Tampilkan postingan dengan label Lingkungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Lingkungan. Tampilkan semua postingan

Selasa, Juni 09, 2009

Mewujudkan Lingkungan Yang Berkualitas

Melakukan perbaikan lingkungan hidup, merupakan amanat Allah. Perbaikan ini dilakukan agar dalam memperlakukan segala ciptaan Allah tidak menimbulkan ketimpangan, melainkan bermanfaat bagi kesejahteraan ummat manusia. Dan ingatlah mewujudkan lingkungan yang baik bukan saja merupakan tantangan, melainkan suatu amanat yang tidak hanya bernilai kemanusiaan, tetapi bernilai ketuhanan.

Hidup di dalam lingkungan yang berkualitas, berarti hidup dalam lingkungan yang memberikan jaminan keamanan, ketenteraman dan kesejahteraan dalam arti seluas-luasnya. Lingkungan yang baik adalah lingkungan yang memiliki ciri-ciri :

Pertama, lingkungan yang bebas dari penyakit.
Kedua, lingkungan yang memberikan kesempatan kerja.
Ketiga, lingkungan yang aman,
Keempat, lingkungan yang memberikan kesempatan rekreasi atau hiburan
Kelima, lingkungan yang layak bagi perumahan.atau pemukiman.
Keenam, lingkungan yang memberikan kesempatan pendidikan.
Ketujuh, lingkungan yang mendukung hidup sehat.

Apakah kita dapat mewujudkan lingkungan yang berkualitas sesuai dengan ukuran di atas? Jawabannya tergantung pada falsafah lingkungan yang kita anut, kesadaran lingkungan yang kita miliki dan ilmu pengetahuan yang ada pada diri kita masing-masing. Dan perwujudannya bergantung kepada kemampuan dan kesungguhan kita memenuhi amanat Allah. Jika kita memanfaatkan dan memilih sumbedaya lingkungan dengan benar, Allah akan menganugerahkan kesejahteraan sebagai barakah bagi kita semua.

Dengan memperhatikan lingkungan dan hubungan baik antara ummat manusia dengan lingkungannya, akan menyadarkan kita bahwa segala perilaku manusia tidak terlepas dari interaksi dengan lingkungan. Manusia jadi cerdas, jadi bodoh, jadi kaya, jadi miskin, jadi makmur, jadi sehat, aman, jahat dan sebagainya sebagai hasil interaksi dengan lingkungannya. Allah berfirman dalam surat Ali Imran, ayat 112, yang artinya :

"Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang kepada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia, dan mereka kembali mendapat kemurkaan dari Allah dan mereka diliputi kerendahan. Yang demikian itu karena mereka kafir kepada ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi tanpa alasan yang benar. Yang demikian itu disebabkan mereka durhaka dan melampaui batas."

Lingkungan, khususnya lingkungan alam, apakah akan memberikan kesejahteraan, ataukah akan memberi kemiskinan, sangat tergantung kepada interaksi yang dilakukan manusia dengan lingkungan sekitarnya. Jika interaksi manusia dengan lingkungan alam itu bersifat positif dalam arti, memanfaatkannya sesuai dengan azas-azas yang berlaku dalam lingkungan yang bersangkutan, maka lingkungan alam akan memberikan manfaat bagi kehidupan. Keadaan yang sebaliknya dapat terjadi, jikalau interaksi dengan lingkungan tidak serasi. Hal ini dapat dilihat dari kenyataan sehari-hari seperti penebangan hutan, pembuangan sampah dan system pengairan yang kurang baik.

Lingkungan yang sehat dan aman tidak bisa terwujud jika kita tidak sungguh-sungguh melakukan tindakan nyata. Sebagai contoh kita masih sering melihat sampah berserakan di mana-mana : di dalam rumah, di jalan-jalan, di pasar dan di tempat-tempat umum lainnya. Bahkan masjid yang merupakan tempat suci, seringkali kita melihat tempat wudhu dan halaman masjid yang kotor. Ketahuilah, Rasulullah telah mengajarkan kepada kita bahwasanya Allah mencintai orang-orang yang bertobat dan bersuci.

Lingkungan yang sehat, tertib, indah dan aman, akan menarik perhatian orang-orang untuk berkunjung. Namun hal ini belum dapat kita rasakan. Kabupaten Wonosobo memiliki banyak tempat yang sangat indah dan menentramkan untuk dikunjungi sebagai daerah wisata. Namun jika kita tidak memelihara kebersihan, keindahan dan keamanan lingkungan; anugerah Allah ini akan sia-sia. Padahal keindahan alam kabupaten Wonosobo ini merupakan keindahan alami, benar-benar anugerah yang kita terima begitu saja, tanpa harus susah payah membuatnya. Sebagai contoh, candi-candi Dieng, telaga-telaga dan kawah-kawah di kawasan dataran tinggi Dieng.

Akan tetapi, kita kurang mampu mensyukuri anugerah Allah tersebut. Turis atau wisatawan yang berkunjung sangat sedikit. Sehingga dataran tinggi Dieng seakan-akan tidak menarik lagi karena telaga-telaga telah kotor, tebing-tebing longsor dan candi-candi telah rusak. Bahkan mungkin orang merasa enggan berkunjung karena takut dirampas, diperas, dikompas, takut kendaraannya hilang dan sebagainya.

Lingkungan yang sehat dapat diwujudkan dengan kesungguhan kita menjaga kebersihan. Lingkungan yang aman dapat diwujudkan dengan menegakkan ketertiban dan kedisiplinan.
Lingkungan yang sehat dan aman merupakan modal utama di dalam membangun hubungan dengan orang lain. Tumbuhnya rasa aman, tertib dan bersih akan menarik minat orang melakukan kegiatan usaha seperti mendirikan pabrik-pabrik, lembaga-lembaga pendidikan, dan usaha-usaha lain yang mendukung kesejahteraan dan kemajuan di bidang ekonomi, pendidikan dan kebudayaan.

Dengan keramaian tempat-tempat wisata dan usaha-usaha di bidang usaha seperti pabrik dan perdagangan; perlahan-lahan kesejahteraan dan kemakmuran akan tercapai. Ingatlah, kesejehateraan dan kemakmuran harus dapat dinikmati bersama; bukan hanya oleh segelintir orang. Apalah artinya kemakmuran dan kesejehteraan segelintir orang, sementara banyak orang tidak dapat merasakannya.

Ketahuilah saudara-saudaraku; dalam era globalisasi ini; semua hasil karya kita, tidak akan diterima oleh dunia luar; manakala tidak ramah lingkungan atau tidak memperhatikan kelestarian lingkungan. Bangsa kita akan dikucilkan oleh bangsa-bangsa lain di dunia, manakala kita semena-mena terhadap lingkungan dan tidak mampu menciptakan rasa aman.

Al Maghfurlah Mbah Muntaha menyatakan bagaimana indahnya kota-kota di China dan Negara-negara non-Islam. Beliau merasa heran mengapa di negara yang mengajarkan kesucian, kebersihan, dan menghormati lingkungan; malah bertindak semena-mena dan tidak memperhatikan lingkungannya. Dalam perjalanan ke luar negeri Mbah Muntaha melihat lingkungan pedesaan yang sejuk, bersih, dan perkotaan yang tertata sangat rapi. Mbah Muntaha berkesimpulan bahwa semua ini karena mereka mendapatkan pendidikan dan teladan di dalam lingkungan serta sadar untuk melaksanakan hukum dan peraturan.

Marilah kita bersama-sama menjaga kebersihan, keasrian, dan keindahan dengan sungguh-sungguh, agar kita semua dapat merasakan barakah dan anugerah keindahan, kenyamanan dan ketenteraman hidup. Ketahuilah, lingkungan yang berkualitas merupakan modal untuk mewujudkan kemaslahatan hidup kita. Demikianlah, semoga kita diberi kekuatan untuk senantiasa berusaha sungguh-sungguh mewujudkan lingkungan yang berkualitas.

Keterbatasan Sumber Alam

Marilah taqwa kepada Allah dengan senantiasa melaksanakan perintah-perintahNya dan menjauhi larangan-laranganNya. Dengan taqwa inilah, kita akan mendapatkan keselamatan di dunia dan akhirat. Dan ketahuilah, bahwa diantara bukti taqwa kita kepada Allah, adalah senantiasa mau mensyukuri sumber-sumber alam dan mempergunakannya untuk kesejahteraan bersama.

Semua makhluk Allah bersifat fana, tidak kekal dan pasti terbatas. Alam semesta ini pun terbatas. Segala keindahan alam, gunung-gunung, dataran tinggi, perbukitan, laut dan telaga yang bisa kita nikmati setiap hari, suatu saat pasti akan binasa. Namun demikian, bukan berarti kita boleh membiarkan begitu saja, tanpa mau memperhatikan dan melestarikannya.

Meskipun alam bersifat terbatas, namun manusia dianugerahi Allah dengan hati, akal pikiran dan agama untuk mengelolanya. Manusia mampu mengatasi berbagai keterbatasan alam. Tetapi manusia juga seringkali bertindak semena-mena terhadap alam, sehingga alam "marah" kepada manusia dan manusia pun ditimpa kesengsaraan.

Saudara-saudaraku, sejarah menunjukkan bawa manusia dengan kemampuan akal pikirannya mampu menghadapi berbagai tantangan lingkungan. Hanya dalam hal ini, janganlah kita mempertahankan kepentingan diri belaka, tetapi wajib mempertahankan kepentingan ummat manusia. Dengan hanya mementingkan diri sendiri, terutama dengan keserakahan atau ambisi pribadi, manusia tidak dapat menghadapi tantangan-tantangan lingkungan, bahkan akan mengancam kehidupan seluruh ummat manusia.

Ketahuilah, kemampuan alam sesungguhnya seperti manusia. Perlakuan yang salah dari manusia akan membebani alam, sehingga alam tidak mampu menampung dan bertoleransi terhadap masalah yang makin lama makin berat; dan akhirnya alam memuntahkan segala beban itu dengan menghancurkan kehidupan manusia.

Kawasan-kawasan atau lingkungan yang telah rusak; tidak hanya menghancurkan kita semua, melainkan juga pihak-pihak yang tidak terlibat langsung. Sebagai contoh, jika kawasan hutan Wonosobo rusak, maka wilayah Banjarnegara, Temanggung dan sekitarnya pun akan merasakan dampaknya. Maka, ingatlah kita selaku makhluk yang telah diamanati Allah.

"Dan Dialah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi dan Dia meninggikan sebahagian kamu atas sebahagian (yang lain) beberapa derajat, untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu. Sesungguhnya Tuhanmu amat cepat siksaan-Nya, dan sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (Q.S.6:165)."

Namun kita harus menyadari bahwa Allah tidak menyebutkan manusia sebagai penguasa bumi, melainkan sebagi pemakmur bumi. Dengan demikian manusia tidak boleh berbuat sewenang-wenang atau menuruti hawa nafsu demi mengejar keuntungan pribadi, namun haruslah kita sadari bahwa manusia harus mengelola bumi dengan sebaik-baiknya agar menjadi sumber penghidupan. Sebaliknya, jika manusia berbuat sewenang-wenang, bumi tidak akan menjadi sumber penghidupan, malah menjadi sumber kebinasaan dan kesengsaraan kita semua.

Oleh karena itu, marilah kita merenungkan dengan pikiran dan hati kita, bahwa sesungguhnya manusia adalah "pekerja Tuhan", yaitu manusia harus tunduk dan bertanggungjawab kepada Tuhan atas perlakuannya terhadap bumi ini. Maka, kewenangan yang diberikan kepada kita semua untuk mengolah bumi dan memanfaatkan isi bumi, bukan berarti tanpa akhlak. Karena sesungguhnya, bumi juga makhluk Allah yang harus dipelihara sebagai suatu makhluk yang kemampuan hidupnya terbatas. Bumi memang untuk manusia, tapi apa yang diperoleh manusia dari bumi adalah sebagai rezeki Allah yang digunakan untuk keselamatan, bukan digunakan untuk berbuat kerusakan.

Keserakahan merupakan sifat buruk manusia. Di dalam keserakahan itu akan muncul dendam, iri hati dan permusuhan, sehingga menimbulkan berbagai masalah yang sangat merugikan masyarakat.

Sebaliknya keseimbangan, keadilan dan kesederhanaan menumbuhkan persaudaraan, belas kasih dan do'a-do'a yang menyelamatkan dan menjadikan hidup ini diberkahi Allah. Namun, kesederhanaan dan keserakahan ini semua berpulang pada seberapa kejam manusia terhadap lingkungannya.

Saudara-saudaraku, diketahui atau tidak, perusakan lingkungan dapat menyengsarakan siapa saja termasuk diri sendiri dan generasi penerus di masa yang akan datang. Sekecil apapun kerusakan yang terjadi, dapat menjadi besar apalagi bila kerusakan itu terjadi di mana-mana.
Sudah jelas bahwa ketika peraturan tidak ditegakkan, maka segala hubungan antar sesama manusia atau sesama makhluk Allah lainnya, pun menjadi rusak. Akibatnya, manusia akan bertindak semena-mena dikarenakan sudah tidak ada peraturan yang ditaati.

Ketahuilah, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.


"Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdo`alah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik". (Q.S. Al A'raf:56).

Larangan membuat kerusakan ini merupakan kebijakan Allah, karena Dialah Yang Maha Mencipta dan Mengatur. Maha Suci Allah, sekiranya manusia tidak menaati larangan Allah ini, maka manusia tidak akan memahami keterbatasan alam ini. Jangan lupa, kecerdesan manusia bisa membahayakan dirinya sendiri. Berbagai bencana buatan manusia, bermula dari inovasi dan daya pikir manusia sendiri. Jangankan nuklir, dan teknologi persenjataan, obat-obatan pun memiliki bahaya masing-masing.

Saudara-saudarakau, kita semua bisa menjadi warga bumi yang terhormat, manakala kita memahami kedudukan kita di bumi. Ketahuilah, kita bukanlah pemilik dan penguasa. Kita hanya mendapatkan amanat Allah. Jadi, setiap orang adalah pengelola sekaligus pemantau lingkungannya. Tanggungjawab sebenarnya ada pada diri masing-masing. Yaitu, kelak di hari kiamat : suatu hari dimana kita semua tidak dapat berbohong atau menyuap para malaikat agar mendapatkan ampunan Allah.

Untuk mengatasi keterbatasan alam ini, kita semua harus berbuat baik. Perbuatan baik ini dapat diwujudkan dengan memperbaiki lahan kritis, hutan gundul dengan menanam tanaman keras dan memelihara kelestariannya serta senantiasa mengendalikan diri dari sifat rakus,

"Dan ingatlah olehmu di waktu Tuhan menjadikan kamu pengganti-pengganti (yang berkuasa) sesudah kaum `Aad dan memberikan tempat bagimu di bumi. Kamu dirikan istana-istana di tanah-tanahnya yang datar dan kamu pahat gunung-gunungnya untuk dijadikan rumah; maka ingatlah ni`mat-ni`mat Allah dan janganlah kamu merajalela di muka bumi membuat kerusakan". (Q.S. Al A'araf:74).

Keselamatan dan Berkah dari Lingkungan

Lingkungan hidup bukan hanya ikan-ikan di sungai, aneka bunga di kebun, hewan-hewan, dan tumbuh-tumbuhan. Masyarakat yang ada di sekitar kita juga merupakan lingkungan hidup.

Kita boleh membela gunung dan pantai supaya tetap indah sepanjang masa. Kita boleh membela hewan dan tumbuh-tumbuhan agar tetap lestari. Namun kita juga tak boleh mengotori, apalagi melukai tetangga sedikit saja. Partisipasi kita di dalam masyarakat juga merupakan taruhan utama untuk hidup dengan lingkungannya.

Saudara-saudaraku, Rasulullah mengajak kita memuliakan tetangga. Yang dikehendaki Rasulullah bukanlah hanya mengantar makanan ketika kita sedang walimah atau tasyakuran, namun yang lebih penting adalah tidak membuat susah tetangga atau lingkungannya. Sebaliknya kita mesti membahagiakan atau menyenangkan tetangga. Misalnya dengan tidak membuang sampah sembarangan, melukai perasaannya dan mengganggu ketenteramannya.

Rasulullah SAW bersabda :

"Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, maka muliakanlah tetangganya," (HR. Bukhari)."

Sabda Rasulullah SAW ini juga mengarahkan kita semua agar bijaksana terhadap lingkungan. Namun, sikap bijaksana ini sepenuhnya tergantung pada disiplin pribadi dan keteguhan hati nurani masing-masing. Bukan Undang-Undang, hukuman gantung atau kursi listrik yang dapat membuat kita berhenti melukai tetangga atau menyakiti orang lain, membuang sampah sembarangan, mencemari air, udara, tanah dan lingkungan hidup lainnya; tetapi kesadaran pribadi yang paling mendalam. Jika kita merasa tidak senang manakala orang lain berbuat buruk pada kita, maka seharusnya kita pun tidak berbuat buruk pada mereka.

Demikian pula industri-industri yang merasa terpaksa mencemari sungai, laut, merusak bukit-bukit, gunung-gunung, tanah, udara dan hutan untuk mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya. Semua ini tergantung pada tanggungjawab dan sikap jujur masing-masing, bukan semata-mata tergantung pada peraturan.

Zaman sekarang orang sudah sulit bertetangga karena terbatasi oleh jabatan, kekayaan, pagar tinggi, kedudukan dan sebagainya. Padahal bertetangga inilah asal dari kebijaksanaan kita semua dengan lingkungan. Karena itulah, orang yang dikarunia Allah dengan kedudukan atau kekayaan, seharusnya mengunjungi orang kecil, lemah dan tertindas. Seperti Khalifah Umar bin Khotob ra yang menyamar sebagai orang biasa mengunjungi orang yang hendak melahirkan. Ia membelah kayu bakar dan setelah bayinya lahir, dibawakannya makanan. Ia pun mendengarkan bagaimana wanita yang melahirkan tersebut ngrasani pelayanan kesehatan pemerintahannya, sehingga kemudian Khalifah Umar ra memutuskan untuk memberikan tunjangan kepada bayi yang dilahirkan sampai masa persusuan.

Maha Suci Allah yang telah menjadikan pemimpin-pemimpin ummat Islam, yang memberikan teladan untuk membangun lingkungannya.

Setidaknya ada tiga hal yang perlu kita usahakan agar lingkungan kita diberkahi Allah :
Pertama, membenahi sarana-sarana sosial.
Termasuk di dalam sarana sosial adalah masjid, sekolahan, pondok pesantren dan lembaga-lembaga pemerintahan. Semua ini memiliki hubungan dengan masyarakat. Sehingga ketika sarana-sarana ini tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya, sudah tentu akan menghambat kehidupan masyarakat. Kita perlu memperbaiki bersama-sama. Janganlah kita membiarkan kemungkaran di dalam masyarakat terjadi terus menerus. Rasulullah SAW bersabda :" Barangsiapa yang melihat kemungkaran, maka rubahlah dengan tangannya, jika tidak mampu maka rubahlah dengan lisannya, jika tidak mampu maka rubahlah dengan hati, sesungguhnya merubah dengan hati ini adalah selemah-lemahnya iman (HR. Bukhari)."
Dalam hadist ini, Rasulullah menegaskan bahwa setiap orang wajib memperbaharui dan memperbaiki keadaan-keadaan buruk yang merugikan masyarakat. Setiap orang yang diberi kekuasaan oleh Allah, harus mencegahnya dengan kekuasaannya. Setiap orang yang memiliki ilmu pengetahuan, harus memberikan bimbingan dan pelajaran supaya kemungkaran tidak merajalela. Dan setiap orang yang tidak memiliki kekuasaan dan ilmu pengetahuan, cukup dengan mendo'akan agar kemungkaran tidak merajalela.
Apakah perubahan-perubahan ini sudah kita lakukan ? Hendaklah kita mawas diri dengan apa yang dilakukan. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kita kerjakan.

Kedua, gotong royong.
Gotong royong adalah sifat orang yang beriman. Yaitu mau bekerja sama dan tolong menolong untuk mewujudkan kehidupan yang lebih baik. Tolong menolong dalam melakukan kebajikan dan taqwa ini merupakan kewajiban setiap orang Islam. Setiap sesuatu yang dikerjakan secara gotong royong akan meringankan beban kita. Sikap ini juga menunjukkan kebersamaan kita semua di dalam melaksanakan kebajikan.
Maka marilah kita mawas diri, apakah kita sudah membiasakan tolong menolong dalam kebajikan, ataukah sebaliknya ? Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan amal kebajikan orang-orang yang bertaqwa. Dalam surat Al Maidah, ayat 3, Allah memerintahkan agar kita tolong menolong dalam kebajikan dan ketaqwaan

Ketiga, menyuburkan kasih sayang.
Adalah pertanda kita semua menuju masyarakat terhormat, manakala kita tidak hanya bangga oleh adanya jalan-jalan yang mulus, komputer, pabrik-pabrik, tempat wisata, dan perdagangan; namun juga oleh kebanggaan bahwa kita dapat tumbuh menjadi ummat yang saling berbelas kasih, saling beramal dan saling peduli satu sama lain. Bukan hanya peduli dengan sesama manusia, tetapi juga sesama makhluk Allah.

"Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu. " (Q.S. An Nisa':1).

Dengan kasih sayang ini, kita menjadi ummat yang saling merahmati, bukan saling melaknati, saling memangsa dan saling menindas. Sebaliknya, kita menjadi ummat yang mampu dan suka beramal shalih untuk kesejahteraan nasional maupun daerah. Ketahuilah saudara-saudaraku, sesungguhnya jika kita semua saling mengasihi, maka malaikat dan seluruh makhlukNya akan mengasihi kita semua.

Marilah kita benar-benar memperhatikan lingkungan hidup kita. Dan ketahuilah bahwa orang-orang yang hidup di sekitar kita, juga merupakan lingkungan hidup. Oleh karenanya Allah memerintahkan kita untuk berbuat baik kepada sesama manusia dan sesama makhlukNya. Mudah-mudahan kita semua hidup dalam berkah dan kasih sayang Allah.

Pendidikan Lingkungan di Dalam Keluarga

Penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam memanfaatkan lingkungan secara positif telah dapat mensejahterakan manusia. Tetapi di sisi lain, telah pula terjadi kerusakan lingkungan hidup. Hal ini merupakan kenyataan yang dapat kita saksikan sehari-hari. Adanya pupuk kimiawi, mampu memacu hasil pertanian. Namun pestisida dan pupuk kimiwai ini tidak hanya membunuh hama penyakit, tetapi juga makhluk hidup lainnya yang diperlukan untuk menjaga kesuburan tanah. Adanya pertambahan penduduk, memacu manusia untuk membuka lahan-lahan pertanian baru, namun seringkali tidak memperhatikan masa depan lingkungan, sehingga yang terjadi adalah keruskan lingkungan.

Pada saat ini, kita bisa memperoleh segala sesautu dari alam; dari hutan, dari bahan-bahan tambang seperti BBM, emas, perak, tembaga, gas, pasir, batu-batuan dan sebagainya. Namun jika kegiatan ini kita lakukan dengan serakah, sudah pasti anak cucu kita akan menanggung penderitaan. Mereka akan sangat kekurangan sumber alam yang dibutuhkan.

Keterbatasan dan kerusakan lingkungan menjadi bukti bahwa pada suatu waktu baik sementara ataupun permanent, manusia akan mengalami berbagai macam kekurangan atau keterbatasan. Misalnya, udara kurang bersih, air kotor, jumlah air berkurang, Bahan Bakar Minyak (BBM) sulit didapat, cuaca menjadi sangat panas, timbulnya longsor, banjir, dan kekurangan bahan makanan.

Sesungguhnya untuk mengatasi keterbatasan alam ini, kita memerlukan nilai-nilai atau budi pekerti berupa kebijaksanaan lingkungan.

Zaman dahulu, kita mengenal adanya "pantangan" atau "tabu" dan larangan-larangan tertentu terhadap lingkungan. Misalnya orang tidak boleh menebang pohon yang besar karena ada makhluk halusnya. Sehingga tidak jarang ada yang memberikan sesaji pada pohon-pohon besar, sumber mata air, sedekah bumi, sedekah laut dan sebagainya.

Nilai-nilai ini merupakan akhlak yang harus kita kenalkan generasi kita. Nilai-nilai tradisional ini sangat bermanfaat di dalam menyadarkan diri kita agar kita memahami peran dan jasa alam bagi kehidupan kita.

Pohon yang besar, tidak boleh ditebang, bukan karena ada makhluk halusnya; melainkan karena kemampuan pohon itu menyerap racun udara, kemampuan menyimpan air, dan menjadikan udara sejuk. Dengan demikian, tabu atau larangan-larangan terhadap lingkungan merupakan kebijaksanaan yang terbukti dapat mengendalikan perilaku manusia terhadap lingkungan. Karena memahami tabu dan patuh pada larangan-larangan inilah, kita semua terhindar dari laknat alamiah seperti banjir, kekeringan, meluasnya hama, erosi dan banjir. Oleh karenanya, janganlah kita menganggap tabu atau larangan-larangan ini sebagai takhyul; namun hendaknya menjadi dasar dari sikap dan kesadaran lingkungan kita semua.

Saudara-saudaraku, berbuat baik terhadap binatang dan tumbuh-tumbuhan dapat menjaga sikap manusia dari kerakusan terhadap sumber-sumber alam. Anak-anak perlu mendapatkan pemahaman bahwa alam ini akan menjadi bencana bagi manusia apabila manusia tidak memperlakukannya dengan baik.

Berbuat baik kepada alam berarti bertanggungjawab terhadap alam sekitarnya, sehingga tidak melakukan perbuatan yang merusak alam.

Perhatikanlah saudara-saudaraku jika hutan gundul. Air hujan tidak terserap dengan sempurna oleh tanah. Akibatnya banjir dan longsor. Tanaman hancur, gagal panen, rumah-rumah diterjang banjir dan sebagainya. Hutan gundul juga mengakibatkan iklim yang tidak seimbang; hawa panas, dan aliran sungai tak terkendali sehingga tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Hujan yang seharusnya menjadi rahmat, justru menjadi laknat.

Umpamanya saudara-saudara kita yang hidup di Kalimantan. Sungai-sungai di Kalimantan merupakan jalur transportasi yang penting. Bahan-bahan makanan dan kebutuhan hidup masyarakat diangkut melalui jalur transportasi air. Akan tetapi karena sungainya dangkal atau sangat meluap, perahu-perahu tidak berjalan, sehingga kehidupan masyarakat sangat terganggu. Mereka kesulitan memenuhi kebutuhan hidupnya.

Ketahuilah suadara-saudaraku, segala hal yang ada di alam ini, akan menceritakan kebaikan dan keburukan manusia kepada Allah. Imam Turmudzi meriwayatkan bahwa sehubungan dengan alam semesta ini, Nabi membaca surat Az Zalzalah ayat, 4 :

"pada hari itu bumi menceritakan beritanya," Kemudian Rasulullah SAW bersabda :

"Sesungguhnya berita-berita bumi adalah dia menjadi saksi atas perbuatan-perbuatan hamba-Nya kepada bumi. Bumi memberitakan :"amal hari ini begini, begini, dan begini." Demikian pemberitaannya. (HR. Turmudzi).

Firman Allah dalam surat Az Zalzalah dan sabda Rasulullah SAW ini mempertegas keharusan manusia untuk memiliki akhlak atau budi pekerti terhadap lingkungan. Hal ini menunjukkan bahwa kelak di akhirat mereka akan mengatakan segala hal yang telah kita lakukan terhadap mereka. Betapa banyak dosa-dosa yang kita tanggung dan betapa pedihnya siksa yang akan menimpa kita, jika ternyata kita tidak berbuat baik kepada lingkungan.

Segala hal yang diperoleh di dunia ini, tidak akan mencukupi untuk menebus kesalahan-kesalahan kita sebagaimana dinyatakan dalam surat Asy Syu'ara, ayat 88-89: " (yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih." Bersyukurlah kita semua masih diberi kesempatan untuk melakukan perbaikan-perbaikan. Jika sekarang hutan telah dunul, maka sekarang juga kita bisa melakukan penghijauan dan penanaman.

Pendidikan lingkungan di dalam keluarga diperlukan supaya :
Pertama, setiap keluarga memahami karuni Allah yang sangat besar berupa sumber-sumber alam. Dengan merenungkan kegunaan air, udara, tanah, tumbuh-tumbuhan dan segala ciptaanNya ini, kita akan merasakan keagungan Tuhan.

Kedua, memberikan pemahaman atas akibat-akibat yang ditimbulkan apabila kita berbuat semena-mena terhadap lingkungan.

Ketiga, memahami perlunya hidup aman, sehat, rapi dan indah.

Keempat, memberikan dorongan kepada anak-anak agar bertanggungjawab terhadap lingkungannya.

Tanpa pendidikan lingkungan, kita tidak bisa berharap adanya perubahan perilaku masyarakat. Proses pendidikan lingkungan ini tidak terbatas pada pendidikan formal seperti di sekolah dan pondok pesantren, melainkan juga dapat dilakukan di dalam keluarga.

Melalui penanaman nilai dan sikap serta pengembangan ketrampilan terhadap lingkungan, kita; khususnya generasi muda akan memiliki kemampuan mengambil keputusan dan meningkatkan kesadaran dalam pembangunan lingkungan. Pendidikan ini merupakan modal dan landasan untuk memelihara serta memperhatikan kelestarian lingkungan. Dengan demikian, pembangunan yang berwawasan lingkungan dapat terwujud. Maka marilah kita mulai segala kebajikan dari dalam keluarga. Mudah-mudahan Allah merahmati keluarga kita.

Mewujudkan Lingkungan Yang Sehat dan Aman

Marilah taqwa kepada Allah dengan senantiasa melaksanakan perintah-perintahNya dan menjauhi larangan-laranganNya. Dengan taqwa inilah, kita akan mendapatkan keselamatan di dunia dan akhirat. Dan ketahuilah, bahwa diantara bukti taqwa kita kepada Allah, adalah senantiasa menjaga kebersihan dan kesucian baik di dalam diri sendiri maupun di dalam lingkungannya.

Junjungan kita Nabi Agung Muhammad SAW mengajarkan kepada kita agar senantiasa berbuat baik kepada lingkungannya. Baginda Rasulullah SAW sangat memperhatikan kesehatan dan keamanan, sebab kesehatan dan keamanan merupakan kebutuhan mendasar bagi manusia. Hal ini dapat kita renungkan, bagaimana jika kita senantiasa ditimpa penyakit dan keadaan lingkungan tidak aman. Lingkungan yang tidak aman akan menimbulkan rasa takut, khawatir dan was-was. Demikian pula lingkungan yang tidak sehat, akan menimbulkan pemandangan yang tidak indah serta dapat menimbulkan berbagai macam penyakit.

Rasulullah SAW memberikan pedoman untuk mewujudkan kesehatan dan keamanan lingkungan.

Pertama, Rasulullah memerintahkan para orangtua mengajarkan anak-anak berenang, memanah dan menunggang kuda. Perintah ini menunjukkan agar setiap orang Islam hidup sehat dan senantiasa menjaga kesehatan.

"Ajarilah anak-anakmu berenang, memanah dan menunggang kuda." (HR. An Nasai).

Kedua, Rasulullah mengutamakan orang mukmin yang kuat.

"Orang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah 'Azza wa Jalla daripada orang mukmin yang lemah dan lemah dari segala kebaikan." (HR. Ahmad).

Orang mukmin yang kuat juga berarti orang mukmin yang sehat, berani menegakkan kebajikan, tidak mudah ditindas orang lain, tidak tunduk pada kemunafikan dan sanggup mempertahankan harga diri. Orang mukmin yang kuat mau berusaha dengan sungguh-sungguh dan tidak merugikan orang lain.

Ketiga, Rasulullah mengingatkan agar menjaga kesehatan dan kesempatan.

"Dua kenikmatan yang seringkali dilupakan banyak orang, yaitu kesehatan dan kesempatan." (HR. Bukhari).

Keempat, Rasulullah memerintahkan kita menjaga kebersihan rumah dan lingkunganya.

"Sesungguhnya Allah itu, baik menyukai kebaikan, Allah itu bersih menyukai kebersihan, Allah mulia dan menyukai kemuliaan, maka bersihkanlah halaman rumahmu dan lingkunganmu. " (HR. Muslim)

Semua perintah Nabi ini menunjukkan bahwa ummat Islam harus senantiasa memperhatikan kesehatan supaya kita semua dapat melakukan ibadah dengan sebaik-baiknya dan supaya kehidupan di dalam masyarakat kita indah. Ketahuilah, tidak seorang pun yang tidak menyukai keindahan, namun seringkali kita tidak sungguh-sungguh di dalam mewujudkannya. Padahal kesehatan dan kebersihan merupakan perintah Allah, sehingga barangsiapa yang mengabaikannya pasti akan mendapatkan kerugian baik di dunia maupun di akhirat.

Tempat yang kotor dapat menimbulkan berbagai jenis penyakit. Oleh karenanya kita semua perlu memahami manfaat kebersihan. Lebih khusus lagi, anak-anak perlu diajari menjaga kebersihan. Hal kecil seperti membuang sampah pada tempatnya, merupakan akhlak anak yang sangat baik, sebab tidak semua orang membuang sampah pada tempatnya. Mereka perlu diberi teladan agar menjaga kebersihan.

Anak yang terlatih menjaga kebersihan diri, juga memungkinkan akan memiliki kepedulian menjaga lingkungannya.

Tempat yang tidak menyehatkan secara ruhani juga perlu dihindari agar hati dapat terjaga dari noda-noda lingkungan.

Lingkungan yang sehat secara rohani menunjukkan adanya hubungan keluarga yang sehat pula. Keadaan yang tidak sehat secara ruhani ditandai dengan hubungan antar tetangga yang buruk sehingga kontrol moral dan sosial antar tetangga hancur, tidak saling mengenal dan tidak saling menjaga.

Lingkungan yang aman, dapat dimulai dari dalam keluarga. Nabi mengingatkan agar orangtua tidak membiarkan anak bermain-main dengan hal yang membahayakan dan tidak bermanfaat. Rasulullah SAW bersabda :

"Barangsiapa yang mempertunjukkan kepada saudaranya sepotong besi (untuk menakut-nakuti), maka malaikat melaknatinya, meskipun saudara itu saudara seayah-seibu (HR. Muslim).

Dalam sabdanya yang lain :

"Janganlah salah seorang diantara kalian mempertunjukkan senjata kepada saudaranya, karena dia tidak mengetahui kalau syetan mengambil tangannya sehingga terjerumus ke dalam jurang neraka." (HR. Muslim).

Demikian pula sabdanya yang lain :
"Barangsiapa menyakitkan kaum muslimin di jalan mereka, maka ia wajib menerima kutukan dari neraka." (HR. Muslim).

Semua ini mengajarkan kepada kita agar selalu berhati-hati dan mengendalikan diri dari semua tindakan yang membahayakan orang lain. Kita semua tidak ingin mendapatkan laknat Allah, karena sesungguhnya orang Islam sejati adalah orang yang dapat memelihara sesama muslim dari bahaya lisan dan tangannya. Rasulullah SAW bersabda :

"Orang Islam sejati adalah orang yang menyelamatkan sesama muslim dari lisan dan tangannya." (HR. Muslim).

Maka, jika dengan sesama muslim saja kita tidak memberikan keamanan dan rasa aman, bagaimanakah kita dapat menyebarkan salam atau kesejahteraan, keamananan dan keselamatan kepada orang lain ? Hendaknya kita semua mengambil pelajaran dari berbagai tindak kekerasan. Selebihnya kita hendaknya mendidik anak-anaknya dengan permainan yang bermanfaat, yakni bukan permainan yang berbahaya baik bagi dirinya maupun lingkungannya.
Sesungguhnya agama Islam adalah agama yang menyelamatkan, damai dan penuh rahmat. Ya Allah, jadikanlah kami hamba-Mu yang senantiasa memelihara ketertitaban, kenyamanan, kebersihan dan menyebarkan kasih sayang. Amin Ya rabb a' 'alamin.

Gotong Royong Memperbaiki Lingkungan

Memperbaiki lingkungan, bukanlah semboyan; melainkan cara berpikir baru, perbaikan perilaku, pengelolaan lingkungan dan cara pandang yang yang baru. Mengapa demikian ? Memperbaiki lingkungan perlu terus dikumandangkan dalam diri kita semua. Janganlah kita menjadi orang yang mudah lupa, atau hanya ingat manakala bencana telah menimpa. Sebaliknya kita harus berjaga-jaga atau mengantisipasi agar kita terhindar dari bencana.

Saudara-saudaraku, ketahuilah bahwa lingkungan hidup tidaklah terbatas pada hutan, air ataupun tanah saja; melainkan segala hal yang ada di sekitar kehidupan kita. Demikian pula tetangga, atau orang-orang yang ada di sekitar kita.

Ketika musim hujan, kita melihat air meluber di jalan-jalan, berarti kita sedang melihat tanda-tanda kerusakan jalan-jalan, saluran air yang tidak beres dan sampah-sampah yang menutupi saluran air. Akibat saluran air yang tidak benar atau tidak ada sama sekali, jalan-jalan raya yang baru saja diperbaiki menjadi cepat rusak karena air memiliki daya rusak yang sangat kuat.

Demikian halnya ketika di rumah kita banyak nyamuk, tikus dan lalat, maka sangat mungkin kebersihan di dalam rumah kita dan sekitarnya tidak terjaga. Banyak air tergenang atau orang membuang sampah sembarangan, sehingga air yang semula bersih menjadi sarang bibit penyakit. Nyamuk dapat menyebabkan Demam Berdarah (DB), kotoran tikus dapat menyebabkan leptoriosis yang menyerang otak dan paru-paru sehingga dapat menimbulkan kematian.

Zaman ini seharusnya menjadi zaman keswadayaan masyarakat. Yaitu, kita berbuat dan berusaha mengatasi masalah lingkungan dengan kekuatan dan kesungguhan kita; bukan menyerahkan segala urusan kepada orang lain.

Dalam keswadayaan ini, yang berkuasa bukanlah orang, tetapi peraturan. Jika dulu masyarakat menyerahkan nasibnya atau segala sesuatunya pada negara dan pada tokoh-tokoh tertentu; maka pada zaman swadaya ini setiap orang harus ikut serta di dalam pembangunan; baik pembangunan agama, pendidikan, sosial, kesehatan maupun pembangunan lingkungan.

Oleh karenanya, marilah kita memperbaiki keadaan lingkungan kita dengan usaha-usaha yang nyata, antara lain :

Pertama, memulai dari diri sendiri. Kita semua tidak memerlukan hukuman, melainkan teladan. Satu perbuatan lebih baik daripada seribu peraturan atau perkataan. Marilah kita memulai dari diri sendiri misalnya, dengan menyediakan tempat sampah dan tidak membuang sampah sembarangan. Kita hindarkan sungai-sungai dari sampah-sampah agar aliran sungai menjadi lancar sehingga tidak menggenangi jalan-jalan dan perumahan.
Marilah kita beri pemahaman kepada keluarga kita untuk hidup sehat dengan memelihara kebersihan lingkungan rumah. Jika lingkungan rumah terjaga, lingkungan RT terjaga hingga linggkungan desa tertata dengan baik, maka kita akan merasakan lingkungan hidup yang nyaman dan indah.
Marilah kita beri pemahaman kepada keluarga betapa mahalnya biaya yang harus dikeluarkan apabila lingkungan kita telah rusak. Karenanya, di sekolah-sekolah pun hendaknya kita memberi contoh kepada anak-anak untuk memelihara lingkungan.

Kedua, meninggalkan budaya acuh tak acuh.
Kita sadari betapa kita lebih suka menyerahkan diri pada negara. Seakan-akan kita mengatakan :"biarlah negara yang mengatur perumahan kita, lingkungan kita, tata ruang kita, jumlah anak kita dan gaya hidup kita." Segalanya diserahkan kepada negara bahkan untuk soal-soal kecil termasuk sanitasi, cara membuang sampah dan WC Umum. Adakah kita tidak ingin menolong di dalam kebaikan hidup bersama ?.

Betapa banyak masalah yang telah diakibatkan oleh karena kecerobohan dan ketidakpedulian kita. Gedung-gedung sekolah ambruk, tebing-tebing longsor, dan sampah berserakan di mana-mana, seakan-akan kita hidup dalam lingkungan yang tidak teratur, kumuh dan penuh dengan bibit penyakit. Padahal agama telah mengajarkan agar kita menjaga kebersihan, dan memandang kebersihan sebagai bagian dari iman. Oleh karenanya, lingkungan yang bersih membuktikan iman kita kepada Allah.
Rasulullah SAW bersabda :

"Kebersihan merupakan sebagian dari iman,"

Maka sebagai orang yang beriman, seharusnya kita lebih peduli terhadap lingkungan. Lingkungan adalah bagian dari hidup kita. Oleh karenanya, sudah seharusnya kita sendiri yang menjaga lingkungan. Saudara-saudaraku, perhatikanlah akibat yang terjadi jika semua orang mengabaikan kebersihan, ketertiban dan kemanaan lingkungannya.

Saudara-saudaraku, siapakah yang tidak menginginkan kehidupan yang bahagia dan sejahtera ? Tentu tidak ada. Namun, seringkali kita malas dan menganggap segala sesuatunya sudah ada yang mengurus. Ketahuilah kebahagiaan dan kesejahteraan tidak semata-mata berasal dari harta benda yang banyak dan rumah yang bagus. Kebahagiaan dan kesejahteraan dapat diperoleh manakala kita melihat lingkungan yang baik. Namun janganlah kita mengira, lingkungan yang baik ini akan terwujud begitu saja tanpa usaha yang sungguh-sungguh dari kita semua.

Para sesepuh mengajarkan kepada kita kebijaksanaan hidup. Diantaranya adalah gotong royong membersihkan lingkungan, siskamling, bersih-bersih sungai, selokan, bersih-bersih tempat ibadah, dan sebagainya. Semua ini merupakan ibadah kepada Allah SWT yang sangat bermanfaat bagi kehidupan kita bersama.
Allah SWT mememerintahkan kita tolong menolong dalam kebaikan.

"Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya."(Q.S.5:2)

Ketahuilah, kebajikan dan ketaqwaan yang kita lakukan, akan membebaskan kita dari bencana dunia dan akhirat. Dan marilah kita meningkatkan usaha dan kepedulian kita dalam membangun lingkungan. Allah SWT berfirman :

"Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya." (Q.S. Ath-Thuur:21)

Mewaspadai Pencemaran dan Perusakan Lingkungan Hidup

Allah SWT tidak menciptakan langit dan bumi ini dengan tanpa tujuan. Ketahuilah saudaraku, sesungguhnya Allah menciptakan langit dan bumi ini untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia. Alam yang disediakan Allah ini, tidak dapat diciptakan oleh ilmu pengetahuan dan teknologi manusia, karenanya ala mini harus selalu kita jaga kelestariannya.

Jikalau kita semua tidak mensyukuri karunia alam ini, maka hampir dapat dipastikan; manusia akan tertimpa berbagai bencana. Dengan segala ciptaan Allah ini, hendaknya kita mengambil pelajaran. Janganlah kita seperti orang-orang kafir yang menganggap kehidupan hanya di dunia saja. Allah SWT berfirman :

"Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya tanpa hikmah. Yang demikian itu adalah anggapan orang-orang kafir, maka celakalah orang-orang kafir itu karena mereka akan masuk neraka."

"Patutkah Kami menganggap orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh sama dengan orang-orang yang berbuat kerusakan di muka bumi? Patutkah (pula) Kami menganggap orang-orang yang bertakwa sama dengan orang-orang yang berbuat ma`siat?" (Q.S. Shaad:27-28).

Marilah kita perhatikan tanah, tumbuh-tumbuhan, hewan, dan makhluk Allah lainnya. Mereka sangat penting bagi kehidupan manusia.

Pertama, tanah memberi kehidupan kepada semua makhluk hidup di atas bumi. Namun jika tanah telah kritis, akan mempengaruhi kehidupan di muka bumi. Tanah yang tercemari oleh sampah-sampah plastik dan pestisida, bukan saja berpengaruh pada tanaman, melainkan juga pada kesehatan manusia.

Kedua, tumbuh-tumbuhan menyediakan kita sumber mata air, menampung air hujan dan perkayuan. Tumbuh-tumbuhan juga mampu membersihkan udara yang kotor dan tercemar menjadi bersih. Karenanya penebangan hutan yang sembarangan dapat berakibat mengeringnyua mata air, tanah gersang dan mudah erosi, punahnya berbagai jenis satwa dan naiknya suhu udara yang berakibat kurangnya curah hujan.

Ketiga, hewan-hewan. Hewan-hewan memberikan kepada kita keseimbangan ekosistem dan sekaligus bahan makanan. Karenanya perburuan dan pembunuhan binatang berakibat punahnya berbagai jenis binatang dan berakibat terganggunya ekosisistem. Sebagai contoh, di kawasan Dieng, atau di Kabupaten Wonosobo memiliki jenis satwa langka, yaitu Elang Jawa. Namun karena tempat hidupnya terganggu, maka keberadaannya pun terganggu. Bahkan mungkin sekarang telah musnah.

Keempat, air. Tercemarnya air tawar maupun air laut karena bahan kimia eracun, limbah rumah tangga maupun pabrik, sampah, pestisida dan minyak akan berbakibat bagi makhluk hidup lain. Air yang telah tercemar akan menimbulkan penyakit, membunuh ikan-ikan serta merusak ekosistem di dalamnya.

Kelima, udara. Pencemaran udara oleh karena asap beracun dari kendaraan, cerobong pabrik, timbunan sampah dan sanitasi yang tidak sehat akan berakibat terganggunya pernafasan makhluk hidup.

Kenyataan di sekitar kita telah menunjukkan adanya pencemaran dan perusakan tanah, perusakan tumbuh-tumbuhan, hewan, pencemaran air dan pencemaran udara. Perusakan lingkungan ini disebabkan antara lain karena :
Pertama, akhlak manusia.
Kita belum menyadari akibat-akibat dari tindakannya
Keserakahan menjadikan manusia seringkali memburu keuntungan sendiri
Manusia merasa berkuasa dan sombong atas sumber-sumber alam.sehingga memboroskan sumber alam.
Manusia yang tidak bertanggungjawab kepada makhluk hidup lain dan tidak mengingat kepentingan generasi mendatang.

Kedua, kepadatan penduduk. Jumlah penduduk yang terus meningkat mengakibatkan kebutuhan terhadap sumber-sumber alam makin bertambah pula.
Ketiga, pandangan yang keliru tentang pembangunan, kesejahteraan dan hidup modern. Banyak orang menganggap kesejahteraan bergantung pada kenyang, senang dan menang, sehingga tidak memikirkan harkat, kebutuhan dan perasaan orang lain.

Agama Islam mengajarkan kepada kita untuk menyadari arti pentingnya lingkungan hidup, menolak pencemaran dan perusakan lingkungan serta melakukan penghijauan dan kebersihan lingkungan.

Usaha-usaha ini antara lain dapat dilakukan dengan :
Pertama, menanam tanaman non-pestisida dan mengajak orang lain untuk mengkonsumsi makanan sehat.

Kedua, membuat kelompok pecinta lingkungan hidup yang berjuang untuk mencegah pencemaran dan perusakan lingkuangan hidup.

Ketiga, memberikan pendidikan lingkungan di dalam keluarga. Misalnya memberi contoh agar anak-anak tidak membuang sampah sembarangan, tidak kencing sembarangan dan mengajak anak-anak kita ke hutan dan tanah pertanian untuk melihat langsung tanda-tanda-tanda kekuasaan Allah.

Keempat, menolak segala jenis perusakan dan mendukung ditegakkannya setiap Undang- undang atau peraturan yang berfaedah bagi kepentingan hajat hidup orang banyak. Saudara-saudaraku, ketahuilah bahwa di dalam Undang–Undang Dasar l945 telah disebutkan bahwa bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh Negara dan dipergnakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.


Usaha-usaha ini diperlukan agar anak-anak kita memiliki keberanian untuk menolak setiap perusakan lingkungan dan terdorong untuk memperbaiki lingkungan yang sudah terlanjur dirusak. Dan tidak kalah pentingnya adalah kita semua harus bertobat atau berhenti dari tindakan merusak sebelum kedatangan bencana yang lebih dahsyat. Tentu kita semua tidak sampai hati meninggalkan anak cucu kita dalam kesengsaraan dikarenakan perbuatan-perbuatan buruk kita semua. Janganlah kita mengikuti jalan pikiran dan perasaannya sendiri sehingga bertindak tanpa menghiraukan kehendak Allah.

Ingatlah saudara-saudaraku, bahwa Allah membalas setiap apa yang diusahakannya, dan Allah mengetahui apa yang disembunyikan dalam hati.

"Pada hari ini tiap-tiap jiwa diberi balasan dengan apa yang diusahakannya. Tidak ada yang dirugikan pada hari ini. Sesungguhnya Allah amat cepat hisabnya.".

"Dia mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh hati." (Q.S. Al Mukmin:17).

Allah Menciptakan Alam dengan Tujuan yang Benar

Kebutuhan manusia terhadap lingkungan hidup tidak mungkin tergantikan. Karena dari alam inilah manusia memenuhi semua kebutuhan hidupnya. Agar alam mampu memenuhi kebutuhan hidup manusia, Allah menciptakannya dengan sebaik-baiknya.

"Dan Allah menciptakan langit dan bumi dengan tujuan yang benar dan agar dibalasi tiap-tiap diri terhadap apa yang dikerjakannya, dan mereka tidak akan dirugikan. (Q.S. Al Jaatsiyah:22)"

Allah menciptakan alam ini dengan tujuan yang benar, yaitu agar manusia dapat hidup dengan sebaik-baiknya di muka bumi ini. Allah menyediakan bahan makanan baik di darat maupun di laut untuk mencukupi kebutuhan manusia.

Saat ini, bumi merupakan satu-satunya tempat hidup yang cocok dengan manusia. Dan bumi menjadi tempat manusia untuk beribadah. Oleh karenanya, Allah akan membalas setiap perbuatan manusia di dunia dan akhirat. Janganlah kita mengira, bahwa hidup hanya di dunia saja.

Akan tetapi manusia seringkali menjadikan hawa nafsu sebagai tuhannya, sehingga manusia menempuh jalan sesat. Hati dan pendengarannya terkunci. Matanya pun buta dari melihat setiap kebenaran. Orang yang tidak beriman dan menuruti hawa nafsu akan menyatakan bahwa: "Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang membinasakan kita selain masa". Pandangan ini merupakan dugaan yang salah dikarenakan kita sama sekali tidak mempunyai pengetahuan tentang alam akhirat.

Marilah kita merenungkan beberapa kenikmatan Allah yang dianugerahkan kepada kita.
Pertama, Allah menciptakan langit, bumi dan makhluk-makhluk yang melata yang Dia sebarkan pada keduanya. Dan Dia Maha Kuasa mengumpulkan semuanya apabila dikehendaki-Nya.

Kedua, Allah menurunkan hujan sesudah kita berputus asa dan Dialah Yang menyebarkan rahmat-Nya.

Ketiga, Allah memperjalankan kapal-kapal (yang berlayar) di laut seperti gunung-gunung.

Keempat, Allah Yang melapangkan rezeki bagi semua makhlukNya.

Kelima, Allah menciptakan segala sesuatunya indah, sehingga setiap orang yang memandangnya akan terkesan.

Perhatikanlah bagaimana gunung-gunung yang menjulang, langit yang menjadi atap bumi tanpa tiang. Jika kita harus membayar setiap kenikmatan dan karunia yang diberikan Allah, maka seluruh kekayaan dan hidup kita pun sama sekali tidak mencukupi. Maha Suci Allah. Dialah yang menciptakan segala sesuatunya berguna bagi manusia.

Bukti-bukti alamiah yang ada dalam kehidupan kita, merupakan tanda-tanda kekuasaan Allah Yang Maha Pencipta. Namun ingatlah manakala manusia tidak mesyukuri nikmat-nikmat tersebut, Allah akan menimpakan azab yang sangat pedih.

"Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu mema`lumkan: "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (ni`mat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (ni`mat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih". (Q.S. Ibrahim:7)

Rasa syukur kita terhadap karunia alam ini, tidak lain adalah memanfaatkan sumber-sumber alam seperti tumbuh-tumbuhan, hewan, air dan kekayaan alam lainnya untuk beribadah kepada Allah. Karena tujuan ibadah inilah, kita tidak memanfaatkan sumber alam atas dasar keuntungan sendiri tanpa memperhatikan akibat-akibatnya baik di masa kini maupun masa yang akan datang. Karena tujuan ibadah ini pula, kita bersedia memelihara sumber-sumber alam. Sebab jika kita merusak sumber alam ini, sudah pasti Allah akan menimpakan siksaNya. Ingatlah betapa dahsyatnya siksa Allah; sebagaimana dinyatakan Allah dalam surat Asy Syuura, ayat 30-31.

"Dan apa musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu)."

"Dan kamu tidak dapat melepaskan diri (dari azab Allah) di muka bumi, dan kamu tidak memperoleh seorang pelindungpun dan tidak pula seorang penolong selain Allah."

Oleh karena itu marilah kita mengingat siksa atau kesulitan-kesulitan hidup yang akan menimpa kita semua, sebagaimana dinyatakan Allah dalam surat Asy Syura, ayat 33-35.

"Jika Dia menghendaki Dia akan menenangkan angin, maka jadilah kapal-kapal itu terhenti di permukaan laut. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan) -Nya bagi setiap orang yang banyak bersabar dan banyak bersyukur,"
"atau kapal-kapal itu dibinasakan-Nya karena perbuatan mereka atau Dia memberi maaf sebagian besar (dari mereka)."
"Dan supaya orang-orang yang membantah ayat-ayat (kekuasaan) Kami mengetahui bahwa mereka sekali-kali tidak akan memperoleh jalan ke luar (dari siksaan)."

Semua kejadian alam di sekita kita seperti banjir dan tanah longsor, dapat dijadikan pelajaran bagi kita semua, agar kita senantiasa memahami tujuan penciptaan alam ini.

Saudara-saudaraku, jika kita memandang kehidupan ini hanya di dunia saja, maka manusia akan berbuat sesuka hati tanpa merasa diawasi Allah dan tanpa merasa bertanggungjawab.

"Maka sesuatu apapun yang diberikan kepadamu, itu adalah keni`matan hidup di dunia; dan yang ada pada sisi Allah lebih baik dan lebih kekal bagi orang-orang yang beriman, dan hanya kepada Tuhan mereka, mereka bertawakkal." (Q.S.Asy-Syuura:36).

Kewajiban Menjaga Kelestarian Lingkungan

Marilah kita bertaqwa kepada Allah, dengan melaksanakan perintah-perintahNya dan menjauhi larangan-laranganNya. Diantara bukti ketaqwaan kita adalah berbuat baik kepada sesama makhluk Allah.

Manusia menanggung amanat Allah sebagai pengelola alam semesta. Amanat Allah ini diberikan kepada manusia, karena manusia merupakan makhluk Allah yang diberi karunia akal, nafsu dan kenabian. Dengan akal, nafsu dan kenabian inilah manusia mampu mengelola alam semesta ini.

"Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh (Q.S.Al Ahzab:72)."

Ketahuilah saudara-saudaraku, amanat adalah kepercayaan dimana manusia yang diamanati bertanggungjawab terhadap amanatnya. Jika menyalahgunakan kepercayaan yang diembannya ini, manusia akan menerima sanksi, baik di dunia maupun di akhirat. Sebaliknya, jika amanat dilaksanakan dengan sebaik-baiknya, maka Allah akan memberinya ganjaran di dunia dan akhirat.

Dalam melaksanakan amanat, kita mengenal istilah "halal dan haram" yang bertujuan agar penyakit keserakahan manusia terhadap harta benda dan kekayaan alam dapat dikendalikan sendiri oleh orang yang bersangkutan. Jika seseorang terbebas dari hukum di dunia, ia tidak akan terbebas dari sanksi moral di dalam hati nuraninya sendiri dan tentu saja hukuman di akhirat.

Azas-azas agama seperti amanat, halal-haram, larangan terhadap nafsu serakah, tidak berlebih-lebihan dalam memanfaatkan harta, merupakan tata krama atau etika lingkungan. Dan sudah saatnya kita mengambil nilai-nilai agama dalam kebijakan mengenai lingkungan hidup kita. Ketahuilah, akal dan hawa nafsu tidak cukup untuk membangun lingkungan hidup kita. Sebab manakala akal dan nafsu manusia keluar dari bimbingan Allah dan RasulNya, sudah pasti kemampuan dan kekuatan yang dimikili manusia tidak akan mensejahterakan, melainkan menyengsarakan kehidupan manusia,

Tata krama lingkungan yang disertai dengan keyakinan terhadap pahala dan siksa Allah, akan sangat berguna bagi pembangunan lingkungan hidup kita. Tanpa merasa takut kepada Allah, hati dan pikiran kita tidak akan tunduk kepada Allah. Akibatnya, manusia berbuat menurut akal dan hawa nafsunya. Perhatikanlah berapa banyak kerusakan-kerusakan yang disebabkan oleh hawa nafsu manusia. Tanah yang semula subur, kini sudah tidak subur lagi, sehingga produktivitasnya menurun. Ratusan ribu hektar bahkan jutaan hektar hutan gundul, dan hanya dinikmati oleh segelintir orang. Sungguh bencana yang luar biasa bagi kehidupan bersama, manakala kita tidak segera merubah perilaku kita.

Di dataran tinggi Dieng misalnya. Seorang petani yang memiliki lahan satu hektar, pada tahun 80-an, dapat memanen 10-15 ton kentang. Namun sekarang hanya berkisar 8-10 ton. Dan sekarang, kesuburan tanah harus dipacu dengan pupuk kimiawi. Akibatnya semua tanaman bergantung pada sedikit banyaknya pupuk kimiawi. Keadaan ini akan berakibat buruk pada generasi mendatang, dimana racun-racun kimiawi yang sudah terlanjur mencemari lingkungan, berpotensi menimbulkan berbagai macam penyakit.

Demikian halnya cuaca yang semula sejuk dan udara yang segar, sekarang sudah berubah menjadi panas dan gersang. Keadaan ini tidak ternilai kerugiannya. Untuk udara yang sejuk, kita bisa menggunakan AC, namun berapa banyak uang yang harus dikeluarkan. Sedangkan dari hutan, kita semua memperoleh udara segar secara gratis. Kita hanya perlu menjaga dan dan tekun menanam.

Jika kita tidak memperhatikan bencana-bencana yang Allah timpakan kepada kita semua, sudah pasti kita akan berbuat semaunya sendiri. Yang penting senang, kenyang dan menang. Tidak memperhatikan keselamatan dan kesejahteraan sesama manusia, serta tidak memperhatikan kehidupan anak cucu kita di masa yang akan datang.

Saudara-saudaraku, ketahuilah nasib ummat yang terdahulu yang mendurhakai Allah. Kaum Tsamud dihancurkan dengan badai yang dahsyat; kaum Luth dihancurkan dengan banjir yang dahsyat; dan ummat-ummat lainnya yang ditimpa bencana kelaparan, penyakit serta peperangan. Ingatlah saudara-saudaraku, Allah akan membalas setiap amal perbuatan manusia.

"Maka mereka ditimpa akibat buruk dari apa yang mereka usahakan. Dan orang-orang yang zalim di antara mereka akan ditimpa akibat buruk dari usahanya dan mereka tidak dapat melepaskan diri (Q,S, Azzumar:51)."

Akibat buruk ini mengandung dua pemahaman.
Pertama, akibat buruk tidak hanya menimpa orang dzalim saja. Hal ini karena di dunia ini berlaku hukum alam, di mana setiap kebahagiaan maupun kesengsaraan memiliki keterkaitan satu sama lain. Adanya penggundulan hutan, semua orang akan merasakan akibatnya. Padahal penggundulan hutan hanya dilakukan oleh segelintir atau sekelompok orang.

Kedua, akibat buruk yang hanya menimpa orang yang berbuat dzalim. Yaitu di akhirat saja. Orang-orang yang berbuat dzalim akan merasakan siksa Allah dikarenakan menyengsarakan hidup sesama makhluk Allah di dunia dan melawan Allah dengan perbuatan yang merusak itu. Allah berfirman dalam surat Asy Syura, ayat 22, yang artinya:

"Kamu lihat orang-orang yang zalim sangat ketakutan karena kejahatan-kejahatan yang telah mereka kerjakan, sedang siksaan menimpa mereka. Dan orang-orang yang saleh (berada) di dalam taman-taman surga, mereka memperoleh apa yang mereka kehendaki di sisi Tuhan mereka. Yang demikian itu adalah karunia yang besar."

Dengan firman ini, Allah mempertegas bahwa setiap perbuatan pasti akan membawa akibat. Jika perbuatan kita membawa kebaikan hidup, maka kehidupan akan menjadi semakin baik. Sebaliknya, jika perbuatan kita mencelakakan hidup, maka kehidupan manusia pun akan menjadi semakin buruk. Sesungguhnya setiap manusia menghendaki kehidupan yang lebih baik. Namun, terkadang akibat perbuatan sekelompok manusia, kita semua merasakan akibat-akibat buruk ini. Na'udzubillahi mindzalik.

Menyadari akibat-akibat buruk yang akan menimpa kita di dunia dan akhirat, marilah kita memahami tanggungjawab kita terhadap lingkungan hidup. Kita semua wajib menjaga lingkungan hidup agar kelangsungan hidup manusia dapat terjamin. Dengan memahami akhlak agama yang kita anut, niscaya kita akan berbuat sebaik-baiknya terhadap lingkungan kita. Sesungguhnya kebutuhan hidup manusia sangat tergantung dengan sumber-sumber alam. Demikianlah, mudah-mudahan kita selalu istiqamah di dalam menjaga kelestarian sumber alam.

Kewajiban Manusia sebagai Khalifatullah fil ardh

Marilah kita bertaqwa kepada Allah, dengan melaksanakan perintah-perintahNya dan menjauhi larangan-laranganNya. Diantara bukti ketaqwaan kita adalah menyadari kedudukan kita sebagai khalifatullah fil ardhi.

Allah memilih manusia sebagai wakil Allah di muka bumi atau khalifatullah fil ardhi. Dalam kedudukan inilah manusia bertanggungjawab atas seluruh alam semesta.

"Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi". Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui".(Q.S.2:30).

Betulkah manusia lebih penting daripada dunianya ? Apakah matahari, tumbuh-tumbuhan dan hewan-hewan tak ada gunanya kalau tidak ada manusia ?

Manusia memang lebih unggul dibanding makhluk lainnya. Namun, tanpa makhluk lainnya, kehidupan manusia pun tidak akan ada artinya. Kenyataannya; zaman ilmu pengetahuan dan teknologi tidak sepenuhnya menjamin keselamatan dan kesejahteraan manusia. Sebaliknya, manusia terancam hidupnya oleh kepandaiannya. Dengan kerakusan dan kesombongannya, kehidupan manusia makin cepat dalam kebinasaan. Semua ini dikarenakan manusia hanya menggunakan akal dan hawa nafsunya, dan tidak mengambil pelajaran dari firman-firman Allah.
Manusia memiliki keunggulan akal, hati dan nafsu dibanding makhluk lain, namun tanpa bimbingan Allah dan rasulNya, manusia bisa lebih sesat daripada binatang, sebagaimana dinyatakan Allah" Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahannam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai."(Q.S.7:179).

Karena itu, marilah kita mengubah cara berpikir kita. Yakni, merubah cara pandang yang mentakhtakan manusia di atas alam. Sebab meskipun manusia sebagai khalifatullah, namun manusia hanyalah sebagai pemegang amanat Allah.

Kita perlu merubah perilaku dan mengedepankan akhlak lingkungan. Yakni janganlah mementingkan diri sendiri; tetapi taatlah kepada hukum alam dan mengutamakan kemaslahatan umum.

Kalau mau menguasai alam, kita pun harus tunduk kepadanya. Kita harus berkawan dengan lingkungan dan menghargai semua jasa-jasa alam kepada kita. Dengan demikian, kita wajib menempatkan diri sebagai bagian dari lingkungan. Bukan sebagai penguasa mutlak, sebab yang berkuasa mutlak adalah Allah, sehingga kita pun harus tunduk pada kehendak Allah. Kita bukanlah raja bagi alam semesta. Ketahuilah raja sesungguhnya adalah Allah SWT.

Ingatlah, Allah menciptakan alam semesta ini dengan seimbang. Namun oleh sebab manusia berbuat sewenang-wenang, tidak taat hukum, dan mementingkan diri sendiri; alam menumpahkan amarah dengan berbagai bencana.

"Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis, kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang?" (Q.S. Al Mulk:3)

Kemudian pandanglah sekali lagi niscaya penglihatanmu akan kembali kepadamu dengan tidak menemukan sesuatu cacat dan penglihatanmu itupun dalam keadaan payah. Betapa agungnya ciptaan Allah. Dia-lah Allah Yang mempersiapkan segala sesuatunya untuk mencukupi kebutuhan manusia.

Sesungguhnya Allah telah menghiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang dan segala macam sumber alam. Allah jadikan bintang-bintang yang menghiasi langit, sawah ladang yang indah dan lingkungan hidup yang cocok bagi manusia. Namun manakala manusia tidak mensyukuri alias mengkufuri karunia ini, Allah sediakan bagi mereka siksa neraka yang menyala-nyala.

Allah menyatakan keadaan orang-orang kafir dan taqwa dalam surat Al Mulk, ayat 4-11 yang artinya :

"Dan orang-orang yang kafir kepada Tuhannya, memperoleh azab Jahannam. Dan itulah seburuk-buruk tempat kembali."

"Apabila mereka dilemparkan ke dalamnya mereka mendengar suara neraka yang mengerikan, sedang neraka itu menggelegak,"

"hampir-hampir (neraka) itu terpecah-pecah lantaran marah. Setiap kali dilemparkan ke dalamnya sekumpulan (orang-orang kafir). Penjaga-penjaga (neraka itu) bertanya kepada mereka: "Apakah belum pernah datang kepada kamu (di dunia) seorang pemberi peringatan?"
"Mereka menjawab: "Benar ada, sesungguhnya telah datang kepada kami seorang pemberi peringatan, maka kami mendustakan (nya) dan kami katakan: "Allah tidak menurunkan sesuatupun, kamu tidak lain hanyalah di dalam kesesatan yang besar".
"Dan mereka berkata: "Sekiranya kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu) niscaya tidaklah kami termasuk penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala".
"Mereka mengakui dosa mereka. Maka kebinasaanlah bagi penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala.
"Sesungguhnya orang-orang yang takut kepada Tuhannya Yang tidak nampak oleh mereka, mereka akan memperoleh ampunan dan pahala yang besar."

Marilah kita melaksanakan kewajiban sebagai "wakil Tuhan" di muka bumi dengan mengolah dan memanfaatkan bumi dengan sebaik-baiknya, agar bumi yang kita tempati ini memberikan kemakmuran, kesejahteraan dan kenyamanan dalam hidup kita semua.

Ketahuilah, meskipun Allah memberikan wewenang untuk mengolah alam semesta, namun manusia tidak dibenarkan merusaknya. Ingatlah akan siksa Allah di dunia dan akhirat.

Manusia Bagian dari Lingkungan

Marilah kita bertaqwa kepada Allah, dengan melaksnakan perintah-perintahNya dan menjauhi larangan-laranganNya. Sebab dengan taqwa inilah, manusia akan selamat di dunia dan akhirat.

Lingkungan merupakan alam yang paling dekat dengan kita. Sejak pertama menyadari kehidupan, kita menamakan diri kita berada di dalam alam semesta. Kita hidup, bertempat tinggal, mencari makan, menanam pohon, dan menikmati semua pemandangan di dalam lingkungan kita.

Tidak hanya itu, kita sendiri adalah bagian dari alam. Kita diciptakan Allah dari tanah dan ditempatkan di bumi ini, sebagaimana disebutkan dalam Al Qur'an surat Hud, ayat 61 yang artinya :

"Dan kepada Tsamud (Kami utus) saudara mereka Shaleh. Shaleh berkata: "Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya, karena itu mohonlah ampunan-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Tuhanku amat dekat (rahmat-Nya) lagi memperkenankan (do`a hamba-Nya)."(Q.S.Hud:61).

Dalam surat Al A'raf juga disebutkan :

"Sesungguhnya Kami telah menempatkan kamu sekalian di muka bumi dan Kami adakan bagimu di muka bumi itu (sumber) penghidupan. Amat sedikitlah kamu bersyukur."(Q.S.7:10).

Dari firman Allah di atas, ada 4 (empat) kesadaran :
Pertama, kesadaran bahwa manusia diciptakan dari tanah.
Kedua, kesadaran bahwa manusia adalah pemakmur bumi.
Ketiga, kesadaran bahwa manusia ditempatkan di bumi.
Keempat, kesadaran bahwa bumi adalah sumber penghidupan.

Dalam firman Allah di atas, Allah menegaskan hubungan manusia dengan bumi yang tidak mungkin terpisahkan. Manusia menjadi bagian dari bumi karena manusia diciptakan dari tanah dan bumi merupakan sumber penghidupan. Siapakah yang dapat mengingkari bumi sebagai sumber penghidupan ?

Allah juga mengingatkan kepada kita bahwa bumi dan makhluk hidup lainnya seperti udara, lautan, permukaan tanah, padang rumput, gunung-gunung, matahari dan bulan adalah satu kesatuan alam. Apabila bagian-bagian dari kesatuan ini dirusak dan harmoninya dilanggar, maka akan berakibat buruk bagi kesejahteraan hidup kita semua.

Kini, dibalik penguasaan manusia terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin canggih, kita merasa khawatir bahwa apa yang dihasilkan bukan pemakmuran, melainkan perusakan dalam jumlah yang lebih besar.

Sebagai contoh, dahulu, manusia cukup memancing untuk mendapatkan ikan, namun sekarang manusia meracuni sungai untuk mendapatkan ikan, sehingga mematikan ikan dan makhluk hidup lainnya yang berada di dalam air.

Dengan ilmu dan teknologi, manusia mampu membuat pabrik, pupuk, mobil dan sebagainya. Namun, tanpa tata krama lingkungan, manusia bisa mati karena ilmu dan teknologinya. Sekiranya udara, tanah, dan air tercemari oleh zat-zat kimiawi dari pupuk, asap kendaraan dan limbah-limbah, maka kehidupan akan terganggu. Akibatnya hidup manusia dibayang-bayangi oleh penyakit seperti kanker, jantung, pernapasan dan sebagainya.

Karena itu kita perlu merenungkan tata krama terhadap lingkungan, sebagaimana Firman Allah dalam surat Al Qashash, ayat 77, yang artinya:

"Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (keni`matan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan".

Ketahuilah, Allah melarang berbuat kerusakan. Sehingga, kita tidak boleh semena-mena dalam memperlakukan alam ini. Kita tidak boleh memperlakukannya hanya untuk pemuasan nafsu serakah.

Kita bukanlah pemilik alam ini, sebaliknya karena kasih sayang Allah inilah, manusia diberi anugerah untuk memperoleh penghidupan di bumi. Sekiranya manusia berbuat kerusakan, maka Allah akan mencabut segala kenikmatan yang telah dikaruniakan dan manusia tidak akan mendapatkan bagian sedikit pun di akhirat.

Saudara-saudaraku, dengan memahami asal pencipataan manusia dari tanah, maka kita sadar; kehidupan manusia sangat bergantung dengan tanah. Jika tanah atau bumi rusak, pasti hidup manusia pun rusak. Apakah yang dapat kita nikmati dari kehidupan ini, manakala lingkungan sudah rusak ?. Maka marilah kita mensyukuri karunia Allah yang tidak terhingga ini dengan melaksanakan tugas memakmurkan bumi. Janganlah kita mendahulukan sifat serakah tanpa memperhatikan kehidupan anak cucu kita di masa yang akan datang. Dan janganlah kita mengutamakan kepentingan sendiri, tanpa memikirkan kemakmuran dan keselamatan bersama.

Sebagai orang yang beriman, kita yakin bahwa sekecil apapun kerusakan lingkungan, pasti akan berakibat buruk, apalagi jika kerusakan itu berlangsung lama dan dalam jumlah yang sangat besar. Marilah kita mulai hidup ini dengan memperhatikan lingkungan sekitar kita. Jika mulai sekarang, kita mau merubah perilaku kita terhadap lingkungan, Insya Allah, pada masa mendatang, kita akan mendapatkan kembali lingkungan yang sehat, indah, dan mensejahterakan. Semua ini, merupakan persiapan kita bagi kehidupan anak cucu kita di masa yang akan datang.

Janganlah kita semua menyombongkan diri dengan berbuat kerusakan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong, karena kita dalah makhluk lemah yang tergantung pada karunia dan kasih sayang Allah. Kita semua mengalami kehancuran, manakala Allah mencabut seluruh kenikmatan dan karunia-Nya. Sesungguhnya kita semua adalah makhluk yang lemah, yang senantiasa berharap belas kasihan dari Allah.

"Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung."

"Semua itu kejahatannya amat dibenci di sisi Tuhanmu." (Q.S. Al Isra:37-38).

Dan ketahuilah saudara-saudarakau, sesungguhnya dunia ini, manusia diuji dengan amal ibadah. Sekiranya, kita tidak lulus, tentu kelak kita akan celaka.

"Dialah Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun."

Senin, Juni 08, 2009

Pemeliharaan Kesehatan Dalam Lingkungan

Agama Islam mengajarkan agar kita senantiasa menjaga kebersihan. Diantaranya dengan mandi dan berwudhu.

Sedangkan yang dikehendaki dengan bersih adalah kebersihan jasmani, pakaian, dan kebersihan jalan, rumah, saluran air serta kebersihan makanan dan minuman. Oleh karenanya, janganlah kita menganggap bahwa kebersihan hanya diperlukan ketika akan melaksanakan shalat atau ibadah lainnya. Tujuannya adalah agar kesehatan kita terpelihara, sehingga kita dapat beribadah kepada Allah dengan lancar. Jika kesehatan terganggu, maka tidak akan dapat melaksanakan segala kegiatan dengan baik.

Diantara usaha memelihara kesehatan adalah dengan sanitasi lingkungan. Sanitasi lingkungan adalah menciptakan lingkungan yang sehat dan bebas dari penyakit. Hal ini hanya akan dapat dicapai dengan kebersihan yang sempurna. Sanitasi lingkungan merupakan unsur penting dalam menjaga lingkungan ( ath-thib al wiqa'i).

Sanitasi lingkungan sangat penting bagi kita terutama dalam penyediaan air bersih, pembuangan kotoran, pemberantasan nyamuk, lalat, tikus, dan pencegahan penyakit menular serta keadaan perumahan yang baik dan sehat agar tetap terjamin kesehatan lingkungan yang baik. Sesungguhnya kebersihan sangat bermanfaat untuk kesehatan kita semua.

Adalah kewajiban kita bersama untuk menciptakan lingkungan yang bersih. dalam kehidupan bermasyarakat. Kita perlu menyadari bahwa lingkungan yang baik dan bersih penting untuk kesehatan. Banyak sekali timbul berbagai penyakit di masyarakat yang berjangkit secara epidemik, yang sebetulnya hal ini dapat dicegah kalau kesehatan lingkungan cukup baik. Penyakit usus yang berbahaya seperti tipes, diare, muntaber dan kolera serta flu burung yang masih banyak menimbulkan kematian, dapat dikurangi dan dicegah kalau saja kita membiasakan diri dengan menjaga kebersihan makanan dan minuman. Demikian pula penyakit pernapasan seperti Infeksi Saluran Pernapasan Atas (ISPA) dapat dikurangi dan dicegah kalau saja kita membiasakan diri dengan menghirup udara yang bersih.

Kita dapat memulai menjaga kebersihan lingkungan dari dalam rumah, rukun tetangga, dan desa. Kebiasaan gotong royong membersihkan lingkungan merupakan kebiasaan yang baik, dan hal ini menunjukkan kepedulian kita terhadap kebersihan lingkungan. Sebab lingkungan yang kotor bukan saja membahayakan diri sendiri dikarenakan berjangkitnya penyakit, namun juga membahayakan/merusak lingkungan hidup dan tidak sedap dipandang..

Berkait dengan kebersihan lingkungan, Rasulullah SAW mengajarkan kepada kita antara lain :

Pertama, perintah menjaga kebersihan rumah dan lingkungannya. Rasulullah SAW bersabda :

"Sesungguhnya Allah itu baik, menyukai kebaikan. Allah itu bersih dan menyukai kebersihan. Allah itu mulia dan menyukai kemuliaan, maka bersihkan halaman rumahmu dan lingkunganmu (HR.Al Hakim)"

Hadist ini dengan tegas memerintahkan ummmat manusia, dan ummat Islam khusunya agar senantiasa menjaga kebersihan tempat tinggal dan lingkungan. Bahkan Rasulullah SAW melarang kita menumpuk sampah sebagaimana kebiasaan kaum Yahudi, sebagaimana sabdanya :

"Bersihkanlah halaman rumahmu dan janganlah menyerupai kaum Yahudi yang suka mengumpulkan sampah di lingkungan rumah mereka (HR. Al Hakim)"

Dikisahkan bahwa pada masa itu orang-orang Yahudi suka membuang sampah ke jalanan atau meletakkan begitu saja di halaman rumah mereka, padahal sampah itu mengganggu khalayak yang lewat dengan bau yang tidak sedap.

Kedua, perintah membersihkan jalanan. Rasulullah mendorong kaum muslimin untuk rajin membersihkan lingkungan sekitarnya, sebagaimana sabdanya :

"Barangsiapa menyebut nama Allah dan mengangkat batu, pohon, atau tulang belulang dari tempat berlalunya manusia, maka sama halnya ia berjalan dan sungguh ia telah menjauhkan diri dari api neraka (HR. Hakim)"

Yang dikehendaki dari hadist ini adalah sampah, kotoran ataupun segala hal yang membuat lingkungan tidak ASRI (Aman, Sehat, Rapi dan Indah). Dalam riwayat lain menyebutkan bahwa Rasulullah melarang orang meludah, membuang kotoran dan kencing di tempat umum. Semua ini menunjukkan perhatian Rasulullah yang besar terhadap pemeliharaan kebersihan lingkungan. Sebab timbulnya penyakit, bukan saja menjadikan kesusahan bagi penderita, namun juga lingkungannya. Sebaliknya, jika lingkungan bersih maka semua pihak akan merasakan kebahagiaan bersama.

Diantara usaha-usaha memelihara kebersihan lingkungan antara lain :
· Penyediaan air bersih untuk keperluan minum, memasak dan mencuci.
· Penyediaan tempat pembuangan kotoran atau tempat membuang sampah..
· Kebersihan tempat tinggal.
· Pembuatan dan penyediaan aliran air yang baik dan memenuhi syarat, dan
· Menghindari polusi udara.

Untuk itu marilah membiasakan diri dengan usaha-usaha yang dapat mewujudkan kesehatan lingkungan. Tidak sulit apabila kita bersungguh-sungguh niat ikhlas melaksanakan perintah Allah dan Rasulullah di dalam memelihara kebersihan lingkungan. Sebab sekiranya kita tidak melaksanakannya, maka kita semua akan mengalami kerugian.

Banyak tenaga, dana dan pikiran yang harus dikeluarkan manakala kesehatan masyarakat terganggu. Seperti kata pepatah "Menjaga lebih baik daripada mengobati." Maka, sebelum lingkungan kita tercemari oleh berbagai bibit penyakit, janganlah kita berputus asa untuk selalu berusaha mewujudkan kebersihan lingkungan. Lingkungan yang Aman, Sehat, Rapi dan Indah (ASRI) akan membuat kita semua bersemangat dan merasa nyaman.

Ya Allah jadikanlah kami orang-orang yang bersih dan jadikanlah kami orang-orang yang bertobat. Jadikanlah kami orang-orang yang bersih, dan jadikanlah kami hamba-hambaMu yang mengerjakan amal shalih.

Hubungan Manusia dengan Lingkungannya

Manusia memenuhi kebutuhan hidupnya dari lingkungan. Oleh karenanya marilah kita bertaqwa dengan senantiasa berbuat baik terhadap sesama makhluk Allah.

Ada dua kebutuhan manusia yang mendasar.
Pertama, kebutuhan yang bersifat benda. Manusia membutuhkan air, udara, sandang, pangan, papan dan transportasi.
Kedua, kebutuhan yang bersifat ruhani. Diantaranya manusia membutuhkan rasa aman, ketenteraman, kenyamanan dan pendidikan.

Semakin hari, manusia makin beraneka ragam kebutuhan hidupnya. Makin besar jumlah kebutuhan hidupnya yang diambil dari lingkungan, berarti semakin besar perhatian manusia terhadap lingkungan.
Namun kebutuhan hidup manusia
tidak selamanya dapat terpenuhi. Teknologi bisa mendorong kesejahteraan manusia, sedangkan di sisi lain, teknologi juga dapat menghancurkan kehidupan manusia. Semua ini terkait dengan perilaku dan system nilai yang dianut oleh manusia. Anugerah Allah ini rusak tidak lain karena ulah manusia.

"Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)" (Q.S. Ar Ruum:41).

Berbagai macam industri dan sifat serakah manusia, seringkali menyebabkan kulitas lingkungan hidup menjadi rendah bahkan membahayakan kehidupan manusia. Sebagai contoh, adanya limbah industri, dapat menyebabkan pencemaran udara dan air. Udara yang kotor tentu akan menurunkan kualitas kesehatan manusia. Hutan yang digunduli dengan membabi buta, juga telah menyebabkan terjadinya bencana banjir dan tanah longsor. Dan kita telah merasakan bersama-sama akibat yang ditimbulkan dari kerusakan lingkungan. Kita memerlukan waktu, tenaga dan dana yang sangat banyak untuk memperbaiki lingkungan yang rusak.

Manusia bersifat aktif sehingga manusia dapat secara aktif mengelola dan mengubah lingkungan (ekosistem) sesuai dengan apa yang dikehendaki. Namun dalam pengelolalaan ini, terkadang manusia bertindak negatif seperti pencemaran dan pengerukan Sumber Daya Alam (SDA) secara berlebih-lebihan. Di sisi lain, manusia dapat berperan positif dalam lingkungannya seperti melaksanakan reboisasi (penananam hutan kembali), penghijauan, membuat system pertanian yang baik, mengelola alam secara tepat dan bijaksana serta membuat peraturan dan Undang- Undang.

Oleh karena itu, masalah lingkungan sesungguhnya lebh bergantung kepada tingkah laku kita yang semena-menan terhadap lingkungan sehingga menurunkan jumlah maupun mutu lingkungan hidup. Ditambah lagi pertumbuhan penduduk yang tidak terkendalikan, maka keadaan lingkungan semakin semrawut.

Sebagai contoh, penggundulan hutan. Penebangan liar pada hutan-hutan yang tersebar di wilayah Kabupaten Wonosobo mengakibatkan siklus iklim tidak berjalan sebagaimana mestinya. Terkadang panas terik berkepanjangan, dan terkadang hujan tak terkendalikan. Ini akibat kemampuan alam dalam menahan air hujan untuk disimpan menjadi air tanah menjadi berkurang. Menurunnya kemampuan alam menahan air hujan ini menybebakan terjadinya erosi dan selanjutnya menyebabkan banjir.

Akibat erosi, kadar lumpur di sungai menjadi naik, warna air menjadi keruh dengan di dalamnya kemungkinan terbawa pula bibit-bibit penyakit. Akibat lainnya lagi, mungkin beberapa tahun ke depan kita kehilangan mata air dan sulit membuat sumur karena mutu dan jumlah air tanah pun menjadi berkurang. Padahal air bisa dimanfaatkan sebagai energi listrik, sehingga kita bisa memanfatkannya untuk membuat kincir air yang menghasilkan tenga listrik

Akibat penebangan liar hutan-hutan menjadi rusak. Kurang lebih 15 ribu hektar hutan produktif di Kab. Wonosobo telah rusak yang mana bila tidak segera dihijaukan kembali akan menimbulkan bencana dan menyengsarakan hidup anak cucu kita.

Kerusakan lingkungan juga telah mengakibatkan iklim yang tidak menentu dan. kekeringan berkepanjangan serta air yang tidak terkendali yang berakibat banjir dan longsor. Sesungguhnya kita harus memanfaatkan segala sumber daya ini untuk kebaikan. Allah berfirman :
"Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik." (Q.S.2:195)

Kini diperkirakan tanah rusak di Indonesia lebih dari 50 juta hektar atau lebih dari seperempat luas daratan Indonesia. Tanah rusak ini meliputi hutan rusak, beberapa padang ilalang dan tanah-tanah kritis. Hal ini terjadi terutama akibat dominasi dan keserakahan manusia. Dan kita sudah merasakan akibat-akibat yang ditimbulkan oleh kerusakan lingkungan. Diantaranya adalah berbagai bencana alam seperti banjir, tanah longsor, perubahan cuaca, pemanasan global, berkurangnya spesies hewan dan kerusakan flora dan fauna. Jika kerusakan-kerusakan ini terus meningkat, bukan tidak mungkin kita akan kekurangan bahan makanan dan berbagai kebutuhan hidup lainnya.

Oleh karenanya, marilah kita menjaga anugerah Allah ini dengan menanamkan pendidikan lingkungan di dalam keluarga, sekolah-sekolah maupun desa-desa agar kita dapat hidup nyaman dan sejahtera. Marilah kita memberi teladan kepada anak cucu kita untuk tidak semena-mena dan serakah terhadap lingkungan. Melalui usaha menanam pohon meskipun 1-2 batang, mudah-mudahan kita mendapat berkah lingkungan yang nyaman.

Sesungguhnya lingkungan mempunyai pengaruh dan fungsi yang sangat besar bagi kehidupan dan kelangsungan hidup. Jangan sampai kita dianggap Allah sebagai orang yang berbuat kerusakan, namun menganggap berbuat baik. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan. Sesungguhnya manusia akan ditimpa bencana, manakala tidak mampu membangun hubungan dengan Allah dan lingkunganya.

"Dan bila dikatakan kepada mereka: Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, mereka menjawab: "Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan."
Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar." (Q.S.2:11-12).

Hutan Untuk Kehidupan

Kabupaten Wonosobo memiliki hutan yang cukup luas. Tidak kurang 15.000 ha hutan diantaranya membentang di perbukitan Wadaslintang, Kaliwiro, Kalibawang dan Sukoharjo. Namun akibat penebangan liar, kawasan-kawasan tersebut kini semakin kritis.

Dampak dari kerusakan hutan, memang tidak langsung terasa. Namun akibatnya sangat besar. Tidak lama setelah hutan gundul, mata air mati, angin kencang, udara panas, tanah longsor dan sebagainya.

Penebangan hutan yang tidak terkendali, sangat merugikan masyarakat. Padahal kita hidup dalam saling ketergantungan dan saling membutuhkan. Ketika seseorang memperoleh keuntungan besar dari penebangan hutan secara liar, tanpa disadari penebangan liar sedang membawa kita ke dalam bencana dan kesengsaraan bersama. Tindakan ini, disamping melanggar hukum Negara, juga melanggar hukum Allah karena termasuk sikap berlebih-lebihan (boros). Terlebih tindakan ini sangat merugikan masyarakat luas. Allah SWT berfirman dalam surat Al Isra', ayat 26-27.

"Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan; dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros."

"Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya."

Ayat ini menjelaskan bahwa tindakan memanfaatkan harta kekayaan hanya dimanfatkan untuk bersenang-senang dan tanpa memperhatikan kemaslahatan umum, dikategorikan sebagai tindakan iblis yang mengingkari Tuhan.

Ganjaran setiap tindakan menginkari Allah, adalah siksa neraka. Adapun di dunia, tindakan ini akan mengacaukan sistem kemaslahatan umum. Kehidupan bersifat saling ketergantungan, sehingga setiap orang akan sama-sama merasakan akibat baik dan buruknya perilaku manusia, karenanya kerugian yang diakibatkan oleh penyimpangan hukum, tidak hanya diderita oleh pelaku, namun juga oleh seluruh masyarakat. Baik orang kafir maupun orang yang beriman, akan merasakan dampak dari setiap tindakan manusia. Setiap orang akan sama-sama merasakan akibat baik dan buruknya perilaku manusia

Ada biaya sosial (social cost) yang harus dibayar oleh semua pihak sebagai akibat hutan gundul. Sebagai contoh kecil, ambruknya senderan akibat diterjang banjir. Jika terjadi longsor, kita memerlukan ratusan juta bahkan milyaran rupiah untuk memperbaikinya. Bagaimanakah jika banyak daerah tertimpa bencana dan rumah-rumah penduduk diterjang banjir ? Kita memerlukan puluhan milyar rupiah untuk memperbaikinya. Padahal jika musibah ini dapat dihindari, dana tersebut dapat dipergunakan untuk membangun sarana-prasarana lingkungan, pendidikan dan peribadatan.

Sungguh wahai saudaraku, biaya sosial yang harus dibayarkan sangat mahal bila dibandingkan dengan keuntungan yang diperoleh oleh orang per orang akibat penebangan liar. Sungguh tidak adil, apabila sekelompok orang mengeruk keuntungan, sementara banyak orang menderita berkepanjangan.

Mengapa demikian ?
Suatu daerah, idealnya 30 % dari wilayahnya terdiri dari hutan untuk menjaga keseimbangan ekosistem. Oleh karena itu, kita membutuhkan puluhan ribu hektar agar keseimbangan ekosistem Kab. Wonosobo terjaga. Namun hal ini tidak akan tercapai apabila kita tidak menyadari bahaya lingkungan yang terjadi akibat kecerobohan dan keserakahan manusia terhadap lingkungannya.

Sebagai contoh di Kalimantan. Beberapa wilayah Kalimantan, transportasi air merupakan sarana yang sangat utama di dalam memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Namun akibat sungai-sungai yang dangkal, transportasi lumpuh dan kekayaan hayati sungai-sungai dalam keadaan kritis, sehingga sangat mengganggu kelangsungan hidup masyarakat.

Hal ini tentu tidak secara langsung dirasakan di daerah yang tidak menggunakan sarana transportasi air. Tetapi bagi masyarakat Kalimantan, mereka sungguh menderita karena kelumpuhan sarana transportasi tersebut.

Oleh karena itu, marilah kita bersama-sama bergiat dalam usaha-usaha perlindungan hutan dan kawasan hutan sebagaimana tercantum dalam Undang-Undang Republik Indoonesia Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan (Tindak Pidana Ilegal Logging). Usaha-usaha ini kita lakukan untuk :
Pertama, mencegah dan membatasi kerusakan hutan, kawasan hutan dan hasil hutan yang disebabkan oleh perbuatan manusia, kebakaran, daya-daya alam, hama serta penyakit; dan
Kedua, mempertahankan dan menjaga hak-hak Negara, masyarakat dan perorangan atas hutan, kawasan hutan, hasil hutan, investasi serta perangkat yang berhubungan dengan pengelolaan hutan.

Usaha-usaha ini hendaknya dibarengi dengan senantiasa merasa takut kepada Allah atas bencana-bencana yang mungkin menimpa akibat perilaku manusia terhadap alam dan lingkungannya.
Dengan usaha-usaha yang serius, mudah-mudahan kita dapat menjaga hutan,
kawasan hutan dan lingkungannya agar fungsi lindung, fungsi konservasi, dan fungsi produksi, tercapai secara optimal dan lestari. Kita semua akan merasakan berkah Allah, apabila kita benar-benar dapat menjaga hutan dan peduli pada kepentingan atau kemaslahatan umum.

Di akhir khutbah ini, marilah mengingat kembali betapa kita semua akan ditimpa kesengsaraan manakala kita tidak memperhatikan kelestarian hutan. Ketahuilah wahai saudaraku, kita semua memiliki anak cucu dan mereka berharap kehidupan yang lebih baik. Keuntungan besar yang kita peroleh pada saat ini, mungkin saja merugikan anak cucu kita kelak.

Semoga kita termasuk orang-orang yang senantiasa mengingat karunia Allah SWT dan memanfaatkannya untuk kepentingan bersama. Dengan cara ini kita membuktikan iman dan taqwa kita kepada Allah, sehingga tidak dimasukkan dalam golongan saudaranya syetan.

Air Untuk Kehidupan

Allah memberikan amanat kepada manusia, supaya manusia mengelola dengan sungguh-sungguh sehingga bumi dapat dijadikan sebagai tempat hidup yang nyaman. Sebab setiap orang membutuhkan kehidupan yang adil, makmur dan sejahtera. Maka marilah kita bertaqwa supaya kita hidup dalam kebahagiaan dunia dan akhirat.

Sebagai bagian dari alam semesta, air merupakan material (benda) yang sangat penting bagi kelangsungan hidup manusia. Tanpa air, tanaman tidak bisa tumbuh. Tubuh manusia, pun memerlukan air yang tidak sedikit. Para ahli kesehatan menganjurkan, agar metabolisme di dalam tubuh kita berlangsung dengan baik, kita minum sedikitnya 8 gelas atau 2 liter setiap harinya. Tanpa air yang memadai tubuh kita akan lemas dan tidak bisa melakukan kegiatan atau pekerjaan. Tanpa air yang memadai, bumi sangat gersang dan akibatnya, tumbuh-tumbuhan dan binatang ternak akan mati.

Manusai, bisa membuat sarana dan prasaran hidup seperti pesawat terbang, TV dan kendaraan bermotor. Namun manusia tidak mampu membuat air. Oleh karenanya air benar-benar merupakan rahmat Allah yang tidak terkira manfaatnya bagi kehidupan ummat manusia. Tidak ada air, sama dengan tidak ada kehidupan. Allah SWT berfirman dalam surat Al Baqarah, ayat 22.

"Dialah Yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui. (Q.S.2:22)."

Air merupakan sumber kehidupan, sehingga kehidupan sangat ditentukan oleh keberadaan air. Semua makhluk hidup membutuhkan air. Untuk memasak makanan, kita memerlukan air. Untuk mandi, mencuci, dan menumbuhkan tanaman, kita membutuhkan air. Dapatkah kita merasakan hidup tenang, manakala kita mengalami krisis air ? Tentu tidak.

Kita dapat merasakan kesulitan dan kesengsaraan yang ditimbulkan manakala tidak ada air, terutama air bersih. Mau mandi, mencuci, memasak dan menyiram tanaman pun sulit. Bagi para petani, mereka terancam gagal panen karena ladang dan kebunnya kekeringan. Mereka juga harus membatalkan kegiatan bercocok tanam dikarenakan tidak ada air. Akibatnya kita semua mengalami kesusahan.

Sebaliknya air yang berlebihan dan tak terkendali juga dapat menyebabkan bencana kehidupan. Banjir dan tanah longsor merupakan akibat langsung dari melimpahnya air yang tak terkendali.
Kita telah seringkali melihat bagaimana dahsyatnya bencana yang disebabkan air. Jaringan listrik, jaringan air bersih dan kegiatan perkantoran maupun pekerjaan sehari-hari terbengkelai. Dalam kondisi seperti ini, kita kehilangan banyak kesempatan untuk bekerja. Sebaliknya, berbagai macam penyakit seperti Demam Berdarah (DB) pun mengancam tanpa pandang bulu. Berapa banyak kerugian yang diakibatkan karena kesalahan kita terhadap alam semesta ini, Oleh karenanya, marilah kita memulai usaha-usaha yang dapat menyelamatkan kita dari bahaya air yang tak terkendali.

Semua ini dapat kita atasi, apabila kita memahami betapa pentingnya air bagi kehidupan dan kesejahteraan kita bersama. Kita harus berperilaku seimbang dengan alam semesta. Janganlah karena kita merasa diberi amanat oleh Allah untuk mengelola alam semesta, kemudian kita bertindak semena-mena tanpa memperdulikan kehidupan sesama makhlukNya.

Saudara-saudaraku,
Diantara usaha-usaha mengendalikan air antara lain :
Pertama, tidak membuang sampah di selokan atau pun sungai. Hal ini dapat menyebabkan saluran air tersumbat, sehingga air sungai atau selokan meluber hingga ke jalan.

Kedua, menjaga kelestarian hutan. Hutan berguna sebagai reservoir atau penampung air hujan. Namun manakala hutan telah gundul, maka air hujan akan langsung menggerus tanah, dan akibatnya terjadi tanah longsor dan banjir. Hutan yang gundul juga akan menyebabkan matinya mata air. Saat ini, kabupaten Wonosobo telah kehilangan hampir 100 mata air yang disebabkan penggundulan hutan. Jika hal demikian tidak segera kita sadari, dalam waktu yang dekat kita akan mengalami krisis air bersih. Sungguh tidak terbayangkan betapa sulitnya hidup manakala kita kekurangan air.

Dari usaha-usaha yang kita lakukan, kita yakin, Allah akan mengembalikan lingkungan kita menjadi lingkungan yang mendukung kesejahteraan hidup. Syukur kita kepada Allah SWT atas karunia air, seyogyanya kita wujudkan dengan senantiasa mempertahankan sumber-sumber mata air yang ada di sekitar kita, melalui usaha melestarikan hutan ataupun penghijauan. Dan kita dapat mengajarkan kepada anak-anak kita betapa pentingnya air bagi kehidupan melalui penggunaan air secara bijaksana.

Kita juga dapat melatih anak-anak kita menghargai tumbuh-tumbuhan, tanaman dan mau menanam pohon untuk masa depannya. Ketahuilah, apabila manusia bertindak sewenang-wenang. Maka Allah akan mencabut segala nikmatNya. Dengan selalu mensyukuri nikmat Allah, mudah-mudahan Allah SWT senantiasa melimpahkan rahmatNya. Ya Allah, turunkanlah hujan yang bermanfaat. Jangan ubah rahmat-Mu menjadi laknat bagi kami.

Mempertanggungjawabkan Karunia Alam Semesta

Tanda-tanda alam berbicara kepada manusia tentang kasih sayang Allah. Kasih sayangNya itu nampak pada udara yang segar, pada setiap kelopak bunga, pada setiap helai rumput, pada pohon-pohon, pada makanan yang kita makan, pada keajaiban penciptaan manusia dan seluruh alam semesta yang berguna bagi kehidupan manusia. Segala sesuatu yang ada di alam semesta ini menjadi saksi atas kehendak Allah untuk membuat manusia bertanggung jawab atas segala karunia Allah.

Maka marilah kita bertaqwa kepada Allah karena :
Allah-lah yang telah menciptakan langit dan bumi dan menurunkan air hujan dari langit, kemudian Dia mengeluarkan dengan air hujan itu berbagai buah-buahan menjadi rezki untukmu, dan Dia telah menundukkan bahtera bagimu supaya bahtera itu berlayar di lautan dengan kehendak-Nya, dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu sungai-sungai.

Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dari segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kamu menghitung ni`mat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (ni`mat Allah). (Q.S. Ibrahim, ayat 32-34.)

Semua yang diceritakan Allah dalam firman-firman ini merupakan kebenaran mutlak. Allah memberikan nikmat yang sangat mendasar bagi berlangsungnya kehidupan manusia, antara lain : langit, bumi, air, laut, sungai, matahari, bulan, dan segala keperluan manusia.

Meski alam semesta ini dipersiapkan untuk kehidupan manusia. Namun, janganlah kita menghendaki agar Tuhan selalu berkehendak seperti apa yang kita kehendaki. Jika terjadi hal-hal buruk yang menimpa manusia, tentu kita harus berpikir mungkin saja ada yang salah dalam pengelolaan itu.

Allah SWT berfirman dalam surat Al Jatsiyah, ayat 13, yang artinya :
"Dan Dia menundukkan untukmu apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi semuanya, (sebagai rahmat) daripada-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berfikir."

Semua ini adalah nikmat-nikmat Allah yang tidak ternilai harganya. Jika kita harus membayar kenikmatan-kenikmatan itu, maka seluruh hidupnya pun tidak mencukupi untuk membayar "hutang" manusia kepada Allah. Namun, kenyataannya tidak demikian. Allah memerintahkan kepada kita untuk memanfaatkan karunia-karuniaNya bagi kehidupan seluruh manusia. Dan manusia diberi wewenang agar mengelola dunia dengan sebaik-baiknya supaya dapat mewujudkan tugasnya sebagai Khalifah Allah di muka bumi.

Marilah kita perhatikan bagaimana air hujan memberi harapan kepada kita semua dengan tumbuhnya tanaman-tanaman. Rumput yang hijau menjadi makanan ternak, dan tumbuh-tumbuhan mengolah udara kotor menjadi udara bersih sehingga udara yang kita hirup terasa segar. Kemudian tanaman para petani tumbuh subur serta menghasilkan buah-buahan dan bahan makanan lainnya yang dibutuhkan oleh manusia. Sekiranya kita merenungkan : "manakah nikmat Allah yang dapat kita sembunyikan ?". Tidak ada. Semuanya diberikan secara gratis oleh Allah SWT. Namun terkadang, hanya untuk mengucapkan hamdalah saja lidah kita terasa berat. Semua ini karena iblis merasuki hati kita dengan kesombongan.

Di dalam surat Ar Rahman Allah SWT berkali-kali menyebutkan nikmat-nikmat yang telah diberikan kepada manusia. Diantaranya pada ayat 10-13.
"Dan Allah telah meratakan bumi untuk makhluk (Nya)
di bumi itu ada buah-buahan dan pohon kurma yang mempunyai kelopak mayang.
Dan biji-bijian yang berkulit dan bunga-bunga yang harum baunya.
Maka ni`mat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? "
Sekalipun kita mengingkarinya, namun tidak satupun nikmat Allah yang bisa kita sembunyikan. Nikmat-nikmat Allah ini dapat kita lihat dan kita rasakan dalam kehidupan sehari-hari.

Alam semesta ini akan terus menjadi karunia Allah, manakala manusia bertindak dan bekerja sesuai dengan kehendak Allah.

Sebagai contoh adalah tanah.
Kesuburan tanah yang kita miliki merupakan anugerah yang luar biasa bagi kita. Tidak semua daerah dianugerahi dengan tanah yang sedemikian subur. Dengan kesuburan tanah ini, kita menghasilkan berbagai macam sayur mayur, padi, palawija dan berbagai macam hasil pertanian lainnya. Tidak ada yang bisa bertahan hidup tanpa adanya hasil-hasil bumi, khususnya bahan makanan. Jika produksi sedikit, sedangkan yang membutuhkan banyak, bolah jadi kita akan mengalami paceklik alias kekurangan bahan makanan.

Namun sebaliknya, manakala kita tidak memperlakukan tanah itu dengan baik, maka cepat atau lambat, tanah akan mengalami krisis dan berkurang kesuburannya. Yakni, tidak mampu menghasilkan bahan-bahan makanan secara maksimal. Bahkan terkadang, lapisan atas tanah yang paling subur, harus tergerus oleh erosi dan terbawa arus air akibat penggundulan hutan. Demikian juga bahan-bahan tambang yang ada di bumi. Semuanya ini merupakan karunia Allah yang apabila tidak diperlakukan dengan benar, justru akan menghancurkan hidup manusia.

Dari air hujan, semua jenis tanaman dapat tumbuh dan mengahasilkan buah. Sepandai apapun, manusia tidak bisa menciptakan air, tanah, dan udara. Maka ketika tanah, air dan udara telah rusak ataupun kotor, kehidupan pun akan terganggu.

Semua kerusakan alam semesta ini tidak terjadi dengan tiba-tiba, namun melalui proses yang diperbuat oleh manusia. Sehingga manakala terjadi bencana, semua orang pun ikut merasakan akibatnya sebab manusia dengan alam ini sesungguhnya bersifat saling ketergantungan.

Marilah kita memperhatikan pengaruh yang begitu besar bagi kehidupan manusia manakala air, udara, tanah, laut dan sungai sudah tercemar dan lingkungan hidup kita telah rusak. Kita akan mengalami kehidupan yang sangat sulit manakala kita tidak memperbaiki lingkungan dengan merubah perilaku kita yang merusak. Sekiranya bumi tidak dapat ditanami, pasti manusia binasa. Oleh karenanya kita jadikan firman-firman Allah untuk memikirkan kehidupan yang lebih baik dan berkelanjutan.

Dan ketahuilah wahai saudara-saudaraku, bahwa setiap kenikmatan yang kita peroleh, akan diminta pertanggungan jawabnya. Janganlah kita melalaikan Hari Perhitungan atau yaum al hisab yang telah disiapkan Allah untuk menimbang segala perbuatan kita di dunia ini.
"Kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu)."(Q.S. At Takastur:8).