Senin, Juni 08, 2009

Memperingati Isro` Mi`raj Nabi Muhammad SAW

Marilah kita bertaqwa kepada Allah SWT dengan melaksanakan perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-laranganNya. Sebab hanya dengan taqwa inilah, kita akan selamat di dunia dan akhirat.

Isra' Mi'raj merupakan peristiwa penting dalam kerasulan Muhammad SAW. Beliau telah melakukan perjalanan dari Masjid al Haram ke Masjid al Aqsha dan dari Masjid al Aqsha ke Shidrat al Muntaha sebagaimana disebutkan dalam surat Al Isra', ayat 1, yang artinya .

"Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat."

Peristiwa Isra' Mi'raj memiliki makna mendasar karena di dalam peristiwa inilah ditetapkan kewajiban shalat lima waktu.

Hendaknya kita melaksanakan shalat lima waktu, dan hendaknya kita mengajak anak-anak dan saudara-saudara kita agar melaksanakan shalat lima waktu. Sesungguhnya shalat menjadi tiang agama, sehingga barangsiapa yang meninggalkan shalat dengan sengaja sekali saja, namanya akan dicatat di pintu neraka dan di akhirat akan dkumpulkan bersama Fir'aun dan Haman. Artinya, orang-orang yang meninggalkan shalat diibaratkan seperti Fir'aun yang sombong tidak mau tunduk kepada Allah dan ia laksana Haman, raja Iblis yang juga sangat sombong kepada Allah.

Rasulullah SAW bersabda :


"Barangsiapa yang menjaga shalat lima waktu dengan kesempurnaan kesuciannya dan ketepatan waktunya, maka baginya memperoleh cahaya dan bukti. Dan barangsiapa yang menyia-nyiakannya, maka ia akan dikumpulkan bersama Fir'aun dan Haman (HR. Ahmad).

Shalat juga dikatakan sebagai tiang agama, sehingga orang yang tidak melaksanakannya dianggap telah menghancurkan tiang agama. Adapun hakikat tiang penyangga agama adalah budi pekerti dan amal shalih. Oleh karenanya, shalat memiliki dimensi moral dan sosial, yaitu mencegah dari perbuatan keji dan kemunkaran.

Allah SWT berfirman dalam surat Al Ankabut ayat 45,

"Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Qur'an) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan."

Apakah shalat bisa dijadikan sebagai tameng perbuatan dosa ?

Ada beberapa hal yang mesti kita pahami agar shalat bermanfaat bagi kehidupan.
Pertama, wudhu jasmani dan rohani.
Sebelum melakukan wudhu dzahir dengan air, hendaknya kita terlebih dahulu wudhu bathin. Yakni membersihkan jiwa dengan tujuh pembersih berupa taubat, penyesalan, tidak silau dengan harta, tidak suka dipuji, tidak bernafsu menjadi yang terbesar, tak menyimpan dendam dan dengki kepada orang lain. Setelah itu barulah wudhu dhahir dengan air.

Kedua, melaksanakan shalat dengan iman dan taqwa, tunduk, takut dan penuh harap kepada Allah
Sebelum shalat hendaknya mengendurkan seluruh nafsu jasmaninya supaya Ka'bah (Kiblat) terlihat di depan mata hatinya. Katakanlah kepada dirinya bahwa "aku berada diantara hajatku kepada Allah dan rasa takutku. Kubulatkan keyakinan bahwa Allah sedang memandangku, menjanjikan syurga di sebelah kananku dan neraka di samping kiriku. Aku juga merasa bahwa malaikat maut berdiri di belakang punggungku, siap menjemputku seraya menunggu panggilan Tuhan kepadaku. Karena itu aku selalu berpikir, inilah shalatku yang terakhir."

Ketiga, melaksanakan shalat dengan niat bertaubat, sebagaimana disebutkan dalam surat Arrum ayat 31 yang artinya.

"dengan kembali bertaubat kepada-Nya dan bertakwalah kepada-Nya serta dirikanlah shalat dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah",

Keempat, melaksanakan shalat dengan keyakinan atas kehidupan akhirat , sebagaimana disebutkan dalam surat Luqman, ayat 1-4 yang artinya :.
"Alif Laam Miim. Inilah ayat-ayat Al Qur'an yang mengandung hikmat, menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang berbuat kebaikan."(yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka yakin akan adanya negeri akhirat."

Seseorang yang shalat dapat dikatakan sedang berhadapan langsung dengan Allah SWT. Oleh sebab itu orang-orang yang shalat hendaknya menyiapkan jiwa raganya dengan sungguh-sungguh untuk berhadapan dengan Allah SWT. Shalat dapat dijadikan sebagai usaha naik ke derajat ruhani yang lebih tinggi (mi'raj kultural) dimana seseorang yang melakukan shalat memiliki cara berpikir dan kualitas akhlak yang lebih tinggi yang pada akhirnya membentuk perilaku kebudayaan (kultur) yang lebih baik di dalam kehidupan sehari-hari.

Derajat rohani yang berkualitas ini, harus dibuktikan dalam kehidupan sehari-hari antara lain dengan sifat rendah hati, dan merasa hamba Allah. Shalat sejati menghilangkan sifat-sifat Fir'auniyyah seperti sombong, mau menang sendiri, dan membangga-banggakan diri dengan apa yang dimilikinya.

Shalat tidak akan memiliki makna menjauhkan dari perbuatan dosa dan munkar tanpa disertai dengan tunduk, taubat, dan yakin akan adanya akhirat. Sebab dari sikap tunduk kepada Allah dan yakin kepada akhirat inilah, manusia dapat menjauhi perbuatan keji dan munkar.

Demikianlah khutbah jum'at ini. Semoga kita termasuk orang-orang yang beruntung yang mengerjakan shalat dengan khusyuk, senantiasa bertaubat dan yakin akan balasan di akhirat. Ya Allah, Ya Ghaffar, jadikanlah hati kami tunduk kepadaMu. Sesungguhnya hidup dan matiku ada di tangan-Mu.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar