakukan keculasan dalam kepemimpinan/jabatannya, melainkan Allah mengharamkan syurga baginya."

Dalam riwayat Muslim disebutkan :"Tidaklah seorang pejabat yang mendapat kepercayaan untuk mengatur urusan kaum muslimin, namun tak bersungguh-sungguh dalam memberikan pelayanan dan tidak pernah mau memberikan nasihat kepada mereka, melainkan dia tidak akan masuk syurga bersama mereka."

Dengan memahami ajaran Rasulullah SAW ini, hendaknya kita senantiasa berusaha sungguh-sungguh di dalam menjalan tugasnya. Perintah Rasulullah ini pun sesungguhnya tidak terbatas dalam urusan kepemerintahan baik di tingkat yang paling kecil hingga paling besar, namun sesungguhnya berlaku juga di dalam semua urusan kehidupan kita seperti di dalam berkeluarga dan berorganisasi. Oleh sebab itu, setiap tanggungjawab atau pun amanat yang kita tanggung, akan dimintai pertanggunganjawabannya oleh Allah SWT.

Tentu kita tidak ingin mengalami kesulitan di dalam mempertanggungjawabkan amanat kita di hadapan Allah SWT. Kita ingin memperoleh kemudahan, rahmat dan pahala di sisi Allah. Maka janganlah kita menjerumuskan diri kita ke dalam kesulitan akhirat, dengan tidak mau mempermudah urusan sesama makhluk Allah.

Dan janganlah kita memandang rendah orang-orang yang membutuhkan kita sehingga mendorong kita untuk berbuat dzalim kepada mereka. Sesungguhnya setiap orang adalah bersaudara dan memiliki perasaan yang sama. Jika kita tidak menyukai disakiti, maka hendaklah jangan menyakiti orang lain. Jika kita tidak suka orang lain mempersulit kita, maka janganlah kita mempersulit mereka.

Dan yang lebih penting, janganlah kita mendapat kesulitan di hadapan Allah. Sebab di akhirat kelak, tidak ada lagi yang bisa menolong diri kita, selain ketaqwaan kita.

Ya Allah, perbaikilah agamaku yang merupakan pokok dari segala urusan, perbaikilah duniaku yang merupakan tempatku hidup; perbaikilah akhiratku yang merupakan tempat kembaliku. Jadikanlah hidupku sebagai sarana bertambahnya kebaikan dan jadikanlah kematianku sebagai sarana pupusnya keburukan.

"Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran. (Q.S.16:90)"

Senin, Juni 08, 2009

Peran Masyarakat Dalam Mewujudkan Pemerintahan Yang Baik

Amanat yang dikaruniakan Allah sesungguhnya sangat berat untuk dilaksanakan. Seorang ayah, harus mendidik anaknya, seorang pedagang harus berdagang dengan benar, seorang pekerja harus bekerja dengan benar, seorang pemimpin, harus memimpin dengan benar. Demikianlah setiap orang menanggung amanatnya masing-masing. Semua ini, harus dipertanggungjawabkan di akhirat kelak.
Rasulullah SAW bersabda :

"Setiap orang dari kalian adalah pemelihara yang akan dimintai pertanggungjawaban atas pemeliharaannya. Seorang Imam adalah pemimpin, dan akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyatnya. Seorang suami akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinan keluarganya, dan seorang perempuan adalh pemelihara di rumah suaminya, dan seroang pelayan adalah juga pemelihara atas kepemeliharaannya." (HR. Bukhari).

Namun, kita memahami bahwa setiap amanat yang dikerjakan karena Allah, niscaya akan mendatangkan kebaikan. Sebaliknya setiap amanat yang dikerjakan karena menuruti hawa nafsu dan mementingkan diri sendiri, sudah pasti akan membawa madharat atau kerugian. Jenderal Khalid bin Walid ra memberikan contoh kepada kita bahwa segala sesuatu yang dimiliki adalah amanat Allah. Dikisahkan bahwa menjelang peperangan, Umar bin Khatab selaku khalifah memecat Jenderal Khalid bin Walid. Ia diganti oleh Abu Ubaydillah ra.

Dalam hatinya, Khalid bertanya kesalahan apa sehingga Khalifah memecatnya. Padahal kemenangan demi kemenangan telah diraihnya dalam setiap pertempuran. Ternyata Umar bin Khatab memecatnya justru karena ia mencintai Khalid bin Walid. Umar berkata, "Kau adalah panglima hebat. Di tanganmu kehormatan agama Islam ditegakkan dan orang-orang yang tertindas terlindungi. Namun, aku khawatir kau akan merasa bangga diri dengan kemenangan-kemenanganmu sehingga kau melupakan Allah."

Khalid bin Walid menangis di hadapan Khalifah Umar ra. Ia merasa bahagia karena khalifah telah membebaskannya dari api neraka. Sebab sekiranya ia terserap dalam kebanggan diri, maka Allah akan menghapus perjuangannya. Sehingga tidak mendapat balasan akhirat, melainkan balasan dunia yaitu nama besar saja.

Namun demikian, Khalid bin Walid ra tidak mutungi, kecewa dan ngrecoki Abu Ubaydillah ra selaku panglima perang yang baru. Sebaliknya, ia turut serta jihad fi sabilillah bersama-sama dengan ummat Islam. Sebab Khalid bin Walid jihad fi sabilillah karena Allah. Khalid bin Walid bekerja untuk Allah, bukan karena harta rampasan, nama besar dan jabatan. Khalid bin Walid ra sama sekali tidak bekerja agar dipuji dan dicintai Umar bin Khatab selaku khalifah; melainkan ia bekerja agar Allah ridha kepadanya. Sehingga ia selalu berjuang dengan gigih demi Allah.

Kekuasaan sepertinya merupakan sesuatu yang menggiurkan. Semua orang berlomba mendapatkan kekuasaan. Memang, kekuasaan memberikan kehormatan dan harga diri. Namun, kita lupa bahwa, kekuasaan itu menuntut tanggung jawab.

Disinilah kekuasaan itu menjadi tidak mudah. Sebab, kekuasaan tidak bisa dilihat hanya sekedar sebagai panggung tempat pemegang kekuasaan untuk tampil dan mempertontonkan kehebatannya. Kekuasaan harus memberikan manfaat kepada masyarakat yang dipimpin. Kekuasaan harus dipakai untuk memberikan kesejahteraan umum ( bonum publicum).

Mengapa demikian ? Kekuasaan yang tidak dipergunakan sebagaimana mestinya, akan melahirkan kesengsaraan dan penderitaan masyarakat. Kekuasaan tanpa tanggungjawab akan menghancurkan kehidupan masyarakat. Sejarah telah menunjukkan bahwa salah satu diantara sebab kehancuran dunia adalah kedzaliman pemimpin. Kekuasaan, menuntut tanggungjawab dan akan dimintai pertanggung jawabannya di hari akhirat kelak.

Setidaknya ada empat hal yang meruntuhkan tata kemasyarakatan. Pertama, kedzaliman pemimpin. Kedua, pengkhianatan dan kebohongan 'alim 'ulama atau kaum terpelajar. Ketiga, kebakhilan orang-orang kaya. Keempat, amarah kaum dhu'afa.

Kepemimpinan tidak terbatas pada pemerintahan atau negara saja. Namun juga meliputi kepemimpinan dalam keluarga. Menjadi seorang suami atau ayah, berarti juga menjadi pemimpin. Oleh karena itu kedzaliman juga bisa terjadi di dalam keluarga. Seorang suami atau ayah yang semena-mena, tidak memperhatikan akhlak dan budi pekerti keluarga, juga dapat dikategorikan sebagai kedzaliman.

Dengan lain kata, menjadi seorang pemimpin di dalam keluarga bukan hanya menguasai keluarga dan mempertontonkan kekuasaan di hadapan anak isterinya. Namun juga harus ingat akan tanggung jawabnya. Sekecil apapun kekuasaan yang dimiliki hendaklah dipakai untuk memberikan kesejahteraan dan manfaat kepada orang yang dipimpin.

Untuk itulah, tidak semua orang berhasil ketika diberi kekuasaan. Bahkan, seringkali kekuasaan itu hanya dipakai untuk kepentingannya sendiri, hanya dinikmati kehormatannya, tidak tanggung jawabnya. Dengan kekuasaan itu, banyak orang menjadi lupa diri dan merasa menjadi orang yang tak tertandingi.

Keikhlasan menuntun jiwa kita menghamba kepada Allah dengan benar. Karena Allah seorang isteri melayani suami. Karena Allah seorang suami memberi nafkah karena diperintahkan Allah. Seorang pelajar belajar karena Allah. Seorang karyawan bekerja karena Allah. Pengabdian kepada Allah menuntun kita sebagai anggota masyarakat merasa wajib mendorong, menasehati dan berpartisipasi dengan segala kemampuan yang dimiliki agar kehidupan menjadi semakin baik.

Sesungguhnya mencari ridha Allah sangat sulit. Seseorang harus memilih menuruti hawa nafsu atau ridha Allah. Namun iman dan rasa takut kepada Allah menuntun kita untuk mencari ridha Allah. Semoga kita dikaruniai kekuatan dan keberanian untuk senantiasa berbuat kebajikan.

Menasehati Para Pemimpin (Budaya Kontrol Sosial)

Marilah kita meningkatkan iman dan taqwa kita kepada Allah SWT. Yaitu, dengan senantiasa melaksanakan perintah-perintahNya dan menjauhi segala larangan-laranganNya. Dan sesungguhnya kita semua wajib menaati Allah dan rasulNya.

Dahulu Umar bin Khatab ra pernah menerima pertanyaan pedas dari seorang nenek renta yang lemah ketika sedang berpidato di depan umum. Si nenek bertanya tentang asal muasal pakaian yang dikenakannya. Si nenek bersikeras jika ia tidak mengetahui asal muasal pakaian yang dikenakannya, dia tidak akan menaatinya. Setelah dijawab bahwa pakaian yang dikenakan adalah jatah pembagiannya sebagai khalifah, baru si nenek mempersilahkan Umar ra meneruskan pidatonya dan ia sanggup menaatinya.

Kontrol sosial atau menasehati para pemimpin/penguasa merupakan sunnah rasul dan tabi'at para pemimpin Islam. Rakyat, tanpa memandang status sosialnya merasa berkewajiban dan berani mengkritik atau mengoreksi segala kebijakan atau tindakan yang dilakukan pejabat Negara, pada setiap kesempatan terbuka. Sebaliknya, para pejabat Negara tanpa memandang posisi dan jabatannya merasa berkewajiban menerima kritik dan koreksi dari rakyatnya, tanpa ada perasaan tersinggung atau terrendahkan martabatnya, walau kritik dan koreksi dilakukan di depan umum.

Prinsip kontrol sosial ini bersumber dari norma-norma Islam yang diterima secara utuh dan sepenuh hati oleh para pejabat Negara dan rakyatnya. Hal ini tertuang dalam hadist Nabi Muhammad SAW yang artinya :

Tuhan menjadi ridha kepadamu dalam tiga perkara. Pertama, hendaklah kamu sembah Dia dan sekali-kali jangan kamu mempersekutukan Dia dengan sesuatu apapun juga. Kedua, kamu berpegang teguh pada tali Allah dan jangan kamu berpecah belah. Ketiga, hendaklah kamu menasehati (mengkritik dan mengoreksi) orang-orang yang ditakdirkan Tuhan menjadi penguasamu (HR. Muslim)."

Selanjutnya Nabi Muhammad SAW menjelaskan bahwa kontrol sosial dapat menghilangkan perasaan dengaki hati setiap muslim, baik bagi yang dikritik maupun yang mengkritik. Dalam hadist lainnya, Rasulullah SAW bersabda :

Ada tiga perkara yang tidak membuat dengki hati setiap muslim. Pertama, amal ikhlash karena Allah. Kedua, menasehati (control social) terhadap para penguasa. Ketiga, bergabung dengan jama'ah kaum muslim karena sesungguhnya pertolongan itu mengalir dari pihak mereka (HR Bukhari).

Allah SWT mengajarkan kepada kita untuk senantiasa saling mengingatkan. Tujuannya adalah agar kita senantiasa bisa tetap di dalam kebaikan. Alangkah baiknya jika kita membiasakan diri untuk saling mengingatkan baik di dalam keluarga, kantor, tempat kerja, berorganisasi maupun dalam hidup bermasyarakat. Jika kita tidak membiasakan saling mengingatkan atau saling menasehati, maka kita termasuk orang yang rugi disebabkan kita tidak tahu kekurangan dan kelemahan di dalam menjalankan tugas dan kewajiban. Oleh sebab itu, saling mengingatkan atau saling menasehati merupakan usaha kita untuk mendapatkan kebaikan bersama.

Alangkah celakanya hidup kita jika tidak ada yang saling mengingatkan. Allah menganggapnya sebagai kerugian manakala budaya saling menasehati sudah hilang di tengah-tengah masyarakat. Kita tidak tahu mana yang benar dan mana yang salah, dan kehidupan akan berjalan semaunya sendiri. Kehidupan seperti ini akan melahirkan budaya tidak peduli, serba boleh, dan tidak mau tahu urusan orang lain. Namun terkadang, kita tidak memiliki keberanian atau pakewuh untuk mengingatkan. Tidak seharusnya demikian, sebab saling mengingatkan merupakan bukti cinta dan kasih sayang sesama muslim. Dengan mengingatkan atau menasehati, berarti kita menyelamatkan saudara-saudara kita dari bahaya yang menimpa di dunia dan akhirat. Sebaliknya dengan membiarkan perilaku-perilaku yang menyimpang, sama saja dengan menjerumuskan kita semua dalam bahaya dunia dan akhirat.

Oleh sebab itu, setiap muslim berkewajiban saling menasehati saudara-saudara sesama muslim dari hal-hal buruk yang akan menimpa kita semua. Jika kita membiasakan hidup saling menasehati, niscaya kita semua akan memperoleh kebaikan dan barakah di dalam berkeluarga, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Janganlah kita merasa sakit hati apabila ada yang menasehati.

Allah SWT berfirman dalam surat Al 'Ashar, ayat 1-3 yang artinya :
"Demi masa.
Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian,
kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran."

Dalam firman ini, Allah bersumpah bahwa siapa pun yang tidak beriman, beramal shalih dan saling menasehati di dalam kebenaran, pasti akan rugi hidupnya. Ketahuilah, bahwa setiap manusia pasti membutuhkan perhatian orang lain. Diantara bentuk perhatian itu adalah nasehat. Ketahuilah, barangsiapa yang tidak mau menerima nasehat kebenaran, maka ia termasuk golongan orang berhati batu yang diancam Allah akan dimasukkan ke dalam neraka Wel, sebagaimana firmanNya dalam surat Az-Zumar, ayat 22 yang artinya :.

"Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang telah membatu hatinya untuk mengingat Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata."

Seorang pemimpin, seorang ayah, atau siapapun yang tidak mau menerima nasehat, sangat mungkin terjerumus di dalam kesesatan. Oleh sebab itu, janganlah kita merasa malu menerima nasehat orang lain, meskipun nasehat itu diberikan oleh seorang anak kecil, tua renta, tidak berpendidikan atau orang miskin.

Selama nasehat diberikan dengan cara-cara yang baik dan dilandasi dengan iman dan kasih sayang untuk menyelamatkan sesama muslim, maka tidak ada alasan untuk merasa takut memberi nasehat dan sakit hati ketika mendapat nasehat. Nasehat itu ibarat obat, meskipun rasanya pahit, namun dapat membawa kesembuhan bagi orang sakit. Imam Ali bin Abi Thalib berkata :

"Perhatikan apa yang dikatakan dan janganlah melihat siapa yang mengatakan."
Dalam sebuah hadist, disebutkan :
"Katakanlah /sampaikan kebenaran walaupun pahit. (HR. Bukhari)

Marilah kita terus menjaga hubungan baik antara sesama muslim dengan saling memberikan nasehat atau kontrol sosial di dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara menurut ketentuan Islam, sehingga kebenaran dapat ditegakkan baik di dalam keluarga, masyarakat, tempat kerja dan dimanapun berada. Semoga dengan saling menasehati ini, kita mendapatkan barakah dan diselamatkan dari bahaya dunia dan akhirat. Amin Ya Rabbal 'alamin.

Kewajiban Menciptakan Rasa Aman

Rasa aman merupakan kebutuhan dasar setiap manusia. Tidak ada satu pun manusia yang menginginkan celaka dan terganggu hidupnya oleh ulah orang lain. Bila dicermati, kebutuhan akan rasa aman, sama dengan kebutuhan akan pangan dan sandang. Ketika seseorang memiliki kendaraan misalnya, tentu ia ingin agar kendaraannya itu aman. Seseorang yang berjalan di tengah malam, ingin perjalanannya lancar, tidak terganggu oleh bahaya-bahaya yang menghadangnya.

Hidup tidak akan selaras dan aman jika manusia berada dalam bahaya. Sebaliknya hidup akan tenteram jika bahaya-bahaya yang menghadangnya dapat diatasi. Ketidakamanan akan mempengaruhi kehidupan bukan hanya diri sendiri namun juga masyarakat. Akibat yang lebih besar adalah masa depan masyarakat itu sendiri. Sebagai contoh, jika suatu tempat itu penuh bahaya, tentu orang merasa kahwatair dan was-was atas keselamatan dirinya.

Jika seseorang suka merugikan/membahaykan orang lain, tentu orang lain akan enggan bergaul dengannya. Kalaupun bisa bergaul, ia hanya akan bergaul dalam lingkungannya yang sangat terbatas.

Ada beberapa sebab mengapa seseorang senang menganiaya atau menyakiti orang lain yang ujung-ujungnya adalah menimbulkan ketidaktenteraman masyarakat.

Pertama, belum bisa meninggalkan rasa iri hati/dengki.
Iri dan dengki timbul karena tidak memandang kenikmatan sebagai suatu karunia yang harus disyukuri, melainkan memandangnya sebagai suatu keharusan dan kepastian. Akibatnya ketika kenikmatan yang diharapkannya itu datang kepada orang lain, ia tidak rela dan timbul kebencian. Ia tidak mampu bersikap qana'ah atau menerima karunia Allah seperti apa adanya, sehingga hatinya tidak ikhlash, timbul iri dan ingin mengganggu orang lain.

Kedua, tidak sadar perbuatan mengganggu dapat menimbulkan permusuhan dan perpecahan tali persaudaraan.

Ketiga, tabi'at yang kasar.
Tabi'at yang kasar muncul dari hati yang kasar. Mengapa hati menjadi kasar ? Seringkali hati melupakan Allah. Seringkali manusia lupa bahwa setiap tindakan yang mendurhakai/menyakiti Allah dan RasulNya akan mendatangkan laknat di dunia dan akhirat serta siksaan yang amat pedih.

Allah SWT berfirman dalam surat Al Ahzab, ayat 57 :

Artinya : "Sesungguhnya orang-orang yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya. Allah akan mela`natinya di dunia dan di akhirat, dan menyediakan baginya siksa yang menghinakan."
Keemnpat, ambisi keduniawiaan yang terlalu berlebihan berupa tahtra, jabatan dan harta. Ambisi ini membutatulikan manusia dari peringatan Allah sehingga tidak segan-segan menghlalakan segala cara, fitnah, meneror dan menggnggu ketertiban umum, serta menyakiti saudara-saudaranya demi kesenangan hidup dirinya.

Kelima, tidak sadar bahwa setiap sesuatu yang menimpa orang lain, sesungguhnya tidak ingin menimpa dirinya juga. Ketika seseorang menyakiti orang lain, sesungguhnya dirinya pun tidak rela disakiti. Jika seseorang membahayakan orang lain, ia sesungguhnya tidak ingin bahaya itu menimpa dirinya. Namun nurani seperti ini akan lenyap manakala seseorang terasuki oleh iblis dan nafsu menyenangkan diri sendiri.

Seorang muslim bagai lebah, yang bila mencari makan, ia hanya memilih makanan yang baik, dan bila hinggap pada sebuah tempat, sekalipun tempat itu rapuh, namun tempat itu tidak akan menjadi rusak olehnya sedikitpun. Artinya seorang muslim yang baik, dimana saja ia berada, ia tak pernah mengganggu atau merugikan orang lain sedikitpun.

Orang muslim menjaga lidah dan tangannya dari menyakiti orang lain, apalagi mencelakakannya. Allah SWT berfirman dalam surat Al Ahzab, ayat 53 yang artinya :
"Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang mu'min dan mu'minat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata."
Demikian juga sabda Rasulullah SAW :

"Orang Islam adalah orang yang menyelamatkan orang – orang Islam dari lisannya dan tangannya. Dan orang yang berhijrah adalah orang yang hijrah dari apa yang dilarang Allah (HR. Bukahri dan Muslim)."

Syukur Alhamdulillah, kita berada di lingkungan yang memahami betapa pentingnya rasa aman dalam hidup kita. Kesadaran ini dapat terus kita tumbuhkan manakala kita semua berani melawan bahaya-bahaya yang merugikan diri dan masyarakat. Kita mesti bersama-sama menghilangkan bahaya-bahaya yang ada di dalam masyarakat dengan sikap yang tegas. Sikap ini diperlukan semata-mata supaya kita bisa hidup secara harmonis.

Oleh karena itu, setiap orang Islam adalah orang yang terikat kontrak untuk menciptakan ketenangan, keselamatan dan menghindarkan sesama muslim dari setiap marabahaya dan mengganggu kehidupannya. Setiap orang Islam berkewajiban menjaga lisan dan tangannya supaya tidak menyakiti saudara-saudara sesama muslim. Setiap orang Islam juga wajib berhijrah, yakni berpindah dari perilaku yang buruk kepada perilaku yang baik. Jika semula suka mengganggu atau menyakiti orang lain dengan lisan dan tangannya, maka seharusnya perilaku ini ditinggalkan, sehingga kita memperoleh berkah kehidupan. Yakni kehidupan yang aman.

Keamanan dapat kita ciptakan bersama. Syaratnya adalah kita memahami bahwa kehidupan yang aman sangat menyenangkan dan menenteramkan bukan saja untuk diri sendiri tetapi juga untuk masyarakat. Bukan untuk saat ini, tetapi juga untuk masa yang akan datang. Jika keamanan terwujud, orang tidak perlu takut dan stress memikirkan bahaya-bahaya yang mungkin menghadangnya setiap saat. Berjalan di mana saja dan kapan saja, tenang. Berdagang, bersekolah dan bepergian pun tidak dihantui was-was bahaya yang mungkin menimpanya.

Demikianlah khutbah jum'at ini. Akhirnya saya berpesan bahwa Islam memerintahkan ummatnya agar memberi rasa aman kepada orang lain, tak boleh mengganggu dan menyakiti, serta meresahkan orang lain. Orang Islam yang tidak mau berubah dan terus menerus menganggu orang lain dengan lisan dan tanggannya, sama artinya dengan keluar dari tuntunan Islam.

Empat Pilar Penyangga Kehidupan Masyarakat

Marilah kita senantiasa meningkatkan iman dan taqwa kita kepada Allah SWT. Yaitu, dengan senantiasa melaksanakan perintah-perintahNya dan menjauhi segala larangan-laranganNya. Sebab dengan iman dan taqwa inilah, manusia akan selamat di dunia dan akhirat.

Maju mundurnya masyarakat tidak lepas dari kesediaan kita untuk saling menopang di dalam kehidupan. Kita tidak bisa hidup sendirian. Apapun kekuatan dan kehebatan yang kita miliki, sama sekali tidak akan berguna untuk membangun kehidupan dan kesejahteraan bersama, manakala tidak didasari rasa saling membantu dan kebersamaan untuk mewujudkan kehidupan yang lebih baik. Nabi Muhammad SAW bersabda :

“Dunia ditegakkan dengan empat hal : ilmu para 'ulama, pemimpin yang adil, kedermawanan orang-orang kaya dan do’a orang-orang fakir (HR. Bukhari).”

Sabda junjungan kita Muhammad SAW ini mengajarkan kepada kita agar memperhatikan empat pilar atau sendi-sendi kehidupan, supaya kehidupan benar-benar tenteram karta raharja.

Pilar yang pertama adalah ilmunya ulama. Ilmu para ‘ulama diperlukan agar setiap orang dapat memperoleh kejelasan mana yang haq dan bathil, mana yang haram dan halal. ‘Ulama ibarat cahaya yang menerangi bumi. Jika cahaya ini telah rusak dan redup, maka manusia akan tersesat; tidak tahu lagi mana yang haq dan bathil.

Kedua : Pemimpin yang adil.
Sesungguhnya jabatan bisa menjadi rahmat. Manakala kekuasaan yang dimiliki menjadikannya rendah hati dan mempergunakan wewenang yang dimilikinya untuk kebaikan ummat. Sebab jabatan adalah sebuah amanah. Sebaliknya jabatan bisa mendatangkan laknat dan murka Allah, manakala wewenang yang dimilikinya dipergunakan semena-mena dan semaunya sendiri.
Kita semua juga harus belajar bahwa ketika memilih seorang pemimpin, mulai dari pemimpin keluarga, kelompok, desa hingga pemimpin yang paling tinggi sekalipun, dasarnya bukan hanya suka atau tidak suka kepada seseorang. Tidak hanya sekedar melihat asal muasal, kekayaan dan pamrih dari si pemimpin. Kita harus memperhatikan kepribadiannya. Kepribadian ini dapat dilihat dari sikap, keberanian, konsep, ilmu dan akhlaknya. Nabi SAW bersabda :

“Manusia itu menurut agama pemimpinnya.” (HR. Ibnu Majahi)

Yakni, orang-orang yang dipimpin atau masyarakat sangat tergantung pada pemimpinnya. Akhlak dan sikap pemimpin akan menentukan akhlak dan sikap orang-orang yang dipimpinnya. Jika pemimpinnya berakhlak baik, niscaya orang-orang yang menjadi bawahannya pun akan berakhlak baik pula. Jika pemimpinnya mampu menegakkan amar ma'ruf nahi munkar, niscaya orang-orang yang menjadi bawahannya pun turut demikian.

Namun ingatlah saudara-saudaraku, pemimpin yang adil tidak akan terwujud manakala tidak memperoleh dukungan dari orang-orang yang ikhlash, berani dan cerdik. Sebab adakalanya kejahatan justru dapat mengalahkan kebenaran. Kejujuran saja tidak cukup, melainkan juga harus disertai kecerdikan dan keberanian supaya tidak tertipu daya oleh berbagai macam godaan yang menyeret pemimpin ke dalam kedzaliman.

Oleh sebab itu, diantara sifat pemimpin yang adil adalah pemimpin yang berani memisahkan yang haq dan bathil (yang benar dan salah). Inilah yang dilakukan oleh Khalifah Umar ibn al Khatab ra. Dengan kekuatan dan keberaniannya, orang-orang yang akan berbuat curang di dalam pemerintahan takut terhadapnya dan masyarakat merasa dilindungi. Keberanian ini tumbuh karena Khalifah Umar bin Khatab ra takut kepada Allah SWT. Sebaliknya jika tidak takut kepada Allah SWT; maka yang terjadi adalah lupa diri dan sombong.. Dan ketahuilah saudara-saudaraku, bahwa setiap orang adalah pemimpin bagi dirinya sendiri.

Pilar yang Ketiga adalah kedermawanan orang-orang kaya. Di dalam kekayaan itu terdapat keharusan berbagi dengan sesama. Kepedulian diperlukan agar orang-orang yang membutuhkan, terutama fakir miskin dapat memperoleh kesejahteraan, dan memiliki martabat yang setara diantara sesama manusia. Orang kaya ibarat “Bendahara Tuhan,” yang harus membelanjakan hartanya untuk kemaslahatan ummat. Jika orang-orang kaya bersifat boros dan menghambur-hamburkan kekayaannya untuk kepentingan diri sendiri atau hawa nafsunya, niscaya akan makin banyak orang-orang yang terlantar, tidak berpendidikan, dan tidak hidup layak diantara sesama manusia.

Pilar yang Keempat adalah do’a orang-orang fakir. Ketabahan dan kesabaran orang-orang fakir akan menuntun masyarakat ke dalam rasa saling memahami dan tolong menolong, serta mampu menahan diri dari perbuatan-perbuatan tercela. Dan karena kebaikan-kebaikan para pemimpin, para cerdik pandai, ulama, dan orang-orang kaya itulah; orang-orang miskin berdo’a agar kita semua memperoleh kebajikan di dunia dan akhirat. Jika tidak, mereka tidak akan mendoakan kebaikan, melainkan justru akan melaknat dan mengutuk.

Hidup ini, tidak lain hanyalah agar kita bersama-sama bisa membangun masyarakat yang lebih baik. Dan sesungguhnya kehidupan akhirat lebih tinggi tingkatannya. Kita akan datang ke alam akhirat bukan karena kedudukannya, tetapi karena amal ibadahnya, sebagaimana firman-Nya :
"Perhatikanlah bagaimana Kami lebihkan sebagian dari mereka atas sebagian (yang lain). Dan pasti kehidupan akhirat lebih tinggi tingkatnya dan lebih besar keutamaannya" )Q.S.17:21)

Mudah-mudahan dengan tuntunan Allah dan Rasulullah SAW, kita bersama-sama dapat memahami kedudukan masing-masing di dalam masyarakat baik sebagai pemimpin, ulama, orang kaya ataupun dhu'afa, sehingga masyarakat dapat hidup dengan aman dan tenteram; adil dan makmur. Amin ya Rabb al 'alamin.

Menuju Kehidupan yang Tenteram

Marilah kita meningkatkan iman dan taqwa kita kepada Allah SWT. Yaitu, dengan senantiasa melaksanakan perintah-perintahNya dan menjauhi segala larangan-laranganNya. Sebab hanya dengan iman dan taqwa inilah, manusia akan selamat di dunia dan akhirat. Insya Allah.

Seringkali kita bertanya : “mengapa dunia sedemikian rusak ?.” Pertanyaan ini muncul ketika kita merasakan bahwa dunia menjadi tidak nyaman dan aman; dunia menjadi penuh dengan permusuhan dan kehidupan penuh dengan kedengkian, bahaya, penyakit dan sebagainya.

Setidaknya ada tiga hal yang membuat kerusakan dunia ini makin parah. Ketiga-tiganya, ada dalam diri manusia. Yaitu syuhlun mutha’un, hawan mutabi’un dan I’jab al mar’i binafsihi.

Pertama, syuhlun mutha’un, ialah sifat kikir yang selalu ditaati. Naluri ini mudah bersenyawa dengan watak buruk manusia yang lebih suka menerima daripada memberi, lebih suka menuntut hak daripada menunaikan kewajiban dan membayar hak. Dari sifat ini berkembang sifat durjana; selalu ingin menguasai, merampas segalanya, dan pantang memberi kesempatan kepada orang lain. Sifat ini juga dapat menjerumuskan manusia mengingkari nikmat-nikmat dan anugerah Allah SWT serta berpaling dari sesama manusia.

Sifat kikir menumbuhkan egoisme atau mementingkan diri sendiri. Akibatnya, tidak peduli pada kepentingan orang lain. Jika sifat ini tidak dikendalikan, maka akan terjadi jurang pemisah yang makin dalam antara yang kaya dan miskin. Orang lebih suka hidup boros dan bersenang-senang daripada membantu sesama manusia.

Kedua, hawan mutabi’un. Sebenarnya hawa atau nafsu merupakan karunia Allah SWT yang sangat mulia. Dengan nafsu manusia tergerak untuk berkarya, dan menabur jasa bagi kesejahteraan manusia. Namun, sayangnya nafsu ini sering tidak digunakan untuk kebajikan. Sebaliknya nafsu dibiarkan bebas tanpa kendali. Nafsu yang demikian, adalah nafsu yang merusak. Dan jika nafsu ini ditaati, maka akibatnya sungguh mengerikan. Manusia akan lebih kejam, lebih rakus dan lebih dzalim ketimbang binatang.

Ketiga, i’jabul mar’i binafsihi. Yakni bangga diri yang bersumber dari kesombongan. Karena ujub (bangga diri) manusia merasa seolah-olah semua kebaikan miliknya. Hanya dirinyalah yang suci, taat beribadah, benar dan jujur. Ia hanya kagum kepada dirinya, tidak mau menghargai atau senang dengan kebaikan orang lain dan mengira tak ada orang lain seperti dirinya.

Betapa dahsyatnya kerusakan yang akan menimpa dunia jika ketiga sifat tersebut terkumpul dalam satu orang. Oleh karena itu Allah SWT memerintahkan agar manusia senantiasa berjuang membersihkan dari dari sifat-sifat yang dapat menimbulkan kerusakan tersebut. Allah SWT berfirman dalam Qur’an surat Asy-Syams, ayat 7-8.

“Sungguh beruntung orang yang membersihkan dirinya. Dan sungguh celaka orang yang mengotorinya dirinya.”

Firman tersebut menjelaskan bahwa siapapun yang mau membersihkan dirinya akan mendapat keselamatan di dunia dan akhirat. Nafsu yang baik akan mendorong manusia berpikir positif dan menggerakkan manusia untuk berbuat kebajikan. Dan akibatnya akan terasa di dalam kehidupan sehari-hari seperti timbulnya rasa aman, tenteram, tolong menolong, saling peduli dan sebagainya.

Sebaliknya nafsu yang buruk seperti kikir, menuruti hawa nafsu dan membanggakan diri sendiri, akan mendorong manusia berpikir negatif dan menggerakkan manusia untuk berbuat kerusakan. Dan akibatnya pun akan sangat terasa dalam kehidupan sehari-hari seperti mudah timbul permusuhan, fitnah memfitnah, dengki, buruk sangka dan sebagainya.

Oleh karena itu, Allah SWT mengajak agar manusia segera kembali kepadaNya dalam keadaan biqalbin salim (hati yang selamat) atau nafsul muthmainnah (jiwa yang damai). Hati yang selamat dan jiwa yang damai menunjukkan bahwa ia telah melakukan perjuangan membersihkan diri dan berbuat kebajikan di dunia ini. Jika manusia mampu membersihkan diri dan senantiasa berbuat kebajikan, maka manusia akan kembali kehadiratNya dalam keadaan mendapat ridah Allah.

Ada beberapa usaha agar kita memperoleh jiwa yang diradhai Allah. Diantaranya :
· Membca Al Qur'an
· Qiyamullail atau shalat malam
· Berteman dengan orang shaleh
· Tidak kekenyangan, tidak terlalu banyak istirahat dan tidak terlalu banyak tidur
· Dzikrullah
· Taubat.

Taubat, merupakan tahap akhir untuk merontokkan segala kotoran dan karak hati kita, sehingga hati kita menjadi siap untuk menerima firman-firman Allah, menaati perintahNya dan menjauhi larangan Allah. Dalam keadaan inilah, ketenteraman dapat terwujud di dalam diri sendiri, keluarga dan masyarakat.
Allah SWT berfirman

"Hai jiwa yang tenang.
Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya.
Maka masuklah ke dalam jama'ah hamba-hamba-Ku,
dan masuklah ke dalam surga-Ku."

Kehidupan yang tenteram dimulai dari jiwa yang tenang. Oleh sebab itu tak ada jalan lain agar kehidupan ini lebih tenang dan tenteram selain dengan senantiasa mengikis sifat-sifat buruk kita seperti dengki, tidak berbelas kasih, mau menang sendiri, kasar dan amarah.

Wahai saudaraku, kehidupan ini tidak akan menjadi tenteram karta raharja manakala dalam diri kita tumbuh kedzaliman, kasar dan sifat-sifat buruk lainnya. Kikislah sifat buruk ini dengan merasa hamba Allah, sebab manusia tidak lebih dari setitik air hina dan seonggok daging yang kelak ditimbun tanah serta menjadi santapan cacing tanah.

Demikianlah khutbah jum’at ini. Semoga dengan firman-firman Allah diatas, kita semakin giat di dalam menambah sifat-sifat baik, dan mengiurangi sifat-sifat buruk, sehingga kita dapat pulang ke hadirat Ilahi Rabbi dalam keadaan di ridhai. Amin.

Memakmurkan Masjid

Puji syukur ke hadirat Allah SWT bahwa di tengah-tengah kehidupan kita, ada satu tempat yang sungguh-sungguh menyenangkan bagi bathin kita, yakni masjid. Kita banyak menyaksikan masjid-masjid yang dibangun dengan gotong royong dan perlu waktu lama untuk mewujudkannya. Dengan ketulusan dan amal jariyah kita semua, hampir setiap desa memiliki masjid yang bagus.

Dahulu, Rasulullah SAW membangun masjid hanya dengan tanah-tanah liat yang keras dan sangat sederhana. Namun karena iman dan ketaqwaannya, mereka berbondong-bondong memanfaatkan masjid sebagai tempat mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Bahkan di zaman Rasulullah SAW, masjid bukan hanya digunakan untuk shalat berjama'ah, namun juga untuk berbagai kegiatan seperti majlis taklim dan musyawarah yang membahas kepentingan-kepentingan ummat Islam. Berpijak dari amaliah Rasulullah SAW ini, marilah kita senantiasa terus berusaha memakmurkan masjid dengan berbagai kegaiatan yang bermanfaat bagi ummat Islam agar masjid yang kita miliki ini tidak sepi dari kegiatan-kegiatan ibadah.

Allah SWT berfirman dalam surat At Taubat, ayat 18 yang artinya :

"Hanyalah yang memakmurkan mesjid-mesjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk."

Di antara usaha memakmurkan masjid adalah shalat berjama'ah, tadarus, pengajian, dzikrullah dan i'tikaf.

Shalat berjama'ah di tempat-tempat yang menonjol seperti di masjid dan mushalla, hukumnya wajib kifayah. Dengan kegiatan shalat berjam'ah ini, tampak syi'ar Islam. Kalau tidak ada yang melakukannya, maka semua ummat Islam berdosa. Dan bagi pemimpin negara dan pemerintahan, berwenang ngoprak-oprak agar shalat berjama'ah.

Diantara keutamaan shalat berjama'ah di masjid atau di mushalla adalah menjadikan sempurna shalatnya.
Rasulullah SAW bersabda :

" Tidaklah shalat seseorang yang (rumahnya) berdekatan dengan masjid, kecuali di masjid (HR. Baihaqy)."

Ada beberpa manfaat shalat jama'ah
Pertama, shalat jama'ah menambah derajat sampai dengan 27 derajat. Rasulullah SAW bersabda :

"Shalat berjama'ah lebih utama 27 derat daripada shalat sendirian (HR. Bukhari)."
Kedua, shalat jama'ah lebih dicintai Allah. Rasulullah SAW bersabda :

"Shalat seseorang dengan orang lain (berjama'ah) lebih baik daripada shalat sendirian. Shalat jama'ah dengan dua orang lebih baik daripada dengan satu orang. Lebih banyak orang, lebih disukai Allah" (HR. Ahmad.)

"Sesungguhnya Allah SWT dan para malaikat memberi shalawat kepada barisan pertama dan barisan-barisan berikutnya (HR. Abu Dawud)."
Ketiga, shalat jama'ah membebaskannya dari api neraka. Rasulullah SAW bersabda :

Barangsiapa yang mengetahui (melakukan) shalat jama'ah 40 hari berturut-turut, Allah mewajibkan baginya kebebasan dari api neraka dan nifak (HR. Abu Dawud).

Shalat jama'ah memang sangat berat. Namun manfaatnya sangat besar. Shalat berjama'ah dengan keluarga, dengan teman sekantor dan sekerja memungkinkan kita menjalin shilaturrahmi. Dalam shalat berjama'ah juga nampak kerukunan ummat Islam serta syi'ar ibadah Islam. Dalam shalat jama'ah di rumah, kita bertemu dengan anak isteri. Jika dilaksanakan di mushalla, kita bertemu dengan tetangga. Sampai akhirnya, tetangga dari berbagai dusun dan kampung berkumpul pada hari Jum'at untuk melaksanakan jama'ah shalat jum'at, hingga tampak kerukunan ummat Islam sehingga barangsiapa yang meninggalkan shalat jum'at tiga kali berturut-tururt, orang tersebut termasuk golongan munafik.

Sesungguhnya shalat jama'ah merupakan kendaraan kita menuju kemudahan-kemudahan akhirat. Betapa besar pahala orang yang shalat berjama'ah, apalagi orang yang membangun mushalla atau masjid lagipula mua melaksankan shalat berjama'ah.
Rasulullah SAW bersabda :

"Barangsiapa yang meninggalkan tiga kali shalat jum'at tanpa 'udzr, Allah mencatatnya termasuk golongan orang munafik." (HR. Thabrani


"Orang yang datang ke masjid (untuk shalat berjama'ah) ibarat mengendari perahu yang berhias permata, dan akan memberi syafa'at kepadanya".(HR. Bukhari)

Mengingat keutamaan-keutamaannya, maka marilah, kita melaksanakan shalat berjama'ah di masjid atau di mushalla,. Jika pun tidak dapat melakukannya, kita bisa melaksanakan shalat berjama'ah dengan keluarga, teman-teman di kantor dan di tempat kerja. Sebab pada dasarnya shalat berjama'ah ini dapat dikerjakan dimana saja dan dengan siapapun kita berada.

Mudah-mudahan dengan shalat berjam'ah kita senantiasa diberkahi Allah dan termasuk golongan orang-orang yang beriman yang senantiasa memakmurkan masjid. Firman Allah :

"Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku`lah beserta orang-orang yang ruku."

Toleransi dan Kerukunan Hidup

Marilah kita meningkatkan taqwa kepada Allah dan marilah kita menciptakan ishlah (perdamaian) dari segala macam perpecahan ummat Islam dan masyarakat. Jangan sampai gontok-gontokkan dan berpecah belah. Lebih-lebih berpecah belah karena masalah khilafiyyah atau sebab beda golongan, warna pakaian dan partai politik, dan janganlah fanatik suku dan golongan.

Hidup kita ini sesungguhnya seperti dua tangan yang saling membantu. Kedua-duanya tidak iri dan dengki, namun bekerja sesuai dengan pekerjaannya masing-masing manakala sedang dibutuhkan. Dan janganlah kita suka membanding-bandingkan antara satu golongan dengan golongan yang lain, ataupun mengeluarkan perkataan-perkatan yang menjadikan perpecahan. Ingatlah firman Allah SWT dalam surat Al Hujarat, ayat 10.

"Sesungguhnya orang-orang mu'min adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat."

Dan ingat pula sabda Rasulullah SAW :


"Orang Islam ibarat satu tubuh, apabila maranya sakit, maka seluruh tubuhnya pun sakit. Apabila kepalanya sakit, maka seluruh tubuhnya pun sakit." (HR. Abu Dawud)

Alkisah, suatu ketika Ali bin Thalib ditanya,”Wahai Ali, di zaman Rasulullah ummat Islam begitu rukun, dan berbuat baik, mengapa sekarang tidak?.”
Maklum, di zaman ‘Ali bin Thalib, benih-benih pertikaian politik antar sesama ummat Islam masih terasa. Lantas, Ali bin Thalib menjawab,” Di zaman Rasulullah, yang dipimpin adalah orang seperti kami, sebaliknya di zamanku, orang seperti kalian."
Jawaban ‘Ali bin Thalib tersebut menegaskan bahwa Rasulullah SAW berhasil mendidik para sahabatanya tunduk pada Al Qur’an dan Sunnah, sementara dalam perkembangannya, ummat Islam mulai hidup dalam sentimen suku, status dan bani/golongan keluarga. Dan manusia seringkali menempatkan sentimen-sentimen budaya, kelompok, dan perbedaan pikiran, dalam bingkai yang lebih besar dibandingkan agama itu sendiri, sehingga agama tidak diletakkan di atas segala-galanya, melainkan kelompoknya.

Dalam kenyataannya, ummat Islam juga hidup di antara ummat-ummat beragama yang lain. Perbedaan ini sama sekali bukan alasan untuk hidup terkotak-kotak dan bercerai berai. Sebab setiap ummat beragama adalah bagian dari satu bangsa yang memiliki cita-cita dan tujuan yang sama. Yakni, masyarakat adil dan makmur.

Perosalannya adalah, perbedaan sering dipahami sebagai pembedaan, sehingga muncullah paradigma “aku” dan “kamu”. Segala sesuatu yang bukan dari “aku” adalah salah. Masing-masing kelompok berpijak pada paradigma “aku,” bukan “kita.”

Sebagai contoh, kita melihat seseorang yang akan tenggelam di sebuah kolam renang. Apakah kita terlebih dahulu menanyakan agama, suku, dan alamat rumah sebelum kita menolongnya. Untuk menolongnya, kita tidak perlu menanyakan suku dan agamanya. Tolong menolong adalah watak dasar kehidupan manusia. Binatang yang menghadapi persoalan sepele saja tolong menolong, apalagi manusia yang menghadapi berbagai macam persoalan hidup.

Untuk itulah kita perlu mengembangkan sikap saling mengormati dan mau bekerjasama. Dan seyogyanya kita tidak terjebak dalam “pembedaan”.

Adapun perbedaan, sudah pasti ada. Jangankan dalam kehidupan berbangsa dan beragama, di dalam rumah tangga saja sudah pasti ada perbedaan. Namun perbedaan menjadi rahmat manakala kita saling melengkapi dan menghormati. Oleh karena itu kita memerlukan kecerdasan dan sikap yang bijaksana agar masing-masing dapat menemukan hal-hal yang memperkuat kehidupan ummat manusia.

Kita semua disadarkan akan suatu tugas mengangkat harkat dan martabat manusia serta menyelamatkan manusia dari kehancuran. Oleh karena itu kita mengenal diakonia, bhakti-marga, sedekah, dan dharma. Semua ini adalah ajaran suci agama-agama yang berhubungan dengan manusia. Jika ada yang “keliru” di dalam beragama, bukan agamanya yang keliru, melainkan manusia yang memeluknya.

Menengok kenyataan zaman kita sekarang ini, persoalan-persoalan manusia bukan semakin surut, namun semakin berkembang; terutama dalam masalah demoralisasi. Maka ada beberapa hal yang perlu kita lakukan agar toleransi mampu mewujudkan kerukunan "
Pertama, kita tidak boleh mengabaikan kebajikan-kebajikan agama dan memperbesar perbedaan-perbedaan yang seringkali justru merusak sendi-sendi agama.

Kedua, kita perlu mengutamakan peningkatan komunikasi antar ummat beragama untuk sama-sama membendung pengaruh negatif dari kebudayaan sekuler, globalisasi, teknologi informasi, memberantas maksiat dalam segala bentuknya dan menghindarkan salah faham antar agama.
Ketiga, kita perlu menonjolkan peranan agama sebagai motivasi batin untuk mengmbangkan integritas sosial. Disamping itu perlu menampilkan agama sebagai motivator dalam pembangunan masyarakat dunia agar dunia ini menjadi aman, indah, sehat, adil dan makmur.
Keempat,“Saling Menghormati “ seharusnya menjadi kata kunci di dalam membina kerukukunan hidup. Bukan saja antar sesama ummat beragama, melainkan juga ummat lain. Sebab pada kenyataannya, kita menghadapi persoalan yang sama misalnya masalah kemiskinan, kebodohan dan kesehatan. Masalah-masalah ini terjadi tidak memandang suku, agama dan ras.
Marilah kita memperkuat persaudaraan Islam dan persaudaraan sesama manusia. Dengan persaudaraan kita akan dapat mengatasi berbagai persoalan yang menghadang kita. Persaudaraan menumbuhkan perasaan empati dan peduli pada sesama makhlukNya. Sebaliknya perpecahan dan permusuhan hanya akan menghabiskan tenaga dan biaya. Semoga Allah memberikan kekuatan kepada untuk mengasihi sesama manusia. Ingatlah, kita harus berpegang teguh pada agama Allah.