Tampilkan postingan dengan label Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Islam. Tampilkan semua postingan

Selasa, Juni 09, 2009

Larangan Memakan Harta Yang Kotor

Marilah bertaqwa kepada Allah, yakni dengan senantiasa melaksanakan perintah-perintahNya dan menjauhi larangan-laranganNya. Ketahuilah, taqwa juga mengandung arti "menghindar" karena sesungguhnya orang yang bertaqwa berarti menghindar dari ancaman dan siksaan Allah.

Sahabat Mu'adz ra adalah orang yang sangat dekat dengan Rasulullah SAW. Ia setiap saat bisa berbicara empat mata dengan Rasulullah SAW. Namun Mu'adz radhiyallahu 'anhu tidak memanfaatkan kedekatannya dengan Rasulullah SAW untuk meminta kedudukan dan harta benda. Mu'adz ra selalu teringat firman Allah dalam surat Huud, ayat 15 dan 16 yang artinya :

"Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan."

"Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan?."

Sikap Mu'adz ra ini berbeda dengan Hakim ibn Hizan yang suka meminta ghanimah /harta rampasan perang kepada Rasulullah SAW, padahal ia seorang hartawan Makkah. Rasulullah SAW memberi puluhan unta kepada Hakim ibn Hizan. Setelah diberi, ia minta lagi. Demikian seterusnya, Hakim ibn Hizan selalu meminta-minta harta rampasan perang kepada Rasulullah sampai kemudian Rasulullah bersabda :


"Wahai Haikm, sesungguhnya harta benda itu manis dan hijau (mempesona), tetapi tangan yang diatas lebih mulia daripada tangan yang di bawah." (HR. Turmudzi)

Rasulullah SAW tidak melarang seorang muslim memiliki rumah, kendaraan, perkebunan dan harta benda, namun hendaknya kaum muslimin ingat bahwa harta benda yang diperoleh harus dengan cara yang sah, halal dan diperoleh dengan kerja keras. Sebab dengan cara yang benar, kaum muslimin akan mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat sebagai berkah dari harta benda yang diridhai Allah.

Maka sejak itulah, Hakim berkata kepada Rasulullah : "Demi Allah, wahai Rasulullah. Demi Allah, aku tidak akan berani meminta lagi kepada seorang manusiapun sesudah engkau." Hakim menyatakan pertobatannya di hadapan Rasulullah SAW atas sikapnya itu.

Renungkan wahai saudara-saudaraku yang dirahmati Allah. Hakim tidak memperoleh harta benda dengan cara merugikan orang lain, namun ia merasa menyesal. Bagaimanakah jika harta benda itu diperoleh dengan cara yang tidak sah, merugikan masyarakat dan negara, memeras dan menipu, korupsi dan manipulasi ? Pasti kehidupan ini akan ditimpa bencana yang tiada habis-habisnya, dan kehidupan makin hari makin sengsara.

Perhatikanlah saudara-saudaraku, Rasulullah SAW tidak mau menerima zakat. Mengapa ? Karena zakat adalah kekotoran harta manusia dan merupakan hasil pencucian hara benda kaum muslimin. Yakni, setiap orang Islam yang berharta wajib mengeluarkan zakat untuk membersihkan harta benda. Zakat diwajibkan bagi kaum muslimin dan halal dimakan oleh fakir miskin atau golongan yang berhak menerima. Namun suatu hari Rasulullah SAW melarang cucunya yang bernama Hasan makan buah kurma dari gudang zakat. Rasulullah SAW bersabda :

"Muntahkan, muntahkan ! apakah kamu tidak tahu kita tidak boleh makan harta zakat ? "(HR. Bukhari).

Hasan tidak tahu darimana kurma itu sebab ia masih kecil. Namun, nabi ingin mendidiknya untuk makan makanan yang halal dan bersih. "Kita," kata Rasulullah SAW," ahli bayt dididik untuk taat kepada Allah dan hanya makan dari yang halal dan bersih."

Maha Suci Allah. Makanan yang pada hakikatnya boleh dimakan saja, oleh Nabi dilarang dimakan demi menjaga kesucian jiwa anak cucunya sekaligus memberikan pengertian kepada kita agar menghargai hak-hak orang lain, karena sesungguhnya zakat adalah hak para fakir miskin. Sesungguhnya Allah SWT melarang memakan harta dengan cara yang bathil.

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah maha penyayang kepadamu."
"Dan barangsiapa berbuat demikian dengan melanggar hak dan aniaya, maka kami kelak akan memasukkannya ke dalam neraka. yang demikian itu adalah mudah bagi Allah."

Kehidupan ini sungguh berbahaya manakala kita berbuat sewenang-wenang di dalam mencari rezeki dari Allah. Adalah tidak adil, jika ada segelintir orang hidup dalam keuntungan yang berlimpah ruah, sementara banyak orang dirugikan. Kehidupan yang hanya didasari dengan kepentingan pribadi atau golongan, sudah pasti akan merusak tatanan masyarakat; sehingga menumbuhkan kejahatan, kemiskinan, kebodohan dan kedzaliman.

Sebagaimana kita sering mendegar berita di televisi, bagaimana seseorang dengan kejamnya mengeruk keuntungan ratusan milyar bahkan trilyunan rupiah untuk dirinya sendiri. Kita membaca di koran bagaimana seseorang dengan kejinya menggelapkan uang Negara hingga ratusan milyar. Apa yang akan dinikmati oleh masyarakat jika semua kekuatan negara sudah dilemahkan oleh perilaku-perilaku buruk penyelenggara negara ?

Betapa dahsyatnya siksa yang disediakan Allah bagi orang-orang yang merampas hak orang lain dan memakan harta sesama dengan cara yang tidak benar seperti menipu, mencuri dan korupsi. Kita bisa menahan lapar dan dahaga dalam sehari atau dua hari di dunia ini. Namun kita tidak dapat menanggung siksa neraka Allah meskipun hanya satu celupan. Ketahuilah, harta benda yang kita kumpulkan selama hidup tidak akan dapat menyelamatkan kita di akhirat, melainkan apabila kita memperolehnya dengan cara yang benar dan dipergunakan di jalan Allah.

Oleh karena kita semua berlindung dari siksa Allah ini. Dan takutlah akan Hari Kiamat. "(yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, dan janganlah Engkau hinakan aku pada hari mereka dibangkitkan (Asy-Syu'ara:88-89).," Dan hari yang tiada berguna bagi orang-orang zalim permintaan maafnya dan bagi merekalah la`nat dan bagi merekalah tempat tinggal yang buruk. "(Al Mukmin :52). Demikianlah, semoga kita terlindungi dari siksa api neraka. Amin ya rabb al 'alamin.

Bahaya Munafik

Marilah bertaqwa kepada Allah, yakni dengan senantiasa melaksanakan perintah-perintahNya dan menjauhi larangan-laranganNya. Ketahuilah, taqwa juga mengandung arti "menghindar" karena sesungguhnya orang yang bertaqwa berarti menghindar dari ancaman dan siksaan Allah.

Munafik merupakan sifat yang sangat berbahaya bagi kehidupan kita. Kemunafikan menjadikan orang tidak malu mengaku beriman, namun mendurhakai Allah. Sepak terjangnya selalu melampaui batas dan tidak sesuai dengan syari'at agama Islam, namun selalu merasa dirinya benar. Bila berkata, berbohong, bila berjanji tidak ditepati dan bila dipercaya khianat. Sifat orang munafik ini tidak memiliki manfaat sedikitpun bagi kehidupan kita karena sesungguhnya tidak seorang pun yang mau dibohongi, dan dikhianati. Rasulullah SAW bersabda :

"Ciri-ciri atau tanda-tanda orang munafik ada tiga. Bila berkata, bohong. Bila berjanji, ingkar dan bila dipercaya berkhianat. " (HR. Bukhari dan Muslim)
Dalam hadist yang lain, Rasulullah SAW bersabda :

"Ada 4 (empat) hal yang barangsiapa melaksanakan empat hal ini dinamakan munfaik sejati. Dan barangsiapa yang melaksanakan sebagian dari empat hal ini dinamakan munafik. Yaitu, apabila berkata bohong, apabila berjanji mengingkari, apabila bekerja sama (berkongsi) menyeleweng dan bila dipercaya berkhianat," dalam riawayat Muslim disebutkan meskipun dirinya shalat, puasa dan mengaku beragama Islam."(HR. Bukhari)

Kebohongan, ingkar janji dan penghianatan yang dilakukan oleh seorang anak kecil, mungkin tidak terlalu membahayakan masyarakat. Namun sekiranya kebohongan, ingkar jani dan khianat ini dilakukan oleh orang dewasa, apalagi orang yang berilmu, berkuasa dan terpandang, tentu sangat membahayakan masayarakat. Oleh karena itu, mustahil suatu masyarakat akan tenteram dan sejahtera manakala masyarakat hidup dalam kebohongan, pengkhianatan dan ingkar janji. Allah pasti akan menimpakan siksa yang sangat pedih di dalam kehidupan masyarakat yang senantiasa berbohong, berkhianat dan ingkat janji.

Telah banyak kejadian buruk di dalam masyarakat kita yang disebabkan oleh perilaku munafik ini. Orang munafik seringkali menjadi pemicu permusuhan di dalam masyarakat kita. Karena orang munafik lebih suka mencari keuntungan diri daripada berjuang mewujudkan kemaslahatan ummat.

Sebagaimana terjadi di zaman Rasulullah SAW. Beliau berjuang menegakkan agama Islam dan kebenaran. Diantara perilaku kaum munafik zaman Rasulullah antara lain :

Pertama, mengaku beriman di hadapan baginda Rasulullah. Namun di belakang, mereka memusuhi Rasulullah dengan berbagai cara seperti menjelek-jelekkan, memfitnah dan tidak melaksanakan perintah Allah, sebagaimana dinyatakan dalam surat Al Baqarah, ayat 13 dan 14 yang artinya :
"Apabila dikatakan kepada mereka: "Berimanlah kamu sebagaimana orang-orang lain telah beriman", mereka menjawab: "Akan berimankah kami sebagaimana orang-orang yang bodoh itu telah beriman?" Ingatlah, sesungguhnya merekalah orang-orang yang bodoh, tetapi mereka tidak tahu."
"Dan bila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka mengatakan: "Kami telah beriman." Dan bila mereka kembali kepada syaitan-syaitan mereka, mereka mengatakan: "Sesungguhnya kami sependirian dengan kamu, kami hanyalah berolok-olok".

Kedua, ketika berperang dengan orang-orang kafir, kaum munafik menyalahkan Rasulullah, namun setelah kaum muslimin mendapatkan kemenangan mereka berebut harta rampasan perang. Mereka mengaku-ngaku berjuang, padahal mereka telah berbohong kepada Allah dikarenakan nafsu memperoleh ghanimah/harta rampasan, sebagaimana dinyatakan dalam surat Ash-Shaaf ayat 2-3 :
"Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat?"
"Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan."
Allah tetap menyindir kaum munafik sebagai orang yang beriman agar mereka tahu diri bahwa sesungguhnya mereka mengaku-ngaku beriman bila di hadapan Rasulullah supaya mendapatkan pujian dan ghanimah. Padahal mereka adalah orang yang membohongi Allah dan mengaku-ngaku saja.

Ketiga, menyebarkan berita bohong pada kedua belah pihak sehingga masing-masing pihak termakan oleh provokasi dan fitnah. Akibatnya mereka saling bermusuhan satu sama lain disebabkan berita bohong yang dipercayai.

Sifat munafik sangat membebani kehidupan masyarakat baik dalam tatanan ideology, politik, sosial, budaya, pertahanan dan keamanan, sehingga harus kita hindari dan jauhi. Sifat-sifat ini merupakan sifat yang dibenci Allah, dan barangsiapa yang bersifat demikian, akan dimasukkan ke dalam neraka yang paling bawah. Sebagaimana dinyatakan dalam surat An Nisa, ayat 145 :

"Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolongpun bagi mereka".
Orang-orang munafik akan dilaknat Allah di Hari Kiamat. Kecuali, orang-orang yang mau bertobat dan beramal salih. Allah akan melaknat sifat munafik ini kecuali orang-orang yang taubat dan mengadakan perbaikan dan berpegang teguh pada (agama) Allah dan tulus ikhlas (mengerjakan) agama mereka karena Allah. Maka mereka itu adalah bersama-sama orang yang beriman dan kelak Allah akan memberikan kepada orang-orang yang beriman pahala yang besar.

Marilah kita menghindari jauh-jauh sifat munafik ini. Ketahuilah kesusahan-kesusahan masyarakat manakala di dalam kehidupan tumbuh subur sifat-sifat munafik. Takutlah kepada Allah dan bertobatlah sehingga kita dapat menumbuhkan rasa saling percaya, mampu melaksanakan jani dan mengemban amanat yang dibebankan kepada kita. Ketahuilah, meskipun kita shalat dan puasa, namun manakala kita tidak menghindari sifat-sifat ini, Allah akan memasukkan kita ke dalam neraka yang paling bawah. Kita semua berlindung dari sifat-sifat buruk ini. Semoga Allah merahmati kehidupan dan membimbing kita semua ke jalan yang lurus, yaitu jalan orang-orang yang beriman dan beramal shalih.

Senin, Juni 08, 2009

Hakikat Haji Mabrur

Marilah bertaqwa dengan sepenuh hati, dimanapun kita berada. Marilah berusaha melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-laranganNya.

Bulan Dzulhijjah merupakan salah satu bulan yang dimuliakan Allah. Pada bulan inilah, ummat Islam dari seluruh dunia melaksanakan ibadah haji. Karena sesungguhnya, ibadah haji hukumnya wajib bagi orang yang mampu. Dan ketahuilah, pahala bagi orang yang hajinya mabrur tidak lain adalah syurga.

Di dalam pelaksanaan ibadah haji, terdapat beberapa lambang yang sangat penting dalam kehidupan kita. Diantaranya :

· Ka'bah, merupakan lambang aqidah, keyakinan, juga harapan Yakni setiap orang Islam harus beraqidah dengan benar, beribadah hanya kepada Allah dan memiliki harapan atas ampunan dan ridha Allah.

· Ihram, merupakan lambing bahwa manusia pada dasarnya tidak memiliki apapun dan tak ada yang bisa dibanggakan manusia setelah segala yang dimilikinya diminta kembali oleh Allah. Ia harus tunduk dengan keadaan dasarnya. Hanya kesucian hati yang dapat mempertemukan manusia dengan Tuhannya

· Wukuf. Seorang haji harus berdiam sejenak menyiapkan strategi untuk melawan godaan-godaan dalam hidup ( yakni hawa nafsu dan syetan).

· Melempar jumrah : seorang haji harus melemparkan sifat-sifat tercela dan menggantinya dengan sifat-sifat terpuji (akhlak mahmudah).

· Thawaf menunjukkan bahwa darimanapun asalnya manusia menuju pada titik yang satu. Yakni Allah Yang Maha Kuasa, Yang menciptakan alam semesta ini. Gerakan-gerakannya menunjukkan konsistensi dan integritas dalam pengabdian sebagaima manusia. Yakni apakah ia sebagai suami, isteri, pejabat dan lainnya harus mengabdi kepada Allah.

· Sa'i berarti, memahami wanita mulia yang berasal dari budak, yakni Dewi Sarah yang perjuang sendirian di tempat yang gersang dengan keyakinan supaya sang putra Ismail as tetap hidup. Dan kenyataannya Ismail as adalah harapan terbesar orang tua, yakni kehidupan anaknya.

· Ibrahim as dan Ismail as menunjukkan ketaatan dan perjuangan melawan kedzaliman raja Namrud.

Bepata indahnya ! Ibrahim as diselamatkan dari api Namrud, dan Ismail as diselamatkan dari pengorbanan. Keduanya berjuang di tengah kekafiran dan kebobrkan masyarakat. Keduanya adalah khalifah-khalifah Allah yang bertanggungjawab memberdayakan manusia dan mendidiknya dengan tauhid. Mereka berdua inilah arsitek rumah tauhid, "kuil tertua dan pertama di dunia," sekaligus sebagai rumah kemerdekaan, rumah cinta dan persatuan, dan rumah peribadatan yang melambangkan rahasia.

Wahai haji, engkau adalah Ibrahim, penegak tauhid, pemberantas kemusyrikan, pemimpin kaum, pembebas kebodohan, kedzaliman, dan kekufuran. Kini bangunlah sebuah rumah, bukan unruk dirimu sendiri, bukan untuk putramu, tetapi untuk "ummat manusia." Inilah rumah tempat berteduh bagi orang yang terlunta-lunta, terluka, dan tersiksa atau pun korban-korban penindasan raja Namrud, sabotase Azar dan tipu daya setan yang selalu membuntuti kemanapun manusia pergi. Inilah rumah yang aman, suci, dan terbuka bagi setiap manusia atau keluarga Allah.

Di luar rumah ini tidak ada tempat yang aman dan suci dari aib karena dunia telah berubah menjadi rumah pelacuran yang kotor. Dunia telah berubah menjadi rumah jagal, agresi, diskriminasi dan kebencian.

Di dalam riwayat Bukhari dan Muslim disebutkan bahwa, pada suatu hari Rasulullah SAW ditanya "apakah amal yang paling utama ?" Baginda Rasul menjawab : Iman kepada Allah dan rasulNya. Lalu amal apa lagi ? Beliau menjawab : jihad fi sabilillah. Lalu beliau ditanya lagi,"apa lagi ya Rasulullah," Beliau menjawab : Haji Mabrur.

Kata mabrur dalam Lisan al 'Arab, memiliki dua makna.

Pertama, mabrur berarti baik, suci dan bersih. Jadi haji mabrur adalah haji yang tidak terdapat di dalamnya noda dan dosa.

Kedua, mabrur berarti maqbul : diterima dan mendapat ridha Allah.

Kedua makna ini sesungguhnya berhubungan dengan keadaan seorang haji di dalam kehidupan masyarakat. Artinya, ia sungguh-sungguh menghilangkan kekotoran dirinya. Sebab, ketika seseorang melaksanakan ibadah haji, sesungguhnya ia meninggalkan segala atribut dunia. Apakah ia seorang birokrat, penguasa, orang 'alim, pedagang dan siapapun dia, semuanya miskin dan fakir di hadapan Allah. Orang yang melaksanakan ibadah haji, seperti orang yang mati. Ia harus menyelesaikan segala urusan dirinya dengan orang lain, dan harus berwasiat kepada keluarganya yang masih hidup.
Rasulullah SAW bersabda :

" 'Umarah yang satu ke umrah yang lainnya adalah tebusan diantaranya, dan haji mabrur tiada lain ganjarannya, kecuali syurga (HR. Bukhari-Muslim).
Dalam riwayat lainnya, Rasulullah SAW ditanya, apakah haji mabrur ? Rasulullah SAW menjawab :" ath'im al tha'am wa afsyu al salaam," (memberi makan fakir miskin dan menebar salam).

Ini berarti haji yang mabrur pada hakikatnya adalah haji yang dapat membuat pelakunya semakin peduli terhadap persoalan-persoalan sosial dan kemanusiaan. Setiap pelaku haji, kata Imam al Ghazali, harus memperhatikan budi luhur atau akhlak mulia baik ketika berada di tanah suci maupun ketika pulang ke kampung halaman sebagaimana maksud firman Allah dalam surat Ali Imran, ayat 197.. Dengan demikian, ia dan masyarakat memperoleh kebaikan dari ibadah haji yang dilakukannya. Karena itu syurga memang pantas dan layak baginya.

Alangkah indahnya ! seorang haji meninggalkan egosentrisme, menggantinya dengan senantiasa melakukan tindakan kasih sayang terhadap sesama dan menyebarluaskan perdamaian, keselamatan dan ketenangan di dalam keluarga, masyarakat dan bangsa. Dan ketahuilah, bahwa Allah memberi kebijaksanaan pada setiap orang yang tidak mampu melaksanakan ibadah haji di Tanah Suci, tebusannya adalah shalat jum'at. Karena itu wahai saudara-saudarakau marilah kita senantiasa memperbaharui diri agar kita semua memperoleh kebaikan.

Ketahuilah "(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi, barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats, berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji. Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya. Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal." (Q.S.2:197)

Melestarikan Budaya yang Baik

Marilah kita meningkatkan iman dan taqwa kita kepada Allah SWT. Yaitu, dengan senantiasa melaksanakan perintah-perintahNya dan menjauhi segala larangan-laranganNya. Sebab hanya dengan iman dan taqwa inilah, manusia akan selamat di dunia dan akhirat.
,
Ketahuilah bahwa Nabi Muhammad SAW memiliki nasab yang sangat mulia. Silsilah beliau hingga pada Nabi Adam as, semuanya adalah orang-orang yang beriman kepada Allah. Tidak ada yang kafir dan ahli maksiat. Ayah, kakek, buyut Rasulullah adalah orang-orang suci. Pernikahannya pun dilakukan dengan cara Islam.

Rasululullah SAW bersabda :
"Aku selalu dipindah-pindah dari tulang rusuk yang suci ke rahim orang-orang yang suci." (HR. Bukhari)
"Aku selalu lahir dari perjodohan seperti cara nikah Islam".(HR.Bukhari)

Adapun Azar yang dikenal sebagai ayah Ibrahim, bukanlah ayahnya melainkan pamannya, sebab orang Arab biasa memanggil paman dengan "ayah" . Adapun ayah Ibrahim yang sesungguhnya adalah Tarokh bin Nakhur.

Keajaiban kelahiran Muhammad SAW telah banyak diceritakan di dalam Al Barzanji. Sesungguhnya, bukan saja keajaiban–keajaiban yang mengiringi kelahirannya, namun keajaiban yang merubah dunia inilah yang harus lebih kita perhatikan.

Tanpa kelahiran Muhammad SAW, manusia akan tetap berada dalam kesesatan dan tak terselamatkan. Oleh karenanya, betapa besar jasa-jasa beliau bagi keselamatan dunia dan akhirat. Sehingga dengan segala hal yang kita miliki sekalipun, kita tidak mampu membalas jasa-jasanya, sebab dengan mengikuti sunnah-sunnahnya, berarti kita menaati Allah, dan kita akan terselamatkan di dunia dan akhirat.

Apakah yang dibutuhkan manusia selain keselamatan ?. Tidak ada. Segala kehidupan ini hanyalah sarana di dalam menempuh jalan Ilahi. Namun kehidupan menjadi tidak akan ada maknanya, manakala manusia tidak terselamatkan. Dan Muhammad SAW telah mengorbankan kehidupannya demi menyelamatkan ummat manusia. Muhammad SAW membawa kabar gembira berupa syurga bagi orang-orang yang bertaqwa, dan memberi peringatan akan bahaya siksa Allah bagi orang-orang yang durhaka.

Memperingati kelahiran Muhammad SAW merupakan adat baik yang dapat kita isi dengan berbagai kegiatan yang bermanfaat bagi masayarakat. Hampir di seluruh dunia Islam, kelahiran Muhammad SAW diperingati dengan beragam kegiatan sesuai dengan adat dan budaya setempat.

Maksud peringatan Maulid Nabi SAW, adalah :
Pertama, menunjukkan rasa cinta kepada Nabi Muhammad SAW. Kita berharap semoga dengan menunjukkan rasa cinta kepada baginda nabi, kita termasuk di dalam golongan orang yang beliau nyatakan :

"Barangsiapa yang mencintaiku, ia akan berada di syurga bersamaku."

Sedangkan Abu Lahab yang sangat kafir dan memusuhinya dan jelas-jelas dijamin masuk neraka saja, termasuk orang yang gembira dengan kelahiran Muhammad SAW sehingga ia memerdekakan budak yang bernama Tsuwaibah al Aslamiyyah untuk menyusui Nabi SAW.

Kedua, kita bersyukur kepada Allah atas karunia yang luar biasa besarnya. Sudah sepantasnya kita berterima kasih kepada Allah SWT atas kelahiran Muhammad SAW. Sedangkan ketika kita dikarunia anak saja, kita sungguh-sungguh bersyukur. Padahal mungkin di kemudian hari anak tersebut belum tentu dapat menyelamatkan dan membahagiakan hidup kita.

Tidaklah berlebihan apabila kita semua dapat melahirkan rasa cinta dan syukur atas kelahiran Muhammad SAW. Perayaan-perayaan yang disertai dengan berbagai kegiatan seperti membaca Al Barzanji, memperbanyak shalawat, memberi santunan kepada fakir miskin, khitanan massal, memperbanyak sedekah, diskusi-diskusi keagamaan dan kegiatan sosial lainnya merupakan kegiatan yang baik, yang patut kita lesatarikan. Muhammad SAW adalah orang yang sangat mengasihi orang lain sebagaimana dinyatakan Allah dalam surat at Taubat, ayat 128-129.

"Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mu'min (Q.S.:128)
Jika mereka berpaling (dari keimanan), maka katakanlah: "Cukuplah Allah bagiku; tidak ada Tuhan selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakkal dan Dia adalah Tuhan yang memiliki `Arsy yang agung"(Q.S.9:129).

Namun demikian janganlah kita terjebak semata-mata dalam perayaan, melainkan harus disertai dengan penerapan sunnah-sunnah Rasulullah di dalam kehidupan kita sehari-hari. Sehingga kita merasakan berkah dari mencintai Rasulullah SAW bukan saja untuk diri sendiri, melainkan untuk kebaikan bersama. Allah berfirman dalam surat Al Hasyr, ayat 7 :

"Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah; dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras hukuman-Nya."

Akhirnya, marilah kita mengingat kembali bagaimana kemuliaan-kemuliaan dan perjuangan Muhammad SAW di dalam menyelamatkan manusia dari kesesatan. Muhammad SAW menuntun kita jalan hidup yang harus ditempuh agar terselamatkan di dunia dan akhirat. Sesungguhnya hidup akan bermakna manakala kita berada dalam kesesatan. Marilah kita ikuti sunnah-sunnah Rasulullah. Dan janganlah menganggap sunnah-sunnahnya tidak sesuai dengan zaman kita. Sebab sesungguhnya, Allah tidak mungkin menyesatkan kita dengan sunnah-sunnah rasulNya.

Hidup di Jalan Allah

Allah SWT telah mengaungerahkan kepada kita segala sesuatu yang berguna untuk kehidupan manusia, karenanya Allah memerintah kepada kita agar selalu bertaqwa dimanapun berada : di kantor, di rumah, di tempat kerja, di pasar dan dimanapun berada. Taqwa inilah yang menjadi bekal ketika menghadap Allah SWT di akhirat kelak.

Dengan segala kuasaNya, Allah menjanjikan kepada kita kegembiraan yang sangat berharga dan sangat besar, yaitu kehidupan yang damai dan sejahtera. Dengan ketaqwaan itu, kita boleh mengambil bagian dalam kuasa Allah dan terlepas dari hawa nafsu yang membinasakan dunia. Taqwa berarti melaksanakan perintah-perintahNya dan menjauhi larangan-laranganNya.

Untuk melepaskan jeratan hawa nafsu, kita harus sungguh-sungguh berusaha meningkatkan iman, pengetahuan, penguasaan diri, ketekunan dan amal shaleh seperti seperti mengormati orangtua, mengasihi sesama makhlukNya dan berbuat baik kepada tetangga mengasihi saudara-saudara seiman dan kasih kepada semua orang.

Apabila iman, kasih sayang dan kebajikan ini ada dalam diri kita, maka kita akan giat dan berhasil mengenal Allah. Janganlah kita memaksa Allah mengenal kita, namun kenalilah diri kita sehingga kita sungguh-sungguh mengenal Allah. Akan tetapi bila kita tidak memiliki pengetahuan dan ketekunan dalam mengenal diri, kita akan buta dan picik, karena lupa bahwa dosa-dosanya makin hari makin menumpuk dan sulit dimaafkan.

Tanpa mengenal diri, kita hanya akan merasa hebat, bangga diri, dan sombong dari karunia-karunia Allah sehingga menganggap segala sesuatu yang telah dicapai di dunia ini pasti bermanfaat dan dapat menyelamatkannya dari bencana dan azab Allah SWT. Allah berfirman dalam surat Al An'am, ayat 162, yang artinya :

Katakanlah: "Sesungguhnya shalatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam,

Karena itu wahai saudara-saudaraku jamaa'ah jum'ah yang dimuliakan Allah, berusahalah sungguh-sungguh supaya kita teguh hidup di jalan Allah, sebab jika hidup di jalan Allah, tidak akan tersandung dan tersesat di dalam menuju Allah.

Keselamatan dan kebahagiaan yang diperoleh tentu tidak ingin kita nikmati bersama, karena itu marilah kita sesama ummat Islam saling mengingatkan kewajiban-kewajiban kita terhadap Allah seperti shalat, zakat, puasa dan berbuat baik kepada orangtua dan sesama makhlukNya.

Sekalipun kita telah mengetahui dan teguh dalam kebenaran iman dan jalan Ilahi, namun terkadang kita melupakan kewajiban bersama untuk selalu mengingatkan agar menempuh jalan Ilahi di manapun berada. Selagi kita hidup kita seringkali lupa bahwa kekuatan, jabatan, kehebatan, popularitas dan kekayaan, tidak akan berguna manakala nyawa telah meninggalkan kita. Apa yang telah kita raih di dunia ini tidak akan menolong kita dari siksa Allah, manakala kita sombong terhadap Allah dengan tidak melaksanakan perintah-perintahNya dan menjauhi larangan-laranganNya. Ingatlah, kita berasal dari setets air hina yang tidak bernilai apa-apa. Namun karena kasih sayang Allah, kita menjadi berguna di dunia. Dan akhirnya, kita tidak akan berguna apapun di hadapan Allah, selain amal shaleh dan ketaqwaan kepada Allah.
Allah mengingatkan kita dalam surat Asy-Syu'ara, 88-91.

"(yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih, dan (di hari itu) didekatkanlah surga kepada orang-orang yang bertakwa, dan diperlihatkan dengan jelas neraka Jahim kepada orang-orang yang sesat",

Sesungguhnya kita tidak tahu kapan Allah akan mematikan kita. Jika Allah tidak memberi kesempatan kepada kita untuk segera memperbaharui diri, tentu Allah telah mencabut nyawa pagi hari hari tadi. Dan Allah akan melemparkan kita ke dalam neraka dunia berupa laknat dan kehancuran hidup. Untuk kedurhakaan kita kepada Allah, hukuman telah tersedia. Barangisapa yang durhaka kepada Allah dan menyombongkan diri dari tuntunan Allah, kelak di akhirat akan terlunta-lunta. Allah SWT berfirman dalam surat Thaha 124-127 yang artinya :

"Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta".
Berkatalah ia: "Ya Tuhanku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulunya adalah seorang yang melihat?"

Allah berfirman: "Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, maka kamu melupakannya, dan begitu (pula) pada hari ini kamupun dilupakan".
Dan demikianlah Kami membalas orang yang melampaui batas dan tidak percaya kepada ayat-ayat Tuhannya. Dan sesungguhnya azab di akhirat itu lebih berat dan lebih kekal.

Firman Allah ini mempertegas bahwa barangsiapa yang sombong, berpaling dan tidak mau menundukkan diri di hadapan Allah, ia akan mengalami kehidupan tidak berguna. Tanpa tuntunan Allah dan rasulNya, apa pun yang telah dicapai di dunia tidak memberi manfaat bagi kehidupannya. Sebaliknya menjadikan tidak melihat mana yang benar, mana yang salah; mana jalan syetan mana jalan Ilahi; mana hawa nafsu mana nurani; mana kewajiban Ilahi dan mana hak azasi. Akibatnya, ia hidup dalam kegelapan. Bagaimanakah kita akan berjalan di sebuah lorongan panjang yang gelap gulita ?
Dengan menjadikan capaian-capaian hidupnya untuk Allah, Insya Allah manusia akan selamat di akhirat.
Sebagai contoh :
Ketika Allah memberikan kita kesehatan, maka kesehatan ini digunakan untuk berjuang di bidang pendidikan, pelayanan fakir miskin, pelayanan kesehatan masyarakat dan sebagainya. Kesehatan digunakan untuk hal-hal yang bermanfaat bagi dirinya dan orang lain. Tidak sebaliknya untuk menambah dosa dengan perbuatan-perbuatan yang mendzalimi diri sendiri dan orang lain.

Ketika Allah memberikan kita kekuatan, maka kekuatan ini digunakan untuk membantu orang-orang lemah, bukan sebaliknya untuk memperdaya dan menganiaya orang-orang lemah.


Akhirnya, marilah kita istiqamah di dalam jalan Allah. Semoga kita memperoleh kebahagiaan dunia dan akhirat.

Ajaran Islam tentang Kesejahteraan Bersama

Keimanan seseorang harus terus dibuktikan, dan salah satu buktinya adalah menyingkirkan duri dari jalanan, sebagaimana sabda Rasulullah .

Duri adalah material (benda) yang akan mengganggu pengguna jalan. Duri tak pernah pandang bulu, bisa menusuk dan menyakiti siapapun yang menginjaknya. Pengguna jalan bisa siapapun, terlepas dari jenis kelamin, agama, jabatan, kepentingan politiknya dan status sosialnya.
Duri yang dibiarkan di jalanan, akan menghalangi aktifitas publik (umum) karena itu Islam yang memiliki semangat "menyebarkan keselamatan bagi siapapun" menegaskan; menyingkirkan hal-hal yang mengganggu aktifitas ruang publik (masyarakat) merupakan bukti keimanan.

Pada hadist ini terlihat semangat dasar ajaran Islam dalam memperbaiki setiap "penyakit" yang dapat merusak kehidupan bersama.

Hadist duri ini memberi dua keinsyafan.
Pertama, bahwa masalah yang kita hadapi di ruang publik adalah masalah bersama. Suatu masalah seperti setitik nila. Ia mungkin jatuh pada sudut tertentu di belanga susu, namun nila itu akan membuat seluruh susu menjadi tercemar.

Kejujuran bertahun-tahun hancur hanya karena sekali kebohongan. Kebersihan yang dibangun bertahun-tahun hancur hanya karena sedikit saja kekotoran. Kerja keras yang dilakukan bertahun-tahun hancur, hanya karena sedikit saja keteledoran. Rasa aman yang dibangun dengan susah payah, akan lenyap hanya karena tindakan kerusuhan dan kekerasan sesaat. Keimanan dan kepercayaan yang dibangun bertahun-tahun akan runtuh, hanya karena pengkhianatan sesat.

Keinsyafan kedua, bahwa tindakan iman dapat dimulai dari hal-hal yang sederhana. Membuang duri adalah hal sederhana, namun Nabi Muhammad menegaskan, dalam kesederhanaan itu bila memberi keselamatan bagi manusia lain, terletak bukti dari keimanan.

Masyarakat adalah ruang publik. Setiap orang berada di dalam ruang public dan senantiasa membutuhkan ruang publik. Jika ada hal-hal yang merugikan kepentingan bersama, maka sepantasnya kita dapat mengatasinya. Perbuatan-perbuatan yang dilakukan oleh seseorang mungkin akan merugikan kepentingan bersama, sehingga tujuan-tujuan keselamatan bersama dan kebaikan bersama di dalam masyarakat terganggu.

Semangat "menyebarkan keselamatan bagi siapapun," menunjukkan bahwa setiap orang Islam wajib menjaga keselamatan bersama. Bahkan kita tidak boleh memandang agama, suku, ras ataupun kepentingan politiknya. Keimanan kita kepada Allah SWT menjadi dasar bagi setiap tindakan kita agar selalu memberikan yang terbaik dan bermanfaat bagi siapapun. Oleh karenanya, setiap duri yang ada di dalam kehidupan kita, harus dihilangkan, agar seluruh masyarakat menikmati keselamatan ini.

Dilihat dari bendanya, duri adalah benda yang remeh. Namun duri yang remeh ini dapat mencelakakan setiap orang sehingga harus dibuang. Ini artinya setiap benda dan tindakan yang berpotensi merugikan kepentingan umum, harus dapat kita hindari.
Keselamatan yang diajarkan Islam, sesungguhnya merupakan kewajiban bersama. Kita tidak bisa berharap banyak terhadap kehidupan yang lebih baik manakala perilaku kita justru tidak membawa kemaslahatan.

Duri, hanyalah symbol yang diceritakan Nabi, sebab sesungguhnya terdapat duri-duri lainnya dalam kehidupan bermasyarakat. Dan ketika orang lain mengetahui, bahwa di suatu tempat terdapat banyak duri, maka sudah barang tentu orang tersebut akan menghindarinya.
Kondisi ini juga bisa terjadi pada masyarakat yang kecil, misalnya desa, kecamatan, atau kabupaten. Kita akan menghadapi hambatan yang besar manakala pihak-pihak lain selalu merasa dirugikan dan tidak terjamin keselamatannya.

Oleh karena itu, saatnya kita memperbaiki keadaan masyarakat kita secara bersama-sama. Kita harus mengetahui apa saja duri yang ada di dalam masyarakat.
Usaha ini tidak akan berhasil manakala, kita tidak memiliki kepedulian untuk menyelamatkan sesama.

Rasulullah SAW bersabda :

"Orang Islam adalah orang yang menyelamatkan saudaranya sesama muslim dari lisan dan tangannya, dan orang yang hijrah, adalah orang yang pindah dari apa yang dilarang Allah (HR. Bukhari)."

Hadist ini membimbing kita bahwasanya
Pertama, setiap muslim harus mampu menjaga keselamatan saudara-saudaranya sesama muslim dari bahaya lisan dan tangan. Bahaya lisan bisa berupa kata-kata yang menyakitkan dan fitnah yang seringkali mengakibatkan kehancuran di dalam masyarakat.

Kedua, bahaya tangan. Tangan adalah symbol penerima amanat. Siapapun orangnya yang diberi amanat harus menjamin keselamatan setiap orang Islam. Tidak boleh mempergunakan amanat tersebut sebagai alat untuk merugikan sesama muslim.
Janganlah bahaya tangan ini hanya dipandang dalam pengertian amanat politik, namun juga amanat-amanat yang lain seperti amanat di dalam keluarga, di dalam pekerjaan dan sebagainya. Lisan dan tangan inilah yang seringkali merugikan masyarakat apabila tidak dipergunakan sebagaimana mestinya.

Ketiga, hijrah. Hijrah sejati adalah kemampuan seseorang untuk menjauhi segala larangan Allah. Bukti dari hijrah ini adalah memperbaiki diri sehingga bukannya merugikan masyarakat dengan lisan dan tangannya, melainkan justru menyelamatkan masyarakat. Orang yang bersedia memberi keselamatan kepada orang lain, akan menyingkrikan duri-duri lisan maupun tangannya.

Barakah dari keselamatan itu sungguh luar biasa. Ketika kita menginjak jalan yang tidak berduri, tentu kita akan merasa aman dan nyaman. Ketika lisan kita mengucapkan hal-hal yang baik, tentu teman, keluarga, saudara-saudara, relasi dan handai taulan kita akan merasa nyaman hatinya. Demikian pula apabila tangan kita melakukan hal-hal yang baik, tentu teman, keluarga, saudara-saudara, relasi, masyarakat dan handai taulan kita akan merasa terbebas dari bahaya dan perbuatan yang merugikan.

Barakah keselamatan ini tidak dapat terhitung nilainya. Sebab kita tidak dapat hidup tenang manakala di sekitar kita banyak hal yang membahayakan dan merugikan masyarakat.
Demikianlah, semoga kita dapat hidup dengan memberikan keselamatan masyarakat. Sesungguhnya Allah akan memberikan siksa yang sangat pedih bagi orang-orang yang berbuat aniaya.
Berkata Dzulqarnain: "Adapun orang yang aniaya, maka kami kelak akan mengazabnya, kemudian dia dikembalikan kepada Tuhannya, lalu Tuhan mengazabnya dengan azab yang tidak ada taranya. (Al Kahfi:87)

Kewajiban Manusia Berserah Diri Kepada Allah

Marilah kita senantiasa meningkatkan taqwa kepada Allah SWT dan senantiasa bersyukur karena Allah memberi kita kesempatan untuk mengatasi berbagai musibah dan diberi keteguhan hati dalam menghadapi setiap ujian Allah.

Tidak seorang pun mengharap musibah. Namun musibah tetap datang baik yang bersifat lokal, regional, nasional maupun internasional. Hanya dalam hitungan menit, angin kencang telah merobohkan rumah, tanaman, pepohonan, gardu listrik dan sebagainya, sehingga menimbulkan banyak kerusakan dan kerugian.

Berbagai macam musibah yang datang tidak hanya meluluhlantakkan harta benda, namun juga nyawa manusia. Hanya dalam hitungan detik bumi rusak, manusia kehilangan harta benda, sanak saudara dan hidup dalam kesengsaraan karena penyakit, kurangnya bahan makanan dan sebagainya.

Musibah ini, menunjukkan betapa lemahnya manusia di hadapan Allah SWT. Sehingga semua hal yang dibanggakan manusia di dunia ini, tidak akan ada artinya, manakala Allah SWT menghendaki kehancuranNya.

Namun manusia tidak boleh menyerah begitu saja. Manusia dianugerahi Allah suatu kekuatan yang besar agar mampu menghadapi setiap musibah yang datang. Dengan adanya tolong menolong, saling mengasihi dan berbagi serta saling peduli menjadikan manusia kuat menghadapi setiap musibah.

Musibah memang membuat manusia menderita. Namun dilihat dari sudut mental spiritual, musibah merupakan jalan naik menuju hidup yang lebih baik. Musibah merupakan momentum atau isyarat bagi manusia menuju perubahan. Sebab, musibah memberi peluang kepada kita untuk mempelajari pengalaman menyedihkan, hingga kita menemukan kehidupan sejati dan hakikat keberadaan manusia di alam semesta ini. Allah SWT berfirman dalam surat Al Baqarah, ayat 155-156.

“Sesungguhnya akan Kuberikan kepadamu kecemasan, kelaparan, kekurangan harta dan jiwa serta buah-buahan, tetapi berbahagialah orang yang bersabar,
" yakni orang yang ketika menemui musibah berkata :”Sesungguhnya kita kepunyaan Allah dan kepada-Nya kita akan kembali.”
"Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.

Dalam ayat tersebut disebutkan adanya beberapa ujian yakni:
Pertama, rasa takut. Manusia akan mengalami cobaan rasa khawatir dan takut disebabkan adanya bencana-bencana seperti seperti banjir, longsor dan gempa bumi, kecelakaan pesawat, kapal, dan sebagainya.

Kedua, kelaparan. Akhir-akhir ini kita mendengar berita adanya kurang gizi dan keadaaan rawan pangan di sejumlah tempat. Diantara mereka ada yang makin nasi aking, makan sehari sekali hingga kurus kering.

Ketiga, kemiskinan. Diantara kehidupan kita ada yang fakir dan miskin. Mereka lemah secara ekonomi. Banyak juga diantaranya yang semula berharta jatuh miskin. Allah memberi rezeki kepada siapa pun yang dikehendakiNya dan mencabut harta benda kepada siapapun yang dikehendakiNya.

Kelima, kekurangan jiwa Manusia akan dicoba dengan kematian saudara-saudaranya ataupun orang yang dikasihinya.

Keenam, buah-buahan. Pohon-pohon buah tidak berproduksi secara maksimal disebabkan berbagai hama dan penyakit; sehingga tidak memenuhi kebutuhan manusia.
Setiap musibah pada hakikatnya adalah musibah kita bersama. Yakni apakah kita mampu berbagi dengan mereka dalam memberikan perhatian dan bantuan, ataukah kita akan berdiam diri begitu saja tidak memperdulikan mereka. Musibah memberi perluang kepada manusia untuk menumbuhkan sikap sabar, teguh pendirian, iman dan taqwa. Sebab seringkali karena musibah itulah, manusia menjadi ingat Allah. Dan kita disadarkan bahwa sesungguhnya semuanya milik Allah dan akan kembali kepadaNya.

Ujian sebagaimana yang disebutkan dalam Al Qur'an tersebut sudah mewakili betapa setiap musibah membuat manusia menderita dan terkadang putus asa. Namun Allah menjanjikan kebahagiaan bagi siapapun yang bersabar. Arti bersabar disini adalah tetap teguh di dalam iman dan Islam. Yakni tetap menjalankan ibadah sesuai dengan perintahNya, tidak berburuk sangka kepada Allah dan berputus asa.

Orang-orang saleh membedakan manfaat musibah dengan tiga kelompok.

Pertama, musibah sebagai penebus dan pembebas dosa yang pernah dilakukannya.
Kedua, musibah sebagai pengingat dan penguji kesabaran seseorang.
Ketiga, musibah sebagai tangga naik menuju kualitas hidup yang lebih baik.
Oleh karena itu, ketika musibah menimpa, selain kita pasrah (tawakkal) kepada Allah; kita juga harus berusaha keras agar musibah tersebut tidak terulang kembali. Karenanya, kita pun perlu melakukan muhasabah atau mengevaluasi diri sendiri kiranya dosa dan kesalahan apa yang telah diperbuat pada masa-masa sebelumnya.

Bila secara jujur kita mengakui, maka musibah yang terjadi, merupakan titik tolak agar kita senantiasa memohon ampun; bertaubat kepada Allah dengan sungguh-sungguh dan berusaha memperbaharui hidup kita. Sehingga kehidupan kita di dalam berkeluarga, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara menjadi semakin baik. Namun sebaliknya, bila kita tidak bertobat dan tidak mengadakan perubahan-perubahan ke arah yang lebih baik, bukan tidak mungkin Allah akan menimpakan musibah sebagaimana yang terjadi pada ummat-ummat sebelumnya.

Demikianlah khutbah jum’at kali ini. Mudah-mudahan kita senantiasa ingat atas apa yang telah dilakukan dan berusaha sebaik-baiknya agar kehidupan menjadi lebih baik. Marilah kita mawas diri, gotong royong dan saling menelong di dalam mengatasi berbagai ujian Allah. Marilah kita belajar dari setiap peristiwa yang terjadi di sekitar kita. Janganlah kita berburuk sangka kepada Allah atas setiap musibah. Karena Allah akan memberikan berkah, rahmat dan petunjuk kepada setiap orang yang mawas diri dan tolong menolong. Ya Allah Yang Maha Perkasa, karuniakanlah keteguhan di dalam jiwa kami

Budi Pekerti Sumber Kebajikan

Marilah kita senantiasa meningkatkan iman dan taqwa kita kepada Allah SWT. Yaitu, dengan senantiasa melaksanakan perintah-perintahNya dan menjauhi segala larangan-laranganNya. Sebab dengan iman dan taqwa inilah, manusia akan selamat di dunia dan akhirat.
Seringkali kita merasakan kehidupan begitu kisruh dan kacau. Kerakusan, kedzaliman, saling bertengkar, saling dendam dan berbagai penyakit sosial terjadi dimana-mana. Hukum Tuhan tidak ditaati, dan hukum manusia dipermainkan. Kita makin malas membuka firman-firman Allah, malas mendengar sabda-sabda Nabi, dan banyak mengabaikan kehidupan orang-orang salih.

Akan tetapi keadaan seperti ini bukan akhir segala-galanya. Semuanya bisa berubah sepanjang manusia berkemauan keras untuk berubah. Artinya, kita harus melihat dalam diri kita sendiri hal-hal apa yang merugikan masyarakat, hal-hal apa yang membuat kita jauh dari Allah. Apakah kita semua sudah tidak takut lagi kepada Allah ? Apakah kita semua tidak berharap ridha Allah ? Apakah kita semua menghendaki keadaan yang menyusahkan dan menyesatkan ?

Amal salih merupakan cermin dari ilmu dan budi pekerti manusia yang luhur. Artinya, budi pekerti luhur itulah yang melahirkan amal salih. Manusia yang memiliki ilmu dan budi pekerti luhur, akan selalu istiqamah di dalam melakukan amal salih. Begitu pentingnya budi luhur, sehingga dikatakan Nabi Muhammad bahwa budi luhur itu merupakan sarana yang dapat meringankan hisab kita di hari kiamat. Rasulullah SAW bersabda :

” Tiada hal yang dapat memperingan timbangan seorang hamba yang mukmin kelak di hari kiamat, melainkan “husnul khulq” (budi pekerti yang luhur). Sesungguhnya Allah benci terhadap orang yang keji mulut/kelakuannya. “ (HR Turmudzi).

Budi pekerti yang dimiliki seseorang berkaitan dengan keadaan hati. Oleh karena itu hati harus mendapatkan pendidikan. Sama seperti halnya tubuh, hati juga perlu mendapat makanan. Diantara makanan hati adalah firman-firman Tuhan, bergaul dengan orang-orang yang shaleh dan senang mengahdiri majlis taklim. Jika makanan jasadi menghasilkan tenaga, maka makanan hati (rohani) menghasilkan rasa takut kepada Allah SWT.

Sebaliknya jika hati tidak mendapat makanan, tentu saja hati akan lapar. Laparnya hati lebih berbahaya daripada laparnya perut. Makin lapar hati itu, maka makin rusak pula hatinya. Hati adalah sumber perbuatan. Hati yang rusak, akan menumbuhkan sifat-sifat buruk dan akhirnya melahirkan perbuatan yang buruk pula.

Kerusakan hati, tidak lain disebabkan noda-noda yang terus menumpuk di atasnya. Setiap kali orang berbuat dosa, maka pada hatinya akan terdapat satu titik. Demikian seterusnya, jika perbuatan dosa itu tidak dihentikan, maka makin lama noda-noda tersebut semakin banyak hingga akhirnya sulit dibersihkan.

Untuk membersihkan hati ini tidak ada cara lain selain bertobat, bersungguh-sungguh berhenti dari perbuatan maksiat dan bersungguh-sungguh untuk taat kepada Allah SWT agar sifat-sifat baik yang ada dalam diri manusia terus tumbuh dan berkembang, yang pada akhirnya melahirkan perbuatan-perbuatan baik. Disamping itu, untuk menghindari terulanginya perbuatan dosa, kita harus menjauh dari hal-hal yang dapat menjerumuskan ke dalam perbuatan dosa tersebut.

Jika kita merasa bahwa akhlak yang baik akan memperingan dan menyelamatkan hidup manusia, tentu kita akan sungguh-sungguh berusaha agar kita menjadi orang yang baik. Para orangtua, guru, dan pemimpin akan bersungguh-sungguh memperbaharui akhlak manusia.
Diantara akhlak yang baik itu antara lain :
· takut kepada Allah
· dapat menghargai sesama manusia
· mencintai sesama manusia
· menjaga lidahnya dari ucapan-cupan buruk
· menjaga tangannya dari perbuataan-perbuatan merugikan
· mau meminta maaf dan memberi maaf, dan
· mau mendoakan sesama muslim.
· Beryukur
· Bersegera dalam kebaikan
· Berbelas kasih
· Adil, dan
· Sabar

Kita sama-sama dapat merasakan bagaimana keadaan hidup manusia jika perangai-perangai buruk tumbuh subur di dalam masyarakat. Penipuan, pergaulan bebas, kekejaman, dan saling menindas merebak dimana-mana. Setiap hari, hampir-hampir kita tidak dapat mengatasi masalah, namun justru menambah masalah.

Namun dengan akhlak yang baik, akan muncul amal yang baik pula sehingga Allah memberikan rahmat di dunia dan akhirat. Sesungguhnya Allah tidak menyukai akhlak yang buruk ataupun perbuatan keji (al fawakhis), sebagaimana firman Allah dalam surat Al A'araf ayat 28, yang artinya :

Dan apabila mereka melakukan perbuatan keji, mereka berkata: "Kami mendapati nenek moyang kami mengerjakan yang demikian itu, dan Allah menyuruh kami mengerjakannya. Katakanlah: "Sesungguhnya Allah tidak menyuruh (mengerjakan) perbuatan yang keji." Mengapa kamu mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui?

Diantara fawakhis atau perbuatan keji itu adalah musyrik, zina, khamr, judi, durhaka kepada orangtua, dan pembunuhan.

Oleh karena itu, marilah kita sedikit demi sedikit menghapus sifat-sifat buruk dalam diri kita, sehingga kita senang pada kebaikan dan kebajikan atau amal salih. Janganlah kita meneruskan perilaku-perilaku buruk dari ummat sebelumnya, atau meniru perilaku-perialku buruk yang ada. Ketahuilah, kehidupan ini akan semakin terupuruk manakala perilaku-perilaku buruk dibiarkan merajalela di dalam masyarakat.
Rasulullah SAW bersabda :

"Sesungguhnya termasuk orang-orang pilihan dari kalian adalah orang yang terbaik budi pekertinya (HR. Bukhari)"

Demikianlah khutbah ini. Kita semua berlindung dari perangai-perangai buruk yang dihembuskan oleh hawa nafsu dan setan yang terkutuk.
Dan dengan menjaga hati dan perilaku yang baik, hidup akan terasa aman dan ringan. Insya Allah.

Kehidupan Dunia Menentukan Kehidupan Akhirat

Berdasarkan kisah dikeluarkannya manusia ke bumi, kita tahu bahwa manusia harus hidup di dunia agar dapat kembali ke dalam kehidupan akhirat. Oleh karena itu, manusia harus memanfaatkan kekuatan dan ilmu pengetahuannya agar dunia dapat menjadi sumber kehidupan. Dunia ini adalah tempat ibadah sehingga agama Islam tidak memisahkan kenyataan adanya : "manusia, alam, Tuhan dan ibadah."

Dunia yang terkutuk adalah keseluruhan hal yang menghalangi manusia menaati Allah dan menjauhkan kita dari cinta Allah dan mencari akhirat. Sedangkan akhirat adalah keseluruhan hal yang menyebabkan keridhaan dan kedekatan kita kepada Allah. Meskipun dunia dan akhirat kelihatan saling berlawanan, namun seluruh pesan Allah dan Rasulullah tidak dimaksudkan untuk membenci dunia, melainkan bagaimana manusia memperlakukan dunia. Pemahaman untuk membenci dunia hanyalah dimaksudkan agar manusia berhat-hati, menjaga ketaaatan dan ketaqwaan kepada Allah.

Itulah sebabnya ada perbedaan besar antara Adam as dan Iblis laknatullah. Adam as dikeluarkan bumi sebagai kehendak Allah agar mengelola bumi. Sebaliknya Iblis yang sombong diusir karena murka Allah. Iblis tetap dalam kesombongannya, sementara Adam as hidup sebagai manusia yang taat kepada Allah. Allah menjadikan dunia ini sebagai tempat hidup manusia. Allah berfirman dalam surat Al Hijr, ayat 20 yang artinya :

Dan Kami telah menjadikan untukmu di bumi keperluan-keperluan hidup, dan (Kami menciptakan pula) makhluk-makhluk yang kamu sekali-kali bukan pemberi rezki kepadanya.(Q.S. Al Hijr:20)

Firman ini menunjukkan bahwa kehidupan manusia berhubungan dengan kemampuan manusia di dalam mengelola dunia. Allah menjadikan manusia sebagai makhluk yang mampu bekerja dan mengelola dunia ini dengan sebaik-baiknya. Maha Benar Allah dengan segala firmanNya.

Jikalau tidak berusaha di dunia, maka dunia ini tidak akan memberi apapun pada kita. Sekiranya kita bekerja menurut Allah, maka Allah akan megasihi kita di akhirat. Ingatlah ketika Adam as dikeluarkan dari syurga, ia harus bergelut dengan Iblis supaya terselamatkan dan mempersiapkan bekal untuk akhirat. Dunia ini dipersipakan Allah agar manusia membuktikan darma baktinya kepada Allah. Firman Allah dalam surat Al Mulk, ayat 2 menyebutkan :

"Allah Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun". (Q.S. Al Mulk:2).

Karena rahmat-Nya, Allah membimbing supaya kita meninggalkan kefasikan dan keinginan-keinginan Iblis yang menyesatkan. Tujuannya adalah supaya kita tetap hidup bijaksana, adil dan beribadah di dalam dunia sekarang ini. Di dalam dunia inilah kita menantikan terkabulnya pengharapan kita yang penuh bahagia dan janji-jani Allah Allah Yang Maha Benar.

Melalui rasul-rasulNya, Allah membebaskan kita dari segala kejahatan dan tipu daya Iblis, sehingga kita tidak terserap dalam perangkap iblis yang menjauhkan kita dari ibadah. Sebab apabila manusia terserap dan terikat dengan dunia, ia akan tenggelam, gila dunia dan akhirnya melalaikan ibadah. Oleh karenanya, janganlah mencintai partai, golongan, jabatan, harta kekayaan, dan segala hal yang ada di dunia ini secara berlebih-lebihan melebihi cinta kepada Allah dan rasulNya. Sebab kita akan meninggalkan dunia ini sendirian ke alam baqa'.
Rasulullah SAW bersabda :

Artinya : Hiduplah sesukamu karena engkau pun akan mati, cintailah siapa pun yang engkau kehendaki, karena engkau pun akan berpisah, dan berbuatlah sesukamu karena sesungguhnya engkau akan menerima balasan." (HR. Turmudzi)

Para Rasul adalah orang yang terdekat dengan Allah, namun kedekatan dengan Allah, tidak menghalangi mereka dari pekerjaan-pekerjaan duniawi. Sebab setiap pekerjaan yang tampaknya duniawi pun bisa bermakna ukhrawi manakala dikerjakan dengan niat yang benar dan sesuai syari'at Allah. Bertani, berdagang, dan industri semua ini tampak duniawi, namun bermakna ukhrawi; sebab tanpa adanya pertanian, perdagangan dan industri orang akan kesulitan beribadah.

Sebaliknya segala kegiatan yang tampaknya ukhrawi, bisa turun derajatnya menjadi bernilai duniawi manakala tidak dikerjakan dengan niat yang benar. Ibadah yang dimaksudkan untuk memperoleh pujian, popularitas dan nama adalah egoisme, sehingga tidak selarasa dengan perintah Allah SWT agar kita beribadah secara ikhlash, yakni hanya dipersembahkan kepada Allah.

Bagi orang yang beriman dan bertaqwa dunia harus dikelola dengan baik agar dapat mengantarkan kita kepada kehidupan akhirat yang baik. Semua ini hanya terwujud manakala kita melaksanakan perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-laranganNya.

"Dan dikatakan kepada orang-orang yang bertakwa: "Apakah yang telah diturunkan oleh Tuhanmu?" Mereka menjawab: "(Allah telah menurunkan) kebaikan". Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini mendapat (pembalasan) yang baik. Dan sesungguhnya kampung akhirat adalah lebih baik dan itulah sebaik-baik tempat bagi orang yang bertakwa,(Q.S. An Nahl:30)"

"Kampung akhirat" dalam ayat juga berlaku bagi dunia sekarang ini, karena sesungguhnya kita tidak akan mendapat apapun di akhirat manakala kita tidak beribadah kepada Allah di dunia ini.
Marilah kita bersungguh-sungguh membuat dunia ini sebagai tempat menanam kebaikan. Marilah kita selamatkan diri dan keluarga kita dari siksa neraka. Sesungguhnya Allah akan membalas setiap perbuatan yang dilakukan manusia.

"Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya.
Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya pula".

Jalan Menuju Kesejahteraan

Marilah bertaqwa karena sebagai hamba Allah, kita wajib menempuh jalan taqwa agar kehidupan kita mendapat ridha Allah. Diantara ketaqwaan itu ialah kita bekerja dengan sungguh-sungguh agar membawa kebaikan bagi sesama manusia.
Allah SWT berfirman dalam surat Al Jumu'aj, ayat 10.

"Apabila telah ditunaikan sembahyang, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung".

Ada lima syarat yang harus dipenuhi oleh seorang muslim di dalam bekerja.
Pertama: niat, yaitu setiap pekerjaan akan bernilai ibadah jika disertai niat ikhlas semata-mata melaksanakan perintah Allah. Seorang petani misalnya, bekerja supaya memperoleh hasil, yang mana hasil pertanian itu dipergunakan untuk mencukupi kebutuhan keluarga dan menjadi sarana beribadah kepada Allah.

Kedua : perkara yang dikerjakan harus sah. Karena melaksanakan perintah Allah, maka seorang petani tidak menanam tanaman yang tidak sah dan halal menurut syari'at Islam ataupun hukum Negara.

Ketiga : cara. Cara memperoleh hasil dilakukan dengan tidak melanggar hukum seperti menipu, mencuri dan sejenisnya.

Kempat : natijah, yaitu hasilnya dipergunakan untuk kebaikan. Ketika seseorang berhasil di dalam usahanya, Allah SWT menetapkan agar jerih payahnya dinafkahkan di jalan Allah untuk mendapatkan pahalaNya, seperti mencukupi kebutuhan keluarga dan membantu fakir miskin serta tidak dipergunakan untuk kemaksiatan. Perintah ini mengarahkan kita mengelola hasil-hasil usaha secara tepat guna (efektif). Jangan sampai apa yang diusahakannya dengan susah payah tersebut hasilnya justru merugikan diri sendiri dan masyarakat karena tidak dipergunakan untuk menambah ketaqwaan.

Kelima : tidak meninggalkan ibadah pokok (fardhu ain): Dalam kesibukan usaha baik itu dalam perdagangan, kantoran, buruh, mencari ilmu, pertanian dan lainnya, tidak boleh meninggalkan ibadah pokok seperti shalat lima waktu. Tidak pula melupakan ibadah lain seperti zakat, infak, sedekah, shalat sunnat, shalat berjmaah, membaca Al Qur'an dan sebagainya.

Allah memerintahkan agar kita bekerja keras. Kerja keras dengan syarat-syarat yang ditetapkan oleh agama, Insya Allah akan membawa kita pada kesejahteraan. Namun janganlah kita mengukur kesejahteraan itu semata-mata dengan banyaknya hasil yang diperoleh. Karena kesejahteraan sesungguhnya bersumber dari kemampuan kita menerima pemberian Allah seraya mempergunakan karunia Allah untuk kemaslahatan.

Dengan bekerja sesuai ketentuan syari'at, berarti tidak merugikan orang lain dan senantiasa ditujukan sebagai pengabdian kepada Allah sehingga kita akan merasa tenteram dan dapat menjaga kebaikan hidup bersama. Imam 'Ali bin Thalib menyatakan bahwa orang yang beriman adalah orang yang suka bekerja dan tidak merugikan sesamanya. Artinya, kesejahteraan bersama, tidak bisa ditempuh tanpa disiplin, kerja keras dan niat baik.

Orang yang beriman juga adalah orang yang sungguh-sungguh yakin terhadap Allah, sehingga orang yang beriman senantiasa bekerja dengan baik dan tidak merugikan orang lain. Oleh karena itu jagalah kemampuan dan kekuatan itu untuk membangun kehidupan yang lebih baik. Janganlah mempergunakan kekuatan untuk kedzaliman.
Rasulullah SAW bersabda :

"Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang mukmin yang bergerak/bekerja (HR. Thabrani)." Dalam sabdanya yang lain disebutkan :

" Barangsiapa yang mencari dunia dengan cara halal untuk menjauhkan dirinya dari mengemis, menjaga harga diri keluarganya dan berbelas kasih kepada tetangga (sesama), maka ia akan bertemu Allah dan wajahnya bersinar seperti bulan purnama (HR. Baihaqi).

Allah SWT memerintahkan agar tidak melanggar batasan-batasan Allah. Jika manusia melanggar, pasti manusia akan seling merusak dan kehidupan akan diliputi dengan permainan kotor. Allah SWT berfirman dalam surat An Nisa, ayat 13 yang artinya :

"(Hukum-hukum tersebut) itu adalah ketentuan-ketentuan dari Allah. Barangsiapa ta`at kepada Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam surga yang mengalir di dalamnya sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah kemenangan yang besar."

Firman Allah ini menyatakan dengan jelas akibat melampaui batas.
Pertama, jika melampaui batas, maka kita tidak akan mendapatkan syurga atau kebahagiaan, baik di dunia maupun akhirat. Tindakan yang melanggar aturan, hukum dan perasaan manusia, pada akhiranya akan menyengsarakan kehidupan bersama.

Kedua, Jika semua orang bertindak melampaui batas dan kemudian menjadi budaya masyarakat, maka kita tidak bisa mewujudkan kehidupan yang lebih baik. Sebaliknya kehidupan kita akan dipenuhi dengan masalah-masalah kemasyarakatan yang sulit diatasi, sehingga tenaga, pikiran, dan kekayaan kita habis untuk mengatasi masalah-masalah yang terjadi.
Marilah kita berusaha sungguh-sungguh agar kehidupan ini semakin baik. Janganlah kita mementingkan diri sendiri dengan menghancurkan kehidupan bersama. Setiap perbuatan yang melampaui batas, tidak saja berakibat pada diri sendiri, melainkan pada seluruh kehidupan masyarakat. Ingatlah akan negeri Saba' yang makmur, namun dihancurkan Allah karena disebabkan perbuatan-perbuatan manusia.

Dan marilah kita memperhatikan batasan-batasan ataupun aturan-aturan. Apabila nilai-nilai moral yang menjamin kehidupan bersama dijaga dan dilaksanakan serta orang bekerja sesuai dengan hukum yang berlaku, maka Allah akan menganugerahi kesejahteraan dan ampunan.
"Sesungguhnya bagi kaum Saba' ada tanda (kekuasaan Tuhan) di tempat kediaman mereka yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri. (Kepada mereka dikatakan): "Makanlah olehmu dari rezki yang (dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Tuhanmu) adalah Tuhan Yang Maha Pengampun". "