Senin, Juni 08, 2009

Membangun Generasi yang Kuat

Ada sejumlah anak yang mudah putus asa, rendah diri, dan selalu kebingungan. Sebagai akibatnya, ia mudah terjerumus di dalam kesesatan. Ia terjebak narkotika, berani melawan orangtua, suka menipu orangtua dan penyimpangan sosial lainnya.

Semua capaian hidup kita akan hilang begitu saja manakala generasi di belakang kita adalah generasi dengan penyakit rohani yang kompleks. Segala jerih payah orangtua baik harta benda, kedudukan maupun pangkat menjadi sirna begitu saja manakala kita diuji dengan berbagai penyimpangan sosial akibat perilaku anak-anak.

Allah SWT memerintahkan kita agar memeprsiapkan generasi yang kuat lahir batin sebagaimana termaktub dalam surat al Nisa', ayat 4 :

"Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar."

Pemahaman kita pada generasi yang kuat bukanlah sekedar pada fisik atau tubuhnya saja. Melainkan lebih penting pada kekuatan mental. Di dalam sejarah kenabian disebutkan, ada seorang keturunan Bani Israil yang bernama Simson atau Sam'un. Dia memiliki kekuatan tubuh yang luar biasa. Tubuhnya kekar dan dia tumbuh menjadi seorang pemuda yang gagah berani di masa itu. Hal ini bukan saja karena otot-ototnya yang kekar, melainkan karena orangtuanya telah bernazar dengan Allah agar Simson menjadi abdi Allah yang setia. Allah mengabulkan nazarnya dan menganugerahi Simson keperkasaan tubuh untuk melawan kebathilan. Di kemudian hari, Simson menjadi pembesar Bani Israil. Meskipun ia memiliki kedigdayaan, namun kenyataannya, dia adalah seorang yang lemah.

Kekuatan Simson runtuh manakala ia tidak menuruti perintah-perintah Allah. Dikisahkan bahwa ia bergaul dengan para penyembah berhala, peminum khamr, dan orang-orang durhaka yang akhirnya merusak dirinya. Di puncak pergaulannya, ia terjerumus dalam tipu daya perempuan yang telah memperbudaknya menjadi orang lemah dikarenakan ia telah dikendalikan oleh perempuan durhaka. Ia tidak memiliki lagi kekuatan pikiran dan jiwanya untuk tunduk kepada Allah. Sebaliknya ia tunduk kepada perempuan yang durhaka kepada Allah. Berharap pada kekuatannya yang besar, ternyata ia tersungkur oleh pengaruh-pengaruh perempuan yang memanjakan nafsu bejat. Di hadapan perempuan yang durhaka itu, Sismon memperlihatkan rahasia kekuatannya. Sekiranya Simson tetap berpegang teguh pada aqidah dan tidak memperlihatkan rahasia kepada si wanita, tentu ia terselamatkan dari tipu daya syetan yang hendak meruntuhkan mukjizatnya.

Selama ribuan tahun, manusia bergelut melawan tipu daya syetan melalui berbagai cara. Sebagai orangtua, kita berkewajiban menjauhkan anak-anak dari segala tipu daya syetan supaya tidak tersesat dari jalanNya. Kesesatan adalah suatu kelemahan, karena hanya akan mengantarkan kesengsaraan manusia di dunia dan akhirat. Kelemahan, kesesatan dan kedurhakaan inilah yang dikehendaki oleh syetan agar manusia menjadi golongannya.

Ketika syetan telah berkuasa di dalam diri kita, maka sudah pasti kita akan lupa dengan Allah SWT. Sehingga manusia tidak memiliki sedikitpun kekuatan untuk beribadah kepada Allah SWT. Allah SWT berfirman dalam surat Al Mujadalah, ayat 19 :
"Syaitan telah menguasai mereka lalu menjadikan mereka lupa mengingat Allah; mereka itulah golongan syaitan. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan syaitan itulah golongan yang merugi."

Agama yang sejati mengajarkan kita supaya menjauhkan sama sekali segala hal yang membahayakan serta menggunakan dengan bijaksana segala hal yang menyehatkan. Perintah-perintah Allah sudah pasti tidak membahayakan, sebaliknya larangan-larangan Allah sudah pasti membahayakan.

Untuk memastikan anak yang kita terima dari Allah itu memiliki kekuatan yang sejati, kebiasaan-kebiasaan anak harus diatur dengan seksama. Orangtua, apakah ibu, ayah atau guru berperan dalam membiasakan kebaikan ataupun keburukan anak-anak. Setiap hari anak belajar dalam setiap kesempatan. Tidur, makan, berbicara, mengenakan pakaian bahkan buang air kecil pun anak-anak belajar dari apa yang diajarkan oleh orangtua.

Setiap orangtua memiliki dorongan untuk memperkuat anaknya. Orangtua yang bijaksana dan tunduk pada Allah memperkuat anaknya dengan membiasakan kehidupan yang tunduk kepada Allah juga. Orangtua terlibat dalam tanggungjawab ini. Sehingga seringkali akibat dari kelalaian orangtua, anak-anak memiliki kekurangan jasmani dan rohani. Akibatnya anak-anak secara mental dan moral lemah. Orang yang tidak bermoral atau tidak tunduk kepada Allah dan rasulNya, seringkali mewariskan kecenderungan-kecenderungan a-susila kepada keturunannya ataupun lingkungannya.

Kecenderungan setiap generasi untuk jauh lebih merosot ke dalam jurang kehancuran makin tampak karena tidak adanya penguatan moral, iman dan mental. Oleh karenanya, ketika Tuhan berpesan agar kita tidak meninggalkan generasi yang lemah, maka pesan ini sesungguhnya tidak selalu berhubungan dengan anak-anak yang memiliki tubuh besar, otot kuat dan bisa mengalahkan lawan-lawannya. Namun sesungguhnya Allah sedang berbicara kepada kita mengenai generasi yang memiliki kekuatan jiwa untuk membangun diri, keluarga, masyarakat bangsa dan Negara. Dan kekuatan jiwa ini dapat kita tumbuhkan melalui pelatihan dan pembiasaan untuk senantiasa tunduk kepada Allah dan rasulNya.

Akhirnya, semoga harapan kita sebagai orang tua, dapat mewujudkan kewajiban kita sebagai orangtua dalam mempersiapkan generasi yang kuat lahir batin. Ingatlah wahai saudaraku, generasi yang kuat mental dan pikirannya tidak akan terwujud tanpa pendidikan yang memadai. Demikian pula, generasi yang sehat/kuat tubuhnya, tidak akan terwujud manakala kita tidak memperhatikan makanan yang halal dan thayyib.

Sesungguhnya bukanlah orang yang kuat adalah orang yang menang dalam bergulat, tetapi orang yang kuat adalah orang yang mampu memenangkan pertempuran melawan hawa nafsunya. Dengan demikian, generasi yang kuat adalah generasi yang memiliki iman, cerdas emosi dan cerdas spiritual serta beramal shaleh. Generasi seperi inilah yang akan menjadi barakah dalam kehidupan kita.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar