Tampilkan postingan dengan label Lain-lain. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Lain-lain. Tampilkan semua postingan

Senin, Juni 08, 2009

Memperingati Nuzulul Qur`an

Marilah kita bertaqwa dan bersyukur karena Allah menurunkan anugerah Al Qur'an yang tidak terhingga nilai dan manfaatnya bagi kehidupan ini. Al Qur'an telah menjadikan manusia mengetahui kehidupan di zaman dulu yakni zaman para rasul sebelum Muhammad SAW, dan juga kehidupan yang akan datang, yakni alam akhirat. Tanpa Al Qur'an, kita tidak akan tahu darimana kita berasal dan kemana kita akan pergi ?

Sebagai suatu kekuatan yang mendidik, Al Qur'an tidak ada bandingnya. Al Qur'an merupakan kalam Allah yang hidup dan sumber kebenaran, sehingga memelihara kemurniannya sepanjang zaman. Al Qur'an menjelaskan masa lampau yang jauh. Di dalam Al Qur'an kita bisa menemukan hikayat ummat manusia yang tidak dicemari oleh prasangka, keangkuhan dan kepentingan pribadi manusia.

Dengan benar, Allah menceritakan berbagai peristiwa kehidupan ummat manusia dan akibat-akibat yang ditimbulkannya. Misalnya, di masa Nabi Luth as yang marak dengan perzinahan, Allah menimpkan bencana yang memporakporandakan kota Sodom dan Gomora. Di Masa Nabi Syu'aib dimana korupsi merajalela, Allah menimpakan badai yang sangat dahsyat.

Di dalam kisah-kisah ini, tersingkap pertentangan-pertentangan dari kuasa kebaikan dan kejahatan. Pada mulanya dosa-dosa menjadi kebanggaan manusia, hingga akhirnya bencana datang silih berganti. Dalam kehancuran dan bencana ini, manusia melihat suatu kenyataan kekuasaan Allah.

Dengan membaca firman Allah, kita dibawa ke dalam hubungan pikiran yang tak terbatas. Kita tidak mengetahui kemana nanti setelah mati. Ternyata, kematian bukanlah akhir dari segala-galanya. Sesudah mati, masih ada kehidupan abadi dan balasan-balasan dari setiap perbuatan kita di dunia. Pelajaran dari firman Allah ini tidak akan gagal untuk memperluas dan memperkuat kemampuan-kemampuan berpikir. Jika lemah, pikiran manusia akan dikendalikan oleh iblis. Karenanya manusia hanya bisa memperkuat dirinya dengan membaca firman-firman Allah.

Rasulullah SAW bersabda :

"Bahwasanya akan datang berbagai fitnah (bencana/musibah). Para sahabat bertanya :"Apa jalan keluarnya wahai Rasulullah ?" Beliau menjawab :" Al Qur'an. Di dalamnya terdapat cerita mengenai (ummat terdahulu, dan di dalamnya terdapat khabar mengenai apa yang terjadi sesudah hidupmu (akhirat), dan dia menjadi hakim atas apa yang terjadi diantara kalian. Dia adalah kalam yang jelas bukan ucapan main-main. Barangsiapa meninggalkan kehebatan Al Qur'an, maka Allah akan mencabik-cabik kehidupannya. Dan barangsiapa yang mencari petunjuk pada selain Al Qur'an, Allah akan menyesatkannya, sebab Dia adalah tali yang sangat kokoh. Dia adalah peringatan Yang Maha Bijaksana, dia adalah jalan lurus. Dialah yang dapat mengekang hawa nafsu, dan lisan para ulama tidak henti-hentinya mencari pelajaran darinya. Dan orang-orang yang menolaknya, tak akan memiliki akhlak. Tidak akan habis-habisnya keajaiban-keajaibannya sehingga tidak henti-hentinya jin memujinya sehingga ketika mendengarnya mereka berkata :" Sesungguhnya kami telah mendengar Al Qur'an yang menakjubkan yang memberi petunjuk ke jalan yang benar, lalu kami beriman kepadanya." Barangsiapa berkata dengan dasar Al Qur'an, maka benarlah ia, dan barangsiapa yang beramal dengan dasar Al Qur'an, maka ia mendapat pahala, dan barangsiapa memutuskan perkara dengan dasar Al Qur'an, maka ia adil, dan barangsiapa yang mengajak kepada jalan Al Qur'an, ia akan mendapat petunjuk ke jalan lurus (HR. Turmudzi)."

Melalui sabda ini, Nabi agung Muhammad SAW memberikan petunjuk yang sangat jelas, bahwa kehancuran dunia bersumber dari hawa nafsu. Akibatnya manusia mengalami krisis ruhani yang berakibat pada kehancuran diri sendiri, keluarga, masyarakat, lingkungan, bangsa dan negara. Banyak orang stress, gila, bunuh diri, dan mengalami berbagai penyakit kejiwaan lainnya seperti iri, dengki, hasud, serakah dan mau menang sendiri.

Sebagai contoh, di Jawa Tengah saja sudah lebih ratusan ribu orang dari berbagai lapisan masyarakat yang berpenyakit gila dan stress. Penyakit jiwa ini, telah mengakibatkan kerusakan-kerusakan dalam berbagai bidang kehidupan di dalam keluarga, tempat kerja, organisasi maupun tempat-tempat lainnya.

Oleh karenanya, Nabi Muhammad SAW mengingatkan agar kita semua mau kembali kepada Al Qur'an agar hawa nafsu kita terkendali sehingga kehidupan ini dapat terselamatkan. Dengan merasa takut kepada Allah, kita akan berhati-hati di dalam menjalani kehidupan pribadi, keluarga, maupun dalam berbangsa dan bernegara.

Marilah kita bertanya pada diri sendiri : sudahkah kita membca Al Qur'an dan sudahkah kita mendorong anak-anak kita, keluarga kita, dan saudara-suadara kita untuk dapat membaca dan mengetahui firman-firman Allah ?

Sesungguhnya Al Qur'an merupakan prinsip dan dasar masyarakat dalam kehidupannya. Mustahil Allah menurunkan Al Qur'an ini untuk menyengsarakan dan menghancurkan kehidupan. Sebaliknya, hawa nafsu kitalah yang menghancurkan dan membahayakan kehidupan.

Al Qur'an menyediakan bagi dunia ini manusia-manusia yang kuat dan bertabi'at teguh, yang memiliki pandangan yang benar dan perilaku yang bijaksana. Manusia-manusia seperti ini yang akan menjadi berkah bagi dunia ini.

Maka marilah kita membiasakan membaca Al Qur'an dan memasyarakatkan Al Qur'an melalui Taman Pendidikan Al Qur'an, sekolah, kelompok-kelompok pengajian maupun kelompok-kelompok lainnya, guna membaca dan menekuni teks Al Qur'an. Dan hendaknya kita membuat Program Keluarga Al Qur'an di dalam keluarga masing-masing, sehingga kita dapat meluangkan beberapa menit untuk bersama-sama keluarga menghayati firman-firman Allah.

"Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran."

Puasa Ramadhan

Beberapa hari lagi kita sampai pada bulan Ramadhan. Pada bulan ini ummat Islam diperintahkan melaksanakan kewajiban berpuasa. Kedatangan bulan Ramadhan ini merupakan barakah yang besar bagi ummat Islam. Mengapa demikian ? Marilah kita mengingat kembali firman Allah dalam surat al Baqarah, ayat 183.


“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atasmu berpuasa sebagaimana telah diwajibkan atas ummat-ummat sebelummu, agar kamu bertaqwa.”

Perintah tersebut ditujukan kepada orang-orang yang beriman, karena hanya orang-orang yang beriman saja yang mampu memahami dan melaksanakan puasa. Sedemikian beratnya melaksanakan ibadah puasa, apalagi dalam cuaca dan keadaan yang tidak menyenangkan. Jika panas menyengat, rasa haus pun hampir tidak dapat ditahan. Demikian pula jika dingin menerpa, rasa lapar pun hampir tidak dapat ditahan. Kita patut bersyukur hidup di bumi Indonesia yang mana waktu siang hari tidak lebih dari 14 jam. Sebab ada suadara-saudara kita yang hidup di belahan bumi di mana waktu siang lebih lama daripada waktu malamnya seperti di Belanda dan Amerika Serikat.

Namun di balik rasa berat tersebut, kita akan mendapat kemudahan-kemudahan. Allah akan memberikan kemudahan di akhirat kelak. Lapar dan dahaga tersebut tidak seberapa dibandingkan dengan lapar dan dahaga yang dialami kelak di akhirat apabila kita durhaka kepada Allah SWT. Segala kesulitan puasa tidak seberapa jika dibandingkan dengan kesulitan yang dihadapi orang-orang yang durhaka kepada Allah SWT. Kita tidak mungkin dapat menahan satu celupan saja siksa Allah SWT. Bagaimanakah jika Allah menyiksa kita bertahun-tahun akibat kedurhakaan kita.

"Dunia adalah penjara bagi orang mukmin dan syurga bagi orang kafir." Sungguh benar ungkapan ini, karena segala keindahan dunia bagi orang kafir tidak ada setitik pun bandingannya dengan kepedihan hari akhir. Sebaliknya, kepedihan orang mukmin di dunia ini tidak ada setetes pun padanannya bila dibandingkan dengan keindahan akhirat yang akan diperolehnya.

Bulan Puasa merupakan kesempatan yang besar bagi kita untuk memperbanyak amal ibadah. Sesungguhnya puasa itu sendiri menjadi zakat (pembersih) jiwa yang akan mendorong orang untuk meraih keutamaan akhlak dan melakukan perbuatan-perbuatan baik. Allah SWT dalam surat Al ‘Ashr, telah memperingatkan kepada kita betapa meruginya orang-orang yang tidak beriman dan melakukan perbuatan-perbuatan tercela dan terlarang.

Hal ini menunjukkan bahwa kehidupan manusia di dunia ini hanyalah perantara menuju kehidupan yang abadi, yaitu di akhirat kelak. Dalam pengertian bahwa hidup kita tidak hanya terbatas pada kematian. Kita seringkali mendengar kata : “eling pati, eling pati, dan eling pati.” Benar. Karena apa yang kita peroleh dalam kehidupan di akhirat kelak, merupakan hasil dari apa yang kita lakukan selama hidup di dunia. Jika seseorang berbuat baik, maka perbuatan baik tersebut akan bersemi, tumbuh dan berbuah. Sama halnya dengan perbuatan yang tidak baik. Hanya saja mungkin buahnya tidak langsung dapat dipetik. Namun, yang pasti setiap perbuatan akan mendapatkan balasan Allah SWT. Sehingga makin banyak kita melakukan perbuatan baik, makin banyak pula harapan kita kepada Allah terhadap balasan yang baik pula.

Perbuatan baik dapat dimulai dari hal-hal kecil dan sederhana. Misalnya, menyingkirkan duri dari jalan atau hal lain yang membahayakan pejalan kaki.

Dalam bulan Ramadhan ini kita dapat memperbanyak memohon ampun dan menabung amal kebajikan. Sebab puasa yang kita lakukan, akan menjadi syafa'at kelak di hari kiamat. Rasulullah SAW bersabda :

"Puasa dan Al Qur'an akan menjadi syafa'at bagi manusia kelak di hari kiamat. Puasa akan berkata,"Hai Tuhan, akau mencegahnya dari makan dan syahwat, maka berilah aku syafa'at untuknya. Al Qur'an berkata :"Wahai Tuhan, aku telah mencegahnya tidur pada malam hari, maka berilah aku syafa'at untuknya. Kemudian Nabi bersabda : keduanya memberi syafa'at. " (HR. Ahmad).

Hal ini dikarenakan setiap ibadat yang kita lakukan di bulan Ramadhan akan mendapatkan pahala yang sangat besar. Apalagi di dalam bulan puasa, kita merasa adanya kemudahan dan semangat untuk melaksanakan amal kebajikan dan ibadah melebihi bulan-bulan lain; seperti shalat tarawih, witir, tadarus al Qur’an dan bersedekah. Hawa nafsu yang selama ini berkeliaran tak menentu, di bulan ini terpenjara oleh lapar dan dahaga serta kesadaran betapa lemahnya manusia tanpa makanan dan minuman. Dalam keadaan seperti ini kita sangat menginginkan dekat kepada Allah; Dzat Yang Maha Pengasih dan Penyayang.

Berbeda dengan hari-hari biasa, dimana kita seringkali melupakan Tuhan dikarenakan kesibukan-kesibukan sehari-hari.

Oleh karena itu bulan Ramadhan dapat dijadikan sarana memperbaharui jiwa sehingga kita senantiasa dapat meningkatkan amal ibadah dan meningkatkan kebajikan. Disamping itu agar kondisi kita benar-benar siap menghadapi bulan Ramadhan, alangkah baiknya jika kita melaksanakan puasa sunat di akhir bulan Sya’ban.

Dan janganlah puasa kita hanya menahan lapar dan haus, tetapi menahan dari segala kekufuran dan kemaksiatan baik di dalam bulan puasa maupun bulan sesudahnya. Janganlah puasa kita sia-sia karena tidak memperkuat ruhani kita. Janganlah puasa kita sia-sia karena tidak meningkatkan taqwa.

Apabila kita melalaikan perbuatan-perbuatan baik, amal salih dan ibadah pada bulan-bulan sebelumnya, maka bulan Ramadahan inilah kesempatan kita untuk memulai dan memperbaharui diri kita.

Maka, marilah kita hiasi puasa kita dengan mengadakan perbaikan diri, membaca Al Qur'an, hidup sederhana, peduli pada sesama, shalat dan dzikir malam, menambah ilmu, mengurangi fitnah dan memperbanyak muhasabah. Mudah-mudahan Allah mengampuni dosa-dosa kita.

Memperingati Isro` Mi`raj Nabi Muhammad SAW

Marilah kita bertaqwa kepada Allah SWT dengan melaksanakan perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-laranganNya. Sebab hanya dengan taqwa inilah, kita akan selamat di dunia dan akhirat.

Isra' Mi'raj merupakan peristiwa penting dalam kerasulan Muhammad SAW. Beliau telah melakukan perjalanan dari Masjid al Haram ke Masjid al Aqsha dan dari Masjid al Aqsha ke Shidrat al Muntaha sebagaimana disebutkan dalam surat Al Isra', ayat 1, yang artinya .

"Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat."

Peristiwa Isra' Mi'raj memiliki makna mendasar karena di dalam peristiwa inilah ditetapkan kewajiban shalat lima waktu.

Hendaknya kita melaksanakan shalat lima waktu, dan hendaknya kita mengajak anak-anak dan saudara-saudara kita agar melaksanakan shalat lima waktu. Sesungguhnya shalat menjadi tiang agama, sehingga barangsiapa yang meninggalkan shalat dengan sengaja sekali saja, namanya akan dicatat di pintu neraka dan di akhirat akan dkumpulkan bersama Fir'aun dan Haman. Artinya, orang-orang yang meninggalkan shalat diibaratkan seperti Fir'aun yang sombong tidak mau tunduk kepada Allah dan ia laksana Haman, raja Iblis yang juga sangat sombong kepada Allah.

Rasulullah SAW bersabda :


"Barangsiapa yang menjaga shalat lima waktu dengan kesempurnaan kesuciannya dan ketepatan waktunya, maka baginya memperoleh cahaya dan bukti. Dan barangsiapa yang menyia-nyiakannya, maka ia akan dikumpulkan bersama Fir'aun dan Haman (HR. Ahmad).

Shalat juga dikatakan sebagai tiang agama, sehingga orang yang tidak melaksanakannya dianggap telah menghancurkan tiang agama. Adapun hakikat tiang penyangga agama adalah budi pekerti dan amal shalih. Oleh karenanya, shalat memiliki dimensi moral dan sosial, yaitu mencegah dari perbuatan keji dan kemunkaran.

Allah SWT berfirman dalam surat Al Ankabut ayat 45,

"Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Qur'an) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan."

Apakah shalat bisa dijadikan sebagai tameng perbuatan dosa ?

Ada beberapa hal yang mesti kita pahami agar shalat bermanfaat bagi kehidupan.
Pertama, wudhu jasmani dan rohani.
Sebelum melakukan wudhu dzahir dengan air, hendaknya kita terlebih dahulu wudhu bathin. Yakni membersihkan jiwa dengan tujuh pembersih berupa taubat, penyesalan, tidak silau dengan harta, tidak suka dipuji, tidak bernafsu menjadi yang terbesar, tak menyimpan dendam dan dengki kepada orang lain. Setelah itu barulah wudhu dhahir dengan air.

Kedua, melaksanakan shalat dengan iman dan taqwa, tunduk, takut dan penuh harap kepada Allah
Sebelum shalat hendaknya mengendurkan seluruh nafsu jasmaninya supaya Ka'bah (Kiblat) terlihat di depan mata hatinya. Katakanlah kepada dirinya bahwa "aku berada diantara hajatku kepada Allah dan rasa takutku. Kubulatkan keyakinan bahwa Allah sedang memandangku, menjanjikan syurga di sebelah kananku dan neraka di samping kiriku. Aku juga merasa bahwa malaikat maut berdiri di belakang punggungku, siap menjemputku seraya menunggu panggilan Tuhan kepadaku. Karena itu aku selalu berpikir, inilah shalatku yang terakhir."

Ketiga, melaksanakan shalat dengan niat bertaubat, sebagaimana disebutkan dalam surat Arrum ayat 31 yang artinya.

"dengan kembali bertaubat kepada-Nya dan bertakwalah kepada-Nya serta dirikanlah shalat dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah",

Keempat, melaksanakan shalat dengan keyakinan atas kehidupan akhirat , sebagaimana disebutkan dalam surat Luqman, ayat 1-4 yang artinya :.
"Alif Laam Miim. Inilah ayat-ayat Al Qur'an yang mengandung hikmat, menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang berbuat kebaikan."(yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka yakin akan adanya negeri akhirat."

Seseorang yang shalat dapat dikatakan sedang berhadapan langsung dengan Allah SWT. Oleh sebab itu orang-orang yang shalat hendaknya menyiapkan jiwa raganya dengan sungguh-sungguh untuk berhadapan dengan Allah SWT. Shalat dapat dijadikan sebagai usaha naik ke derajat ruhani yang lebih tinggi (mi'raj kultural) dimana seseorang yang melakukan shalat memiliki cara berpikir dan kualitas akhlak yang lebih tinggi yang pada akhirnya membentuk perilaku kebudayaan (kultur) yang lebih baik di dalam kehidupan sehari-hari.

Derajat rohani yang berkualitas ini, harus dibuktikan dalam kehidupan sehari-hari antara lain dengan sifat rendah hati, dan merasa hamba Allah. Shalat sejati menghilangkan sifat-sifat Fir'auniyyah seperti sombong, mau menang sendiri, dan membangga-banggakan diri dengan apa yang dimilikinya.

Shalat tidak akan memiliki makna menjauhkan dari perbuatan dosa dan munkar tanpa disertai dengan tunduk, taubat, dan yakin akan adanya akhirat. Sebab dari sikap tunduk kepada Allah dan yakin kepada akhirat inilah, manusia dapat menjauhi perbuatan keji dan munkar.

Demikianlah khutbah jum'at ini. Semoga kita termasuk orang-orang yang beruntung yang mengerjakan shalat dengan khusyuk, senantiasa bertaubat dan yakin akan balasan di akhirat. Ya Allah, Ya Ghaffar, jadikanlah hati kami tunduk kepadaMu. Sesungguhnya hidup dan matiku ada di tangan-Mu.

Memperingati Hari Kemerdekaan 17 Agustus

Marilah kita senantiasa meningkatkan iman dan taqwa kita kepada Allah SWT. Yaitu, dengan senantiasa melaksanakan perintah-perintahNya dan menjauhi segala larangan-laranganNya. Sebab dengan iman dan taqwa inilah, manusia akan selamat di dunia dan akhirat.

Adakah diantara kita yang menghendaki hidup dalam penjajahan ? Tidak ada. Namun bangsa Indonesia pernah mengalami musibah yang sangat besar sepanjang sejarah, yakni dijajah oleh bangsa-bangsa asing seperti Belanda dan Jepang sehingga berabad-abad lamanya bangsa ini terkurung dalam penderitaan.

Di dalam penjajahan manusia tidak dapat mengembangkan diri. Kita tidak dapat membangun kehidupan yang lebih baik, manakala hidup kita, kekayaan kita, pikiran dan hati kita diperbudak dan dijajah. Penjajahan tidak hanya mengeruk harta benda, namun juga nyawa manusia. Syukur kepada Allah, atas berkat rahmatNya dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur supaya berkehidupan yang baik, maka pada tanggal 17 Agustus l945, rakyat Indonesia menyatakan kemerdekaannya.

Hal ini menunjukkan keinginan orang-orang yang beriman untuk membangun bangsa Indonesia menjadi bangsa yang merdeka dan sehingga dapat membangun kehidupan yang lebih baik.
Kemerdekaan menjadi sia-sia, apabila kita tidak dapat mengisi kemerdekaan ini dengan amal shaleh. Manusia harus bekerja agar Allah mengubah nasib suatu kaum/bangsa, sebagaimana Firman Allah :

"Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia." (Q.S.13:11).

Dengan ayat ini ada dua hal yang perlu kita perhatikan dalam proses perubahan menuju kehidupan yang lebih baik.

Pertama, kondisi subyektif manusia. Manusia adalah pelaku dari setiap perubahan. Semua keadaan hidup di dunia ini, ditentukan oleh perbuatan-perbuatan manusia. Dan perbuatan-perbuatan manusia ini, tergantung kepada hati dan pikirannya. Anggota tubuh hanyalah alat yang digerakkan oleh hati dan pikiran.

Rasulullah SAW bersabda :


"Perhatikanlah, sesungguhnya di dalam tubuh ada segumpal darah, jika segumpal darah itu baik, maka baiklah semuanya, jika segumpal darah itu rusak, maka rusaklah semuanya. Perhatikanlah, segumpal darah itu adalah hati. (HR. Bukhari).

Hati bisa kotor sebagaimana kotornya cermin, maka pembersihnya adalah dzikrullah. Hati bisa telanjang sebagaimana telanjangnya tubuh, maka penutupnya adalah taqwa. Hati bisa lapar sebagaimana laparnya tubuh, maka makanannya adalah mengenal Allah, mencintai Allah, beribadah kepada Allah. Jika hati tidak mengenal Allah, maka Allah tidak akan memberi rahmat, sehingga hati akan cenderung berbuat rusak.

Allah SWT berfirman dalam surat Yusuf, ayat 53:

"Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang".

Para ahli ilmu jiwa menyatakan bahwa kerusakan yang terjadi disebabkan karena hati telah terkotori oleh kecenderungan-kecenderungan buruk. Sehingga menimbulkan perilaku-perilaku buruk, Sedangkan hati yang dirahmati adalah hati yang mengenal Allah dan rasulNya sehingga terdorong beramal shaleh. Hati yang dirhamati penuh dengan akhlak terpuji. Oleh sebab itu, segala kekacauan dunia tidak lain disebabkan karena manusia telah kehilangan ruhaninya. Annemarie Schimmel, seorang ilmuwan Jerman, menyatakan bahwa sumber dari kekacauan adalah krisis spiritual. Untuk mengembalikannya, tidak lain manusia harus kembali kepada ajaran Allah dan rasulNya.

Kedua, kondisi obyektif suatu masyarakat. Perubahan masyarakat juga ditentukan oleh bagaimana lingkungannya, Sumber Daya Alamnya, system hukum dan sebagainya. Namun semua ini dipengaruhi oleh kondisi subyektif manusia yaitu, keadaan akhlak manusia. Allah berfirman : Apa saja ni`mat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri. Kami mengutusmu menjadi Rasul kepada segenap manusia. Dan cukuplah Allah menjadi saksi. (Q.S.4:79).

Saudara-saudaraku

Sudah seharusnya kita mawas diri agar kita mengenal diri sendiri. Janganlah menyalahkan zaman. Akan tetapi kita harus mujahadah/bekerja keras mengalahkan kecenderungan-kecenderungan buruk yang merusak diri kita, masyarakat, bangsa dan Negara.

Dan kita wajib mengisi karunia kemerdekaan ini dengan jihad fi sabilillah. Yakni bekerja keras mewujudkan segala kebaikan di jalan Allah. Di antara jihad fi sabilillah itu adalah "daf'un ma'shumun 'an al dhurari," yakni mencegah segala hal buruk yang akan menimpa orang yang ada dalam perlindungan kita. Siapakah orang yang dalam perlindungan itu ? Mereka adalah ummat manusia. Mereka harus dilindungi dari marabahaya kebodohan, kemelaratan, kedzaliman, dan penyakit. Sehingga agama Islam menyatakan bahwa pembangunan di bidang kesehatan, pendidikan dan kesejahteraan umum hukumnya wajib.

Oleh sebab itu, marilah kita jihad dengan ikhlash. Kita tidak cukup hanya berdoa siang malam, melainkan harus disertai dengan merubah diri kita, merubah system dan perilaku kita sehingga permasalahan-permasalahan yang kita hadapi dapatr teratasi.

Demikianlah, semoga Allah menolong kita semua dan senantiasa memberikan kekuatan dan jalan keluar bagi kita.

Memperingati Hari Anti Narkoba

Miras dan narkoba atau lebih dikenal dengan zat psikotropika merupakan ancaman yang serius terhadap manusia.

Allah SWT berfirman dalam surat Al Maidah, ayat 90.

"Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.
Dengan khamr dan perjudian, sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kalian lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kalian dari mengingat Allah dan sembahyang; maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu). Di dalam khamr dan judi terdapat dosa besar dan beberapa manfa`at bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfa`atnya".

Rasulullah SAW telah bersabda :

"Setiap yang memabukkan adalah khamr, dan setiap khamar itu haram. Dan sesungguhnya Allah berjanji kepada orang yang minum khamar, bahwasanya ia akan diberi minum lendhut (kotoran) neraka dan keringat ahli neraka." (HR.Muslim).

Usaha-usaha mencegah melalui Undang – Undang Negara dan sangsi hukum saja belum cukup untuk menjamin keberhasilan pelarangan miras dan narkoba. Usaha ini harus diimbangi dengan peningkatan kesadaran masyarakat akan dampak buruk bagi kehidupan masyarakat dan dampak ukhrawi, yakni siksa Allah SWT. Sesungguhnya kenikmatan dunia yang sekejap ini, tidak sebanding dengan siksa Allah, meskipun hanya satu tegukan api neraka.

Tak dapat disangkal bahwa kita akan berhasil mematuhi peraturan itu bila kita sudah merasakan akibat-akibatnya. Bahkan terkadang, meskipun murka Allah sudah ditimpakan di dunia, manusia seringkali mencari berbagai cara dan alasan untuk tidak menaati Allah. Pelacuran dan perzinaan misalnya.

Walau larangan agama terhadap perzinaan telah menghiasi buku-buku agama, namun kesemuanya berlalu tanpa bekas. Bahkan semakin hari semakin merajalela. Baru setelah dunia medis menegaskan hubungan AIDS/HIV dengan perzinaan, beberapa orang sadar akan bahaya yang mungkin menimpa dirinya.

Bahaya AIDS/HIV tidak menyerang pelaku perzinaan saja, namun dampaknya bisa mengerikan karena orang yang tidak melakukannya pun bisa terkena AIDS/HIV. Kita semua berlindung kepada Allah, bahwa penderita AIDS di Jawa Tengah mencapai ribuan orang dan tertinggi ke 7 di Indonesia. Virus AIDS dapat bertahan hingga 10 tahun. Sehingga seseorang yang terkena virus pada usia 17 tahun, mungkin baru akan terdeteksi pada usia 27 tahun. Sungguh merupakan bahaya yang tak terkira. Sehingga segala macam pencegahan hampir tidak berhasil, jika akar penyebabnya yakni perzinaan, tidak dihindari.

Di Negara-negara maju seperti Amerika Serikat, konsumsi miras telah mengakibatkan masalah kemasyarakatan. Untuk mengatasi kerugian yang disebabkan narkoba dan miras, Negara tidak mengeluarkan biaya sedikit. Pada tahun l995-an, Jepang menghabiskan tidak kurang dari 50 Milyar Dollar AS, sedangkan Amerika Serikat menghabiskan tidak kurang dari 117 Milyar Dollar. Jumlah ini hampir setara dengan biaya yang dikeluarkan untuk pembangunan di Negara-negara berkembang.

Ada beberapa alasan perlunya sikap menghindari narkoba dan miras.
Pertama, pentingnya hidup sehat. Miras/narkoba merupakan salah satu factor tertinggi penyebab masalah kesehatan.

Kedua, keprihatinan akan nasib generasi muda. Di Amerika Serikat sepertiga dari pertikaian keluarga yang mengakibatkan perceraian, terputusnya hubungan anak dengan keluarga (broken home) dan tindak kekerasan disebabkan oleh miras.

Ketiga, pencegahan kecelakaan lalu lintas. Di Amerika Serikat, ratusan ribu anak muda tewas setiap tahunnya. Di sekitar kita pun peristiwa kecelakaan lalu lintas, tindak kekerasan dan pemerkosaan seringkali bersumber dari miras.

Keempat, pemeliharaan kesehatan bayi. Bayi yang dikandung oleh ibu yang mengkonsumsi miras dapat terserang gangguan otak yang bersifat permanent. Bibit manusia yang ditanam ke rahim ibu yang berasal dari pengkonsumsi miras akan berpengaruh pada jaringan tubuh, system kekebalan tubuh dan system nalar yang mempengaruhi perilaku anak yang dilahirkan. Di AS, sekitar 300 ribu bayi pertahuan menjadi korban perilaku ibu yang tidak bertanggungjawab. Selanjunya penelitian di AS juga menunjukkan perilaku ayah yang serupa juga berakibat buruk terhadap bayi.

Saudara-saudara

Agama melarang budaya miras karena tubuh manusia merupakan lahan suci yang harus dipelihara dari noda, termasuk miras. Memang larangan ini harus mengorbankan kebebasan pribadi, namun demikian kebaikan jangka panjang dan kualitas hidup manusia dipertaruhkan, sehingga agama secara tegas melarang miras.

Oleh karenanya, ada beberapa hal yang perlu dikedepankan dalam upaya menyelamatkan manusia dari bahaya miras.

Pertama, kita mesti menyatukan pikiran dan sikap untuk memperkokoh kecenderungan anti-miras dan perilaku hidup sehat sebagai bagian penting dari budaya masyarakat dan bangsa.

Kedua, kita harus yakin bahwa apapun alasannya, produsen, pengedar dan pengecer ikut bertanggungjawab atas akibat buruk miras/narkoba. Adalah sangat bertentangan dengan prinsip keadilan apabila sekelompok orang mengeruk keuntungan di atas penderitaan orang lain. Masyarakat dan Negara dihadapkan pada kerugian ekonomi dan sosial akibat miras dan narkoba. Masyarakat, Negara dan bangsa harus menanggung akibatnya seperti AIDS, tindak kekerasan dalam rumah tangga dan masyarakat serta akibat-akibat buruk lainnya.

Ketiga, sebagai hamba Allah, kita harus ikut serta mendorong tumbuhnya manusia yang sehat jasamani dan ruhani yang mampu membuktikan bahwa ia diciptakan sebagai manusia yang mampu mengelola dunia dengans ebaik-baiknya.
Demikianlah khutbah ini. Semoga kita semua dilindungi dari segala macam marabahaya.

Memperingati Hari Pendidikan

Dalam kesemptan ini, saya wasiat kepada diri saya sendiri dan jama'ah jum'ah, marilah kita senantiasa meningkatkan taqwa kepada Allah SWT dengan melaksanakan perintah-perintahNya dan menjauhi larangan-laranganNya.

Saat ini kita memasuki bulan Mei yang mana bertepatan dengan peringatan Hari Pendidikan Nasional. Syukur Alhamdulillah Allah menganugerahi keluasan dan kesempatan sehingga kita senantiasa memperoleh rahmatNya berupa kesehatan, umur, rezeki , iman dan Islam.

Rasa syukur kita sebagai orangtua, kita wujudkan dengan sungguh-sungguh di dalam menumbuhkan semangat belajar anak-anak kita sebagai bekal hidup mereka di masa yang akan datang. Sebagai orangtua, kita semua wajib mempersiapkan generasi yang berilmu dan berakhlak. Sebab anak-anak kita memiliki hak yang paling mendasar (Hak Azasi) yaitu hak memperoleh pendidikan. Setidaknya anak-anak harus bisa membaca dan menulis. Termasuk hak asasi anak-anak, adalah hak memperoleh perlindungan jasmani dan rohani supaya anak-anak kita menjadi anak yang pandai, sehat dan kuat. Oleh karenanya, orangtua harus mempersiapkan anak-anak agar bermanfaat bagi agama, masyarakat dan Negara.

Rasulullah SAW bersabda :

"Hak setiap anak atas orangtuanya adalah ia memperoleh pendidikan menulis, berenang dan memanah serta dinafakahi dari rezeki yang baik ( halal)," (HR. Turmudzi)

Sabda Rasulullah ini menjelaskan bahwa setiap orangtua memiliki kewajiban terhadap anak-anaknya. Diantaranya adalah:

Pertama mengajari anak belajar membaca-menulis. Setiap orangtua wajib mendorong dan menumbuhkan semanggat mencari ilmu pengetahuan. Jangan sampai anak-anak kita menjadi orang yang bodoh, tidak mengetahui perkara dunia dan akhirat, halal dan haram, baik dan buruk. Mula-mula anak-anak wajib memperoleh pendidikan membaca dan menulis. Sebab dari membaca dan menulis inilah awal dari ilmu pengetahuan dan pemahaman anak-anak kita terhadap kehidupannya.

Kedua, berenang dan memanah. Maksudnya, orangtua berkewajiban menjadikan anak-anaknya tumbuh sehat dan bergas sehingga anak-anak senantiasa giat di dalam mencari ilmu atau pun hidupnya. Jika anak-anak tidak sehat, tentu akan menambah beban orangtua dan masyarakat. Dan anak tidak akan dapat belajar atau melakukan kegiatan lainnya dikarenakan terganggu kesehatannya. Sebab dengan tubuh yang sehat dan trengginas setiap pekerjaan/kegiatan dapat dilakukan dengan baik dan tuntas.

Ketiga memberi nafkah yang baik dan halal. Orangtua wajib memberikan nafkah berupa sandang pangan yang halal. Yakni halal dari segi barangnya maupun cara memperolehnya. Sebab setiap makanan haram yang masuk di dalam tubuh bisa mendatangkan laknat Allah SWT. Hati dan pikiran yang tumbuh dari makanan haram dan melanggar hukum Allah, akan menimbulkan dorongan untuk melakukan kemakshiatan kepada Allah. Padahal dunia ini menjadi rusak disebabkan kemakshiatan manusia kepada Allah.

Orang-orang bijak menyatakan bahwa barakah akan tercapai manakala apa yang kita usahakan sesuai dengan syari'at Allah. Makanan yang kita berikan kepada anak-anak, disamping harus sesuai dengan syari'at Allah, juga baik menurut kesehatan. Yakni memenuhi unsur gizi. Tidak harus mewah dan mahal. Namun setidaknya dapat memenuhi unsur 4 sehat antara lain : nasi, sayur mayur, lauk pauk seperti tahu, tempe, ikan asin dan buah.

Di sekitar kita tidak kurang dari 12.000 anak belum bersekolah. 15.800 anak tidak melanjutkan ke SLTP, dan tidak kurang 11.700 orang masih buta aksara. Padahal agama Islam sejak puluhan abad yang lalu telah menegaskan pentingnya pendidikan. Sungguh kita merasa malu kepada Allah, jika kita tidak memperhatikan pendidikan ummat Islam. Oleh kareanya, kewajiban kita bersama untuk memajukan pendidikan anak-anak Islam; dengan mendekatkan pendidikan pada masyarakat, melalui sekolah, pesantren, sanggar baca, perpustakaan desa ataupun lainnya. Janganlah mereka hidup dalam kebodohan .

Dalam riwayat Bukhari, Rasulullah menyatakan bahwa satu dirham yang kita sedekahkan untuk pendidikan ibarat menyedekahkan gunung emas dalam jihad fi sabililillah.

Dengan memberikan pendidikan, memberi nafkah makanan yang halal, Insya Allah hati dan pikiran akan sehat. Apabila hati dan tubuhnya sehat, maka Insya Allah kita akan memiliki Sumber Daya Manusia (SDM) yang dapat menjadi barakah bagi kehidupan kita. Sebab dari SDM yang kuat hati, kuat pikiran dan kuat tubuhnya inilah mereka dapat mengerjakan segala kebaikan bagi kehidupannya. Sesungguhnya Allah SWT mencintai orang-orang mukmin yang kuat hatinya, kuat pikirannya, dan kuat tubuhnya, sebagaimana sabda Rasulullah SAW :

" Orang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah Yang Maha Luhur daripada orang mukmin yang lemah dan lemah dari segala kebaikan." (HR. Ahamd)

Dalam riwayat al Bukhari, Rasulullah SAW juga bersabda "Barangsiapa yang memberi nafkah satu dirham kepada orang yang sedang mencari ilmu, maka seolah-olah ia menakafkahkan emas murni di jalan Allah sebesar gunung Uhud."

Oleh karenanya, anak-anak kita adalah harta yang tak ternilai dengan apapun. Mereka adalah makhluk Allah yang luar biasa. Dan orangtua wajib memberikan kebaikan-kebaikan kepada mereka supaya mereka dapat memberkahi kehidupan kita. Semoga Allah memberikan kekuatan kepada kita, dan mudah-mudahan Allah menguatkan hati, pikiran dan tubuh anak-anak kita. Amin Ya Rabba al 'alamin.

Memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW

Marilah kita senantiasa meningkatkan iman dan taqwa kita kepada Allah SWT. Yaitu, dengan senantiasa melaksanakan perintah-perintahNya dan menjauhi segala larangan-laranganNya. Sebab dengan iman dan taqwa inilah, manusia akan selamat di dunia dan akhirat.

Banyak orang mengeluh bahwa sekarang ini sudah tidak ada lagi teladan hidup. Sehingga setiap orang, hidup dengan cara dan jalan sendiri-sendiri. Akan tetapi, sesungguhnya tidak demikian. Kita tidak kekurangan teladan hidup. Yang kurang adalah kemauan dan kesungguhan kita dalam meneladani mereka.

Allah SWT berfirman dalam surat Al Ahzab, ayat 21.

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.

Dalam firman ini, Allah SWT mengingatkan kepada orang-orang yang beriman supaya senantiasa meneladani cara hidup Rasulullah SAW. Sebab dalam diri Rasulullah SAW itulah firman-firman Tuhan diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.

Sejarah telah menempatkan Muhammad SAW sebagai contoh kehidupan manusia. Michael H. Hart, salah seorang peneliti tokoh-tokoh besar dunia, menyimpulkan bahwa Muhammad SAW adalah tokoh nomor satu dunia dalam bidang kehidupan. Muhammad SAW adalah kesempurnaan hidup.

Apakah yang menjadikannya sempurna. Tidak lain, adalah keluhuran budi pekertinya. Nabi Muhammad adalah manusia biasa, namun akhlaknya sempurna. Beliau berumah tangga, memimpin masyarakat, bekerja, memiliki anak, hingga memimpin jihad fisabilillah.

Diantara budi pekerti Nabi yang sungguh luar biasa itu adalah kejujuran, amanat, lemah lembut, rendah hati dan adil dalam memimpin masyarakat. Beliau tidak pernah menyakiti manusia baik itu muslim maupun non-muslim. Beliau menjalin hubungan dengan sesama manusia sebagai makhluk Allah. Beliau menjadi pelindung bagi kaum muslim maupun non-muslim. Beliau menjadi pelindung kaum yang lemah ( mustadh’afin). Keimanan dan ketaqwaannya tidak tergoyahkan, sehingga Muhammad SAW menjadi manusia sempurna dalam sikap, ucapan dan perbuatannya. Sesungguhnya akhlak Nabi Muhammad SAW sangat agung. Sebaliknya bagi orang kafir, mereka menganggap Muhammad SAW sebagai orang yang gila karena telah merubah tatanan kehidupan masyarakat jahiliyyah. Allah berfirman dalam surat Al Qalam, ayat 4-6.

"Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.
Maka kelak kamu akan melihat dan mereka (orang-orang kafir) pun akan melihat,
siapa di antara kamu yang gila."

Jika Allah SWT menjadikan Rasulullah sebagai teladan hidup, maka siapakah manusia yang lebih tinggi darinya yang patut diteladani budi pekerti dan cara hidupnya ?

Oleh karena itu, alangkah naifnya jika kaum muslimin menganggap sudah tidak ada lagi teladan yang bisa menuntun kehidupan manusia menjadi lebih baik. Adalah kemalasan kita sehingga tidak mempelajari kehidupan Muhammad SAW. Padahal Allah telah memberi contoh hidup dalam diri Muhammad SAW, namun kita menolaknya dengan menganggap kehidupan Muhammad SAW ketinggalan zaman, tidak berkemajuan dan sebagainya. Ketahuilah, akhlak dan budi pekerti bersifat universal dan tetap sepanjang masa. Kita membutuhkan kepercayaan, keadilan, kesederhanaan, kelemah lembutan dan kasih saying. Untuk apakah kita mengikuti segala kemajuan dan modernitas, namun tidak membawa barakah dan keselamatan ?

Sebaliknya, jika kita mengikuti cara hidup Muhammad SAW, maka kehidupan akan beradab, berkemajuan dan tenteram. Jika kita mengikuti akhlak orang-orang kafir dan ahli maksiat, maka ketahuilah dunia akan semakin rusak. Dan kita tidak akan mendapatkan kebaikan di dunia dan keselamatan di akhirat.

Ketahuilah wahai suadara-saudaraku yang dirahmati Allah.
Semasa hidup, Muhammad SAW ditetapkan sebagai pribadi “al amin” (orang yang dapat dipercaya) oleh orang-orang kafir jahiliyyah. Jika orang-orang kafir saja menetapkan beliau sebagai al amin, bagaimanakah dengan kaum muslimin ?

Diantara sifat Rasulullah SAW yang lain adalah : shidiq (benar), amanat, lemah lembut, rendah hati, cerdas, dan tidak pernah menyembunyikan kebenaran.

Sudah seharusnya, kaum muslimin mau mendengar dan mempelajari kehidupan Muhammad SAW supaya dapat mempraktikkan dalam kehidupan sehari-hari. Tidak mungkin kehidupan kita menjadi lebih baik, jika kita selalu mencontoh dan membiarkan peri kehidupan yang buruk.

Kemauan untuk meneladani hidup Muhammad SAW tidak lepas dari iman dan taqwa kita kepada Allah SWT. Keyakinan kita kepada Hari Akhir dan pembalasan Allah SWT, akan mendorong kita bersungguh-sungguh dalam meneladani Muhammad SAW. Namun sebaliknya, jika kita menganggap remeh dengan hal-hal yang terjadi sesudah kematian seperti surga, neraka, dan hari perhitungan; maka kehidupan akan diatur oleh hawa nafsu. Manakala kehidupan diatur dengan hawa nafsu, maka ketahuilah kehidupan tidak terselamatkan. Allah berfirman dalam suarat Al Jatsiyah, ayat 23, yang artinya :

"Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya, dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?"

Sesungguhnya Allah telah memilih Muhammad SAW sebagai teladan hidup. Mengapa kita tidak memulai mempelajari kehidupannya, mendengar ajaran-ajarannya dan sedikit demi sedikit mempraktikkan akhlaknya.

Marilah kita belajar agar kita menjadi orang-orang mu'min yang menerima apa yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kita. Dan marilah kita menambah iman dan ketundukan kepada Allah dan rasul-Nya.

Semoga Allah memberikan balasan kepada orang-orang yang benar, karena kebenarannya, dan menyiksa orang munafik jika dikehendaki-Nya, atau menerima taubat mereka. Sesungguhnya Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Memperingati Tahun Baru

Beberarpa hari lagi kita akan sampai pada awal tahun hijriah. Oleh karena itu, marilah kita memperhatikan firman Allah SWT dalam surat Al Hasyr, ayat 18-19.

"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik."

Dalam ayat tersebut ada dua hal yang harus sangat diperhatikan :
Pertama : Allah memerintahkan kepada orang-orang yang beriman untuk senantiasa bertaqwa kepada Allah. Yaitu, melaksanakan perintah-perintah Allah dan menjauhi segala larangan Allah. Ini artinya, setiap orang Islam yang telah membaca dua kalimat syahadat, harus tetap menjaga keyakinannnya terhadap Allah, para Rasul, para malaikat, kitab Allah, adanya hari akhir, qadha dan qadar Allah.

Keimanan ini akan menjadikan kita meyakini apa-apa yang diperintahkan Allah, takut kepada Allah dan tumbuh harapan yang kuat atas ridha Allah. Tanpa perasaan takut terhadap Allah, kita tak akan bersedia melaksanakan perintah-perintah Allah. Demikian pula tanpa harapan atas ridha Allah, kita menganggap ibadah kita menjadi sia-sia. Padahal, di dalam firmaNya Allah telah seringkali menyatakan akan memberikan pahala di akhirat kepada hamba-hambaNya yang beribadah. Sebaliknya akan memberikan siksa yang sangat pedih kepada hamba-hambaNya yang durhaka.

Dan ketahuilah bahwa iman harus dibuktikan dengan amal shalih. Apabila iman hanya di bibir saja, sedang hati dan perbuatannya tidak sesuai dengan iman; maka kita termasuk golongan orang-orang munafik. Dan Allah akan memasukkan orang-orang munafik ke dalam neraka yang paling hina.

Oleh karena itu janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik."
Kedua : Memperhatikan masa lalu demi hari esok. Artinya, orang-orang yang beriman harus memperhatikan apa yang telah dilakukannya pada hari-hari kemarin dan hari ini, agar hari esok lebih baik lagi. Orang-orang yang beriman harus memperhatikan apa yang dilakukannya di dunia sebagai bekal kelak di hari akhirat. Sebab, hari esok atau masa depan yang sesungguhnya bagi orang-orang yang beriman adalah kehidupan di hari akhirat.

Oleh karena itu, apa yang terjadi jika amal ibadah kita di dunia ini tidak mencukupi sebagai bekal perjalananan ke akhirat. Ibarat orang yang bepergian jauh, kita harus tahu arah, tujuan dan memiliki bekal yang cukup agar kita tidak tersesat dan kekurangan. Demikian pula agar kita mendapatkan kemudahan di akhirat kelak, tentu kita harus mempersiapkan bekal yang sebanyak-banyaknya di dunia ini. Sebab di dunia inilah satu-satunya kesempatan untuk mencari bekal. Waktu yang telah kita lewati, tidak dapat terulang lagi, apalagi jika kematian sudah menghampiri kita. Penyesalan apapun akan sia-sia apabila kita sudah berhadapan dengan Hari Penghitungan (Yaum al Hisab) di akhirat.

Hijrah Nabi Muhammad dari Makkah ke Madinah tidak lain adalah agar kaum muslimin mendapatkan kebaikan-kebaikan dan dapat melaksanakan ibadahnya dengan tenteram. Oleh karena itu, hijrah memberi makna kepada kita untuk selalu berubah dari keadaan yang kurang baik menuju keadaan yang lebih baik; dari kemalasan menuju kesungguhan; dari kebodohan menuju pembelajaran; dari permusuhan menuju persaudaraan; dari kebencian menuju kasih sayang; dari kehancuran menuju keselamatan; dari kemiskinan menuju kesejahteraan dan dari kemaksiatan menuju ketaatan. Nabi Muhammad SAW bersabda :

“ Orang yang sempurna Islamnya adalah orang yang menyelamatkan orang Islam lainnya dari gangguan lidah dan tangannya. Dan orang yang berhijrah sebenarnya adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang Allah.” (HR. Bukhari).

Dalam hadist tersebut ada dua hal yang patut diperhatikan :
Pertama, menyelamatkan orang Islam. Secara luas mengandung makna, setiap orang Islam tidak boleh berpangku tangan melihat apapun yang membahayakan kehidupan ummat Islam. Sehingga apabila ada orang Islam yang tidak aman, terganggu dari lidah dan tangan (ditimpa kedzaliman), maka seudah seharusnya, setiap orang Islam mesti saling membantu dan memperkuat agar ummat Islam terbebas dari marabahaya.

Kedua, meninggalkan larangan Allah. Berarti setiap orang Islam harus bersungguh-sungguh dalam melakukan amal shalih dan amal kebajikan, sebab hanya dengan amal kebajikan/amal shalih itulah, segala larangan Allah dapat ditinggalkan. Setiap saat pula, orang Islam dituntut menuju kebaikan dan selalu meningkatkan kebaikannya. Hari ini harus lebih baik dari hari kemarin. Apabila hari ini amal-amal kita lebih buruk dari hari kemarin, maka sesungguhnya kita termasuk orang-orang yang rugi dan sangat celaka.

Dengan demikian, orang yang hijrah adalah orang yang meninggalkan segala macam keburukan di dalam dirinya. Hijrah membuktikan iman dan harapan akan kehidupan yang lebih baik. Orang yang berhijrah berbeda dengan kaum munafik yang beriman kepada Rasulullah, namun di belakang; hati dan perbuatannya memusuhi Allah dan rasul-Nya.

Maka, di dalam momentum hijrah Rasul ini, marilah kita berusaha agar kita mendapatkan barakah Allah. Rasulullah bersabda :

"Orang yang cerdas adalah orang yang mawas diri dan beramal untuk hidup sesudah mati (HR. Turmudzi)."

Mudah-mudahan kita senantiasa mendapat bimbingan Allah SWT untuk menempuh jalan lurus dan dapat meningkatkan amal ibadah kita. Ya Allah, tampakkanlah bulan tanggal satu itu kepada kami dengan membawa keamanan dan keimanan, keselamatan dan Islam serta mendapat taufik untuk menjalankan apa yang Engkau senangi dan ridha. Tuhan kami dan Tuhan-mu adalah Allah (HR. Turmudzi).

Khutbah Perayaan Idul Adha

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar
Sebagai permulaan di pagi Hari Raya Idul Adha yang penuh barakah ini, marilah kita semua mempersembahkan rasa syukur atau terima kasih yang setinggi-tingginya ke hadirat Allah SWT, karena Allah masih memilahara, menjaga, mengurus dan mememberi rezeki kepada kita dengan berbagai macam nikmat.

Diantara nikmat tersebut adalah kita masih diberi kesempatan hidup hingga pagi ini, sehingga kita berpeluang memperbanyak bekal amal salih untuk perjalanan ke akhirat. Di pagi ini, kita berkumpul disini, bersama-sama bertakbir, bertahmid dan bertasbih serta mengerjakan shalat Idul Adha.

Pada saat ini pula, ummat Islam yang sedang menjalankan ibadah haji menyembelih binatang Qurban sebagai perwujudan taat dan syukur kepada Allah SWT.
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar
Berqurban menjadi amal yang penting untuk senantiasa diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Berkorban adalah berbagi nikmat Allah kepada sesama manusia. Dan berkorban adalah nikmat yang besar bagi orang yang mampu berkorban.

Saya katakan semua itu adalah nikmat yang besar, karena hal tersebut merupakan nikmat yang dapat dibawa sampai ke akhirat. Sebaliknya nikmat duniawi seperti harta benda dan jabatan hanya dapat dipakai di dunia ini saja. Bahkan terkadang nikmat tersebut tidak dapat digunakan lagi, betapapun kita masih hidup.

Oleh karena itu kita patut mengucapkan terima kasih yang sungguh-sungguh lahir dari hati yang paling dalam, karena kita benar-benar mendapat perhatian dan karunia Allah yang berharga. Allah SWT berfirman :

Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu mema`lumkan: "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (ni`mat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (ni`mat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih".

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar
Bangsa Indonesia tidak henti-hentinya menghadapi ujian berat. Diantaranya adalah musibah gempa bumi dan tsunami, yang terjadi di Aceh, Bantul, dan Cilacap. Dan beberapa bulan yang lalu, semburan lumpur panas yang telah menenggelamkam beberapa desa, kecelakaan transportasi, badai, dan bencana alam lainnya.

Musibah tersebut telah menghancurkan harta benda dan menghilangkan nyawa ribuan manusia. Dampak dari musibah tersebut, tidak hanya dirasakan oleh masyarakat yang terkena musibah langsung, namun juga jutaan orang lainnya. Mereka mengalami kesulitan ekonomi, pendidikan, kesehatan dan sebagainya. Pasar, gedung sekolah, perkantoran dan rumah sakit, tidak dapat digunakan lagi. Untuk membangun kembali, diperlukan waktu bertahun-tahun dan biaya yang sangat banyak. Semua ini, tentu tidak mudah menghadapinya. Akibat berbagai bencana dan krisis ini, kita benar-benar berada dalam situasi yang sangat terpuruk.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar
Sesungguhnya, bila kita memahami hakikat ujian tersebut, kita ini sebenarnya sedang diuji keteguhan imannya oleh Allah SWT. Sejauh mana sesungguhnya kekuatan iman dan taqwa kita kepada Allah. Selama ini bangsa kita mengaku beriman dan bertaqwa kepada Allah, tetapi sikap dan amal perbuatan yang terjadi di masyarakat tidak mencerminkan sebagai bangsa yang beriman dan bertaqwa. Bahkan banyak terjadi kemungkaran dan kedzaliman.

Oleh karena itu Allah mengingatkan kita dengan berbagai macam cobaan. Dengan cobaan tersebut diharapkan kita semua sadar dan insaf terhadap kesalahan dan kehilafahan, sabar menghadapinya dan istiqomah di jalan Allah. Ketahuilah bahwa hukum Allah seperti hukum grafitasi. Siapapun yang tidak melaksanakannya pasti akan ditimpa kehancuran. Ibaratnya, siapapun yang menjatuhkan diri dari bangunan bertingkat pasti akan terluka dan celaka, sekalipun ia orang Islam. Sebaliknya siapapun yang turun dari gedung bertingkat dengan cara yang benar, pasti akan selamat, sekalipun ia bukan orang beriman. Insya Allah.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar
Berbagai musibah yang terjadi, harus kita jadikan sebagai saat yang tepat untuk mengubah karakter, watak ataupun sifat kita semua. Ada beberapa hal yang harus kita lakukan sebagai upaya memperbaharui kehidupan.

Pertama, Pemimpin yang berperasaan.
"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin (mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim." (Q.S.5:51).
Diperlukan kepemimpinan yang mampu mengelola dan memberi teladan yang baik guna membawa masyarakat dalam sebuah kehidupan yang baru. Kita harus memiliki kepekaan dan kesadaran atas berbagai peristiwa yang menimpa. Bukankah Allah SWT telah menegaskan di dalam berbagai firmanNya, yaitu tentang bagaimana kehidupan ummat di masa lampau, baik yang taat maupun yang durhaka. Semua itu telah menunjukkan kepada kita, agar kita senantiasa mengambil pelajaran dan yakin terhadap janji dan ancaman Allah SWT.
Dan yang tidak kalah pentingnya adalah, bahwa kita harus senantiasa mengubah diri kita ke arah yang lebih baik, sebab perubahan suatu masyarakat sangat tergantung pada perubahan manusia. Yaitu perubahan di dalam amal perbuatannya.

Kedua, mengikis sikap munafik.
Dan bila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka mengatakan: "Kami telah beriman." Dan bila mereka kembali kepada syaitan-syaitan mereka, mereka mengatakan: "Sesungguhnya kami sependirian dengan kamu, kami hanyalah berolok-olok" (Q.S.2:14).
Seorang hamba Allah tidak cukup dengan menyatakan iman kepada Allah SWT. Iman harus diwujudkan dalam setiap amal perbuatan di dunia ini. Apa yang telah dikaruniakan Allah hendaknya tidak dipergunakan untuk mendurhakai Allah dan rasulNya. Melainkan harus dipergunakan sebagai sarana untuk senantiasa mendekatkan diri kepada Allah. Bisa jadi, apa yang kita anggap menyenangkan di dunia ini, akan menyusahkan di akhirat. Apa yang mulia di dunia ini, adalah kehinaan di akhirat. Dan apa yang glamor dan popular di dunia ini, justru akan membuat kita kesepian dan tak memiliki penolong di akhirat.
Ketika seseorang bersyukur dan berkorban untuk Allah, maka sesungguhnya ia sedang mengurangi bebannya di akhirat. Makin banyak berkorban di jalan Allah, makin dekat dengan taqwa. Dan makin taqwa seseorang, makin ringan bebannya di hadapan Allah. Sebaliknya, makin durhaka kepada Allah, ia makin berat tanggungannya di hadapan Allah, meskipun di dunia dirasakan enak.

Allahu Akbar 3 X
Yang Ketiga, merasa hamba Allah.
Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku (Q.S.51:56).

Dalam cobaan, ujian ataupun musibah yang menimpa, kita harus bisa memaknai sebagai sebuah perlambang atau isyarat peringatan perlunya kita membangun kehidupan yang baru dengan mengubah cara merasa, cara berpikir dan cara hidup kita, sehingga mampu mengubah amal perbuatan kita. Kita semua harus memperbaharui dan memperbaiki amal perbuatan kita, sehingga kehidupan menjadi lebih baik dari yang sebelumnya. Kita juga senantiasa harus memohon ampunan Allah SWT, agar kelak kita kembali ke hadiratNya sebagai manusia yang mendapat ridha Allah.

Hendaknya kita senantiasa mengingat akan janji dan ancaman Allah yang pasti terjadi. Hendaknya kita mengingat semua karunia Allah yang telah melimpah begitu banyak kepada kita semua.
Dengan cara itu, kita menjadi manusia yang bisa rumangsa. Bagaimanapun, kita adalah hamba Allah. Setinggi apapun pangkat, sebanyak apapun harta benda, semulia apapun keturunan dan ilmu pengetahuan, kita semua adalah hamba Allah yang lemah. Tiada daya dan kekuatan tanpa izin Allah. Apa yang kita miliki, semuanya tidak lebih dari karunia Allah yang Maha Kaya, yang dititipkan kepada kita sebagai bekal menuju kehidupan yang kekal, yaitu akhirat. Perasaan ini pula, yang akan mengantarkan kita untuk senantiasa muhasabah atau mengoreksi diri sendiri.
Dengan menyadari janji dan ancaman Allah, kita akan tumbuhkan rasa hamba di hadapan Allah, sehingga kita dapat mengetahui apa yang telah dilakukan dan apa yang seharusnya dilakukan.
Tanpa merasa sebagai hamba Allah, kita menjadi makhluk yang sombong dan tidak tahu berterima kasih kepada Allah SWT. Padahal sifat inilah yang telah menjadikan manusia jauh dari Allah, menganggap diri hebat, serba kecukupan dan tidak berharap kepada Allah. Karena kesombongan, manusia merasa aman dari siksa Allah. Karena kesombongan pula, manusia menyepelekan janji dan ancaman Allah. Oleh karena itu, marilah kita menundukkan hati kita ke hadiratNya, memohon dengan sungguh-sungguh ke hadirat Allah SWT.

Yang Keempat. Mengubah cara hidup.
Ingatlah bahwa sesungguhnya manusia harus tahu darimana dia berasal dan kemana akan kembali. Dunia ini adalah ladang menuju akhirat. Segala kebanggaan dunia ini tidak akan bermanfaat apa-apa di akhirat, kecuali kita menghadap Allah dengan hati yang bersih.
"dan janganlah Engkau hinakan aku pada hari mereka dibangkitkan,
(yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna,
kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih (Q.S. Asy-Syu'ara:87-89)."
Maka. Allah memberi jalan kepada kita agar berserah diri kepada Allah secara total. Janganlah kehidupan ini justru membawa kita pada kehancuran diakibatkan kekufuran kepada Allah dan rasulNya.
"Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu." (Q.S.2:208).

Allahu Akbar 3 X
Saudara-saudaraku, demi rahmat Allah, aku menasehatkan kepadamu supaya kalian mempersembahkan tenaga, pikiran dan kekayaanmu di jalan Allah. Janganlah engkau menghambur-hamburkan karunia Allah di jalan syetan. Gunakanlah karunia Allah untuk membebaskan saudara-saudara kita yang berada dalam penderitaan, kebodohan, penindasan dan tipu daya.

Korbankanlah hidupmu di jalan Allah, tunduklah pada perintah Allah dan yakinlah akan balasan-balasan Allah di akhirat. Inilah ibadah sejati.

Maka janganlahlah kalian menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan ibadah dan budimu sehingga engakau dapat membedakan mana kehendak Allah dan kehendak iblis. Dan siapa yang membagi-bagikan sesuatu, hendaklah ia melakukannya dengan hati ikhlash; siapa yang menjadi pemimpin, hendaklah melakukannya dengan tekun, siapa yang menunjukkan kemurahan hendaklah ia melakukannya dengan suka cita. Usahakanlah dirimu tidak menindas dan tidak mempersulit saudara-suadaramu. Berilah jalan yang benar, semoga engkau dimudahkan di akhirat.

Ya Allah, jadikanlah kami hamba-Mu yang pandai bersyukur, rasa berhutang budi pada-Mu, malu dengan-Mu, tunduk pada-Mu dan takut ancaman-Mu. Ya Allah, jadikanlah kami orang yang dapat meninggalkan kebiasaan buruk, dan jadikanlah kami orang yang memulai perbuatan baik. Ya Allah kami ingin menjadi hamba yang sangat bertawakkal kepada-Mu dengan sepenuh hati. Dan kami berlindung dengan-Mu dari siksa yang sangat pedih, yang disediakan bagi orang-orang yang mengingkari-Mu. Dan masukkanlah kami ke dalam golongan orang-orang yang bersyukur dan mau berkorban.