Tampilkan postingan dengan label Bekerja. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bekerja. Tampilkan semua postingan

Senin, Juni 08, 2009

Belajar pada Semut

Banyak perumpamaan yang Allah berikan di dalam menuntun hidup kita. Namun seringkali kita kurang memperhatikan ciptaan-ciptaan Allah. Padahal pada ciptaan Allah itu terdapat suatu pelajaran yang sangat berharga bagi hidup kita. Hanya saja, ilmu pengetahuan kita seringkali tidak sampai di dalam memahami tanda-tanda kekuasaan Allah. Seperti halnya nyamuk yang disebut dalam al Qur'an. Mungkin kita bertanya apa perlunya Allah menyebutkan binatang penyebar penyakit di dalam firmanNya. Setiap perumpamaan ini memiliki makna rohani yang mendalam. Yakni, kita melihat tanda-tanda kekuasaan Allah di dalam ciptaan-Nya itu.
Allah SWT berfriman.dalam surat al Baqarah ayat 26.

Sesungguhnya Allah tiada segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu. Adapun orang-orang yang beriman, maka mereka yakin bahwa perumpamaan itu benar dari Tuhan mereka, tetapi mereka yang kafir mengatakan: "Apakah maksud Allah menjadikan ini untuk perumpamaan?" Dengan perumpamaan itu banyak orang yang disesatkan Allah, dan dengan perumpamaan itu (pula) banyak orang yang diberi-Nya petunjuk. Dan tidak ada yang disesatkan Allah kecuali orang-orang yang fasik,

Ayat ini memperjelas bahwa setiap ciptaan Allah pasti memiliki makna, yakni menumbuhkan iman kita kepada Allah. Adakah ilmu dan teknologi yang dapat menciptakan makhluk bernama nyamuk ? Tidak ada.

Maka dengan ciptaan-ciptaan Allah, kita dituntun agar menjadi manusia yang beriman dan bertanggungjawab di dalam kehidupan dunia ini. Manusia pun sesungguhnya bukan apa-apa, bahkan diciptakan dari bahan yang sangat hina dan menjijikkan, namun karena kasih sayang dan karunia Allah, manusia dapat tampil di muka bumi sebagai makhluk yang memiliki ilmu pengetahuan dan teknologi. Tanpa kuasa Tuhan, manusia dan alam semesta ini tidak akan berarti apa-apa.

Perhatikanlah semut. Perhatikan apa yang dilakukan oleh makhluk kecil ini. Pada makhluk kecil ini, ada beberapa hal yang dapat menuntun hidup kita.

Pertama, semut adalah pekerja yang tangguh. Walaupun sendirian, semut dapat berjalan jauh seraya membawa beban makanan yang ia peroleh dari usahanya. Jika sedang berjalan, ia berhenti sejenak menyapa kawan-kawannya yang kebetulan bertemu di jalan. Ini menunjukkan bagaimana semut mampu menjalin network atau jaringan sosial yang teratur dan disiplin. Dari bertegur sapa dan menjalin hubungan ini tercipta jaringan kerja yang memungkinkan orang saling memerlukan jasanya masing-masing, sehingga terbentuk hubungan yang saling menguntungkan.

Kedua, semut jarang sekali berdiam diri. Ia bergerak dan ada saja yang dikerjakan. Ia pasti melakukan sesuatu. Sungguh sia-sia apabila manusia tidak melakukan amal perbuatan yang baik dan hanya menghabiskan waktunya untuk kegiatan yang sia-sia, yang tidak menguntungkan hidupnya di dunia dan akhirat.

Ketiga, semut tidak pernah memikul beban berat sendirian. Semut senantiasa bekerjasama dengan teman-temannya untuk memikul bebannya. Ia tidak mementingkan diri sendiri, merasa sok kuat dan mampu mengatasi segala sesuatunya sendirian. Ia bekerja secara tim. Maka sekalipun strategi dan cara kerjanya berbeda-beda namun karena bekerja bersama tim, maka beban seberat apapun dapat diselesaikan dengan baik.

Keempat, semut senantiasa membawa faedah dengan temannya. Semut membawa hasil kerjanya ke sarangnya, dan kemudian membaginya kepada sesama semut yang tidak mampu bekerja. Ia tidak merasa mutlak memiliki apa yang telah diperolehnya, namun ia berbagai karunia Allah atas apa yang diperolehnya.

Kelima, semut tidak melakukan kerusuhan sedikitpun di dalam tugas-tiugas pekerjaannya. Sebagai pekerja yang tangguh ia bertanggungjawab atas pekerjaannya. Dan ia akan membentuk tim seraya memperhatikan jaringan kerja yang dibangunnya, sehingga ia pun mampu memikul beban berat dan menyelesaikan tugasnya secara tepat dan benar.

Kehidupan semut menunjukkan kepada kita bagaimana manusia juga perlu bekerja keras, membangun jaringan kerja, membentuk tim, dan berbagi di dalam pekerjaan dan hasil-hasilnya. Semua ini dilakukan dalam rangka memenuhi sunnatullah. Manusia akan rugi dunia-akhirat manakala tidak memanfaatkan kehidupan di dunia ini dengan sebaik-baiknya.

Jika semut saja mampu hidup dalam keteraturan, kepedulian, kedisplinan dan saling memperkuat; maka sudah sewajarnya manusia yang beriman dan berakal dapat hidup lebih baik daripada makhluk Allah lainnya. Kita pun seharusnya mampu menunjukkan kerja keras, disiplin, saling berbagi, dan saling memperkuat dalam rangka mencari ridha Allah.

Allah SWT berfirman :

"Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran."

Demikianlah, Tuhan mengingatkan kepada kita semua, bahwa iman harus dibuktikan dengan amal salih. Dan amal salih tidaklah berupa dalam konsep, angan-angan dan cita-cita, melainkan suatu perwujudan tindakan dan karya nyata yang dipersembahkan untuk Allah SWT. Kalau kita ingin menemukan sesuatu, maka kita harus mencarinya. Kalau kita ingin menghasilkan atau memperoleh sesuatu, kita harus bekerja. Semoga kita mendapatkan kesehatan dan kekuatan di dalam melaksanakan ibadah kepada Allah.

Kewajiban Bekerja

Setiap makhluk Allah mendapatkan rezeki, bahkan mahkhluk yang tidak berakal pun mendapatkan rezeki dari Allah SWT, apalagi manusia yang memiliki akal, tenaga, nafsu dan pikiran. Perhatikanlah bagaimana binatang-binatang seperti nyamuk, semut, ular, kalajengking dan sebagainya. Mereka semua memperoleh rezeki dari Allah. Allah SWT berfirman dalam surat Al Ankabut, ayat 60.

"Dan berapa banyak binatang yang tidak (dapat) membawa (mengurus) rezkinya sendiri. Allah-lah yang memberi rezki kepadanya dan kepadamu dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui."

Setiap orang, wajib mencari rezeki yang telah disebarkan Tuhan. Tidak akan sempurna ibadah seseorang manakala tidak bekerja di dalam dunia. Dengan kewajiban ini, Allah menunjukkan bahwa jika manusia tidak mencari rezeki, maka ia tidak akan menemukannya. Jika tidak menanam, maka kita tidak akan memanen. Dan janganlah merasa bahwa apa yang diperoleh di dunia ini semata-mata karena usaha kita, sebab sesungguhnya Allah Maha Menghendaki dan Berkuasa atas makhlukNya.

Di dalam kisah Nabi Isa as disebutkan ada seorang nelayan yang putus asa karena berkali-kali menebarkan jaring namun tidak mendapatkan ikan. Rasulullah Isa as mengajarkan agar selalu yakin dengan pemberian Tuhan, dan juga menyarankan agar tidak mencari ikan di satu tempat. Dengan bantuan iman dan do'a, setelah menebar jaring berkali-kali akhirnya, nelayan mendapatkan ikan.

Apa yang ada pada kehidupan rasulullah ini menunjukkan dengan jelas kewajiban mencari rezeki tanpa harus berputus asa. Para Rasul mengajarkan agar kita senantiasa yakin dengan pemberian Allah. Janganlah kita menentukan Allah harus berbuat sesuatu kepada kita, namun biarlah Allah menentukan apa yang akan diberikan kepada kita. Kewajiban manusia adalah berusaha dengan akal pikiran dan tenaga supaya Allah berkenan memberi kepada kita.

Para Nabi adalah orang paling tunduk dan patuh dengan ketentuan Allah SWT. Sebagai contoh, Nabi 'Isa bekerja sebagai tukang kayu dan para sahabatnya ada yang bekerja sebagai tukang membuat tenda. Mereka bekerja dengan semangat yang tinggi, sebab di kalangan Bani Israil diajarkan bahwa "menganggur adalah sebuah kejahatan," sehingga pekerjaan remeh apapun tetap dikerjakan sepanjang tidak melanggar syari'at Allah.

Setiap manusia, sekalipun seorang Nabi tidak mengharapkan rezeki turun begitu saja dari langit. Dengan tindakan ini, para Rasul menyadarkan manusia bahwa barangsiapa yang tidak bekerja jangan berharap apapun dan jangan menuntut upah.

Banyak sedikitnya hasil yang diperoleh, merupakan kuasa dan kehendak Allah. Meskipun demikian, tidak boleh meninggalkan ketaqwaan kepada Allah. Para rasul mengetahui apa yang menempatkan manusia di syurga dan neraka. Oleh karenanya para Rasul akan memerintahkannya jika sesuatu hal itu menempatkan manusia di syurga. Sebaliknya akan melarang jika sesuatu itu menyengsarakan dan menempatkan manusia di neraka.
Rasulullah SAW bersabda :


"Janganlah lambat rezeki membuatmu mencarinya dengan jalan makshiat kepada Allah, karena sesungguhnya Allah tidak menerima apa yang dicarinya dengan makshiat kepada Allah " (HR. Al Hakim).

Jama'ah jum'at yang dirahmati Allah
Beberapa firman Allah menuntun manusia agar memenuhi apa yang dilarang oleh Allah SWT. Apa yang dilakukan oleh para rasul dan salafussalih merupakan teladan nyata bagi kita semua. Sekalipun mereka adalah orang-orang yang tekun beribadah dan selalu mendekat dengan Allah, namun mereka tidak mengabaikan urusan mencari nafkah yang halal. Semua ini dimaksudkan agar hati tidak terkotori oleh keserakahan, angan-angan dan gila dunia. Sifat-sifat inilah yang akan menimbulkan perilaku senang merampas hak orang lain. Apa jadinya jika orang bekerja dengan saling merampas ?
Rasulullah SAW bersabda :

"Mencari rezeki yang halal, wajib bagi setiap orang Islam."


"Sesungguhnya makanan yang paling baik bagimu adalah yang diperoleh dari hasil usahamu, dan sesungguhnya makan yang terbaik bagi anak-anakmu adalah dari hasil usahamu (HR. Ibnu Majah)."

Lukman al Hakim telah menasehati anaknya : "Wahai anakku, cukuplah dirimu dari fakir dengan usaha yang halal. Sesungguhnya orang yang fakir akan ditimpa tiga hal : perbudakan dalam agamanya, kelemahan dalam akalnya dan kehilangan harga dirinya."

Umar ra berkata :"Janganlah salah seorang diantaramu menganggur seraya berkata Wahai Allah berilah kami rezeki. Padahal kamu sekalian mengetahui bahwa langit tidak menurunkan hujan emas dan perak."

Ibnu Mas'ud juga berkata :"Sesungguhnya saya benci melihat seorang laki-laki menganggur, tidak pada urusan dunianya dan tidak pada urusan akhiratnya."

Semua kisah dan ucapan orang-orang salih ini menunjukkan bahwa agama memerintahkan agar orang bekerja keras guna menjaga agama dan harga dirinya. Para salafussalih menganggapnya sebagai bencana dan kebodohan manakala kaum muslimin malas, tidak mau berusaha dan bekerja mendapatkan rezeki yang halal.

Kesempurnaan ibadah dicapai manakala kerja sebagai ibadah menjadi landasan kita semua. Jika kaum muslimin tidak memperhatikan masalah-masalah seperti pertanian, peternakan, perdagangan, kesehatan, industri dan sarana parasarana dunia lainnya, maka kaum muslim akan berada dalam kelemahan baik keluarga, masyarakat, agama maupun bangsa dan Negara. Karena akidah kaum muslimin lemah, akan tergleincir ke dalam kemaksiatan dan kekufuruan.

Oleh karena itu, kaum muslimin harus memperkuat agama dan iman serta meningkatkan harkat dan martabat hidup keluarga, masyarakat bangsa dan negara. Allah berfirman :
"Dan tidak ada suatu binatang melatapun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezkinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh)." (Q.S. Hud:6).

Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari rasa sedih dan susah, dari kelemahan dan kemalasan, dari sifat pengecut dan penindasan orang-orang dzalim.

Kewajiban Mencari Rezeki yang Halal

Nabi Muhammad SAW mengalami kehidupan seperti manusia umumnya, yakni bekerja mencari nafkah. Bahkan sejak muda beliau telah bekerja guna menghidupi dirinya dengan menggembala domba dan berdagang. Apa yang dilakukan Nabi SAW sama sekali tidak mengurangi kemuliaannya, justru sebaliknya menjadi teladan bagi kita semua bahwa setiap orang berkewajiban mencari nafkah. Semua ini adalah untuk memanfaatkan tenaga dan pikiran yang telah dikaruniakan Allah.

Dengan bekerja, orang mendapatkan upah. Upah ini dapat dipergunakan untuk mencukupi kebutuhan keluarga. Disamping itu untuk menjaga harga diri manusia. Olah karenanya Allah menghargai setiap orang yang bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Tidak peduli hasil yang diperoleh sedikit atau banyak, Allah SWT menetapkannya sebagai kebajikan asalkan usahanya dilakukan dengan cara halal.

Di dalam kisah kenabian Muhammad SAW disebutkan bahwasanya suatu hari Rasulullah SAW sedang duduk-duduk bersama para sahabatnya. Tampak dari serambi masjid, seorang pemuda yang gagah perkasa sedang berangkat kerja, padahal hari masih sangat pagi. Seorang sahabat berkata," Aduh sayangnya pemuda ini. Kalau saja kemudaannya digunakan untuk jihad di jalan Allah pasti lebih baik."

Rasulullah kemudian besabda :

"Janganlah berkata begitu. Sesungguhnya orang yang bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dari meminta-minta dan mencukupkan diri dari orang lain, maka ia jihad fi sabilillah. Dan barangsiapa yang bekerja untuk mencukupi kebutuhan hidup kedua orangtuanya yang lemah atau sanak keturunannya yang lemah, agar dapat menkupi kebutuhan mereka; maka ia pun jihad fi sabilillah. Dan barangsiapa yang bekerja untuk membangga-banggakan diri dan menumpuk-numpuk kekayaan, maka ia berada di jalan syetan." (HR. Thabrani dari Ka'b)

Melalui sabda ini Rasulullah SAW memberikan penghargaan kepada setiap orang yang mau bekerja untuk mencukupi kebutuhan keluarga, sesuai dengan syari'at Islam, tidak untuk membangga-banggakan diri dengan kemewahan atau menumpuk-numpuk kekayaan dengan menggunakan segala cara; maka ia adalah seorang mujahid fi sabilillah. Sebaliknya orang yang bekerja hanya untuk menumpuk-numpuk kekayaan, tanpa zakat, infak, sedekah dan dipergunakan untuk menuruti hawa nafsu atau egosentrisme sendiri, digolongkan dalam jalan syetan.

Ada tiga sebab mengapa orang tidak mau bekerja.
Pertama, tidak mau bekerja karena alasan ketaqwaan. Seseorang tidak mau bekerja karena menganggap dunia ini kotor sedangkan akhirat suci, sehingga hidupnya hanya dihabiskan untuk berdzikir dan beribadah mendekat kepada Allah. Akibat dari kebiasaan ini, menjadikan orang thamak dan hanya berharap-harap upah dari Allah tanpa mau berusaha. Agama Islam tidak mengajarkan cara hidup ini, sebaliknya mengajarkan agar siapa pun harus bekerja keras supaya mendapatkan kebahagiaan di dunia dan akhirat.

Kedua, tidak bekerja karena gengsi. Karena gengsi seseorang enggan melakukan pekerjaan yang dianggap remeh, tidak mulia dan tidak memperoleh hasil yang banyak. Padahal pekerjaan yang tampaknya remeh ini halal. Apalagi dirinya merasa memiliki pendidikan tinggi dan berasal dari keluarga terpandang. Akibat dari kepribadian ini akan mendorong orang menempuh cara-cara yang tidak benar untuk memperoleh upah yang banyak. Bahkan terkadang dengan menyakiti orang lain seperti merampas dan mencuri.

Ketiga, karena malas. Jika sifat ini menjadi watak manusia, maka ia akan cenderung panjang angan-angan (thul al amal ), tidak mau bekerja namun menginginkan hasil yang banyak. Bahkan jika ada pekerjaan pun enggan untuk melakukan dan menyelesaikannya. Pekerjaan apapun tidak akan dapat dikerjakan dengan baik dan benar. Mustahil sifat malas membawa kebaikan, baik bagi diri sendiri maupun orang lain.

Allah SWT telah memberi keluasan waktu agar kita dapat bekerja dengan sebaik-baiknya. Setiap pekerjaan yang dilakukan dengan sungguh-sungguh dan sesuai syari'at Allah, akan membawa kebaikan di dunia dan akhirat. Allah SWT telah menjadikan siang sebagai waktu mencari penghidupan, agar kiranya di waktu malam dapat beristirahat dan mendekat kepada Allah dengan shalat tahajud, shalat witir dan shalat malam lainnya, atau berkumpul dengan keluarga dan mempelajari firman-firmanNya.

Allah SWT menyatakan bahwa saling dijadikan sebagai tempat mencari penghidupan sebagaimana firman Allah dalam surat An Naba', ayat 11 yang artintya :

"Dan Kami jadikan siang untuk mencari penghidupan",

Allah juga telah menjadikan bumi ini sebagai sumber penghidupan. Allah memberikan keleluasaan untuk mengolah bumi agar manusia dapat bersyukur. Namun terkadang manusia justru mengingkari Allah SWT, seakan-akan segala sesuatu yang ada di bumi ini muncul dengan sendirinya dan seakan-akan memperoleh segala sesuatu yang ada di bumi ini seperti barang temuan yang tak bertuan. Padahal segala isi langit dan bumi ini adalah milik Allah. Jika Allah menghendaki, maka langit dan bumi dihempaskan dan dihancurkan, sehingga manusia tidak dapat mengambil manfaat apapun darinya membangga-banggakan diri.

"Sesungguhnya Kami telah menempatkan kamu sekalian di muka bumi dan Kami adakan bagimu di muka bumi itu (sumber) penghidupan. Amat sedikitlah kamu bersyukur." (Q.S.Al A'raf:10).

Marilah kita memahami alangkah besarnya karunia Allah bagi kehidupan manusia. Namun semua karunia ini tidak bisa diperoleh tanpa usaha dan bekerja. Allah memerintahkan kepada manusia agar bekerja di dunia agar dapat memenuhi kebututuhan hidupnya dan memiliki sarana beribadah kepada Allah. Wujud terima kasih manusia kepada Allah adalah dengan senantiasa bekerja dan beribadah secara sungguh-sungguh dimanapun kita berada.

Bekerja hanya untuk tujuan kebanggan dan memperbanyak harta benda dapat menjadikan orang lupa mati, ingat Allah dan ingat akhirat. Jika cara ini yang ditempuh, maka rezeki yang diperolehnya itu justru menambah kekufuran dan melupakan akhirat. Sesungguhnya Allah akan menimpakan siksa dunia dan akhirat bagi orang-orang yang mengingkariNya.

Menjadi Pekerja yang Membawa Kemaslahatan Ummat

Diantara karunia Allah kepada manusia, adalah perbedaan kemampuan dan keahlian setiap manusia. Dengan kemampaun yang berbeda-beda dalam diri manusia Allah mewujudkan kehidupan yang beraneka ragam pula. Perbedaan kemampuan ini tidak lain agar manusia beribadah kepada Allah dengan saling melengkapi kebutuhan-kebutuhan hidup manusia. Maha Suci Allah, hidup manusia tidak akan berguna, manakala kemampuan dan keahlian manusia sama.

Allah SWT berfirman : "Katakanlah: "Tiap-tiap orang berbuat menurut keadaannya masing-masing". Maka Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalannya. (Q.S.17:84)
Allah berbicara mengenai "keadaan" setiap manusia dalam melakukan pekerjaan. Keadaan ini berhubungan dengan kemampuan setiap orang baik kualitas maupun bidang yang dikerjakan. Meskipun kemaampuan setiap orang berbeda-beda, namun Tuhan juga berbicara tentang prinsip efektifitas sebagaimana dalam firmanNya : "Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain, dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap. (Q.S.94:7-8).

Dalam teks ayat terebut dijelaskan bahwa setiap orang (apakah petani, pejabat, politisi atau guru), harus bekerja secara efektif. Yaitu, melakukan pekerjaan dengan benar dan tepat, sehingga bisa segera mengerjakan pekerjaan lainnya. Namun terkadang efektifitas ini tidak bisa sepenuhnya diterapkan. Hal ini disebabkan karena malas ataupun terlalu banyak pekerja, namun sedikit yang akan dikerjakan.

Sebagai contoh dalam suatu perusahaan. Perusahaan mungkin cuma membutuhkan satu orang pegawai, namun untuk memiminalisir angka pengangguran, perusahaan terpaksa menerima 4 (empat) orang pekerja. Sehingga satu pekerjaan yang semestinya dapat dikerjakan oleh satu orang dalam jangka waktu 2 jam, harus dikerjakan oleh 4 orang. Upah yang semestinya dibayarkan untuk satu orang, mau tidak mau dibayarkan kepada 4 orang. Sehingga, pendapatan mereka berkurang.

Reformasi memungkinkan perubahan. Diantaranya dalam penerimaan tenaga kerja. Penerimaan tenaga kerja yang disesuaikan dengan kebutuhan pekerjaan memungkinkan pegawai atau pekerja dapat bekerja efektif, tidak tumpang tindih dan benar-benar bekerja sesuai bidangnya masing-masing.

Dalam lembaga pemerintah, kecepatan dan ketepatan dalam bekerja memungkinkan dihapuskannya istilah "kalau bisa diperlama kenapa dipersingkat dan kalau bisa dipersulit kenapa dipemudah." Istilah ini tentu akan menimbulkan penilaian buruk masyarakat. Sebab jika seorang pegawai atau pekerja tidak bekerja dengan sungguh-sungguh benar dan tepat, maka akan merugikan masyarakat.

Kenyataannya, bila seorang pegawai telah menyelesaikan satu pekerjaan pada waktu pagi hari misalnya, boleh jadi di siang hari atau keesokan harinya tidak ada lagi yang dikerjakan. Hal ini disebabkan tidak seimbangnya beban kerja dan jumlah pekerja.

Berbeda misalnya di Thailand dan Vietnam. Pegawai di setiap institusi publik mampu melayani masyarakat dengan efektif, dikarenakan jumlah pegawai yang sesuai dengan beban kerja., dan terlatih sesuai dengan bidangnya. Jika suatu pekerjaan bisa dikerjakan oleh satu orang mengapa harus 3,4,5 atau 6 orang ?. Dengan jumlah pegawai yang disesuaikan dengan beban kerja, maka seorang pegawai dituntut bekerja sungguh-sungguh, cepat dan tanggap, sehingga masyarakat akan senang dan mendoakan kebaikan.

Setiap orang yang bekerja, pada dasarnya adalah melayani orang lain. Seorang tukang batu, mengerjakan bangunan rumah, untuk pemilik rumahnya. Jika bangunannya bagus, kuat dan tidak menyimpang dari kebutuhan pemilik rumah, berarti tukang batu tersebut telah bekerja dengan baik dan membahgaiakan orang lain. Orang lain tidak merasa dirugikan, dan karenanya ia akan memperoleh pahala dari Allah, upah serta do'a dari pemilik bangunan tersebut. Kita semua dituntut bekerja dengan sungguh-sungguh, agar tidak banyak menganggur. Dengan bekerja, pikiran dan tenaga kita bermanfaat

Dengan memahami bahwa bekerja dalam bidang apapun, tidak semata-mata karena upah, melainkan ibadah kepada Allah SWT, maka kita semua dapat menjadi pekerja yang efektif. Seorang petani yang rajin bekerja, merawat tanaman, memelihara dan mendayagunakan tanah garapannya, akan memperoleh pahala disamping hasil pertanian yang lebih baik. Demikian juga seorang buruh pabrik yang tekun serta bidang pekerjaan lainnya. Sebab sesungguhnya manakala kita menyelesaikan satu pekerjaan, maka pekerjaan lain pun harus diselesaikan.

Di dalam bekerja sesuangguhnya kita tidak hanya berurusan dengan manusia, tetapi juga dengan Allah. Oleh karenanya kita perlu merubah cara pandang (orientasi) dalam melaksanakan pekerjaan. Janganlah menganggap tugas-tugas dan kewajiban dalam bekerja sebagai barang dagang, sehingga harus menguntungkan diri sendiri dan tidak peduli dengan cara maupun hasil akhir dari setiap pekerjalan yang dilaksanakan.. Allah SWT berfirman :

"Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain, Dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap."
Rasulullah SAW menegaskan bahwa setiap orang yang bekerja adalah pelayan, sehingga harus bertanggungjawab kepada majikan atau orang yang dilayaninya, sebagaimana sabda-nya :

"Seorang pelayan bertanggungjawab atas harta benda tuannya, dan akan dimintai pertanggungjawaban atas tugas-tugasnya (HR.Bukhari-Muslim)."

Oleh karena itu, wahai hamba Allah, bersikap adil dan bertanggungjawablah dalam kewajiban dan tugasmu. Janganlah kebencian dan hawa nafsu menjadikanmu tidak melayani tuannya dengan baik. Sesungguhnya bekerja ataupun tidak bekerja, manusia akan mengalami kelelahan. Namun tentu saja lebih baik jika tenaga dan pikiran kita dipergunakan untuk bekerja dan melayani orang lain. Dengan memberikan kemudahan kepada sesama manusia, mudah-mudahan Allah akan memberikan kemudian hidup kita di dunia dan akhirat. Ketahuilah, setiap pekerjaan yang membawa kemaslahatan, pasti akan mendapatkan balasan dari Allah.

Marilah bergirang hati dengan ni`mat dan karunia yang besar dari Allah, dan bahwa Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang beriman. (Yaitu) orang-orang yang menta`ati perintah Allah dan Rasul-Nya. Bagi orang-orang yang berbuat kebaikan di antara mereka dan yang bertakwa ada pahala yang besar.

Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan amal kebajikan. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.

Bekerjalah Untuk Duniamu Seolah-olah Kau Akan Hidup Selamanya

Di dunia, kita memerlukan teman. Demikian pula di akhirat kita memerlukan teman. Sebaik-baik teman adalah teman yang dapat membantu kita di kala sedih, susah dan kekurangan. Kesedihan dan kesusahan di dunia dapat diatasi dengan berbagai cara. Namun kesedihan dan kesusahan di akhirat, hanya dapat diatasi manakala kita memiliki teman yang bernama "amal shaleh."
Dalam sebuah syair disebutkan :

"Carilah teman dari perilakumu. Namun sesungguhnya temanmu di dalam kubur adalah amal-amalmu."

Jika amalnya bagus, amal ini akan menjadi teman yang menyenangkan. Sebaliknya jika amalnya jelek, amal ini akan menjadi teman yang menyengsarakan. Teman yang berakhlak buruk akan menyengsarakan. Demikian pula amal-amal yang buruk hanya akan menambah beban di akhirat manakala bertemu dengan Tuhan. Allah SWT berfriman dalam surat Al An'am, ayat 31 yang artinya :

"Sungguh telah rugilah orang-orang yang mendustakan pertemuan mereka dengan Tuhan; sehingga apabila kiamat datang kepada mereka dengan tiba-tiba, mereka berkata: "Alangkah besarnya penyesalan kami terhadap kelalaian kami tentang kiamat itu!", sambil mereka memikul dosa-dosa di atas punggungnya. Ingatlah, amatlah buruk apa yang mereka pikul itu."

Amal shaleh yang kita kerjakan tidak semata-mata dalam bentuk ibadah seperti shalat, zakat, puasa dan haji. Banyak hal sederhana yang dapat kita lakukan dalam hubungan sesama manusia yang bernilai ibadah. Misalnya menghormati tamu, berbuat baik kepada tetangga, menengok orang sakit, mendoakan orang yang telah meninggal dunia, dan membantu fakir miskin. Rasulullah SAW memberi petunjuk bahwa ada 7 (tujuh) amal yang bila dikerjakan pahalanya akan terus mengalir.
  1. Mengajarkan ilmu pengetahuan. Amal kebaikan ini meliputi usaha meningkatkan pendidikan di dalam keluarga dan masyarakat seperti memberi beasiswa kepada anak-anak kurang mampu dan menyelenggarakan Taman Pendidikan Al Qur'an (TPQ) dan madrasah atau menjadi guru ngaji di mushalla dan masjid.
  2. Mengalirkan air sungai. Usaha memperlancar aliran air sungai atau membuat irigasi, memberikan manfaat besar kepada para petani, sehingga amal ini merupakan amal kebaikan.
  3. Menggali sumur atau mengusahakan air bersih.
  4. Menanam pohon kayu atau reboisasi dan penghijauan.
  5. Mendirikan masjid atau berinfak untuk memakmurkan masjid.
  6. Mewariskan kitab suci al Qur'an atau memasyarakatkan al Qur'an.
  7. Meninggalkan anak-anak sholeh yang mendo'akan orangtua

Dengan bimbingan Rasulullah Muhammad SAW kita memahami bahwa setiap pekerjaan yang dilakukan untuk kepentingan umum, untuk memajukan dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat merupakan amal jariyyah yang akan diberi pahala oleh Allah SWT secara terus menerus. Sesungguhnya kita tidak mampu memikul dosa-dosa ketika menghadap Allah SWT di akhirat kelak. Namun dengan kebaikan-kebaikan yang kita lakukan di dunia, maka amal shalih ini akan menjadi kendaraan yang memudahkan kita menghadap Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda :

" Sesungguhnya orang yang memiliki amal shaleh akan mengendai amal shalehnya itu pada hari kiamat."

Bukan tidak mungkin semua kesenangan-kesenangan di dunia ini, justru akan menyengsarakan kita di akhirat. Yakni, manakala hidup kita tidak ditujukan untuk mengabdi kepada Allah, maka Allah akan berpaling dari kita di akhirat kelak. Kita akan memikul dosa-dosa dikarenakan kita sibuk dengan urusan dunia dan meninggalkan Allah.
Dalam sebuah syair disebutkan :

" Bekerjalah untuk duniamu seolah-olah kau akan hidup selamanya. Dan beramallah untuk akhiratmuseolah-olah kau akan mati besok."


Selagi hidup di dunia, kita harus bekerja keras agar kita dapat hidup secara layak, memberi manfaat bagi dirinya sendiri, keluarga, masyarakat bangsa dan Negara. Namun usaha kita untuk mencapai kemuliaan dunia, harus disertai dengan usaha kita untuk mencapai kebahagiaan akhirat. Kemuliaan di dunia tidak akan ada artinya apapun manakala di akhirat kelak kita datang menemuai Allah seraya memikul dosa-dosa disebabkan melalaikan Allah SWT.
Allah SWT berfirman dalam surat Asy-Syura, ayat 20.

Artinya :"Barangsiapa yang menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambah keuntungan itu baginya dan barangsiapa yang menghendaki keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bahagianpun di akhirat."

Amal kebajikan merupakan cara untuk memperingan beban kita di akhirat kelak. Hal-hal sederhana pun dapat kita jadikan sebagai amal ibadah kita seperti berbuat baik kepada keluarga, tetangga, teman sekerja, masyarakat, membersihkan sampah di selokan, menanam pohon di kawasan kritis, berbagi air bersih, memperlancar aliran sungai dan memasyarakatkan Al Qur'an.

Sesungguhnya kita semua mengharap kebahagiaan dunia dan akhirat. Namun kebahagiaan dunia – akhirat ini tidak akan kita peroleh tanpa usaha dan amal ibadah. Seorang pekerja tidak akan memperoleh hasil apapun tanpa pekerja, seorang petani tidak akan memperoleh apapun tanpa menanam, seorang peternak ikan tidak akan memperoleh hasil apapun tanpa menebar benih. Demikian pula seorang hamba Allah tidak akan memperoleh keuntungan akhirat, tanpa berbuat kebajikan. Semoga kita mendapat rahmat dan ampunan Allah