Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan

Senin, Juni 08, 2009

Mempermudah Anak Memperoleh Pendidikan

Ketahuilah bahwa sebagian kewajiban ummat Islam yang telah berkeluarga dan berumah tangga adalah mendidik dan menagatur rumah tangganya. Rumah tangga ini ibarat Negara kecil. Oleh karena itu wajib bagi orangtua dan siapapun yang diberi wasiat mendidik anak supaya selamat dunia akhirat dengan mengajari ilmu fikih dan syari'at, tauhid dan budi pekerti yang baik.

Allah SWT berfirman dalam surat at Tahrim, ayat 6.
"Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan."

Orangtua setidaknya mengerti tentang tata cara shalat, bersuci dan hukum-hukum ibadah keseharian. Kalau orangtua tidak membekali diri dengan ilmu-ilmu ini, akan ditanyakan di akhirat sebagai tanggungjawab setiap orangtua. Rasulullah SAW bersabda :

"Setiap diri kalian adalah pengatur (pemimpin) dan akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang diaturnya. Seorang iman adalah orang yang berwenang mengatur baik buruknya orang yang diatur, dan akan dimintai pertanggungjawabannya. Dan seorang laki-laki (kepala rumah tangga) adalah pengatur keluarganya dan akan dimintai pertanggungjawaban atas orang yang diaturnya."(HR. Bukhari)

Jika kita mendidik dengan agama dan akhlak, yang bahagia bukan anak-anak saja, melainkan juga orangtua, masyarakat dan lingkungannya. Sebaliknya, jika anak tidak mengerti agama, dia tidak akan bisa dijamin akhlaknya, sehingga mungkin menyusahkan orangtua, masyarakat dan lingkungannya. Orangtua yang mengajarkan agama dan akhlak yang baik kepada anak-anaknya, akan mendapatkan syafa'at (pertolongan)nya. Rasulullah SAW bersabda :

"Wahai kaum muslimin semua, barangsiapa yang diberi rezki Allah berupa anak, maka wajib baginya mebeguskan akhlak dan mendidiknya. Sesungguhnya barangsiapa yang mendidik anaknya memperbagus akhalak anaknya, maka Allah akan memberi rezeki berupa syafa'at (pertolongan)Nya. Dan barangsiapa yang meninggalkan anaknya dalam keadaan menjadi orang bodoh, maka seakan-akan ia menanggung segala amal perbuatan anaknya."(HR. Bukhari)

Hendaknya kita jangan menyepelekan pendidikan agama terhadap anak-anaknya. Sebab, satu-satunya sumber budi pekerti dan akhlak adalah agama. Jika kita meninggalkan anak-anak dalam keadaan bodoh alias tidak mengerti mana yang benar dan mana yang salah, mana yang haq dan mana yang bathil, mana halal mana haram, maka siksa Allah bukan saja ditanggung oleh anak-anaknya, melainkan orangtua pun merasakannya. Sebaliknya jika anak-anak memiliki ilmu pengetahuan dan akhlak al karimah, maka bukan saja anak yang mendapatkan keuntungan, melainkan orangtuanya pun demikian.

Namun, tidak semua orangtua dapat mendidik anak-anaknya secara langsung dan terus menerus. Oleh karena itu orangtua dapat memasrahkan kepada para ustadz, para guru, kyai atau di lembaga pendidikan agama seperti Taman Pendidikan Al Qur'an (TPQ). Mengingat betapa pentingnya pendidikan agama bagi anak-anak, maka seharusnya kita gotong royong membangun dan mengembangkan lembaga pendidikan agama. Kita dapat memanfaatkan mushalla, surau, masjid dan ruang sekolah untuk belajar agama di waktu-waktu tertentu seperti sesudah maghrib dan subuh atau di waktu sore hari.

Demikian pula, terkadang tidak semua orangtua memiliki biaya yang cukup untuk kebutuhan pendidikan anak-anaknya. Oleh karenanya, biaya pendidikan dapat diambil dari uang zakat sebagai zakat ta'jil. Jika kita bersama-sama mendukung kegiatan pendidikan agama dengan menggiatkan zakat, infak dan sedekah, niscaya di setiap desa tidak akan mengalami kesulitan di dalam membiayai pendidikan anak. Pemberian zakat, infak dan sedekah untuk pendidikan jauh lebih penting daripada pemberian yang bersifat konsumtif dikarenakan pendidikan merupakan fondasi maju mundurnya masyarakat. Disamping itu, pentasarufan zakat, infak dan sedekah (ZIS) untuk pendidikan memiliki manfaat jangka panjang.

Sungguh beruntung orang-orang yang mau gotong royong membiayai anak-anak Islam yang mencari ilmu. Jika anak-anak Islam tidak memperoleh pendidikan yang memadai, maka ummat Islam akan tetap berada dalam kebodohan. Akibatnya ummat Islam tidak akan mampu membangun dunia, melainkan hanya mengekor peradaban-peradaban asing. Ketahuilah, kemajuan ummat Islam di masa Rasulullah, para sahabat dan tabi'in hingga akhir abad ke-15 M, tidak lain disebabkan ummat Islam bergotong royong jihad fi sabilillah dalam bidang ilmu pengetahuan dan pendidikan.

Allah berfirman dalam surat Al Baqarah, ayat 261, yang artinya :
"Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir: seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (kurnia-Nya) lagi Maha Mengetahui."
Dalam sebuah hadist, Rasulullah SAW bersabda :

"Barangsiapa siapa memberikan nafkah satu dirham kepada orang yang mencari ilmu, maka seakan-akan ia menafkahkan emas merah (24 karat) segunung Uhud di jalan Allah (HR. Bukhari)."

Semoga kita mendapat barakah dan kebaikan dunia akhirat atas usaha-usaha kita mempermudah anak-anak Islam memperoleh pendidikan.

Memanfaatkan Senja Keluarga

Allah SWT memerintahkan kepada hambaNya agar senantiasa memperhatikan keluarganya. Bentuk perhatian ini tidak saja diwujudkan dengan memenuhi kebutuhan sehari-hari seperti pangan, sandang dan kesehatan. Allah SWT memerintahkan orang-orang yang beriman agar menjaga diri dan keluarganya dari api neraka.

"Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan (Q.S. At Tahrim:6)"

Untuk mewujudkan perintah ini, kita memerlukan usaha yang serius agar keluarga kita terbebas dari siksa neraka yang dahsyat. Diantara usaha ini adalah meningkatkan pendidikan iman dan taqwa di dalam keluarga melalui senja keluarga yang diisi dengan kegiatan membaca dan memahami kitab suci Al Qur'an.

Kegiatan membaca dan memahami firman Allah SWT dapat dilakukan dengan anggota keluarga ataupun teman-teman sebaya. Kita ambil contoh waktu Maghrib. Sesudah shalat berjama'ah maghrib kita dapat berkumpul dengan keluarga untuk membaca Al Qur'an dan terjemahannya beberapa ayat. Tidak hanya membaca Al Qur'an, saat-saat bersama keluarga juga dapat digunakan untuk berdiskusi dan membicarakan hal-hal yang berhubungan dengan iman dan taqwa kita.

Waktu Maghrib, merupakan salah satu waktu yang tepat untuk berkomunikasi dengan keluarga. Keluarga bisa berkumpul di rumah. Kalau tidak shalat jama'aah di masjid, atau mushalla, bisa shalat berjama'ah di rumah, berdzikir dan membaca Al Qur'an beserta terjemahannya.

Pada saat membaca Al Qur'an inilah, kita dapat merenungi sikap dan perbuatan dalam aktifitas sehari-hari : apakah lebih baik, ataukah lebih buruk, ataukah biasa-biasa saja tanpa perubahan. Umpamanya seorang pedagang : apakah timbangannya lebih baik, tidak curang ataukah curang. Renungan yang dilakukan terus menerus ini akan memberi pencerahan dalam pikiran dan jiwa kita sehingga terdorong untuk melakukan hal-hal yang lebih baik bagi keluarga dan orang lain.
"Senja Keluarga" yang telah menjadi himbauan pemerintah daerah Kab. Wonosobo dan telah disepakati oleh tokoh-tokoh agama, merupakan usaha meningkatkan kualitas iman dan taqwa di dalam keluarga. Meskipun hanya satu hingga satu setengah jam setiap harinya, namun jika setiap keluarga membiasakan diri dalam pertemuan keluarga disertai membaca dan memahami firman-firman Allah, niscaya Allah akan menganugerahkan barakah yang sangat banyak di dalam keluarga.

Allah SWT berfirman dalam surat Shaad, ayat 29 :
"Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran."

Barakah yang diperoleh dari Al Qur'an adalah barakah rohani. Dengan sering membaca dan memahami firman-firman-Nya, hati dan pikiran kita akan dituntun pada kebenaran, sehingga di dalam setiap aktifitas kehidupan kita, senantiasa menempuh jalan kebenaran yang diridhai Allah SWT. Jika orang-orang yang beriman menempuh jalan lurus, sudah barang tentu kehidupan di dalam keluarga maupun masyarakat akan semakin lebih baik. Hanya ketaatan kepada Allah dan rasulNya yang akan menjamin kesejahteraan dan kebajikan di dalam kehidupan kita.

Rasa takut kita kepada Allah, akan menuntun kita memperbaiki hidup dan terus berusaha meningkatkan kehidupan yang lebih baik. Sebab Allah sama sekali tidak pernah memerintahkan berbuat keji yang mengakibatkan kerugian dan kerusakan di dalam diri, keluarga, masyarakat, bangsa dan Negara. Allah SWT berfirman dalam surat Al A'raf, ayat 28, yang artinya :
Dan apabila mereka melakukan perbuatan keji, mereka berkata: "Kami mendapati nenek moyang kami mengerjakan yang demikian itu, dan Allah menyuruh kami mengerjakannya. Katakanlah: "Sesungguhnya Allah tidak menyuruh (mengerjakan) perbuatan yang keji." Mengapa kamu mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui?


Kalau kita membiasakan berkumpul bersama keluarga dalam komunikasi yang berkualitas, tentu sangat bermanfaat. Hubungan antara orangtua dan anak yang semula renggang bisa diperbaiki, hubungan antara suami-isteri yang kurang harmonis pun dapat diperbaharui dalam iman dan taqwa. Keluarga yang membiasakan membaca Al Qur'an, Insya Allah akan mendapat banyak barakah. Barakah ini tidak harus dalam bentuk material, namun juga hal lain seperti kesehatan, ampunan Allah, do'a para malaikat, harmoni keluarga dan anak-anak yang berakhlak al karimah. Kekayaan berupa budi pekerti mulia anak-anak kita; tidak ternilai dengan uang.

Dan hendaknya kita membiasakan membaca Al Qur'an. Rasulullah SAW bersabda :
"Orang yang membaca al Qur'an dan mengamlaknnya kelak di hari kiamat akan dikumpulkan bersama dengan orang-orang yang mulia. Dan orang yang membaca Al Qur'an dengan gagap dan agak berat lidahnya, maka baginya tetap mendapatkan pahala." (HR. Bukhari).

Oleh karena itu, marilah kita istiqamah di dalam membangun kualitas keluarga melalui kegiatan senja keluarga. Hal ini demi kebaikan anak-anak dan keluarga kita. Marilah kita laksanakan tanpa merasa terpaksa guna menjaga iman dan taqwa keluarga kita.Ya Allah, jadikanlah Al Qur'an syafa'at dan penutup atas segala aib. Dan jadikanlah Al Qur'an penerang di dalam kegelapan akhirat. Ya Allah, karuniakanlah rahmat Al Qur'an kepada kami. Amin Ya Rabb al alamin

Membangun Generasi yang Kuat

Ada sejumlah anak yang mudah putus asa, rendah diri, dan selalu kebingungan. Sebagai akibatnya, ia mudah terjerumus di dalam kesesatan. Ia terjebak narkotika, berani melawan orangtua, suka menipu orangtua dan penyimpangan sosial lainnya.

Semua capaian hidup kita akan hilang begitu saja manakala generasi di belakang kita adalah generasi dengan penyakit rohani yang kompleks. Segala jerih payah orangtua baik harta benda, kedudukan maupun pangkat menjadi sirna begitu saja manakala kita diuji dengan berbagai penyimpangan sosial akibat perilaku anak-anak.

Allah SWT memerintahkan kita agar memeprsiapkan generasi yang kuat lahir batin sebagaimana termaktub dalam surat al Nisa', ayat 4 :

"Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar."

Pemahaman kita pada generasi yang kuat bukanlah sekedar pada fisik atau tubuhnya saja. Melainkan lebih penting pada kekuatan mental. Di dalam sejarah kenabian disebutkan, ada seorang keturunan Bani Israil yang bernama Simson atau Sam'un. Dia memiliki kekuatan tubuh yang luar biasa. Tubuhnya kekar dan dia tumbuh menjadi seorang pemuda yang gagah berani di masa itu. Hal ini bukan saja karena otot-ototnya yang kekar, melainkan karena orangtuanya telah bernazar dengan Allah agar Simson menjadi abdi Allah yang setia. Allah mengabulkan nazarnya dan menganugerahi Simson keperkasaan tubuh untuk melawan kebathilan. Di kemudian hari, Simson menjadi pembesar Bani Israil. Meskipun ia memiliki kedigdayaan, namun kenyataannya, dia adalah seorang yang lemah.

Kekuatan Simson runtuh manakala ia tidak menuruti perintah-perintah Allah. Dikisahkan bahwa ia bergaul dengan para penyembah berhala, peminum khamr, dan orang-orang durhaka yang akhirnya merusak dirinya. Di puncak pergaulannya, ia terjerumus dalam tipu daya perempuan yang telah memperbudaknya menjadi orang lemah dikarenakan ia telah dikendalikan oleh perempuan durhaka. Ia tidak memiliki lagi kekuatan pikiran dan jiwanya untuk tunduk kepada Allah. Sebaliknya ia tunduk kepada perempuan yang durhaka kepada Allah. Berharap pada kekuatannya yang besar, ternyata ia tersungkur oleh pengaruh-pengaruh perempuan yang memanjakan nafsu bejat. Di hadapan perempuan yang durhaka itu, Sismon memperlihatkan rahasia kekuatannya. Sekiranya Simson tetap berpegang teguh pada aqidah dan tidak memperlihatkan rahasia kepada si wanita, tentu ia terselamatkan dari tipu daya syetan yang hendak meruntuhkan mukjizatnya.

Selama ribuan tahun, manusia bergelut melawan tipu daya syetan melalui berbagai cara. Sebagai orangtua, kita berkewajiban menjauhkan anak-anak dari segala tipu daya syetan supaya tidak tersesat dari jalanNya. Kesesatan adalah suatu kelemahan, karena hanya akan mengantarkan kesengsaraan manusia di dunia dan akhirat. Kelemahan, kesesatan dan kedurhakaan inilah yang dikehendaki oleh syetan agar manusia menjadi golongannya.

Ketika syetan telah berkuasa di dalam diri kita, maka sudah pasti kita akan lupa dengan Allah SWT. Sehingga manusia tidak memiliki sedikitpun kekuatan untuk beribadah kepada Allah SWT. Allah SWT berfirman dalam surat Al Mujadalah, ayat 19 :
"Syaitan telah menguasai mereka lalu menjadikan mereka lupa mengingat Allah; mereka itulah golongan syaitan. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan syaitan itulah golongan yang merugi."

Agama yang sejati mengajarkan kita supaya menjauhkan sama sekali segala hal yang membahayakan serta menggunakan dengan bijaksana segala hal yang menyehatkan. Perintah-perintah Allah sudah pasti tidak membahayakan, sebaliknya larangan-larangan Allah sudah pasti membahayakan.

Untuk memastikan anak yang kita terima dari Allah itu memiliki kekuatan yang sejati, kebiasaan-kebiasaan anak harus diatur dengan seksama. Orangtua, apakah ibu, ayah atau guru berperan dalam membiasakan kebaikan ataupun keburukan anak-anak. Setiap hari anak belajar dalam setiap kesempatan. Tidur, makan, berbicara, mengenakan pakaian bahkan buang air kecil pun anak-anak belajar dari apa yang diajarkan oleh orangtua.

Setiap orangtua memiliki dorongan untuk memperkuat anaknya. Orangtua yang bijaksana dan tunduk pada Allah memperkuat anaknya dengan membiasakan kehidupan yang tunduk kepada Allah juga. Orangtua terlibat dalam tanggungjawab ini. Sehingga seringkali akibat dari kelalaian orangtua, anak-anak memiliki kekurangan jasmani dan rohani. Akibatnya anak-anak secara mental dan moral lemah. Orang yang tidak bermoral atau tidak tunduk kepada Allah dan rasulNya, seringkali mewariskan kecenderungan-kecenderungan a-susila kepada keturunannya ataupun lingkungannya.

Kecenderungan setiap generasi untuk jauh lebih merosot ke dalam jurang kehancuran makin tampak karena tidak adanya penguatan moral, iman dan mental. Oleh karenanya, ketika Tuhan berpesan agar kita tidak meninggalkan generasi yang lemah, maka pesan ini sesungguhnya tidak selalu berhubungan dengan anak-anak yang memiliki tubuh besar, otot kuat dan bisa mengalahkan lawan-lawannya. Namun sesungguhnya Allah sedang berbicara kepada kita mengenai generasi yang memiliki kekuatan jiwa untuk membangun diri, keluarga, masyarakat bangsa dan Negara. Dan kekuatan jiwa ini dapat kita tumbuhkan melalui pelatihan dan pembiasaan untuk senantiasa tunduk kepada Allah dan rasulNya.

Akhirnya, semoga harapan kita sebagai orang tua, dapat mewujudkan kewajiban kita sebagai orangtua dalam mempersiapkan generasi yang kuat lahir batin. Ingatlah wahai saudaraku, generasi yang kuat mental dan pikirannya tidak akan terwujud tanpa pendidikan yang memadai. Demikian pula, generasi yang sehat/kuat tubuhnya, tidak akan terwujud manakala kita tidak memperhatikan makanan yang halal dan thayyib.

Sesungguhnya bukanlah orang yang kuat adalah orang yang menang dalam bergulat, tetapi orang yang kuat adalah orang yang mampu memenangkan pertempuran melawan hawa nafsunya. Dengan demikian, generasi yang kuat adalah generasi yang memiliki iman, cerdas emosi dan cerdas spiritual serta beramal shaleh. Generasi seperi inilah yang akan menjadi barakah dalam kehidupan kita.

Menumbuhkan Gemar Membaca

Marilah kita bertaqwa kepada Allah dengan sungguh-sungguh melaksanakan perintah-perintah Allah dan rasulNya. Sesungguhnya taqwa menyelamatkan manusia dari kehancuran.

Ilmu diperoleh dengan belajar. Membaca merupakan usaha yang paling utama. Untuk bisa membaca tulisan seseorang harus terlebih dahulu mengenal huruf. Meskipun demikian, membaca tidak hanya dipahami dengan membaca tulisan. Termasuk di dalam kegiatan membaca adalah memperhatikan alam semesta ataupun meneliti peristiwa atau kejadian-kejadian di sekitar kita.
Allah SWT berfirman di dalam surat al 'Alaq ayat 1 :

"Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan.,"
Perintah Allah ini menunjukkan bahwa setiap orang Islam harus benar-benar mampu dan gemar membaca. Siapapun yang gemar membaca akan bertambah ilmu pengetahuannya, meningkat wawasan dan pemahamannya di dalam kehidupan; sehingga menumbuhkan semangat menjalani kehidupan di dunia ini. Membaca berarti membuka jendela kehidupan dunia dengan penguasaan informasi, ilmu pengetahuan dan sekaligus membuat langkah awal kebudayaan dan peradaban.

Peran keluarga sangat penting di dalam menumbuhkan rasa senang membaca di dalam diri anak-anak. Umpamanya, dengan mmeberi hadiah buku bagi anak-anak ketika naik kelas. Orangtua juga harus menjauhkan anak-anak dari membaca buku-buku, majalah, dan informasi yang merusak hati dan pikirannya.

Anak-anak sejak dini perlu kita didik agar senang membeli buku dan membaca, sebab menuntut ilmu bagi setiap muslim hukumnya wajib. Rasulullah SAW bersabda :

"Mencari ilmu, hukumnya wajib bagi setiap orang Islam laki-laki dan perempuan," (HR. Bukhari)

Untuk menumbuhkan semangat membaca di dalam keluarga, orangtua pun seyogyanya gemar membaca. Apa saja yang dilakukan orangtua seringkali ditiru anak-anaknya. Maka sangat baik manakala orangtua juga memberi contoh membaca. Misalnya, orangtua senangnya ngobrol dan menonton TV siang amalam, tentu anak-anak akan malas-malasan apabila diperintah membaca buku atau pun belajar. Sebaliknya jika orangtua gemar membaca, Insya-Allah, anak-anak pun akan gemar membaca dan mudah diarahkan agar gemar membaca.

Namun demikian, orangtua pun tidak dapat seratus persen berhasil menumbuhkan kegemaran membaca pada anak-anaknya. Kita memerlukan pendukung berupa sarana – prasarana baik di dalam keluarga ataupun lingkungan. Kita dapat menyisihkan sebagian kecil penghasilan untuk membelikan buku anak-anaknya, setidaknya setahun dua kali. Seorang pakar Belanda, Erasmus Huis, menyatakan bahwa sebaiknya sejak usia 11 tahun, seorang anak telah memiliki perpustakaan sendiri.

Usaha meningkatkan gemar membaca juga dapat dilakukan di lingkungan masing-masing. Kita bisa bergotong royong membuat perpustakaan masjid, perpustakaan desa, ataupun kelompok membaca yang terdiri dari 5-10 orang. Buku-buku yang dimiliki, bisa dibaca secara bergiliran.
Pendidikan membaca baik di dalam keluarga maupun di luar keluarga ini menjadi sarana yang tepat untuk mengembangkan kekuatan dasar manusia yaitu ilmu pengetahuan dan budi pekerti. Tanpa membaca manusia tidak akan memiliki ilmu pengetahuan. Tanpa ilmu pengetahuan, manusia akan tersesat.

Membaca merupakan perintah Allah. Karenanya tidak bijaksana, apabila ummat Islam tidak memiliki budaya membaca yang tinggi. Kita semua dapat saling mendukung dalam setiap usaha meningkat minat baca di kalangan ummat Islam. Karena

Diantara usaha itu adalah dengan mengajak keluarga, teman atau tetangga untuk membaca di perpustakaan desa. Demikian pula kita dapat menyelenggarakan perpusatakaan desa/perpustakan masjid. Perpustakaan ini dapat menjadi sarana hiburan yang murah dan efektif sekaligus dapat menambah wawasan dan meningkatkan kesadaran akan arti pentingnya informasi dan ilmu pengetahuan.

Usaha mengembangkan minat baca ini memang tidak dapat diketahui hasilnya dalam waktu 1-2 tahun. Usaha ini adalah usaha meningkatkan akal budi dan perdaban manusia, sehingga hasilnya mungkin baru dapat terlihat setelah 20 tahun. Namun kita semua yakin, anak-anak yang tumbuh dalam ilmu pengetahuan dan budi pekerti yang luhur, akan menjadi berkah bagi dunia. Rasulullah SAW bersabda bahwa kehidupan dunia dan akhirat hanya bisa didapatkan dengan ilmu pengetahuan.

"Bararangsiapa menghendaki kehidupan dunia, maka wajib baginya berbekal ilmu. Dan barangsia menghendaki kehidupan akhirat, maka wajib baginya berbekal ilmu. Dan barangsiapa menghendaki kehidupan dua-duannya, maka wajib baginya berbekal ilmu."(HR. Bukahri)
Dengan memahami bahwa Rasulullah SAW berjuang tidak kenal lelah di dalam melahirkan ummat yang terbaik di dunia, maka kita sepatutnya menyadari bahwa kita sama sekali tidak menginginkan anak-anak tumbuh dalam kebodohan dan tidak memiliki akal budi.

Kita semua akan ditimpa kehinaan baik di dunia maupun di akhirat, manakala ummat Islam menjadi ummat yang bodoh dan tidak memiliki akal budi. Na'udzubillahi min dzalik. Oleh karenanya marilah kita terus berusaha baik di dalam keluarga, di dalam sekolah maupun di dalam lingkungan kita, untuk bersama-sama meningkatkan kegemaran membaca di kalangan anak-anak kita. Kita semua yakin, usaha ini merupakan ibadah kepada Allah dan pasti kita akan mendapatkan hasilnya baik di dunia maupun di akhirat.

Akhirnya, semoga kita sebagai orangtua dapat melaksanakan kewajiban kita di dalam mempersiapkan generasi yang memiliki ilmu pengetahuan dan akal budi. Ya Allah jangan jadikan kami orang-orang yang bodoh, dan jangan Engkau bebani kami atas dosa-dosa kebodohan anak-anak kami. Amin Ya rabb al' alamin.

Menghindari Bahaya TV

"Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman : " Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih baik bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat" (Q.S.24:30).

Televisi sesungguhnya ibarat sebuah rumah. Di dalam rumah biasanya ada tempat sampah untuk membuang kotoran dan segala hal yang tidak berguna bagi penghuni rumah. Demikian pula televisi. Bukan mustahil di dalam acara-acara televisi terdapat hal-hal yang kurang baik bagi perkembangan jiwa manusia, terutama perkembangan jiwa anak-anak sehingga harus dihindari.

Oleh karenanya cara pandang kita terhadap TV seharusnya lebih bijaksana. Yakni, kita tidak membiarkan anak-anak kita habis waktunya hanya untuk menonton TV seraya mengabaikan kegiatan yang lebih berguna seperti belajar dan mengaji. Orangtua seharusnya mempertimbangkan mana acara TV yang bermanfaat dan tidak bagi perkembangan jiwa anak. Sebab anak merupakan penjiplak paling hebat di dunia. Anak akan menirukan segala hal yang dilihat dan didengar, sehingga manakala orangtua tidak mengawasi dan memberikan bimbingan, mereka tidak akan mengetahui apa yang baik dan buruk.

Ada beberapa hal yang menyebabkan acara TV membahayakan :
1. Sebagian besar acara TV bertentangan dengan ruh dan akidah Islam.
2. Merangsang nafsu birahi anak-anak dan mengandung perbuatan keji dan dosa besar.
3. Merusak pendidikan anak-anak yang telah diberikan oleh karena keluarga yang saleh dan shalehah karena model-model perilaku yang ditampilkan TV memliki pengaruh yang kuat dan tajam terhadap pola perilaku yang menyimpang.
4. Sebagian besar acara TV tidak memiliki tujuan pendidikan Islam.
5. Anak-anak terpengaruh baik perkataan maupun perbuatan.

Acara-acara TV yang sedemikian bebas, mengakibatkan aqidah manusia menjadi rapuh, sehingga anak-anak tidak meyakini syari'at Allah, kurang amal shaleh dan kemakshiatan semakin merajelala. Banyak anak yang meninggalkan shalat, meninggalkan ngaji dan salah pergaulan. Juga banyak saudara-suadara kita yang menginjak remaja, sudah dewasa bahkan menjadi orangtua mengabaikan Allah dan RasulNya.

Di waktu kecil anak-anak kita sudah mendapatkan pendidikan yang kuat. Mereka mengaji dan shalat, namun ketika menginjak remaja, seringkali timbul masalah baru akibat pengaruh-pengaruh buruk dari TV. Banyak anak kita hidup dengan cara apa yang dilihat di TV. Mereka menjadikan tontonan menjadi tuntunan hidup.

Sebagai orangtua, kita perlu mewaspadai perilaku anak yang menjurus pada ketidak hati-hatian dan menyimpang dari agama.

Sesungguhnya anak belum mampu memilah apa yang seharusnya menjadi perhatiannya. Rasa kagum pada sesuatu, akan membuat hatinya terpengaruh dan membutakan hatinya untuk melihat segala sesuatu secara benar.

Perasaan kagum ini bisa melalui media seperti tontonan TV, Gambar-gambar iklan dan hiburan-hiburan atau segala jenis tontonan lainnya. Mereka kagum pada apa yang digambarkan oleh media ataupun panggung-panggung hiburan. Mereka kagum dan meniru pada apa yang dipertontonkan

Akibat pengaruh buruk ini, dapat menipiskan rasa percaya diri, merapuhkan aqidah dan melemahkan iman kepada Allah SWT. Seakan-akan hidup merasa kurang dan tidak berharga apabila tidak hidup dengan cara seperti apa yang dilihat dalam tontonan. Citra diri manusia seperti ini, bukan tidak mungkin menumbuhkan kebencian terhadap tata karma agama, bahkan membuka kemungkinan timbulnya cinta pada budaya dan tata krama yang jauh di luar tuntunan Al Qur'an dan Sunnah Rasulullah SAW.

Anak-anak atau lebih luas lagi kaum musliminin tidak lagi mengindahkan Al Qur'an dan Sunnah Rasulullah SAW. Sebaliknya justru mengutamakan "teladan" yang dipertontonkan TV, film, dan media massa lainnya. Maka tidak heran, jika dunia Islam pun dilanda cara hidup yang mengutamakan bersenang-senang, mementingkan diri sendiri perzinaan, narkoba, minuman keras dan sebagainya.

Kehancuran tata social dan kehidupan masyarakat itu antara lain ditandai dengan adanya orang laki-laki yang menerkam wanita di tengah jalan dan menyetubuhinya (memerkosa), kekerasan dan disharmoni sosial. Peristiwa-peristiwa munkar dan keji ini terjadi ketika manusia sudah "menghalalkan" perzinaan, minuman memabukkan (termasuk narkoba) dan bermegah-megahan, tersebarnya biduan-biduanita serta banyak pembunuhan.

Saat seperti itulah banyak yang mengidap penyakit bakhil, tidak peduli orang lain, pemarah, takut mati, suka bersenang-senang, dan diperbudak dunia. Manusia lebih menyukai memperindah masjid, tetapi tidak memakmurkannya, memperbanyak hiburan, egois, memegahkan diri dan menjunjung tinggi harkat biduan-biduanita daripada membantu saudara-saudaranya yang kelaparan, sakit, tidak bisa bersekolah dan tertindas atau menghidupkan majlis ilmu dan tempat -tempat pendidikan.

Janganlah orangtua membiarkan anak-anak hidup dalam bahaya tindak kekerasan, narkoba, dan pergaulan yang menjauhkannya dari Allah SWT. Orangtua harus bertindak tegas terhadap kemungkinan terjadinya penyimpangan perilaku anak. Sebab dari anak-anak inilah, kita berharap masa depan keluarga, masyarakat, bangsa dan negara akan tertata dengan baik.

Kita semua perlu mewaspadai gejala-gejala yang berkembang di dalam masyarakat seperti maraknya perzinaan, perkosaan, pembunuhan, kekerasan, narkoba, tempat makshiat yang terorganisir dan tempat-tempat hiburan yang menyeret dunia muslim ke dalam jurang kehancuran. Yakni, kerapuhan akidah, dan degradasi moral serta amal shaleh dan etos hidupnya.

Maka, marilah kita dorong anak-anak untuk lebih suka membaca Al Qur'an dan Sunnah Rasulullah serta buku-buku agama. Sesungguhnya manusia benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal shalih, saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran. Marilah kita menundukkan diri memohon kepada Allah : semoga Allah memberkahi kita semua dengan keteguhan iman dan istiqamah beramal shaleh. Amin Ya Rabb al 'Alamin.

Menyelamatkan Anak-anak dari Kehancuran

Ketika kita mendapat rezeki berupa kesehatan, panjang umur, dan panen yang melimpah, kita pun bersuka cita. Pendek kata, ketika kita mendapatkan segala sesuatu yang menguntungkan, sudah pasti kita bersuka cita. Namun tidak ada suka cita yang lebih besar daripada mengetahui anak-anak kita hidup dalam kebenaran.

Orangtua adalah orang kepercayaan Allah dimana segala perbuatan dan tindak tanduknya ditujukan untuk kesejahteraan dan keselamatan anak-anaknya. Melalui anak-anak yang dititipkan Tuhan, orangtua mengabdi kepada Allah. Karenanya, anak-anak akan memberikan kesaksian di hadapan Allah tentang amanat yang Allah yang dipikulnya.

Anak-anak yang patuh kepada orangtua dan berbuat sesuai dengan jalan keselamatan Allah, sungguh merupakan karunia yang sangat besar. Betapa sedihnya orangtua manakala anak-anak tidak lagi bersilaturrahmi dengan saudara-saudaranya. Betapa gundahnya hidup manakala anak-anak menyiksa batin orangtua dengan kedurhakaannya.

Nabi Nuh memiliki pengalaman pahit ketika Kan'an, anak laki-lakinya tidak beriman kepada Allah. Pada akhirnya, Nabi Nuh diperintahkan Allah membiarkan Kan'am tersesat dan ia tidak dapat diselamatkan dari bencana yang ditimpakan Allah berupa air bah. Nabi Nuh telah berusaha sungguh-sungguh agar Kan'an terselamatkan. Namun iblis lebih menguasai hati Kan'am sehingga ia menolak dan membantah ajakan ayahnya mengikuti jalan keselamatan.

Kehilangan iman anak-anaknya merupakan bencana besar. Segala sesuatu yang dimiliki orangtua sama sekali tidak berguna manakala anak-anaknya berada dalam jurang kebinasaan dan kekafiran. Oleh sebab itu, terkadang orangtua mengambil keputusan untuk tidak mengakui anak-anaknya yang berada dalam kesesatan dan tidak lagi mau diajak dalam ketaqwaan.

Janganlah kita menyangkal amanat Allah ini. Anak-anak yang berbuat baik, berarti ia mendapatkan jalan Allah, dan anak-anak yang berbuat jahat, ia tidak pernah melihat Allah.

Anak-anak boleh saja tidak pulang ke rumah, namun orangtua harus berani mengingatkan bahwa ia akan pulang ke hadirat Allah. Apakah kita tega membiarkan anak-anak kembali ke hadirat Allah tanpa bekal sedikitpun, sehingga ia terlunta-lunta di akhirat ? Meskipun hidayah datangnya dari Allah, namun orangtua mesti berusaha sungguh-sungguh agar anak-anak hidup dalam iman dan taqwa. Allah SWT berfirman dalam surat Al Qashash, ayat 56.

"Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk."

Ada dua bekal yang terbiak, yaitu ilmu dan budi pekerti.
Tanpa ilmu dan budi pekerti, berarti orangtua meninggalkan anak-anak dalam belenggu abadi dunia dan hawa nafsu. Meninggalkan harta benda, juga baik, namun tanpa ilmu dan budi pekerti harta benda tersebut akan merusak dirinya disebabkan ia tidak dapat menundukkan harta bendanya, melainkan menjadi budak dari harta bendanya. Dan dalam belenggu dunia inilah, anak-anak sering hanya mengejar mimpi-mimpi yang ditawarkan iblis seperti percabulan, narkotika, miras dan pencurian. Meskipun mereka mendapatkan nikmat sesaat, namun mereka sesungguhnya menanggung siksaan abadi.

Berbagai kejadian di sekitar kita cukup memberi peringatan bahwa semakin longgar kendali keluarga dan masyarakat, semakin meningkatkan kehancuran hidup anak-anak. Banyak anak yang mencemarkan tubuh mereka dan menghina kekuasan Allah serta melecehkan semua kemulian syurga. Mereka menghujat dan melecehkan segala sesuatu yang diperintahkan Allah seraya menuruti hawa nafsunya seperti binatang yang tidak berakal.

Allah SWT berfirman dalam surat Al A'raf, ayat 179 yang artinya :.
"Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahannam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai."

Anak-anak yang tersesat inilah noda dalam amanat Tuhan pada kita. Mereka tidak malu melawan orangtua dan Tuhan. Mereka hidup dengan menjadikan hawa nafsu sebagai Tuhan. Mereka bagaikan awan, yang berlalu ditiup angin. Mereka bagaikan pohon-pohon dalam musim gugur yang tidak menghasilkan buah. Mereka bagaikan pohon-pohon yang terlepas dari akar-akarnya dan mati sama sekali. Anak-anak yang tak beriman dan bertaqwa bagaikan ombak laut yang ganas, yang membuihkan semua aib ke seluruh dunia. Dan mereka bagaikan bintang-bintang yang kelam selama-lamanya; tidak sedikitpun dapat menyinari dunia.

Sungguh celaka manakala anak-anak mengikuti jalan iblis dan karena cobaan-cobaan iblis; mereka menceburkan diri ke dalam kesesatan. Siapakah yang dapat menyelematkan generasi ini ? Tidak ada lain semua berawal dari kekuatan keluarga di dalam do'a dan perencanaan supaya anak-anak tetap beriman dan bertaqwa. Sekolah dan masyarakat tidak mampu melayani iman dan taqwa anak-anak dengan sempurna.

Marilah kita memelihara diri dan keluarga dalam kasih dan ampunan Allah sambil menantikan rahmat Allah untuk hidup yang kekal. Tunjukkanlah belas kasihan dan penyelamatan kepada anak-anak yang ragu-ragu akan Allah Yang Maha Kuasa. Selamatkanlah anak-anak dengan jalan merebutnya dari kuasa iblis yang menjerumuskannya ke dalam kesengsaraan dan siksa api neraka. Marilah kita tunjukkan belas kasihan kepada anak-anak sambil membersihkan pakaian mereka yang dicemari oleh dosa-dosa.

Tegakkanlah iman dan taqwa pada anak-anak kita. Berilah pendidikan yang menjadikannya pandai, mengerti kebenaran, keadilan dan kejujuran, cerdas dan pengalaman, pengetahuan dan kebijaksanaan, kecerdikan dan perasaan agar anak-anak mengetahui iman dan tunduk pada hukum-hukum Tuhan serta makna kehidupan. Cegahlah anak-anak dari menuruti bujukan orang-orang yang berdosa. Barangsiapa mengindahkan pendidikan, dia menuju jalan kehidupan. Dan barangsiapa yang mengabaikan nasehat, ia akan tersesat.

Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa."

Anak-anak Ibarat Pohon yang Ditanam Orangtua

Marilah kita bertaqwa dan tunduk kepada Allah dengan melaksanakan perintah-perintahNya dan menjauhi larangan-laranganNya.

Anak yang bijak mendatangkan suka cita kepada orangtuanya, tetapi anak yang bebal dan durhaka adalah duka bagi orangtuanya.

Apa yang diharapkan dari seorang penanam pohon ? Tentu saja buahnya. Betapa gembiranya manakala pohon yang ditanam berbuah lebat dan harum baunya. Sebaliknya, betapa sedihnya manakala pohon yang ditanam itu dililit benalu, tumbuh kerdil dan tidak berbuah. Karenanya si penanam harus menghilangkan hama dan penyakitnya.

Anak-anak adalah pohon kebenaran. Anak-anak adalah pohon yang bibitnya berasal dari Allah agar menjadi hiasan dunia yang indah. Dan orangtualah penanamnya. Setiap ranting yang tidak berbuah, dipotongnya dan setiap ranting yang berbuah dibersihkan supaya lebih banyak berbuah.

Anak-anak dapat dibersihkan dengan firman Allah. Orangtua harus membuat anak-anak dalam kasih sayang dan jalan Tuhan. Sama seperti ranting; tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri kalau ia tidak tinggal pada batang pohonnya. Demikian pula anak-anak, tidak bisa berbuah jika ia tidak menempel pada firman Allah. Firman Allah adalah batang pohon, dan anak-anak adalah rantingnya.

Barangsiapa tinggal di dalam Allah, ia akan berbuah banyak. Sebab tanpa petunjuk Allah, berarti manusia berada di luar Allah. Jika anak-anak tidak hidup dalam firman Allah, mereka akan makin tersesat dan rusak hidupnya.

Barangsiapa tidak tinggal di dalam Allah, ia dibuang seperti ranting dan menjadi kering, kemudian dikumpulkan orang dan dicampakkan ke dalam api lalu dibakar.

Tinggal di dalam Allah berarti menerima firman-firman Allah sebagai hidupnya. Karenanya ia tunduk dan menjalankan perintah-perintah Allah. Ia menjalankan hidupnya dengan Allah. Dalam hal inilah anak-anak yang kita tumbuhkan, yaitu jika anak-anak itu berbuah banyak, maka orangtua akan bahagia. Anak-anak yang menjadi hamba Allah, adalah anak-anak yang tumbuh dengan firman Allah.

Allah telah menetapkan bahwa anak-anak adalah ujian.

"Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu): di sisi Allah-lah pahala yang besar."

Firman Allah ini mengingatkan kita semua bahwa anak-anak merupakan ujian bagi setiap keluarga. Artinya, keluarga, masyarakat bangsa dan Negara dapat celaka ataupun bahagia karena anak-anaknya, tergantung bagaimana orangtua mendidik anak-anaknya. Bahkan di sisi lain, Allah juga menyebut adanya ujian dari isteri-isteri dan harta benda. Hal ini menunjukkan bahwa tidak setiap apa yang kita miliki dapat membahagiakan dan menyelamatkan hidup. Sebagian diantara mereka justru menjadi musuh dan menyesatkan.

Allah SWT berfirman dalam surat At Taghabun, ayat 13 dan 15 yang artinya :
"Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka; dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu dan dengarlah serta ta`atlah; dan nafkahkanlah nafkah yang baik untuk dirimu. Dan barangsiapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya maka mereka itulah orang-orang yang beruntung."

Firman ini menjelaskan bahwa :
Pertama, isteri-isteri yang durhaka kepada Allah tentu saja tidak akan membahagiakan dan menyelamatkan hidup. Justru akan menjadi musuh. Tidak sedikit perbuatan-perbuatan jahat yang dilakuan seorang ayah atau suami dilandasi karena tuntutan isteri. Seorang suami yang tunduk pada tuntutan isteri-isterinya, sangat mungkin terjerumus dalam kesesatan. Namun jika isteri-isterinya adalah perempuan-perempuan yang salihah yang senantiasa tunduk kepada perintah Allah, maka hal-hal buruk tidak mungkin terjadi.

Kedua, harta benda yang tidak dimanfaatkan untuk kebaikan tidak akan mampu menyelamatkan hidup kita di hadapan Allah kelak di hari kiamat. Sebaliknya harta benda yang dibelanjakan dalam ketaatan kepada Allah seperti Zakat, Infak dan Sedekah, niscaya akan menyelamatkannya dari api neraka.

Ketiga, Anak-anak yang tidak taat kepada Allah, juga akan menyengsarakan orangtua. Mereka sama sekali tidak dapat menyelematkan dan membahagiakan orangtua disebabkan kedurhakaan dan amal buruknya. Namun jika anak-anak hidup dalam firman Allah, niscaya ia akan mendo'akan dan membahagiakan orangtuanya.

Semua hal buruk yang disebabkan oleh isteri-isteri, anak-anak dan harta benda bisa saja terjadi apabila kita mengabaikan perintah-perintah Allah. Jalan keluar untuk menghindari hal-hal buruk ini adalah bertaqwa.

Taqwa kepada Allah memungkinkan kita mengatasi cobaan-cobaan isteri, anak-anak dan harta benda yang menjerumuskan ke dalam jurang kehancuran. Seperti halnya Nabi Ayub as yang hidup dengan isteri yang durhaka kepada Allah dan sangat memusuhi dirinya. Namun dengan ketaqwaan itu, Ayub as diselamatkan Allah dari kekufuran. Demikian pula Nabi Nuh as yang mengalami godaan dari kekufuran Kan'an anaknya serta Nabi Sulayman as yang mengalami cobaan dari kekuasaan dan harta bendanya.

Kesempurnanaan suka cita dan kegembiraan orangtua ada pada anak-anak Oleh karenanya semua hal buruk yang disebabkan oleh anak-anak ini harus kita perhatikan; agar anak-anak kita menjadi anak-anak yang hidup dalam firman Allah; menjadi anak-anak shaleh, yang sedap dipandang mata dan menjadi contoh di dalam ketaqwaan. Inilah perintah Allah agar orangtua senantiasa mengasihi, mendidik dan mempersiapkan anak-anak dengan sebaik-baiknya.

Pewarisan yang baik dari orangtua harus diikuti dengan pelatihan yang seksama serta pembentukan kebiasaan yang benar. Allah memerintahkan agar orangtua membuat anak-anak mereka mengerti akan kewajiban-kewajiban terhadap Allah. Ketetapan Allah adalah mendidik anak-anaknya dengan pendidikan agama. Inilah hal pertama yang dilakukan di dalam sekolah para Nabi, yakni membuat anak-anak mengerti kewajiban-kewajibannya kepada Allah sebagai benteng terhadap penyelewengan yang semakin merajalela. Pemahaman anak-anak terhadap kewajiban Ilahi ini berguna untuk menyediakan kesejahteraan rohani dan moral bagi anak-anak.
Tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih yang diberikan orangtua kepada anak-anaknya. Tidak ada kegembiraan yang lebih sempurna daripada melihat anak-anak tunduk patuh kepada Allah dan rasulNya.

Anak-anak adalah pohon yang kita tanam. Jika ia berbuah kebajikan, tentu membahagiakan keluarga, masyarakat bangsa dan negara. Untuk meningkatkan kemakmuran bangsa, menyiapkan para pemimpin dan pembimbing yang mantap; kita memerlukan orang-orang muda atau anak-anak yang shaleh, cerdas, tekun belajar dan giat bekerja. Kita perlu mendorong agar anak-anak memanfaatkan waktu untuk belajar agama di masjid, mushalla, TPQ ataupun di dalam rumah. Jangan biarkan anak-anak tercemari oleh dosa-dosa dari keluarga ataupun masyarakat. Ketahuilah, masa depan kita tergantung kehidupan anak-anak sekarang. Semoga keluarga kita mendapatkan rahmat Allah

Hakikat Tujuan Pendidikan

Akhir-akhir ini, semakin banyak anak-anak kita yang terjerumus di dalam bahaya di dalam hidupnya. Tingkah lakunya sudah menyimpang dari tuntunan Agama Islam seperti mengkonsumsi narkoba, minuman keras, pergaualan bebas dan perbuatan lainnya menyerupai zaman jahiliyyah. Sesungguhnya agama adalah sumber perilaku manusia. Akal dan nafsu kita sama sekali tidak memadai sebagai landasan hidup. Bahkan akal dan nafsu seringkali menjerumuskan kehidupan manusia.

Tujuan pendidikan yang sesungguhnya adalah mengembalikan citra Allah di dalam jiwa manusia. Sebab dosa-dosa yang dilakukan manusia nyaris menghapuskan citra Allah dalam diri manusia. Dua tujuan penting pendidikan adalah :
Pertama, untuk mengembalikannya kepada kesempurnaan fitrah manusia. Adalah menjadi tugas para orangtua dan guru dalam pendidikan orang-orang muda untuk bekerjasama dalam mewujudkan citra Allah di muka bumi. Setiap kemampuan, bakat dan kekuatan yang dikaruniakan Allah kepada kita, harus digunakan untuk kemualiaanNya dan untuk meninggikan derajat manusia. Jangan sampai kehidupan manusia jatuh dalam jurang kehancuran.
Kalau saja prinsip ini mendapat perhatian, maka akan terdapat suatu perubahan besar di dalam beberapa metode pendidikan yang ada sekarang. Sebagai ganti dari kecenderungan kesombongan dan ambisi pribadi murid, para guru akan berupaya untuk membangkitkan kesukaan pada kebaikan, kebenaran dan keindahan. Murid tidak akan berusaha menyombongkan diri, melainkan mematuhi perintah Ilahi dan menerima teladan rasul-rasulNya. Sebagai ganti kecenderungan murid terhadap nafsu meninggikan diri yang merusak; para guru akan mengarahkan pikiran dan hati murid kepada Allah SWT.
Mengapa demikian ? Permulaan hikmat kebijaksanaan hidup adalah mengenal dan taqwa atau takut kepada Allah. Allah SWT berfirman dalam surat Al Baqarah, ayat 269 yang artinya :
"Allah menganugrahkan al hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Qur'an dan As Sunnah) kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan barangsiapa yang dianugrahi al hikmah itu, ia benar-benar telah dianugrahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah)."

Kedua, untuk mendapatkan pengetahuan dan membentuk tabi'at yang selaras dengan kehendak Ilahi, haruslah menjadi tujuan dari setiap pekerjaan pendidik baik orangtua maupun guru. Sebab segala perintah Allah adalah benar dan manusia memperoleh pengertian dari perintah-perintah Allah. Melalui serangkaian ilham dan kitab alam semesta kita harus meraih pengetahuan tentang Allah.

Oleh karena itu, kita harus waspada bahwa berdiam diri, tidak melarang dan tidak mendidik anak-anaknya dengan pendidikkan yang baik, besok di hari akhirat, bukan saja anak-anak yang melanggar tuntunan Islam yang akan mendapat siksa, namun juga orangtuanya. Rasulullah SAW bersabda :

"Sesungguhnya manusia yang terberat siksanya di hari kiamat adalah orang yang menjadikan keluarganya bodoh atau tidak mengetahui syari'at Allah."
Dalam hadist yang lain Nabi bersabda :
"Barangsiapa yang meninggalkan anak-anaknya dalam keadaan bodoh ( tidak mengetahui syari'at Allah) , maka seakan-akan ia menanggung dosa yang dikerjakan anak-anaknya."

Adapun sebagian dari cara mendidik kebaikan adalah orangtua harus berani memerintahkan anak-anaknya agar melaksanakan shalat lima waktu. Orangtua harus memperhatikan apakah anak-anaknya sudah melaksanakan shalat ataukah mereka melalaikannya.

Orangtua juga dapat memerintahkan anak-anaknya mengikuti shalat berjama'ah di mushalla atau masjid serta mengikuti pengajian agama. Sebab dengan sering mendengarkan pengajian agama, Allah akan memberi pertolongan berupa hidayah untuk mengamalkan ilmu agama. Dan Insya Allah kelak di akhirat, akan dimudahkan Allah jalan menuju syurga. Rasulullah SAW bersabda :
"Barangsiapa menempuh jalan mencari ilmu agama, maka Allah akan mempermudah baginya jalan menuju syurga."

Para alim ulama mengajarkan kepada kita bahwa barangsiapa yang tidak ngaji atau tidak kemasukan ilmu syari'at selama 40 hari berturut-turut, maka ia termasuk orang yang hatinya tertutup dan keras. Padahal orang-orang yang hatinya keras ini termasuk golongan yang akan masuk dalam neraka Well sebagaimana tersebut dalam firman Allah SWT surat Az Zumar, ayat 22 yang artinya :

"Maka apakah orang-orang yang dibukakan Allah hatinya untuk (menerima) agama Islam lalu ia mendapat cahaya dari Tuhannya (sama dengan orang yang membatu hatinya)? Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang telah membatu hatinya untuk mengingat Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata."

Oleh karena itu usaha-usaha menuntut ilmu agama, pengajian-pengajian dan kegiatan keagamaan baik di dalam rumah, mushala maupun masjid, kita lakukan sungguh-sungguh agar keluarga kita, anak-anak kita, semakin bertambah ketaqwaan dan budi pekertinya.

Rasulullah SAW ditanya :
"Sebab apa banyak orang masuk syurga wahai Rasulullah ? Rasulullah SAW menjawab " taqwa kepada Allah dan budi pekerti yang baik."

Keberhasilan yang nyata dalam pendidikan tergantung pada kesetiaan manusia dalam melaksanakan perintah Allah SWT.
"Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan."

Pendidikan Berbasis Kenabian

Allah memerintahkan agar anak-anak yang dilahirkan mengerti Allah, sebagaimana Allah telah mengajarkan nama-nama ciptaanNya kepada Nabi Adam as. Allah SWT berfirman dalam surat Al Baqarah, ayat 31 yang artinya :

"Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman: "Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang orang-orang yang benar!"

Lambang-lambang atau nama-nama itulah pelajaran yang ditanam Allah dengan kuat dalam pikiran dan hati Nabi Adam as. Pikiran yang masih jernih itu dilatih untuk mengerti Allah melalui pemandangan alam dengan friman-firman yang diwahyukan. Bintang-bintang, pepohonan, bunga-bunga, gunung-gunung dan anak-anak sungai semuanya merupakan tanda-tanda Allah Yang Maha Mencipta. Bahkan di dalam diri kita sendiri pun, kita diharuskan memperhatikan kekuasaanNya. Allah berfirman dalam suart Adz-Dzariyat, ayat 20-21 yang artinya :

"Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yakin, dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tiada memperhatikan?"

Firman Allah ini menjelaskan agar kita senantiasa memperhatikan tanda-tanda kekuasaan Allah yang ada pada makhluk-Nya. Orang yang memahami kekuasaan Allah akan terdorong untuk mengakui kehebatan Allah di dalam setiap ciptaan-Nya. Petunjuk ini merupakan awal dari iman kita kepada Allah SWT. Wahai saudara-saudaraku, rendahkanlah dirimu di hadapan Allah, sehingga ibadah yang kita lakukan merupakan bukti iman kepada Allah.

Para Nabi telah bergiat dalam mendidik dan membimbing kaumnya. Tujuannya adalah untuk memperkuat rohani dan moral dari penyimpangan-penyimpangan yang semakin merajalela serta mempersiapkan pemimpin-pemimpin keluarga, masyarakat dan bangsa. Anak-anak muda sejak ribuan tahun yang lalu berhadapan dengan penyelewengan dan berbagai penyakit masayarakat.

Disebutkan dalam sejarah kenabian, Isma'il as telah mengumpulkan orang-orang muda yang shaleh, cerdas dan suka belajar. Mereka disebut dengan "anak-anak Nabi." Para guru yang fasih dalam kebenaran Ilahi mengantarkan murid-muridnya menikmati hubungan dengan Allah dan menerima hukum-hukum Allah.

Murid-murid di sekolah kenabian ini menghidupi diri sendiri dengan cara bercocok tanam atau bertukang. Di kalangan Bani Israil, membiarkan anak-anak tumbuh tanpa melakukan pekerjaan yang berguna dianggap sebagai suatu kejahatan. Dalam sekolah kenabian, walaupun dia akan dididik untuk suatu jabatan yang suci sebagai 'ulama atau pemuka hukum Allah, namun setiap anak diajarkan beberapa jenis pekerjaan.

Demikian pula banyak guru di sekolah kenabian menghidupi diri sendiri dengan kerja kasar. Namun hal ini tidak mengurangi kemuliaan mereka sebagai pendidik di kalangan Bani Israil. Bahkan di zaman sahabat Nabi 'Isa as, diantara mereka ada yang bekerja sebagai tukang pembuat tenda. Mereka hidup sebagai pendidik seraya menghidupi diri sendiri. Setidaknya ada tiga hal pokok pelajaran utama di sekolah-sekolah kenabian, yakni tentang hukum Allah, sejarah orang-orang suci, musik yang suci dan kesusasteraan.
Pertama, adalah menjadi tujuan utama dari semua pelajaran yang diberikan di sekolah kenabian untuk mempelajari kehendak Allah dan kewajiban manusia terhadap Allah. Dan iman menjadi tujuan utama dari semua system pelajaran ini. Para siswa diajari bagaimana beribadah, bagaimana menghampiri Allah, bagaimana mempraktikkan iman di dalam hidup dan bagaimana mamahami dan menuruti pengajaran Rasul-Nya. Firman-firman Allah diwujudkan dalam nubuwwat dan perjalanan hidup para rasul yang suci.

Kedua, di dalam sejarah orang-orang suci terlihat jejak-jejak Allah. Kebenaran-kebenaran Allah diperlihatkan dalam perilaku para rasul.

Ketiga, musik dan kesusasteraan. Musik dan kesusasteraan tidak diarahkan untuk membangkitkan nafsu rendah manusia, melainkan untuk mendidik perasaan halus, untuk membangun rasa penyerahan di dalam jiwa dan pengucapan syukur kepada Allah.
Betapa banyak orang yang menggunakan karunia musik dan sastra demi meninggikan diri, bukan untuk memuliakan Allah. Kegemaran terhadap musik seringkali menjadi salah satu alat-alat yang paling ampuh yang digunakan setan untuk memalingkan pikiran dan tanggungjawab dari merenungkan kehidupan akhirat. Musik dan kesusasteraan yang tidak memuliakan Allah seringkali melalaikan manusia dari mengingat mati, syurga dan neraka. Allah SWT berfirman dalam surat Luqman, ayat 6-7 yang artinya :

"Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan. Mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan.
Dan apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami dia berpaling dengan menyombongkan diri seolah-olah dia belum mendengarnya, seakan-akan ada sumbat di kedua telinganya; maka beri kabar gembiralah dia dengan azab yang pedih."

Hati harus menghayati setiap firman-firman Allah. Oleh karenanya musik dan kesusateraan yang melalaikan dari Allah adalah "lahw al hadist," yang tidak meningkatkan iman dan mendorong berbuat amal shaleh. Sebaliknya, musik dan kesusateraan dapat membentuk suatu bagian dari ibadah kepada Allah; dan kita harus usahakan agar kita mendengarkan perkataan-perkataan yang baik. Musik, nyanyian, syair ataupun karya-karya sastra yang memuliakan Allah dapat meningkatkan iman kita.

Para guru di sekolah kenabian menginginkan keselamatan manusia. Dan hal ini dimulai dari memberi pendidikan firman-firman Allah. Kiranya persis seperti yang sering diceritakan Al Maghfurlah Mbah Muntaha Al Hafidh bahwa sekiranya tidak ada orang-orang yang dengan tulus ikhlash mengajar agama pada anak-anak, maka kehidupan ini akan rusak. Beliau sering mengutip sabda Rasulullah SAW :

"Barangsiapa yang mendidik anak-anak hingga dapat mengucapkan La ilaha illa Allah (tiada Tuhan selain Allah), maka ia masuk syurga." (HR. Turmudzi)."

Betapa pentingnya anak-anak mengenal Allah, sehingga siapapun yang mendidik anak-anak sehingga memiliki iman dan tauhid yang kuat, ia akan diberi ganjaran syurga. Hal inilah yang menjadi perhatian di dalam sekolah kenabian, selalu diajarkan firman-firman Allah sehingga anak didik mendengar dan merasakan kemuliaan Allah. Kebiasaan mendengarkan firman-firman Allah akan membantu anak-anak kita memahami tujuan kehidupan manusia. Jika tidak demikian, maka anak-anak tidak akan terbimbing dalam rahmat Allah, melainkan dalam pengajaran hawa nafsu dan syetan. Anak-anak akan menganggap hawa nafsu sebagai Tuhannya.
Maka, marilah kita penuhi kehidupan anak-anak dengan firman-firman Allah, agar kehidupan ini mendapatkan rahmat dan barakah Allah SWT.